
Dokter mengatakan usia kandungan Maryam sudah jalan delapan minggu, dan seperti biasa, Dokter mewanti mewanti Maryam agar menjaga diri dan janinya, tidak boleh stress, tidak boleh melakukan pekerjaan yg berat dan yg paling penting mengkonsumsi makanan yg sehat dan bergizi.
Terlihat sekali Amar yg lebih seksama dan serius mendengarkan anjuran Dokter ketimbang Maryam, bahkan Amar menanyakan secara spesifik apa saja yg boleh dan tidak boleh di lakukan atau di konsumsi, Amar juga menanyakan hal hal yg bisa berbahaya bagi kehamilan supaya dia bisa menghindari nya.
"Sebenarnya aku gemetaran, rasanya kaki ku engga nginjak tanah" ucap Amar setelah mereka keluar dari ruangan Dokter dengan gambar hasik USG yg terus saja di pandangi oleh Amar.
"Aku yg hamil kok malah kamu gugup?" tanya Maryam sembari terkekeh dan itu juga membuat Granny Amy tertawa. Pasal nya, saat dulu dia hamil, suami nya juga yg gugup, bahkan suaminya over protective.
"Saking bahagia nya itu" ujar Granny Amy.
Di parkiran, Bobby langsung membukakan pintu untuk Tuan dan Nyonya nya sembari bertanya tentang janin Nyonya muda nya itu.
"Gimana keadaan Degazi junior, Nyonya"
"Baik, Paman Bobby. Doakan semoga kami selalu sehat ya" ucap Maryam.
"Akan kami doakan selalu. Semoga tahun depan hamil lagi, biar gaji kami naik sepuluh kali lipat. Hehe" Maryam hanya tertawa mendengar candaan Bobby, tapi tanpa di sangka Amar malah mengaminkan nya.
"Kita kerumah Abi ya, Sayang. Aku engga sabar mau ngasih kabar gembira ini sama Abi dan Ummi"
"Iya, aku juga engga sabar"
.
.
.
Sesampainya dirumah Maryam, Bi Mina mengatakan kalau semua orang sedang ada di pesantren. Dan Maryam pun dengan senang hati mengabarkan pada Nena nya itu kalau dia hamil.
Bi Mina tiba tiba saja langsung menangis haru dan berpelukan dengan Maryam.
"Unyil sudah hamil, padahal baru kemarin Nena mandiin, suapin, gantiin baju" ucap Bi Mina sambil terisak.
__ADS_1
Dia telah bekerja sangat lama dengan keluarga Bilal dan merawat keluarga itu seperti merawat keluarga nya sendiri dan mereka pun sudah menganggap Bi Mina nenek mereka. Dulu Bi Mina juga sangat senang saat Neng Asma nya hamil, dan sekarang Neng Maryam nya yg hamil.
"Nena, doakan Maryam bisa jadi ibu yg baik" seru Maryam sembari menguarai pelukannya. Dan Bi Mina mengangguk berkali kali "Ya udah, kalau gitu Maryam ke pesantren aja" ucapnya kemudian.
Kemudian mereka pun ke pesantren menggunakan mobil walaupun jaraknya sangat dekat, karena Amar takut kalau Maryam ke cape an.
Sesampainya disana, Maryam langsung membawa Amar dan Granny Amy ke kediaman kakek nenek nya dan terlihat Faraz yg sedang mengobrol bersama Rayhan disana.
Dan tiba tiba saja, Amar langsung bergabung dengan mereka dan tersenyum lebar pada Faraz kemudian berkata.
"Siapa yg akan lebih membahagiakan Ummi Zahra?"
Tentu saja Faraz dan Rayhan kebingungan dengan pertanyaan Amar.
"Maksud mu?" tanya Faraz.
"Maksud ku, di antara kita, siapa yg akan memberikan kebahagiaan yg besar buat Ummi sama Abi sekarang ini?" tanya Amar lagi.
"Aku lah, aku anak nya" jawab Faraz dengan percaya diri. Kemudian Amar mengeluarkan foto hasil USG kehamilan Maryam dan menunjukan nya pada Faraz dengan senyum lebar.
Faraz yg melihat foto itu langsung mengambil nya dari tangan Amar dan memperhatikan foto itu baik baik.
"Unyil hamil?" tanya Faraz dengan raut yg sangat bahagia dan Maryam mengangguk sambil tersenyum lebar "Masya Allah, Maryam. Selamat ya, Sayang" Faraz langsung memeluk Maryam dan tampak sekali ia begitu bahagia menyambut kehamilan Maryam.
"Selamat ya, Dek. Semoga Allah selalu menjaga kalian, dan semoga dia jadi anak yg sholeh sholehah nanti"
Rayhan memberikan ucapan selamat nya sembari mengelus kepala Maryam.
"Makasih, Kak" jawab Maryam.
Sementara Faraz sudah pergi ke ruang tengah untuk mencari Ummi dan Nenek nya sembari membawa foto USG Maryam dan mereka segera mengikuti nya.
"Ummi, Nenek... Unyil hamil" seru Faraz dengan wajah gembira. Asma dan Ummi Mufar yg mendengar itu tampak tidak percaya dan ketika Faraz memperlihatkan foto USG itu, mereka tampak sangat bahagia dan langsung mengucapkan selamat dan juga mendoakan Maryam dan bayi nya.
__ADS_1
Tak sampai disana, Faraz juga memberi tahu kabar itu pada Kakek dan Abi nya juga pada Uncle Mukhlis nya.
Amar yg melihat itu hanya bisa menggaruk tengkuk nya.
"Aku bapak nya, yg seharusnya ngasih tahu kabar gembira ini kan aku" gerutu Amar yg langsung membuat semua orang tertawa.
"Engga apa apa, biarin aja. Kak Faraz senang mau jadi Uncle" ujar Maryam namun itu tak menghibur Amar.
"Selamat ya, Amar. Kamu akan jadi ayah" seru Asma pada menantu nya itu "Dan terima kasih banyak, kami benar benar bahagia dengan kabar ini"
"Aku yg berterima kasih, Ummi. Karena sudah di restui untuk memiliki Maryam. Terima kasih banyak" ucap Amar, ia mengecup pelipis istri nya.
Asma memeluk putri nya itu dan tanpa terasa ia malah meneteskan air mata haru nya.
"Sayang, jaga janin mu baik baik ya, Nak. Dan banyak berdoa, jaga diri mu juga, apa yg kamu dengar, lihat, lakukan, semua itu bisa mempengaruhi anak mu nanti"
"Bantu Maryam menjaga nya, Ummi" lirih Maryam yg juga menangis bahagia.
"Inysa Allah, Sayang"
"Putri kecil Abi sudah mau jadi ibu, hm?" Bilal juga memeluk Maryam dan mengecup pucuk kepala nya "Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. Dan semoga kamu melahirkan anak yg sholeh dan sholehah, Sayang"
"Aamiin... Doain Maryam selalu, Abi" pinta Amar.
"Selalu, Nak" ucap Bilal.
"Jadi, bagaiamana kalau kita mengadakan syukuran untuk kehamilan Maryam?" ujar Ummi Mufar.
"Itu harus di lakukan" Abi Khalil berkata dan ia juga memeluk Maryam dan Amar "Kita harus mengadakan syukuran dan juga berdoa, semoga Afsana dan Faraz cepat menyusul"
Dan semua orang mengaminkan hal itu, terutama Faraz.
Dia jadi teringat istri nya dan merindukan nya.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...