
Sekali lagi Amar memberanikan diri datang menemui ibu nya. Meskipun masih dengan perasaan yg campur aduk, namun Amar berusaha menguatkan diri untuk ketenangan hidup nya sendiri.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu, sosok wanita yg telah melahirkan nya itu muncul dengan senyum lebar namun ia tampak pucat.
"Bagaiamana keadaan istri dan anak mu?" tanya Rossa kemudian ia berjalan masuk dan Amar mengikuti nya. Rossa mempersilahkan Amar duduk di sofa kecil yg ada disana.
"Seorang putra" ucap Amar masih dengan suara yg tertahan.
"Aku tahu, dia pasti setampan kamu" ucap Rossa "Mau teh?" Amar menggeleng.
"Kenapa masih di sini? Seharusnya pulang ke rumah yg dulu, rumah ini engga layak di tempati" ujar Amar dan hal itu langsung membuat Rossa merasa gembira.
"Aku memang akan segera pulang" jawab Rossa.
Kemudian Kedua nya terdiam, dan Rossa sebenarnya merasa sangat bahagia karena Amar seolah memberi nya kesempatan lagi.
"Aku... Ehem... Aku...." Amar duduk dengan gelisah. Ia teringat kembali ucapan ayah mertua nya, Amar harus melepaskan kebencian di hati nya dan memaafkan, untuk ketenangan hati nya sendiri "Maaf karena.... Karena aku memenjarakan mu"
"Engga masalah, aku suka disana. Lagi pula hukuman penjara itu hukuman yg sangat ringan untuk pendosa seperti ku" ucap Rossa sambil mengucek mata nya yg sudah terasa panas dan akan segera menangis.
"Itu masa lalu" lirih Amar dengan suara yg gemetar juga "Aku minta maaf" bisik nya dan ia pun tak bisa menahan tangis nya. Begitu juga dengan Rossa, ia langsung menggeleng.
"Aku yg minta maaf, karena aku telah..." ucapan Rossa terpotong karena tiba tiba Amar berdiri.
"Pulanglah, aku akan mengirim orang untuk membersihkan rumah mu" dan setelah mengucapkan kata itu, Amar segera pergi dari sana yg lagi lagi meninggalkan Rossa yg menangis.
.
.
.
Maria menghela nafas berat, akhir akhir ini Nabil sudah sangat jarang menghubungi nya, sekali menelepon juga paling hanya menanyakan kabar anak nya.
"Mungkin kau jatuh cinta sama dia kali" ujar Hira yg saat ini membantu Maria mengganti pakaian putri nya, karena mereka berencana menjenguk Maryam di rumah sakit.
"Engga mungkin lah, aku sama dia tuh seperti langit dan bumi. Seperti hitam dan putih. Minyak dan air"
"Lah, apa beda nya dia sama Faraz? Kamu juga berani mencintai dan mengungkapkan cinta mu pada Faraz, Faraz justru jauh lebih berbeda dengan mu. Nabil masih mending, seenggak nya dia engga terlalu gimanaaaaa gitu"
"Diem ah" gerutu Maria.
"Oh ya, kenapa kamu engga buka aja hadiah dari Nabil, toh dia engga tahu juga kan kalau kamu buka"
"Jangan lah, itu amanah. Kalau engga amanah, nanti jadi munafik"
"Iya deh iya, yg udah tobat"
"Iya dong, mumpung udah tobat, tobat totalitas lah. Oh ya, kaos kaki nya?"
__ADS_1
"Ini..."
"Thank you"
Setelah memberikan kaos kaki baby Khair, perhatian Hira tertarik pada sebuah naskah yg sedikit berserakan. Ia pun berniat membereskan nya sebelum mereka pergi, dan saat membereskan nya, Hira tanpa sengaja membaca sebagian naskah itu karena tertera nama Maryam dan Amar disana.
"Kamu jadi buat cerita mereka?"
"Iya, mereka ngizinin. Cuma aku belum dapat klimaks yg bagus. Setelah aku dapat, aku bakal serahin ke Vitha selaku editor ku. Aku cuma berharap hasil sesuai ekspektasi"
"Judul nya?" tanya Hira sembari membuka lembar demi lembar tulisan Maryam itu.
"Entahlah, aku sudah memikirkan itu ribuan kali sampek ke bawa mimpi. Tapi engga dapat judul yg bagus" jawab Maria kemudian mengambil gendongan dan menggendong Baby Khair. "Ayo, biarkan saja itu. Nanti aku bereskan pulang nya"
"Menaklukan CEO tampan? CEO dingin suami ku? CEO keturunan Pakistan kekasih hati? Itu judul yg lagi booming? Mengejar cinta CEO playboy? " sambil berjalan keluar, Hira memberikan saran saran judul untuk novel Maria itu.
"Haha haha... Itu engga cocok Hira, memang itu tentang kehidupan CEO, tapi makna cerita itu lebih dalam dari itu. Dan satu hal lagi, Maryam engga mengejar cinta sang CEO, CEO nya ngejar"
"Kamu ribet deh, yg penting kan ada judul dulu"
"Sudah ayo, taksi nya sudah datang. Bi Siti, kami pergi dulu ya"
.
.
.
"Assalamualaikum, Baby Khair. Apa kabar mu, Nak?" sapa Afsana sambil memainkan jari nya di pipi putri Maria itu.
"Waalaikum salam, dia sangat baik. Terima kasih Afsana" seru Maria "Dan bagaiamana keadaan kalian?" tanya Maria kemudian dengan sedikit kaku yg membuat Maryam tertawa geli.
"Kami baik, Maria" jawab Maryam.
"Aku bawa buah" ujar Hira.
"Terima kasih, Hira. Seharusnya engga usah repot repot" ucap Maryam menerima buah itu.
Kemudian wanita wanita itu mengobrol, membicarakan hari hari mereka, Maria dan juga Maryam saling membagikan pengalaman hamil dan melahirkan yg luar biasa.
Hingga tiba tiba pintu terbuka yg langsung membuat mereka terdiam seketika, Faraz dan Amar muncul dari balik pintu.
"Maria, bagaiamana keadaan mu dan Baby Khair?" tanya Faraz sambil berjalan masuk.
"Kami baik, terima kasih" jawab Maria. Faraz menghampiri Maria untuk melihat Baby Khair yg ada di gendongan Maria. Dan tiba tiba saja Baby Khair mengangkat tangan nya seolah meminta gendong pada Faraz. Faraz pun meminta Maria mengerikan anak nya walaupun Maria awalnya menolak dengan alasan takut merepotkan. Padahal ia merasa tak nyaman pada Afsana.
Tapi ketika Afsana yg meminta Maria memberikan anak nya pada Faraz, Maria pun memberikan Baby Khair pada Faraz.
Afsana juga terlihat menyukai Baby Khair.
__ADS_1
"Dia cantik ya" ucap Afsana sambil kembali mencolek gemas pipi Baby Khair.
"He'em. Imut" jawab Faraz dan tiba tiba saja Baby Khair tertawa sambil menggerakan tangan nya seperti ingin mencapai sesuatu. Saat Afsana menunduk, tiba tiba ia menarik hijab Afsana dan ia tertawa sangat menggemaskan "Mungkin dia mau gendong ke kamu, An" ujar Faraz.
"Ya udah, sini... Sama Aunty Ana ya, Baby Khair..." ujar Afsana dan benar saja, Baby Khair langsung tertawa saat Afsana menggendong nya, ia juga terus menggerakkan tangan nya seolah sangat senang.
Amar sendiri kini duduk di samping istri nya.
"Kamu sudah makan?" tanya nya Amar, Maryam pun mengangguk. Kemudian ia membelai pipi Amar. Terlihat sekali wajah suami nya itu sangat ke lelahan, bahkan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata nya.
"Kamu pulang aja, biar istirahat"
"Aku engga apa apa, Sayang. Oh ya, keliatannya Faraz benar benar menyukai anak anak" ujar nya kemudian karena melihat Faraz yg tampak sangat senang saat bermain bersama Baby Khair.
"Iya, sejak kecil memang dia suka anak anak"
.
.
.
Mekkah
"Udah move on?" tanya Shofia pada Nabil, karena sejak kembali ke Mekkah, ia sudah sangat jarang melihat Nabil menghubungi Maria.
"Belum lah, mana bisa move on secepat itu"
"Oh kirain..." ujar sang ibu.
"Ummi masih engga suka sama Maria, ya?" tanya Nabil tiba tiba. Shofia terdiam sejenak.
"Entahlah, Nak. Ummi tahu semua orang punya masa lalu, hanya saja apa yg akan di katakan orang nanti kalau istri mu memiliki masa lalu yg sangat kelam?"
"Bagaiamana dengan Amar?"
"Huh?" Shofia langsung menatap bingung karena tiba tiba Nabil membawa nama menantu kakak nya.
"Amar, Ummi. Engga ada beda nya Amar sama Maria. Beda nya satu, Amar engga akan hamil dan masa depan nya engga akan hancur sekalipun dia berkencan dengan banyak wanita. Sementara Maria hanya sekali kelepasan dan itu ke tidak sengajaan yg menyebabkan dia hamil dan masa depan nya hancur" tutur Nabil dengan ekspresi yg sangat serius "Maryam dan keluarga nya bisa menerima Amar dan memberi nya kesempatan, lalu kenapa tidak dengan Maria? Apa lagi saat itu Maria hilang arah, dia masih dalam masa jahiliyah nya. Dan sekarang Ummi lihat sendiri, dia sangat berubah"
Shofia hanya bisa tersenyum mendengar penuturan panjang lebar anak nya itu, Nabil yg baru menyadari dia banyak bicara segera memeluk manja ibu nya.
"Maaf, Nabil engga bermaksud menceramahi Ummi" ucap nya sambil cengengesan. Dan itu membuat Shofia tertawa geli.
"Lalu, kenapa kamu engga perjuangin Maria lagi?"
"Sedang Nabil lakukan, Ummi. Nabil sengaja menjauhi dia, biar dia merasa kehilangan dan menyadari perasaan nya. Biasanya sih itu berhasil" ujar Nabil penuh rasa percaya diri sambil tersenyum bangga.
"Dasar anak muda"
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...