Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 104


__ADS_3

Setelah makan malam, Maryam menemani Granny yg sedang menonton sinetron. Amar bergabung walaupun tidak mengerti dengan alur cerita sinetron itu, ia hanya ingin menemani istri dan nenek nya. Sering datang ke panti jompo membuat Amar menyadari betapa berharga nya nenek nya itu dan ia juga lebih sering mengahabiskan waktu bersama mereka sekarang.


"Ada apa?" tanya Amar karena Granny menatap nya dan seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Granny mau bicara sesuatu" ucap Granny. Kemudian ia melirik Maryam sebelum akhir nya menatap Amar.


"Bicara aja, Granny. Memang nya tentang apa?" tanya Amar penasaran, karena tidak biasa nya nenek nya itu ragu dalam mengatakan suatu hal. Granny sendiri terlihat tak siap mengatakan nya, namun ia rasa tak boleh menunda lagi.


"Ini tentang Mama mu, sebenernya..."


"Aku engga punya Mama!" tegas Amar memotong pembicaraan Granny. Bahkan tatapan nya pun langsung berkilat dengan amarah dan kebencian.


"Dengarkan dulu, Amar. Please!" pinta Maryam dengan lembut sembari menggenggam tangan Amar. Ia menatap Amar dengan tatapan memohon, namun Amar tak mempedulikannya.


"Aku engga mau dengar apapun" seru Amar sekali lagi.


"Tapi kamu harus tahu, Mama mu engga membunuh Papa mu, Amar. Yg terjadi hanya kecelakaan" ucap Granny setengah berteriak dan itu membuat Amar terdiam sesaat namun kemudian ia malah tertawa hambar.


"Ada apa, Granny? Kenapa tiba tiba membicarakan hal ini? Dan itu pun setelah lebih dari 15 tahun?"


"Ya, setelah selama itu. Dan Granny baru menyadari nya bahwa Granny salah karena engga kasih tahu kamu, Papa mu jatuh sendiri karena terpeleset"


"Granny... Please..." seru Amar mencoba menahan amarah nya. Ia sungguh tidak mengerti kenapa nenek nya tiba tiba berbicara seperti itu


"Percaya sama Granny, Amar. Dan kamu boleh tanya pada pengacara yg menangani kasus itu" Granny Amy menjelaskan bahwa sangat tidak mungkin Rossa yg saat itu terluka bisa mendorong suami nya, Granny memberi tahu semua nya dan alasan kenapa Rossa mengaku bersalah padahal tidak.


Amar sangat tidak percaya dengan fakta itu, yg ia percaya adalah adik dan ayahnya mati karena ibunya.


"Ini terakhir kali nya Granny membicarakan wanita itu dirumah ini. Jangan pernah lakukan lagi!" tegas Amar kemudian ia segera berdiri dan bergegas ke kamar nya, Granny Amy menangis, seandainya ia katakan itu dari dulu, mungkin kebencian Amar tak sebesar itu pada ibunya.


"Granny, biar Maryam yg bicara. Jangan menangis" ucap Maryam. Kemudian ia segera menyusul Amar.


"Amar... Tunggu" seru Maryam namun Amar seolah tak mendengar nya. Maryam pun berjalan lebih cepat "Amar, mau sampai kapan kamu akan hidup dengan kebencian seperti ini? Ibu mu sudah berubah" ucap Maryam berharap Amar mau mengerti dan percaya


"Wanita seperti itu engga akan pernah berubah" Amar berkata dan terus berjalan masuk ke kamar nya. Ia benar benar benci topik ini.


"Dia berubah, dia menyesali perbuatan nya, Amar" ucap Maryam yg masih setiap mengikuti Amar dari belakang.


"Tapi itu engga akan mengembalikan adik ku dan Papa ku"


"Dan kebencian mu pun engga akan menghidupkan mereka kembali" Maryam berkata lebih tegas. Amar berhenti dan terdiam "Kebencian itu adalah noda yg akan menggelapkan hati mu, Amar. Dan menggerogoti jiwa mu, membuat mu hancur dari dalam" Maryam menurunkan nada bicara nya "Coba lah memaafkan nya, memaafkan itu memang sulit tapi dengan memaafkan hidup bisa lebih damai" bujuk Maryam namun Amar menggeleng.


"Engga akan pernah" tegas Amar. Maryam sangat sedih karena hati suaminya benar benar sudah di penuhi kebencian pada ibunya. Maryam mendekati suaminya itu, bermaksud berbicara dari hati ke hati.

__ADS_1


"Tapi Amar..."


"Aku bilang engga akan pernah..." teriak Amar dan tanpa sengaja ia malah mendorong Maryam saat istri nya itu menyentuh pundak nya, dan kuat nya dorongan Amar itu membuat Maryam menabrak dinding dan ia terjatuh.


"Aggghh..." Maryam mengerang sakit sembari memegang perut nya. Amar yg melihat itu langsung panik...


"Sa.. Sayang. Maaf, maaf..." Amar segera menggendong Maryam hendak membawa nya ke ranjang. Namun betapa terkejut nya Amar saat melihat ada darah mengalir di paha istri nya itu dan bahkan menodai seprei nya. Sementara Maryam terus mengerang kesakaitan bahkan kini ia sudah menangis.


Amar semakin panik dan tanpa membuang waktu, ia kembali menggendong Maryam dan membawa nya turun.


"Sayang, maafin aku. Maafin aku..." Amar tak bisa berhenti mengucapkan kata maaf dengan suara yg bergetar.


"Bobby..."


"Bobby..." Amar berteriak dan Bobby langsung berlari mendatangi nya.


"Tuan, Ad.... Darah?" pekik Bobby yg melihat dress Maryam terkena darah. Granny Amy yg masih ada di ruang tamu sangat terkejut melihat Amar menggendong Maryam.


"Kerumah sakit sekarang" ucap Amar dan ia segera membawa Maryam ke mobil. Granny Amy pun segera mengikuti nya dari belakang bersama Rika dan Gina.


"Sayang, bertahan ya. Maafin aku...." gumam Amar masih dengan suara yg gemetar, bahkan tanpa sadar Amar meneteskan air mata nya, ia membelai pipi Maryam yg basah oleh air mata juga, Maryam merasa sangat kesakitan dan juga ketakutan jika terjadi apa apa hingga ia menangis namun bibir nya menyunggingkan senyum yg nampak di paksakan.


"Kami akan baik baik saja" bisik Maryam dengan suara yg hampir tak terdengar. Ia tak ingin melihat Amar sedih walaupun dirinya sendiri sangat sedih dengan apa yg sudah Amar lakukan.


"I.. Iya Tuan"


.


.


.


Di rumah sakit, Dokter langsung menangani Maryam. Sementara Amar dan Granny hanya bisa mondar mandir dengan rasa takut yg begitu besar.


"Sebenarnya kamu apain dia, huh?" tanya Granny tiba tiba pada Amar. Amar tak menjawab nya, ia hanya terus mondar mandir, mengacak acak rambut nya, mengusap wajah nya dengan kasar.


Kenapa ia bisa melakukan semua ini? Amar menjadi manusia paling jahat karena sudah menyakiti istri nya untuk yg kedua kalinya dan ia juga menyakiti bayi nya. Bagaimana jika terjadi sesuatu?


"Ya Allah... Tolong selamatkan mereka" gumam Amar. Ia merasa begitu takut dan itu membuat nya merasa frustasi.


"Amar..." nenek nya berteriak, karena ia yakin apa yg terjadi pada Maryam adalah ulah Amar yg mungkin tak bisa mengontrol emosi nya.


"Aku engga sengaja mendorong nya, Granny" lirih Amar yg seketika membuat Granny menganga menatap Amar tak percaya namun kemudian ia memukuli Amar.

__ADS_1


"Apa yg sudah kamu lakukan? Kenapa kamu menyakiti meraka? Apa kamu melampiaskan kebencian mu pada istri dan anak mu?" Granny Amy meneriaki Amar dengan pertanyaan yg membuat hati Amar terasa tercabik cabik dan Amar hanya bisa diam. Tuhan tahu betapa Amar mencintai istri dan bayi mereka, jadi tak mungkin Amar menyakiti mereka. Tapi memang itulah yg terjadi.


"Tolong tenang dan jangan buat keributan!" seorang Suster memperingatkan mereka. Granny Amy terduduk lemas sambil menangis. Amar duduk di samping nenek nya, menyandarkan kepalanya di bahu nenek yg sudah merawatnya seperti seorang ibu. Amar pun menangis, ia menangis terisak. Rasa bersalah karena sudah kasar pada istri nya dan takut terjadi sesuatu pada istri dan anak nya membuat Amar tak kuasa membendung air matanya.


"Aku engga sengaja, aku takut mereka kenapa napa, Granny" lirih Amar. Granny Amy pun mengelus kepala cucu nya itu dengan Sayang.


"Kita doakan saja semoga mereka baik baik saja"


Amar dan Granny Amy kini menunggu dalam diam. Dalam hati, Amar terus memohon agar istri dan anak mereka baik baik saja.


Dan saat seorang Dokter keluar dari ruangan Maryam, Amar segera bangkit dan mencecar Dokter itu dengan berbagai pertanyaan.


"Syukurlah pasien dan bayi dalam kandungan nya baik baik saja, kalian membawa nya di waktu yg tepat" seru Dokter itu yg membuat Amar dan Granny langsung mengucapkan syukur dan bernafas lega.


"Alhamdulillah, ya Allah" gumam kedua nya.


"Tapi pasien masih harus istirahat, dan di rawat inap sampai kondisi nya membaik"


"Apa aku boleh masuk?" tanya Amar dan Dokter itu mempersilahkan.


Amar pun masuk dan ia melihat istri nya yg terbaring lemah. Amar tak bisa menyembunyikan kesedihan dan rasa bersalah nya. Maryam yg tadi sempat pingsan kini sudah sadar, ia menyunggingkan senyum lemah nya pada suami nya itu.


"Sayang..." Amar mencium kening Maryam dan lagi lagi Amar tak bisa menahan air mata nya yg kini tumpah dan membasahi kening Maryam.


"Hey... Kami baik baik saja" seru Maryam mencoba menghibur suaminya yg masih menangis. Amar duduk di kursi yg ada di samping bangsal Maryam, kemudian ia menggenggam tangan Maryam dan mengecup nya berkali kali sembari terus menggumamkan kata maaf.


"Maafin aku, Sayang. Aku sangat jahat, tolong maafin aku..." ucap nya setengah berbisik. Maryam masih setia menyunggingkan senyum tipis, ia membelai pipi suaminya dan menghapus air mata yg membasahi pipi nya itu.


"Engga apa apa, kamu engga sengaja. Dan kami baik baik saja, Amar. Sudah jangan menangis ya" ucap nya lembut namun itu malah membuat Amar semakin terisak. Ia ingat sudah berjanji pada Maryam tidak akan menyakiti nya lagi, namun Amar melanggar janji itu dan Maryam masih begitu lembut, memahami dan memaafkan dirinya.


"Malu lho sama baby kita" bujuk Maryam, membawa tangan Amar pada perut nya "Dia kuat kok" lanjut nya. Amar mengangguk dan mengecup perut Maryam.


"Anak Daddy pasti kuat. maaf ya, Sayang. Daddy menyakiti mu dan Mommy, maafin Daddy"


"Aku benar benar takut" lirih Amar kemudian "Maaf aku engga bisa nepati janji"


"Udah, lupakan itu. Yg penting sekarang kami baik baik saja" seru Maryam. Walaupun sebenarnya ia memang merasa kecewa karena lagi lagi Amar tak bisa mengontrol emosi nya, namun Maryam mencoba mengerti dan ia sangat bersyukur karena bayi nya baik baik saja.


"Aku janji engga akan nyakiti kalian lagi, aku sangat mencintai kalian" ucap Amar, sekali lagi mengecup kening Maryam.


"Kami juga mencintai mu"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2