
Anggi duduk merenung di pojok kamar nya yg gelap, teringat kembali apa yg di dengar nya di kajian tadi. Ia bertanya tanya, apakah benar semua nya berhak mendapatkan kesempatan kedua termasuk diri nya?
Mengingat bagaiamana dirinya selama dua tahun terakhir, ia bahkan tak tahu lagi keadaan orang tuanya. Dia tak melakukan apapun kecuali dosa dan dosa.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh, Anggi keluar dari kamar nya karena merasa haus. Di ruang tengah, Anggi melihat sebuah laptop yg masih menyala, mungkin laptop milik Maria, fikirnya. Anggi pun menghampiri nya dan membaca tulisan di laptop itu. Anggi membaca nya dengan begitu serius hingga tanpa sadar, Maria sudah berdiri di belakang nya dengan segelas air.
"Ada apa, Nggi?"
"Eh..." Anggi tersentak kaget dan langsung berdiri "Engga apa apa, tadi engga bisa tidur" jawab Anggi. Maria hanya mengulum senyum dan menjatuhkan dirinya di sofa, kemudian Maria mengambil laptop nya dan meneruskan tulisan nya.
Tulisan yg sebenarnya kisah hidup Maria sendiri sejak kecil, Maria menuangkan setiap masalah nya, penderitaan dan air mata nya di dalam sebuah tulisan sejak dulu, ia lakukan itu untuk sedikit mengeluarkan beban dalam hati nya.
"Cerita nya bagus" ucap Anggi sambil mengintip tulisan Maria "Mau di buku kan?" Maria tertawa kecil mendengar itu.
"Engga lah, ini cuma cerita hidup ku aja"
"Tapi bagus, Maria. Itu bisa jadi novel, Boleh aku baca dari awal?" tanya Anggi namun Maria menggeleng dan segera menutup laptop nya.
"Mau di buku kan sama siapa?" tanya Maria kemudian ia berdiri dan meletakkan laptop nya di meja "Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur" seru nya kemudian meninggalkan Anggi.
Anggi yg masih penasaran dengan tulisan Maria, membuka kembali laptop Maria dan ia membaca tulisan Maria dari awal.
.
.
.
Amar menatap langit langit kamar nya, mengingat kembali masa lalu nya yg berdampak padanya hingga masa sekarang dan mungkin pada masa yg akan datang.
Ia mengingat isi kajian yg ia ikuti.
Memaafkan.
__ADS_1
Jika Tuhan saja maha pemaaf. Kenapa dirinya tak bisa memaafkan? Tapi memang rasanya sangat sulit, apa lagi ia telah kehilangan orang orang yg sangat berarti dalam hidup nya.
"Belum tidur?" Maryam menggumam sembari mendesakan tubuhnya ke tubuh Amar, mencari kehangatan dan kenyamanan dari sang suami.
"Engga ngantuk" jawab Amar singkat dan mendekap istri nya.
Maryam membuka mata nya, dan ia bisa melihat bahwa Amar sedang memikirkan sesuatu. Apa lagi dahi Amar yg berkerut.
"Apa yg kamu fikirkan, Sayang" tanya Maryam, mengangkat tangannya dan memijat kening Amar. Amar memaksakan bibir nya tersenyum dan menggeleng.
"Engga ada, Sayang. Tidurlah" Amar mengecup kening Maryam "Maryam..." seru nya kemudian.
"Hem?" Maryam menggumam namun kembali memejamkan mata.
"Kenapa kamu menjenguk nya?" tanya Amar tiba tiba yg membuat Maryam langsung membuka mata.
"Maksud mu?" tanya Maryam sembari menatap suami nya yg juga sedang menatap nya.
"Dia, kenapa kamu menjenguk nya di penjara? Padahal dia bukan siapa siapa kamu" lirih nya.
"Aku tahu kamu sudah engga anggap dia lagi, tapi aku juga tahu, hubungan darah engga akan terputus apapun yg terjadi. Yg ku lakukan, hanya menghormati hubungan yg suami ku miliki"
"Maksud mu?"
"Amar, bagaiamana pun juga, dia ibu mu, dia yg mengandung dan melahirkan mu, dia juga yg merawat mu, dan yg terpenting, dia sudah berubah, menyesali perbuatan nya, dia sudah bertaubat, Amar. Dan aku menjenguk nya, karena dia masih ibu mu, yg arti nya mertua ku. Dan mertua sama seperti orang tua sendiri, aku harus menghormati nya, dan masa lalu nya biarkan itu menjadi urusan dia dan Tuhan nya"
Amar hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar Maryam, hati kecil nya membenarkan apa yg di katakan Maryam, tapi tidak dengan akal nya.
Amar masih berfikir, wanita itu tak pantas di panggil ibu, dan Amar takkan pernah memaafkan nya. Apa lagi dia sudah dengan sengaja membunuh ayah nya.
Melihat Amar yg tampak berfikir keras, apa lagi dengan sorot mata nya yg tajam dan rahang nya mengeras. Maryam tahu apa yg Amar fikirkan, tapi Maryam juga percaya, hati Amar masih bisa terbuka untuk memaafkan ibu nya. Walaupun bukan sekarang, mungkin nanti. Yg harus Maryam fikirkan sekarang adalah bagaimana membantu Amar menghapus kebencian di hati nya, karena sungguh kebencian tak memberikan apapun kecuali penderitaan yg tiada akhir.
.
__ADS_1
.
.
"Merasa lebih baik?" tanya Faraz yg membantu Afsana meluruskan kaki nya. Afsana mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya, Afsana sudah bisa melakukan penerbangan, yg arti nya, ia bisa kembali ke pesantren nya.
Faraz dan Afsana sudah membicarakan hal itu, mereka hanya perlu memeriksakan kaki Afsana sekali lagi dan setelah itu Faraz akan mengantar Afsana ke pesantren nya.
"Dek, nanti jangan lupa kasih tahu ya sama teman teman mu dan pengurus asrama mu kalau kamu sudah menikah"
"Iya, Kak. Lagian kan Kak Faraz yg nganterin Ana, kita bisa bicara dengan pengurus pesantren kalau kita sudah menikah"
Faraz terus memperingatkan Afsana agar Afsana memberi tahu temannya bahwa Afsana telah menikah, Faraz meminta hal itu karena takut kalau Afsana hamil dan orang orang akan berfikir bagaiamana bisa Afsana hamil.
Faraz sebenarnya mengusulkan agar Afsana ikut KB saja sampai Afsana lulus, tapi Afsana menolak. Sekalipun ia hamil, ia akan lulus sebelum melahirkan.
Faraz mengelus kepala Afsana sambil menyunggingkan senyum.
"Apa kamu engga terlalu muda untuk punya anak?" tanya Faraz kemudian dan Afsana menggeleng.
"Justru Ana pengen cepat cepat kasih cucu buat Ummi Lita dan Abi Hubab. Mereka sudah wanti wanti Ana terus suruh jangan KB, mereka udah engga sabar mau cucu katanya. Terus di suruh itu yg teratur" Afsana berbisik di akhir kalimat nya karena ia merasa malu.
"Itu apa?"
"Bukan apa apa" jawab Afsana dengan cepat dengan wajah memerah. Ia merutuki dirinya yg malah memberi tahu Faraz hal seperti itu.
"Seharusnya engga usah kasih tahu"
"Itu apa, Dek..." goda Faraz sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Afsana dan mengecup gemas ujung hidung Afsana.
"Bukan apa apa, Kak. Lupain aja deh" seru nya sambil memberengut dan itu membuat Faraz tertawa geli.
"Iya iya, bilangin Ummi kita bakal rajin buat cucu. Detik ini juga kita bisa buat baby, gimana?" ucap nya yg membuat Afsana malu dan langsung mencubit perut Faraz. Membuat Faraz meringis namun kemudian tertawa. Membuat pipi Afsana semakin memerah saja.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...