Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 25


__ADS_3

Bobby, sopir sekaligus bodyguard pribadi Amar Degazi itu menekan bel rumah Maryam, gadis yg benar benar merubah hidup boss nya.


Tak lama kemudian, muncul lah seorang gadis cantik namun itu bukan lah gadis Tuan nya.


"Ya, siapa ya?" tanya gadis itu lembut.


"Selamat pagi, Non. Saya Bobby, saya sopir nya Tuan Amar" sapa Bobby ramah.


"Oh, ada perlu sama Maryam?" dan Bobby mengangguk "Silahkan masuk, Om. Aku Afsana, sepupu nya Maryam" dan Bobby ber oh ria. Pantas penampilan mereka tak jauh berbeda, fikir nya. Satu golongan toh.


"Tidak perlu, Non. Saya ke sini di suruh untuk mengantar mereka dan memperkenalkannya dengan Nona Maryam" Bobby menunjuk dua wanita yg bertubuh tinggi, berpakaian hitam dan rambut nya pendek.


"Siapa mereka?" tanya Afsana penasaran.


"Mulai hari ini, mereka di tugaskan untuk mengawal Nona Maryam. Karena seperti nya masih banyak orang terutama wartawan yg sangat penasaran dengan nya, jadi mereka bisa melindungi Nona Maryam"


Dan Afsana hanya bisa membuka mulut nya lebar, matanya pun melotot sempurna.


"MARRY..." teriaknya dan Maryam pun segera datang.


"Ada apa, An?" tanya Maryam karena tidak biasanya gadis itu berteriak "Paman Bobby? Apa yg Paman lakukan disini? Apa Amar baik baik saja?" tanya Maryam yg melihat Bobby disana.


Dan Bobby memperkenalkan kedua bodyguard wanita itu dan menjelaskan pada Maryam seperti apa yg dia jelas kan pada Afsana. Sama seperti Afsana yg sangat terkejut, Maryam pun tak kalah terkejut nya.


"Ya Allah, kemaren udah kayak artis di kejar wartawan, sekarang udah kayak putri yg di kawal" gumam Maryam tak habis fikir dengan hidup nya sekarang.


"Engga usah, Paman. Maryam engga perlu di kawal kok, Maryam bisa jaga diri" tolak Maryam.


"Tapi ini perintah Tuan Amar, katanya demi keamanan Nona Maryam"


"Kalau gitu, kenapa engga Amar saja yg datang sendiri keisini?" tanya Afsana.


"Tadi subuh Tuan Amar ke Amerika, Non. Katanya ada pekerjaan mendesak"


"Memang nya dia sudah sehat?" tanya Maryam khawatir.


"Iya, Non. Kalau soalnya pekerjaan mah, Tuan Amar sehat terus, dia jarang bahkan hampir engga pernah sakit, makanya kami semua shock saat dia pingsan dan demam"


"Bener kata Kak Faraz, dia memang kayak robot" gumam Afsana sambil tertawa kecil.


"Ada apa? Kalian bicara sama siapa?" kedua wanita itu menoleh pada suara berat kakak tercinta nya.


"Ini loh, Kak. Amar ngirim dua bodyguard buat jagain Marry" tutur Afsana dan seketika Faraz tertawa.


"Ada ada aja dia tuh" ujar Faraz.


"Tapi demi keamanan Nona Maryam, Pak. Biar kalau ada wartawan, ada yg jagain" jelas Bobby. Dan Faraz pun sekarang memikirkan hal yg sama, apa lagi sejak pemberitaan itu, Maryam sedikit kesulitan untuk keluar rumah.


"Laki laki apa perempuan?" tanya Faraz.


"Perempuan, Pak. Tapi mereka bodyguard pilihan, mereka jago ilmu bela diri. Tuan Amar sengaja cari yg perempuan biar lebih aman kalau harus jaga Non Maryam dari jarak dekat"

__ADS_1


Faraz mengangguk anggukan kepala nya mendengar penuturan Bobby, tak menyangka Amar bisa melangkah sampai sejauh ini untuk Maryam.


"Kalian masuk dulu, ajak juga dua wanita itu, biar kami berbicara sama orang tua kami" ujar Faraz pada Bobby dan Bobby pun mengangguk.


Kemudian Maryam mempersilahkan mereka masuk dan mengantar nya ke ruang tamu, membuat dua bodyguard wanita itu bingung, biasanya jika mereka bekerja, mereka di suruh menunggu di depan pintu rumah. Bukannya di persilahkan seperti tamu.


"Kalian mau minum teh? Kopi?" tanya Maryam yg membuat mereka semakin bingung.


"Tidak perlu, Non. Terima kasih" ucap salah satu wanita itu canggung.


"Silahkan duduk, engga usah canggung" ujar Maryam karena melihat dua wanita didepan nya itu canggung "Oh ya, aku Maryam. Nama kalian siapa?" Maryam mengulurkan tangan nya hendak bersalaman dan sekali lagi dua wanita itu hanya saling pandang namun kemudian menyambut uluran tangan Maryam bergantian.


"Gina"


"Rika"


"Okey, tunggu sebentar ya, soalnya aku harus membicarakan ini dulu sama Abi dan Ummi" ujar Maryam kemudian memanggil Bi Mina untuk memberikan teh pada Bobby dan dua wanita bodyguard itu. Setelah itu, Maryam menyusul Faraz dan Afsana yg sudah lebih dulu mendatangi Asma dan Bilal di kamar nya.


"Bob, kita ini Bodyguard apa tamu sih?" tanya Rika heran.


"Iya, dia itu mau jadi kan kita pengawalnya apa teman nya? Kenalan aja pakek salaman, di tawari minium lagi" Sambung Gina.


"Haha, ya itulah Maryam dan keluarga nya. Engga apa apa, santai aja. Aku yakin kalian akan suka bekerja untuk Maryam"


.


.


.


"Terus menurut Ummi sama Abi gimana?" tanya Maryam.


"Loh, kenapa tanya sama Abi dan Ummi?" Asma balik bertanya.


"Ya Ummi sama Abi ngizinin Maryam punya bodyguard engga?" kali ini Faraz yg bertanya. Karena seperti biasa, mereka akan selalu bertanya dulu pada orang tua nya sebelum mengambil keputusan.


"Ya kalau Ummi sih terserah Maryam aja, apa lagi bodyguard nya wanita, jadi aman lah. Malah Ummi jadi ingat novel novel yg Ummi baca, haha haha" tutur Asma sambil tertawa "Kalau punya pacar CEO memang gitu, Ummi fikir itu cuma ada di novel, eh ternyata anak Ummi ngalamin. Romantis ya" lanjut nya sambil tertawa geli, membuat suami dan anak anak nya geleng geleng kepala dengan tingkah ibu rumah tangga itu.


"Malah novel" gerutu Maryam.


"Ibu kalian itu memang suka baca novel sejak dulu" sambung Bilal "Ya kalau Abi fikir mungkin engga usah, mulai sekarang kamu harus selalu pakai cadar jadi engga ada yg mengenali mu" usul ayahnya "Punya bodyguard rasanya berlebihan"


"Maryam juga berfikir kesana" jawab Maryam.


"Jadi sudah di putuskan nih, engga usah ada bodyguard?" tanya Faraz memastikan. Bilal dan putri nya itu pun mengangguk.


"Padahal seru kalau punya bodyguard, Marry" sambung Afsana "Benar kata Ummi Zahra, kayak di novel. Ugh, Amar Degazi romantis amat ya" ujar nya.


"Manusia robot begitu di bilang romantis" gerutu Faraz tak suka.


Akhirnya mereka memutuskan untuk tak memakai jasa bodyguard, Faraz pun sudah menjelaskan pada Bobby. Dan jika memang Maryam membutuhkan nya, maka Faraz akan memberi tahu itu nanti.

__ADS_1


.


.


.


Dilara, gadis cantik bertubuh bak model itu sangat bersedih dengan penolakan cinta nya.


Dia mencintai Amar Degazi, bukan seperti wanita lain yg hanya ingin bersenang senang dengan Amar. Tapi dia sungguh mencintai dari hati dan ingin menjadi pendamping Amar.


Dia tahu Amar sering melukai dirinya sendiri, walaupun ia tak tahu apa penyebab nya.


Tapi Amar selalu saja menolak nya mentah mentah, padahal ia sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan pria es itu. Dan saat Amar mengencani nya setahun yg lalu, ia begitu senang dan berharap Amar bisa menjalin hubungan yg lebih dengan nya. Ia bahkan dengan senang hati menyerahkan dirinya pada Amar.


Tapi Amar tetaplah Amar, yg hanya akan berkencan kemudian ia campakan teman kencan nya itu.


Dan sekarang Amar ingin menikah?


Itu pun dengan seorang gadis yg sangat jauh dari level seorang Amar, gadis religious berasal dari keluarga religious pula.


Apakah Amar memang mencintai nya? Atau hanya ingin mencoba sesuatu yg baru?


"Benar, mungkin saja Amar hanya penasaran dengan gadis berpenampilan syar'i itu. Lagi pula, gadis seperti itu pastilah bukan tipe Amar"


"Non Dilara..." terdengar suara ketukan di kamar nya dan suara pelayan memanggil namanya.


Dilara melirik jam dinding, sudah waktu nya sarapan. Dan setelah itu dia harus pergi bekerja.


Bahkan demi mendekati Amar, Dilara bahkan mengambil alih perusahaan ayahnya dengan begitu dia bisa selalu punya alasan untuk semakin dekat dengan Amar.


Dilara turun dan mendapati ayah ibunya yg sedang menyantap makanan.


"Gimana perusahaan di tangan mu, Di?" tanya Sajaya, ayahnya.


"Baik aja kok, Pa" jawab Dilara sambil menarik kursi.


"Baguslah, bagaiamana kerjasama sama dengan Amar?"


"Entahlah, dia membatalkan meeting terakhir kami, dan kata asisten nya, sekarang dia ada di Amerika mungkin untuk dua atau tiga hari"


"Sebaiknya kamu berhenti mengejar Amar, Di" pinta ibunya yg bernama Jia Sanjaya.


"Aku mencintainya, Ma. Dan aku engga akan berhenti sampai mendapatkan dia" ibunya itu menggelengkan kepala. Anaknya sangat keras kepala dan ambisius.


"Itu bisa jadi bumerang untuk mu nanti, lagi pula sekarang Amar sudah punya calon istri"


"Itu cuma gosip kali, Ma. Lagi pula gadis itu engga cocok sama Amar, dia jauh di bawah level Amar. Mungkin Amar hanya penasaran dengan gadis itu, setelah Amar berhasil meniduri nya pasti langsung di buang"


"Tapi kelihatannya gadis itu gadis baik baik"


"Penampilan nya aja"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2