Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 114


__ADS_3

Amar mendatangi sebuah rumah kontrakan yg sangat kecil, ia mengetuk pintu sekali, setelah itu ia menunggu dengan gelisah. Tak lama kemudian pintu terbuka dan sosok wanita yg berstatus sebagai ibu nya itu muncul dengan senyum lebar.


"Amar..." seru Rossa, merasa tak percaya Amar datang menemui nya "Ayo masuk" ucap sang ibu dengan mata berbinar. Amar pun masuk dengan hati yg masih tak tenang, ia melirik sudut sudut dirumah itu yg bagi Amar sangat tak layak di tempat manusia, sangat kecil.


"Kamu mau minum apa?" tanya Rossa masih tersenyum. Amar langsung mengeluarkan sebuah kunci dari saku nya dan selembar cek kosong, Amar meletakkan nya di hadapan Rossa.


"Itu kunci rumah mu, dan isi saja berapa pun uang yg kau mau" ujar nya dingin, dan hal itu langsung membuat senyum Rossa musnah.


"Aku suka tinggal di sini, dan aku sudah punya pekerjaan" jawab Rossa dengan sangat sedih.


"Aku engga bermaksud menanggung kebutuhan mu, tapi rumah itu memang milik mu, dan ada bagian mu di harta papa" jelas Amar dengan ekspresi yg datar. Setelah itu Amar langsung bergegas pergi tanpa basa basi lagi sedikitpun, membuat Rossa tersenyum meringis, bahkan sampai detik ini Amar masih membenci nya.


Rossa mengambil kunci itu, itu adalah kunci rumah lama mereka, rumah yg dulu mereka tempati bersama sama, penyesalan Rossa belum juga hilang karena telah menghancurkan keluarga nya sendiri. Kemudian Rossa mengambil cek itu dan menuliskan nominal 50 juta.


Istanbul, Turkey.


"Wanita adalah tiang dalam rumah tangga, jika wanita hancur, maka rumah tangga pun pasti akan hancur, terutama kehidupan anak anak. Selain cinta, itulah alasan ku menikahi Afsana. Untuk tiang rumah tangga ku, ibu yg sekaligus akan menjadi guru anak anak ku, tentu aku ingin perempuan terbaik. Dan aku mengenal Afsana sebaik itu"


"Kalian pasangan yg sempurna"


"Sebenarnya engga, kami jauh dari sempurna. Kami hanya mencoba saling menutupi kekurangan kami supaya hubungan kami sempurna"


Saat ini Sarfaraz mengobrol dengan salah satu teman kuliah nya yg juga akan bekerja sama dengan nya, teman nya itu memang mengenal Afsana sebagai adik Sarfaraz, dan ia masih tak percaya bagaiamana mungkin Sarfaraz menikahi adik sepupunya sendiri, ia sempat mengira itu perjodohan. Namun ketika Sarfaraz menceritakan nya, harus dia katakan Sarfaraz memang beruntung.


"Mungkin itulah yg namanya jodoh adalah cerminan diri" ucap teman nya itu, Faraz hanya menanggapi nya dengan tertawa kecil.


Setelah membicarakan beberapa hal, akhir nya Faraz memutuskan untuk kembali ke hotel.


Sudah lima hari mereka di Turkey, dan lima hari ini Faraz memang mengurus pekerjaan dan sesekali mengajak Afsana makan atau jalan jalan. Dan ini hari terakhir pekerjaan nya, dan sekarang saat nya liburan bersama sang istri.


Afsana mengerang lirih saat ia merasakan sentuhan di pipi nya, namun ia tetap terpejam, menarik selimut dan mencari posisi nyaman dalam tidur nya.


"Sayang, An... " Faraz kembali menepuk pipi Afsana namun Afsana hanya menggumam. Membuat Faraz merasa gemas, karena tak kunjung bangun akhir nya Faraz mengecup pipi Afsana berkali kali sambil mengguncang pundak nya.

__ADS_1


"Apa, Kak?" tanya Afsana berusaha membuka mata nya.


"Bangun" ucap Faraz di sela sela kesibukannya mengecup pipi Afsana.


"Memang nya sudah subuh?" tanya Afsana sambil menguap, mengucek mata nya dan berusaha duduk.


"Sudah dari tadi, ayo bangun. Mandi, dan kita sholat subuh" ucap Faraz sambil menarik tangan Afsana supaya istri nya itu bangun dan turun dari ranjang. Afsana pun bergegas ke kamar mandi sambil sesekali menguap dan meregangkan tubuhnya yg sangat lelah.


Lelah melewati malam panjang bersama suaminya.


Saat Afsana hendak menutup pintu, Faraz tiba tiba langsung masuk dan sedikit mengejutkan Afsana.


"Kak Faraz belum mandi?" tanya Afsana yg melihat Faraz mulai menanggalkan pakaian nya.


"Belum, nungguin kamu. Biar bisa mandi bareng, jadi makin kerasa kalau kita bulan madu" tutur nya yg membuat Afsana terkikik geli.


"Ada ada aja"


Di sore hari, Faraz membawa Afsana ke pantai, mereka tampak sangat bahagia dan tak pernah melepaskan tangan yg saling menggenggam. Bibir Afsana pun selalu menyunggingkan senyum manis nya, ia sangat bersyukur karena doa doa nya selama ini di kabulkan oleh Rabb nya, Afsana bahkan mendapatkan kebahagiaan yg jauh lebih indah dari yg dia bayangkan.


Saat asyik berjalan sambil bergandengan, tiba tiba ada banyak sekali anak remaja yg memakai kostum tarian sufi datang mengelilingi mereka, kemudian mereka mulai menari dengan sangat indah. Afsana segera mengambil ponsel nya dan mengabadikan moment itu, bahkan remaja itu juga mengajak Faraz menari, awalnya Faraz menolak namun Afsana membujuk nya, Faraz pun menari sebisa nya dan Afsana tersenyum melihat suaminya yg menggemaskan itu. Dan ternyata disana juga ada seseorang yg merekam mereka secara khusus.


Dan saat tarian mereka selesai, mereka tiba tiba membuat formasi mengelilingi Afsana, membuat Afsana kebingungan dan ia hanya bisa memandangi apa yg mereka lakukan. Mereka membentuk formasi berbentuk hati dengan Afsana yg tepat berada di tengah tengah nya.


"Kak Faraz..." lirih nya dengan mata yg berkaca kaca apa lagi ketika melihat Faraz yg masuk kedalam formasi itu dengan membawa setangkai bunga mawar. Sekarang Afsana tahu ini pasti rencana Faraz, dan ia sangat terharu dengan keindahan ini.


Faraz berjalan dengan gagah nya ke arah Afsana, ia mungunci tatapan Afsana, terus berjalan mendekat dengan senyum penuh karisma yg mengembang di bibir nya. Saat didepan Afsana, Faraz langsung bertekuk lutut.


"Apa kamu bahagia?" tanya Faraz sembari memberikan setangkai bunga itu pada Afsana. Afsana mengangguk dengan cepat namun ia tak bisa berkata kata, Afsana pun mengambil bunga itu, menghirup aroma nya yg segar.


"Sekarang kamu tahu kan, kalau bulan madu kita itu bukan karena sekalian kerja" ucap Faraz lagi sambil terkekeh, Afsana pun ikut tertawa dan ia hanya mengangguk "Berikan tangan kanan mu, Sayang" ucap nya kemudian sambil mengulurkan tangan nya, Afsana pun menyambut uluran tangan Faraz.


Kemudian Faraz mengecup mesra punggung tangan Afsana sebelum akhir nya ia menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis sang istri, yg sekali lagi membuat Afsana begitu terharu.

__ADS_1


"Kak Faraz kapan nyiapin semua ini?" tanya Afsana bahkan kini satu bulir bening itu berhasil lolos dari sudut mata nya.


"Sejak lama" ucap Faraz kemdudian ia berdiri, dan Afsana langsung berhambur kedalam pelukannya.


"Makasih" ucap Afsana yg kini menenggalamkan wajah nya di dada Faraz, apa lagi ketika terdengar suara tepuk tangan dan bahkan siulan dari orang orang di sekitar nya. Bahkan kini mereka menjadi pusat perhatian orang orang yg ada di pantai. Beberapa dari mereka memberikan selamat pada Faraz karena mengira Faraz melamar Afsana, namun ketika Faraz menjelaskan bahwa sebenarnya mereka menikah sudah sejak lama, dan saat ini mereka sedang berbulan madu yg sempat tertunda, mereka malah bertepuk tangan, dan salah satu dari mereka mengatakan tak banyak orang yg tetap romantis seperti itu setelah menikah.


Dan sebagian dari mereka malah meminta foto bersama Afsana, Faraz dan para penari itu.


Dengan senang hati Faraz pun mengiyakan nya.


Faraz dan Afsana mengahabiskan waktu mereka dengan melakukan segala hal, dari mengunjungi tempat tempat bersejarah, museum, mencicipi segala kuliner jalanan Istanbul, bahkan berlayar bersama sama turis di sana.


Faraz juga mempelajari banyak hal di Turkey, entah itu sejarah nya maupun bangunan bangunan yg tua yg bersejarah dan segala tokok tokoh dalam sejarah itu, dan sebagai seorang arsitek, hal itu memberikan wawasan yg sangat luas untuk Faraz bisa pelajari dan terapkan. Faraz bahkan sudah membuat Daftar untuk mendatangi masjid masjid bersejarah yg ada di Turkey. Karena itulah tak heran jika liburan mereka di perpanjang dari rencana awal.


Dan saat ini, kedua nya ada di masjid Hagia Shopia.


"Masya Allah, indah nya" gumam Afsana saat memasuki masjid besar dan megah itu.


"Ini luar biasa" sambung Faraz, kedua nya berkeliling di sekitar masjid dan tak lupa mengabadikan moment itu.


Keduanya tampak sangat mengagumi tempat ibadah yg sangat megah dan bersejarah itu.


"Nanti kalau anak ku perempuan, aku mau kasih nama Hagia Sophia" ucap Faraz tiba tiba sambil tersenyum lebar.


"Ana setuju, beautiful name, beautiful soul, and legend. Hopefully"


"Aamiin" ucap Faraz dengan tulus, kemudian mereka melanjutkan menikmati waktu dan keindahan Hagia Sophia itu seharian, sementara di hari berikutnya Faraz berniat mengunjungi masjid masjid bersejarah yg lain nya sekaligus dia sangat ingin mepelajari asritektur nya.


"Besok ke masjid Beyazid II" ucap Faraz antusias.


"Inysa Allah" jawab Afsana yg juga tampak sangat antusias.


▫️▫️▫️

__ADS_1


__ADS_2