
Seperti janji Faraz, kini ia kembali rajin bekerja dan bahkan hampir setiap hari lembur untuk mengejar pekerjaan nya yg sempat terbengkalai.
Sudah seminggu yg lalu ia mengantar Afsana kembali ke pesantren nya dan kini ia menjalani hari hari seperti biasa, namun dengan satu perbedaan, yaitu status nya yg bukan lagi bujangan.
Beberapa hari yg lalu Maryam menemui nya dan membicarakan Maria yg katanya mengangkat kisah hidupnya dalam sebuah novel dan sudah siap di terbitkan, hanya saja dalam kisah itu juga ada kisah Faraz dan Maryam dan Maria meminta izin pada Maryam dan keluarga nya.
Awalnya Faraz keberatan, ia tak mau musibah yg menimpa adiknya di ungkit kembali apa lagi menjadi bahan konsumsi para pecinta novel. Namun Maryam sendiri tak keberatan, jika itu bisa menjadi sebuah motivatisi untuk wanita lain yg mungkin pernah ada dalam posisi nya, hal itu sangat sulit di hadapi namun bukan berarti mustahil bisa di hadapi, selain itu Maryam juga menjelaskan cerita nya tidak akan di tulis secara gamblang seperti kisah nyata nya, akan ada beberapa hal yg akan dirubah dan di samarkan namun takkan jauh dari kisah asli nya.
Kemudian Faraz mengatakan untuk membicarakan hal itu dengan keluarga nya terutama dengan Abi dan Ummi nya. Dan ternyata Maryam sudah melakukan itu dan mereka semua setuju. Mereka bahkan mendukung Maria untuk bangkit dan merubah hidup nya.
Tak terkecuali Nabil, pria itu membantu Maria sebisa mungkin, walaupun awal nya Maria menolak, namun Nabil mengatakan ia hanya membantu Maria sebagai sesama manusia, dan Nabil tak bermaksud mencari perhatian Maria apa lagi mencoba mengambil hati nya walaupun Nabil memang mencintai Maria.
Keduanya pun semakin hari semakin dekat, dan perlahan Maria menunjukan sikap pertemanannya pada Nabil.
Namun seperti nya, pertemanan itu kini hanya akan berlanjut lewat media sosial saja, karena rupanya Nabil harus pulang ke Mekkah. Dan entah kenapa, Maria merasa sedih dan kehilangan dengan hal itu.
Kini Maria kembali menjalani hari nya tanpa Nabil namun Maryam selalu ada sebagai teman nya. Dan Maria harus bersiap menuliskan novel keduanya setelah novel pertama nya di terbitkan. Namun Maria belum bisa menulis kisah nya, karena ia masih tak tahu akan berakhir seperti apa kisah nya.
Dan untuk itu, Vita menyarankan agar menulis novel kedua nya setelah Maria melahirkan saja. Jika Maria menjadi single parent, maka itu yg akan jadi novel keduanya.
Ataukah akan ada cinta lagi dalam hidup Maria? Yg bisa menerima Maria menjadi istri nya dan anak Maria menjadi anak nya?
Maria tersenyum kecut membayangkan itu, mustahil. Namun kini ia bertekad untuk mengubah segala nya, membangun kembali kepercayaan dirinya, mencari pekerjaan dan menyiapkan uang untuk persalinannya nanti, selain itu, Maria juga memutuskan untuk melanjutkan kuliah nya setelah melahirkan nanti dan mendapatkan gelar Sarjana nya.
.
.
.
Maryam yg uring uringan mendapatkan perhatian dari Granny Amy. Ia menanyakan keadaan Maryam dan Maryam mengatakan ia hanya sering pusing dan mual akhir akhir ini.
"Jangan jangan kamu hamil, Nak" seru Granny Amy yg langsung membuat Maryam terkejut dan mengingat kembali kapan terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanan nya.
__ADS_1
"Masak iya, Granny?" tanya Maryam.
"Biar Granny suruh Fifi membelikan test peck untuk mu"
Test peck.
Maryam teringat dengan hadiah Kak Nabil nya dan ia tersenyum geli.
"Engga usah, Granny. Maryam punya kok, di kasih Kak Nabil" ucap nya sambil terkikik, Granny yg mendengar itu hanya bisa melongo bingung dan berfikir untuk apa Nabil memberikan test peck pada adik sepupunya?
"Ya udah, ayo cek" seru Granny kemudian dan keduanya naik ke kamar Maryam.
Maryam mengambil test peck yg ia simpan di laci dan ia segera bergegas ke kamar mandi. Sementara Granny Amy harap harap cemas menunggu hasil nya. Dan pintu yg tiba tiba terbuka mengagetkan Granny Amy.
Amar yg melihat neneknya berada di kamar nya sedikit heran, Amar sendiri baru saja pulang dari kantor nya dan karena tak mendapati siapapun di bawah, ia segera bergegas ke kamar nya.
"Maryam mana?" tanya Amar sembari mencium tangan nenek nya. Namun Granny tak menjawab nya dan ia kembali mondar mandir di depan pintu kamar mandi "Granny kenapa sih?" tanya Amar lagi, dan pintu terbuka, Maryam keluar dengan senyum yg mengembang di bibir nya.
"Gimana hasilnya?" tanya Granny antusias sementara Amar hanya mengerutkan kening nya.
"Dua garis nya" ucap Maryam dengan wajah sumringah.
"Garis apa?" tanya Amar lagi dan tiba tiba Maryam langsung memeluk nya dengan erat dan mencium pipi Amar berkali kali.
"Baby" bisik Maryam membawa tangan Amar ke perut nya.
Amar hanya bisa menganga sembari memperhatikan tangan nya yg ada di perut Maryam.
"Benaran?" tanya Amar kemudian dan Maryam mengangguk. Kini gantian Amar yg langsung memeluk Maryam dan mencium setiap inci wajah istri nya itu. Ia begitu bahagia hingga tak tahu lagi harus bereaksi seperti apa, mata Amar bahkan sudah berkaca kaca saking merasa terharu nya dengan kabar bahagia ini.
"Baby? Aku akan jadi Daddy?" tanya nya lagi dan Maryam kembali mengangguk.
"Granny bakal punya cicit" ujar Granny yg juga tampak sangat bahagia.
__ADS_1
"Sayang, kita ke dokter ya, biar kita tahu keadaan baby kita" ucap Amar kemudian dan Maryam mengangguk.
"Granny ikut" seru Granny Amy yg langsung di iyakan Amar. Kemudian Granny Amy segera pergi bersiap siap.
"Tunggu di sini, aku ambilkan pakaian mu" seru Amar meminta Maryam duduk di tepi ranjang.
"Engga usah, aku bisa sendiri" ucap Maryam namun sekali lagi Amar memerintahkan nya untuk duduk manis sementara Amar mencari pakaian Maryam.
Setelah Maryam berganti pakaian, kedua nya segera turun.
"Sayang, pelan pelan aja jalan nya. Biar bayi kita engga terguncang" ucap Amar yg bahkan setengah memapah Maryam turun membuat Maryam tertawa geli "Oh ya, selama kamu hamil, kita buat kamar di lantai bawah aja ya, biar kamu engga naik turun" lanjut nya lagi dengan ekspresi yg sangat serius.
"Engga usah, kami akan baik baik saja" ucap Maryam meyakinkan namun seperti nya Amar tak akan mengindahkan kata kata istri nya itu.
"Bobby..." teriak Amar memanggil sopir nya itu. Bobby yg baru saja menyerudup kopi nya langsung terperanjat dan segera berlari menghampiri boss nya.
"Iya, Tuan?"
"Kita kerumah sakit sekarang" perintah Amar dan Granny Amy pun juga sudah siap.
"Nyonya Maryam sakit?" tanya Bobby khawatir apa lagi melihat Amar yg merangkul Maryam seolah takut Maryam jatuh saja.
"Nyonya Maryam sakit apa?" kali ini Fifi yg datang dan ia juga tampak sangat khawatir.
"Maryam engg sakit" jawab Amar "Oh ya, bulan ini gaji kalian semua di lipatkan, jadi lima kali lipat. Dan bulan depan aku akan menaikan gaji kalian jadi dua kali lipat"
Semua pelayan yg mendengar itu langsung menganga lebar begitu juga dengan Bobby dan Fifi. Maryam sendiri melotot terkejut namun kemudian ia tertawa kecil. Granny Amy pun juga tertawa kecil melihat kebahagiaan Amar yg tak pernah ia bayangkan.
"Wah beneran, Tuan?" tanya Fifi penasaran.
"Iya, untuk menyambut pewaris Degazi Corp"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...