
Amar tak bermaksud menyakiti Lily, karena Amar juga punya adik perempuan. Ia hanya bersandiwara seolah ia menyiksa Lily dan itu di lakukan dengan persetujuan Lily dan kedua orang tua nya. Mereka sendiri sangat tidak percaya saat melihat video Erick yg menyiksa Maryam dengan begitu keji nya bahkan Erick sudah melucuti pakaian Maryam dan hendak melakukan aksi bejat nya. Hal itu, membuat sang ibu sangat hancur, apa lagi setelah tahu asal usul keluarga Maryam. Mereka merasa malu atas tindakan Erick.
Amar sangat ingin membuat Erick membayar mahal apa yg sudah dia lakukan, dan Amar juga ingin Erick bersaksi bahwa Erick dan Maryam tak ada hubungan apapun, bahwa Maryam memang di jebak dan Maryam masih suci. Maryam masih belum ternoda. Nama baik keluarga besar Maryam harus segera di bersihkan.
Di sisi lain, Amar juga sangat marah. Dan ia ingin membuat Erick merasakan apa yg keluarga Maryam rasakan, ingin membuat Erick mengerti betapa sulit nya itu bagi mereka saat anak gadis mereka ternoda.
Dan prank itu berjalan lancar. Bahkan Lily yg berteriak histeris membuat Erick tak berdaya. Padahal Amar tak menampar Lily, ia hanya menyentuhkan tangan nya di pipi Lily dan Lily dengan sendiri nya yg menjatuhkan diri.
Amar juga tak menarik rambut Lily, dia hanya memegang nya dan Lily berteriak seolah kesakitan. Amar memang merobek piyama Lily tapi Lily mengenakan baju lain di dalam.
Itu semua hanya untuk menyiksa Erick.
.
.
.
Erick berteriak mencari kedua orang tua nya dan juga Lily di setiap sudut rumah mereka. Namun tak ada tanda tanda mereka ada dirumah, entah kemana Amar membawa keluarga nya.
Erick menyesal telah melangkah terlalu jauh, tapi Erick tak menodai calon istri Degazi itu.
Saat itu, Erick yg tak terima di ceramahi panjang lebar oleh Maryam, memang mencekik Maryam bahkan membuat gadis itu hampir pingsan, tapi tentu Erick tak ingin menikmati tubuh orang yg lagi pingsan. Erick segera melucuti pakaian Maryam yg sudah hampir kehilangan kesadarannya, namun saat hendak ingin melakukan aksi jahat nya, smart watch yg di pakai Maryam bergetar.
Erick baru sadar kalau Maryam mengenakan jam tangan serba guna itu, padahal Erick sudah membuang ponsel Maryam supaya tak bisa di lacak. Tapi bisa saja, Maryam di lacak lewat jam tangan itu. Erick pun melepaskan jam tangan itu dan hendak menghancurkan nya. Namun nomor yg tak asing bagi nya tertera di layar kecil itu menarik perhatian nya.
"Lily?" Erick sangat tidak percaya bagaiamana mungkin Lily bisa menghubungi Maryam. Dengan ragu dan perasaan bekecamuk, Erick menggeser tombol hijau di layar kecil itu dan seketika terdengar suara girang adik nya.
"Halo, Kak Angel. Kak Lily dapat nilai A+ lho di tugas Fisika Lily. Makasih ya, Kak. Udah bantuin Lily ngerjain tugas waktu itu, seumur umur ini pertama kali Lily dapat nilai A+ di mapel Fisika, biasanya dapat B aja udah senang. Kalau dapat C, uang jajan Lily di kurangi. Hehe"
Kepala Erick seperti di hantam sesuatu yg sangat besar mendengar celotehan panjang lebar adiknya dari seberang telepon dan adiknya itu terdengar sangat bahagia.
Kak Angel?
Jadi Kak Angel yg selama ini Lily ceritakan adalah Maryam?
Yg Lily selalu bilang cantik, baik dan sholehah. Yg memberikan Lily pekerjaan dan membantu tugas sekolah Lily?
"Astaga, apa yg sudah ku lakukan" Erick langsung menjauh dari ranjang dan jatuh terkulai lemas di lantai. Menatap nanar Maryam yg sudah pingsan dengan kondisi mengerikan di tengah ranjang.
"Kak, Kak Angel denger Lily? Halo.. Kak.." terdengar suara adiknya itu yg seperti nya sangat ingin berbicara dengan Kak Angel nya "*Kak, tadi Lily sudah telpon ke nomor yg satu nya, tapi engga aktif. Untung Kak Angel kasih juga nomor yg ini"
"Kenapa Kak Angel diam aja?"
"Halo, Kak Angel kenapa*?"
__ADS_1
Erick marah, marah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menyakiti seseorang yg sangat baik seperti Maryam. Erick tak tahu harus berbuat apa sekarang, ia segera mengkhiri sambungan telpon itu dan kembali melingkarkan smart watch itu di pergelangan tangan Maryam dengan tangan yg gemetar.
Saat ia hendak menutupi tubuh Maryam, ia mendengar seseorang didepan kamar nya dan handle pintu yg berputar sekali.
Dengan cepat, Erick keluar lewat jendela, kemudian menutup rapat jendela lagi dan bersembunyi di sisi balkon dengan bergelantungan.
Erick mengintip ke dalam, dan ia melihat seorang pria datang dan langsung menutupi tubuh Maryam dengan selimut, memeluk Maryam dan menangis histeris. Erick tahu itu adalah Sarfaraz Yusuf, kakak nya Maryam.
Dan seketika Erick teringat Lily. Jika Lily yg di perlakukan seperti itu, ia pasti juga akan bereaksi yg sama.
Dan kata kata Maryam yg terus memperingatkan Erick agar tak melecehkannya, terus terngiang di benak Erick. Maryam sudah berkali kali memperingatkan bahwa Erick pasti punya ibu meskipun tidak punya saudara perempuan dan karma dari perbuataa nya bisa saja menimpa saudari nya.
Tapi kenyataan nya, Erick juga punya adik. Adik yg selalu Maryam bantu, saking sering nya bantuan itu, adiknya sampai memanggil nya Angel.
.
.
.
Keluarga Asma sangat terpukul melihat keadaan Maryam, mereka datang jauh jauh untuk menjadi saksi pernikahan Maryam, untuk mendoakannya menjalani hidup yg baru. Bukan menjadi saksi penderitaan gadis kesayangan mereka itu.
Firda bahkan menangis melihat kondisi Maryam apa lagi terdapat bekas pukulan di wajah nya. Begitu juga dengan Rafa. Ia sedih dan marah, adik nya telah di perlakukan dengan begitu buruk dan Rafa tidak bisa menerima itu. Selama 20 tahun hidup Maryam, tak satupun dari mereka yg pernah menampar Maryam, tapi pria asing yg entah dari mana asal nya menyiksa nya begitu.
"Abi, Maryam mau bicara" ucap Maryam lirih. Saat ini, hanya Abi nya yg menemani nya, sementara Faraz mengantar kakek nenek nya, om Tante dan sepupu sepupu nya kerumah nya.
"Mau bicara apa, Sayang?" tanya Bilal dengan lembut. Seharusnya malam ini adalah akad nikah nya.
"Maryam engga mau menikah. Batalkan saja pernikahan nya"
Bilal sangat terkejut mendengar keputusan putri nya.
"Tapi Sayang..."
"Maryam mohon, Bi. Maryam... Maryam udah engga... Hiks hiks..." dan Maryam kembali menangis membayangkan tragedi yg telah terjadi pada dirinya.
"Aku engga peduli..."
Entah sejak kapan Amar beridiri di ambang pintu dan kini ia berjalan mendekati Maryam. Maryam hanya bisa menangis dan tak berani mengangkat wajahnya.
"Maryam, tidak terjadi apapun, aku sudah punya bukti nya, Sayang. Tidak terjadi apapun sama kamu" seru Amar berharap itu membuat Maryam tenang. Maryam menatap tak bingung pada Amar begitu juga dengan Bilal.
"Bukti apa? Hasil visum belum keluar" seru Bilal.
"Bukti bahwa Maryam memang mengalami kekerasan fisik tapi tidak kekerasan seksual. Aku sudah menemukan pelaku nya, aku punya bukti yg kuat untuk membuat mereka membsusuk di penjara"
__ADS_1
"Kau yakin? Apa bukti nya?"
"Om jangan fikirkan itu, yg penting ada bukti kuat bahwa Maryam tidak ternoda dan juga tidak selingkuh, dia di jebak" tutur Amar berusaha tak memberi tahu bukti itu. Amar memang berniat tidak akan menunjukan rekaman video itu pada satupun orang dari keluarga Maryam. Karana Amar tahu, mereka takkan sanggup melihat hal mengerikan itu.
Sementara Maryam masih tak percaya, samar samar ia ingat saat pria itu melucuti pakaian nya, dan setelah itu ia pingsan, kemudian saat terbangun lagi, Maryam sudah terbungkus selimut dan berada dalam pelukan kakak nya.
Tapi jika itu benar, Maryam sangat bersyukur jika memang Tuhan masih menjaga kesucian nya. Tapi bagaiamana jika Amar hanya ingin menghibur Maryam? Sekarang hasil visum adalah harapan terakhir Maryam untuk mengetahui apa yg sebenarnya terjadi.
"Dan aku juga ingin berbicara, Om" lanjut Amar "Seharusnya malam ini akad nikah kami"
"Tapi dalam keadaan seperti ini...."
"Aku engga mau menikah" sambung Maryam memotong kata kata ayah nya.
"Kenapa?" tanya Amar lembut dan ia melangkah lebih dekat pada Maryam "Kamu takut bersama ku karena aku punya musuh?" lirih nya. Dan Maryam tak bisa menjawab.
Ia memang takut, jika masih menjadi calon istri Amar saja ia sudah menjadi sasaran empuk musuh Amar, lalu bagaiamana jika ia benar benar jadi istri Amar?
Dan ia juga tak mau menikah, karena Maryam merasa dirinya sudah ternoda dan tak pantas untuk pria mana pun.
"Jangan mengambil keputusan dalam situasi seperti, Maryam" ujar ayah nya "Dan kamu, Amar. Dalam keadaan seperti ini, semua nya harus di tunda. Polisi akan datang dan meminta keterangan dari Maryam, kasus ini harus di bawa ke pengadilan. Dan masih banyak yg harus kita lewati" Bilal berkata dengan lesu. Ia membelai pipi putri nya yg lebam.
"Putri ku mengalami hal yg sangat mengerikan, membuat psikologis nya terguncang, dan kami butuh waktu setidaknya untuk sedikit merasa tenang"
"Maryam akan mendapatkan keadilan nya, Om. Kasus nya akan terus berjalan sampai pelaku nya di hukum. Tapi aku hanya ingin selalu ada untuk Maryam, aku ingin menghalalkan nya untuk ku"
"Aku engga bisa" tegas Maryam dan seketika air matanya tak bisa ia bendung lagi "Aku engga mau menikah, batalkan pernikahan kita. Ku mohon" pinta Maryam.
"Kenapa? Aku ingin tahu alasan nya kenapa kamu mau pernikahan kita di batalkan, Maryam?"
"Aku engga pantas untuk mu, aku sudah..." nafas Maryam tercekat dan ia tak bisa melanjutkan kata kata nya.
"Aku engga peduli" tegas Amar "Apapun yg terjadi pada mu, aku engga peduli. Aku tetap mencintai mu, dan kamu akan selalu berharga untuk ku. Dan percaya pada ku, tidak terjadi apapun pada mu"
Maryam kembali menangis dan ia bingung sekarang harus apa. Maryam sendiri masih tak bisa menerima hal buruk ini, namun semua sudah terjadi.
"Berikan putri ku waktu, Amar" pinta ayahnya.
Amar mengangguk pelan, memang tidak seharusnya ia memaksakan kehendak nya.
"Baiklah, tapi ingat Maryam, aku mencintai mu, sangat mencintai mu. Aku akan selalu ada untuk mu, akan ku perjuangkan keadilan untuk mu, dan aku akan menunggu mu untuk kembali siap menikah dengan ku"
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1