
"Assalamualaikum, Baby Ezra. What's going on, hm? Are hungry my little boy?"
"Amar, jangan ganggu Baby Ezra, dia udah mau tidur"
Amar tersenyum geli melihat istri nya yg cemberut karena Amar terus saja menganggu putra mereka yg saat ini sedang menyusu, Amar bahkan tak segan segan mencubit pipi nya dan membuat putra mereka terbangun dan menangis.
"Maaf, habis nya aku gemas" ujar Amar sembari mengecup wajah Baby Ezra hingga sang bayi pun mulai merengek.
Sudah tiga hari Maryam di rawat dirumah sakit, kondisi nya pun berangsur membaik, putra mereka juga sangat sehat. Dan selama tiga hari itu juga Amar dengan setia menjaga istri nya, dia meminta Cindy membawa pekerjaan yg sangat penting saja ke rumah sakit, meminta Fifi membawakan pakaian untuk mereka bertiga dan juga keperluan yg lain.
.
.
.
Hubab menjemput menantu dan putri nya di bandara, dan mereka langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Maryam dan keponakan Faraz. Faraz tampak sangat antusias dan ia terus menanyakan tentang putra adik nya itu pada Hubab.
"Cepatan nyusul makanya" ujar Hubab yg membuat Faraz dan Afsana hanya bisa mesem mesem.
"Doain, Bi" ucap Afsana kemudian.
Sesampainya dirumah sakit, mereka langsung menuju kamar Maryam dan mendapati Maryam yg sedang makan di suapi Amar sementara Baby Ezra sedang tertidur di gendongan sang ibu.
"Nyil, gimana keadaan mu dan bayi mu?" tanya Faraz kemudian ia mengintip putra Maryam.
"Alhamdulillah kami baik" jawab Maryam "Sudah, aku kenyang" ujar Maryam pada Amar saat Amar hendak menyuapi nya lagi.
"Kata Dokter ini harus habis, biar kamu ada tenaga dan kita cepat pulang, kasian Baby Ezra kalau kelamaan di sini" tutur Amar panjang lebar yg membuat Maryam tak bisa membantah.
"Biar kakak yg suapi" Faraz menggantikan tugas Amar itu dan Maryam tersenyum senang. Sementara Afsana meminta Baby Ezra pada Maryam karena ia menggendong nya, Maryam pun memberikannya pelan pelan agar anaknya tak terbangun.
__ADS_1
"Oleh oleh buat kami mana?" tanya Maryam setelah menelan makanan nya.
"Memang nya kalian mau apa? Wong adik ipar ku itu bisa beliin kalian sebuah pulau" gurau Faraz sambil kembali menguap Maryam. Amar hanya tertawa menanggapi hal itu.
"Dia benar benar pulas tidur nya, mungkin mimpi indah kali ya" ujar Afsana sambil mencium gemas pipi keponakannya itu.
"Mungkin karena sudah kenyang" jawab Amar.
"Alhamdulillah kamu bisa melahirkan normal, dan kalian berdua sehat, kakak benar benar takut apa lagi saat Ummi bilang kamu belum juga melahirkan sampai pagi" tutur Faraz dengan mata yg menyiratkan ketakutan.
"Memang sulit sih, Kak. Mungkin karena anak pertama" jawab Maryam "Dan rasanya benar benar sakit, Maryam merasa sekarat, tapi Alhamdulillah semua rasa sakit nya seperti hilang saat terdengar suara tangis Ezra" Maryam berucap dengan mata yg berkaca kaca, mengingat kembali sulit nya hamil dan sakit nya melahirkan. Namun semua itu terbayar dengan kebahagiaan yg sangat besar, yaitu Ezra Mubarak Degazi.
Setelah menghabiskan makanan nya yg sedikit di paksakan, Amar memberikan segelas air minim pada istri nya itu. Dan tiba tiba ia mengecup kening istri nya sambil meneteskan air mata bahkan sampai terkena kening Maryam.
"Ada apa, Sayang? Kamu baik baik aja?" tanya Maryam khawatir karena sejak Ezra lahir, Maryam sering memergoki suami nya itu meneteskan air mata meskipun tak terdengar suara tangis nya.
"Aku sangat baik, Sayang. Terima kasih" lirih "Aku keluar sebentar" ucap nya dan ia pun segera keluar dari ruang rawat istri nya.
"Amar..." Amar segera menghapus air mata nya sebelum akhir nya mendongak dan mendapati mertua nya sudah berdiri di di depan nya.
"Sayang , biar aku bicara sama Amar sebentar" ucap Bilal pada Asma, Asma pun mengangguk.
"Iya, aku masuk dulu" seru nya.
Setelah Asma masuk dan menutup pintu, Bilal duduk di samping Amar, lama keduanya terdiam, Bilal pun tak memulai pembicaraan, namun dengan duduk setia di samping Amar bahkan selama hampir 20 menit sudah memberi tahu Amar bahwa Bilal ingin tahu ada apa dan Bilal siap mendengarkan Amar. Hingga akhir nya Amar buka suara.
" Aku terus memikirkan nya" lirih Amar dengan suara yg tercekat "Aku tahu apa yg terjadi pada Amora dan Papa adalah kecelakaan, tapi tetap saja penyebab nya adalah dia. Aku tahu dia ibu ku yg sudah sangat berjasa dengan melahirkan ku, tapi tetap saja aku sangat membenci nya. Aku engga bisa lupa bagaiamana Amora dan Papa meninggal, aku engga bisa lupa bagaiamana wanita itu melakukan hal kotor di rumah kami, aku engga bisa lupa segala nya. Ingatan itu seperti mencekikku" tutur nya dan sekali lagi air mata menetes begitu saja dari sudut mata nya.
"Tapi setiap kali aku melihat Maryam dari hamil sampai melahirkan, aku selalu terbayang mungkin seperti itu juga dia merawat ku dan Amora dulu" lanjut nya dan akhirnya ia tak bisa membendung tangis nya lagi. Amar menangis tersedu sedu sampai punggung nya bergetar, dan Bilal membiarkan nya seolah Bilal ingin Amar melepaskan segala beban nya bersama air matanya.
Setelah beberapa saat menangis, Amar pun mulai sedikit tenang. Ia mengusap wajah nya, menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan..
__ADS_1
"Sudah?" tanya Bilal yg membuat Amar tersenyum samar.
"Aku tahu, itu pasti sulit untuk mu apa lagi hal menyakitkan itu di lakukan oleh yg kamu cintai" Bilal berbicara dengan tatapan yg lurus ke depan, ia memejamkan mata, menghela nafas dan membuka mata kembali.
"Aku pernah juga kehilangan yg sangat aku cintai dan di sebabkan oleh orang yg aku cintai juga" lanjut nya yg membuat Amar langsung menatap ayah mertua nya itu. "Aku yakin kamu tahu kalau Faraz bukan anak pertama kami, sebelum nya kami punya dua anak kembar namun sayang Allah mengambil nya sebelum dia lahir"
"Maryam pernah bercerita akan hal itu" seru Amar.
"Tapi Maryam engga tahu apa penyebab nya, dan sekarang aku akan memberi tahu mu, tapi aku jangan beri tahu ini pada Maryam atau siapapun" Amar mengangguk "Saat Zahra hamil, kami semua sangat bahagia, kami mengadakan syukuran, kami bersuka cita, kebahagiaan kami tak terhingga, terutama buat ku. Aku sudah sangat menginginkan anak sejak lama, tentu saat Allah memberikan nya aku sangat bersyukur dan menjaga nya. Namun kemudian saat itu Zahra ngudam durian, dia makan hanya sedikit, tapi ternyata itu tetap berdampak buruk. Tapi sebenarnya tidak seburuk itu seandainya mendiang istri pertama ku..... " suara Bilal tercekat, seolah ia masih merasakan sakit saat mengingat masa masa itu, sementara Amar tetap setia mendengarkan ayah mertua nya " Saat itu kami pergi ke pesta pernikahan teman nya, rencana nya hanya sebentar, tapi dia terlalu menikmati pesta dan kebersamaan bersama teman teman nya hingga dia lupa bahwa Zahra mengeluh kram di perut nya dan meminta kami pulang, dia terlalu asyik menikmati hidup nya sendiri hingga hidup kedua anak ku tak bisa di selamatkan. Kami semua hancur saat itu, anak yg kami tunggu hilang hanya karena alasan lupa. Zahra sangat marah pada nya, membenci nya. Begitu juga aku, tentu aku juga sangat marah, seandainya aku api mungkin aku sudah membakar dia. Bahkan karena nya, Zahra meninggalkan ku. Aku benar benar hancur, Amar. Apa lagi ketika aku tahu dia berusaha menutupi kesalahan nya dan berpura pura tidak tahu. Itu membuat ku semakin terpuruk dalam sebuah kesedihan dan kekecewaan"
Amar terdiam, mencerna semua kata kata dengan intonasi menyedihkan yg bahkan membuat Amar merinding. Untuk pertama kali nya Amar mendengar suara ayah mertuanya gemetar, dan bukan hanya itu, kini ayah mertua nya itu juga meneteskan air mata.
"Aku juga punya benci yg sangat besar di hati ku saat itu, tapi aku coba tidak memelihara nya. Aku coba menyadari dan mengakui mungkin itu memang takdir dari Nya. Sangat berat dan sangat sulit untuk menahan nya, namun aku selalu mencoba menerima nya dengan ikhlas. Apa lagi dia wanita yg telah berkorban banyak untuk kebahagiaan ku, walaupun aku tahu, dua nyawa tidak bisa di tukar dengan pengorbanan itu. Tapi sekali lagi, dia tidak melakukannya dengan sengaja. Yg dia lakukan kesalahan bukan kejahatan. Dan selain itu, aku memaafkan nya demi kedamaian hati dan hidup ku"
Bilal berdiri, kemudian dari kaca di pintu, ia mengintip istri, anak, menantu dan cucu nya di sana.
"Dan itulah yg ku dapatkan sekarang. Allah akan selalu memberi lebih dari apa yg hilang jika kita bisa menerima nya dengan ikhlas"
Amar ikut berdiri dan mengintip mereka, di dalam sana mereka semua tersenyum bahagia, dengan mata yg berbinar.
"Dan ingatlah, Nak. Seburuk apapun ibu mu, dia lah yg mengandung, melahirkan dan menyusui mu. Tanpa dia, kamu engga akan ada dan menjadi seperti sekarang. Jika ibu mu memang berdosa, berdoalah agar Allah mengampuni nya dan memberi nya petunjuk. Karena sejati nya tidak ada manusia yg suci dan sempurna, sekalipun seorang ibu"
Bilal menepuk pundak Amar, kemudian ia masuk dan langsung di sambut istri nya yg kini menggendong Baby Ezra yg sudah bangun.
"Amar benar, mata nya benar benar seperti mata Maryam saat baru lahir" ujar Asma girang.
"Seperti mata mu" ucap Bilal sambil merengkuh istri nya.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1