Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 113


__ADS_3

Maria merasa gelisah saat ia sedang menyusui putri nya. Begitu banyak hal yg ia fikirkan saat ini, masa depan nya, masa depan anak nya, ia juga tak mau anaknya tumbuh di lingkungan nya dimana orang orang masih merendahkan nya dan membicarakan keburukan masa lalu nya.


Maria melihat anaknya yg perlahan tertidur, ia pun mengusap ngusap punggung putrinya itu hingga ia benar benar terlelap, setelah itu Maria hendak meletakkan Baby Khair ke box bayi nya tapi dering ponsel nya mengagetkan sang bayi hingga ia terbangun dan menangis.


"Harus di silent neh, maaf ya, Nak. Tidur nya jadi terganggu" gumam Maria sembari menimang anak nya. Ia pun mencoba maraih ponsel nya yg ada di atas nakas dan nama Nabil terpampang disana. Maria pun menjawab nya.


"Apa bisa turun sekarang?" tanya Nabil yg membuat Maria langsung mengerutkan kening nya.


"Kamu disini?" tanya Maria.


"Iya, aku di bawah" jawab Nabil. Maria pun turun sembari masih menggendong bayi nya yg sudah berhenti menangis dan perlahan menutup mata lagi. Ia melihat Nabil yg berdiri di ruang tamu seolah memang menunggu Maria. Maria bahkan tidak mendengar kapan Nabil mengetuk pintu.


"Ada apa?" tanya Maria.


"Aku harus pulang, penerbangan ku dua jam lagi" ucap Nabil setengah menggumam "Boleh aku menggendong nya sebentar?" tanya nya dan Maria pun menyerahkan bayi nya pada Nabil.


Nabil mencium kening bayi Maria itu cukup lama, kemudian ia mengecup pipi nya dengan gemas.


"Sampai ketemu nanti, Nak. Saat Abi sudah menghalalkan ibu mu" bisik nya di telinga Baby Khair dan itu membuat nya menggeliat. Maria tahu Nabil membisikan sesuatu pada anaknya namun Maria tak mendengar nya.


Setelah menggendong nya beberapa menit, Nabil kembali menyerahkan Baby Khair pada Maria.


"Emm kapan kamu akan pulang ke Indo lagi?" tanya Maria ragu ragu yg membuat Nabil tersenyum samar.


"Kenapa? Takut kangen?" tanya nya yg membuat Maria langsung menggeleng.


"Makasih ya, udah baik banget sama aku dan Baby Khair selama ini" ucapnya kemudian.


"Sama sama" jawab Nabil kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku nya dan menyerahkan nya pada Maria.


"Apa ini?"


"Hadiah buat Baby Khair saat ulang tahun nya nanti. Tapi jangan di buka ya, itu amanah ku lho. Buka saat ulang tahun bayi mu nanti" tegas Nabil yg membuat Maria terkekeh.


"Kamu bener bener aneh" ucap Maria tanpa sengaja. Karena ia memang merasa Nabil aneh, ngaku cinta, lamaran nya di tolak, tapi Nabil tetap biasa saja pada Maria. Membuat Maria semakin yakin kalau Nabil tidak mencintai nya melainkan kasihan pada nya.


Nabil menanggapi gumaman Maria itu dengan tawa kecil.


"Ya udah, sekarang aku harus pergi. Kalau kamu kangen sama aku, telpon aja. Always online for you, kok" goda Nabil yg membuat Maria memutar bola matanya.

__ADS_1


"Hati hati" seru Maria sembari mengantar Nabil ke depan.


"Kamu yg hati hati, jaga dia baik baik"


.


.


.


Faraz dan Afsana sudah mengurus keberangkatan nya ke Turkey. Kedua sejoli itu tampak sangat antusias dengan bulan madu mereka yg sebenarnya sudah sangat terlmabat.


"Kasihan kamu ya, An" ucap Asma tiba tiba yg membuat Afsana langsung mengernyit bingung.


Saat ini seperti biasa, mereka makan malam bersama.


"Kasian kenapa emang?" tanya Bilal.


"Ya bulan madu nya engga niat banget, kalau


Faraz engga ada kerjaan di Turkey, pasti Ana engga akan di ajak bulan madu" goda Asma namun Afsana menanggapi nya dengan serius "Faraz jangan gitulah, pekerjaan itu memang penting, tapi lebih penting membahagiakan istri. Masak bulan madu nya sambil kerja"


"Bukan gitu, Ummi... Tapi ya memang sekalian kesana kan"


"Tuh kan, engga sayang tuh Faraz sama kamu, An" goda Asma lagi yg membuat Bilal geleng geleng kepala.


"Ana engga usah ikut deh, Kak. Kan kakak mau kerja kesana, engga apa apa engga usah bulan madu" ucap Ana cemberut yg membuat Faraz menghela nafas berat.


"Ya udah gini aja, Kakak memang ada pekerjaan disana, kakak akan pergi bekerja setelah itu kakak akan pulang lagi, jemput kamu, dan kakak engga akan kerja selama kita bulan madu, gimana?"


"Janganlah, buang duit di ongkos" jawab Ana.


"Ya itu maksud kakak ngajak kamu sekalian, nanti setelah pekerjaan kakak selesai, kakak hanya akan fokus ke kamu kok" tutur nya yg membuat Afsana kembali senang, sementara Asma malah tertawa geli.


"Ummi tadi tuh cuma bercanda, habis nya malam ini engga topik seperti nya" ujar Asma karena memang mereka makan dalam diam dan hanya bicara sesekali saja.


"Tapi menantu mu jadi sedih. Hampir saja mereka salah faham" ucap Bilal.


"Engga akan, kalau ada sesuatu yg engga sesuai dengan fikiran atau kemauan kalian, bicarakan dulu, kayak tadi tuh. Jadi engga akan ada ke salah fahaman kalau gitu"

__ADS_1


"Iya, Ummi. Makasih nasehat nya, tapi jangan goda Ana kayak tadi dong, hampir saja dia nangis karena mudah ter profokasi" goda Faraz yg malah membuat Afsana merasa malu.


.


.


.


Kehamilan Maryam yg sudah memasuki usia sembilan bulan benar benar membuat Maryam kerepotan, ia mudah lelah, apa lagi bayi nya itu sering sekali menendang dan mengagetkan nya. Dan kini Amar telah memindah kamar mereka ke bawah supaya Maryam tidak naik turun tangga.


"Auch..." Maryam meringis ketika lagi dan lagi bayi nya menendang perut nya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Amar yg baru saja keluar dari kamar mandi.


"Biasa, nendang"


"Hem nendang terus ya, apa mau jadi pemain bola? Hm..." Amar segera menghampiri Maryam dan mengecup perut nya yg buncit namun tidak merata, lebih buncit ke arah kanan, pertama kali melihat itu Amar sangat terkejut dan langsung memanggil Dokter, padahal Granny Amy sudah mengatakan itu hal biasa, itu arti nya bayi nya mungkin sedang bergerak ke kanan, tapi Amar yg tak punya pengalaman apapun tentang hamil malah tak percaya dan ia mengatakan keadaan Maryam dan bayi nya harus selalu di periksa.


"Kamu capek?" tanya Amar lagi yg melihat wajah Maryam memang seperti sangat kelelahan. Maryam mengangguk.


Amar pun naik ke atas ranjang, ia bersender ke kepala ranjang dan kemudian merengkuk Maryam kedalam pelukan nya.


"Sabar ya, Sayang" ucap nya kemudian sambil mengecup kepala Maryam.


"Iya, aku engga apa apa kok"


"Oh ya, mulai sekarang aku udah engga ada perjalanan bisnis ke luar kota apa lagi keluar negeri, aku mewakilkan semua nya sama Cindy. Aku engga mau pergi dan kamu tiba tiba melahirkan tanpa ada aku di samping mu"


Maryam tersenyum senang mendengar penuturan panjang lebar suami nya itu yg benar benar menjadi suami siap siaaga.


"Hem makasih" gumam Maryam sambil memejamkan mata karena tiba tiba ia merasa sangat mengantuk.


"Tidurlah" bisik Amar sambil membelai rambut Maryam, membuat Maryam merasa semakin nyaman dan perlahan ia benar benar sudah masuk ke alam mimpi.


Sementara Amar, ia terus membelai rambut Maryam sambil mengingat kembali masa masa kehamilan Maryam selama ini, dari yg mual mual bahkan muntah hingga nafsu makan nya hilang, dari dia yg berubah sangat manja, sensitif dan mengidam hal hal yg tak masuk akal di waktu yg tak masuk akal pula, dan saat kehamilan nya membesar, nafsu makan nya memang naik, namun Maryam terlihat mudah sekali lelah, ia mudah tertidur, namun tiba tiba ia juga bangun saat bayi yg ada dalam kandungan nya katanya menendang. Maryam juga kesulitan mencari posisi yg nyaman saat tidur sehingga Maryam sering terjaga, membuat Amar merasa kasihan pada istri tercinta nya itu. Dan setelah kesulitan yg Maryam hadapi demi anak mereka itu, Amar berjanji akan memberikan segala yg terbaik untuk istri nya itu.


"I love you, My angel" ucap Amar kemudian memberikan kecupan selamat malam nya untuk mengantar Maryam pada mimpi indah nya.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2