
Setelah mengurus semuanya nya, Amar dan Maryam mendatangi Afsana kerumah sakit dimana Afsana di rawat.
Afsana langsung menyambut Maryam dengan pelukan dan menanyakan bagaiamana bulan madu nya, namun bukannya menjawab Maryam malah balik bertanya bagaiamana bisa Afsana mengalami kecelakaan ini.
Sementara Hubab dan Bilal sudah mengurus kepulangan Afsana, baik dari rumah sakit ataupun dari pesantren nya.
Mereka semua pulang menggunakan jet pribadi Amar.
Bersyukurlah ada suami Maryam itu sehingga mereka bisa irit ongkos dan menikmati perjalanan yg sangat jauh itu.
.
.
.
Lita langsung memeluk putri nya yg duduk di kursi roda, dia bahkan langsung menangis sesegukan dan Afsana langsung menghapus air mata ibu nya itu.
"Ana baik baik saja, Ummi" ucap Afsana.
"Baik bagaimana? Kamu duduk di kursi roda begini"
"Hanya untuk sementara waktu" jawab Afsana sambil tersenyum meyakinkan. Hubab mendorong kursi roda Afsana masuk, di ikuti Maryam dan yg lain nya.
Perjalanan yg panjang membuat mereka sebenarnya kelelahan.
"Sebaiknya kalian pulang, biar Afsana istirahat" seru Bilal pada Maryam, Amar dan Faraz "Jangan terlalu bantak memikirkan pelajaran mu ya, Nak. Fokus dulu pada kesembuhan mu" lanjutnya pada Afsana dan Afsana mengangguk.
"An, aku pulang dulu ya, nanti aku kesini lagi" Maryam memeluk Afsana dan Afsana mengangguk saja. Karena sungguh ia juga sangat lelah, tubuhnya terasa tak memiliki tenaga lagi dan ia hanya ingin istirahat.
Kemudian Maryam dan Amar pulang duluan, karena mereka juga sangat lelah.
"Kami pulang dulu" seru Bilal sembari mengusap kepala Afsana. Sementara Faraz tak mengatakan apapun, dia hanya menyunggingkan senyum yg tak bisa Afsana artikan.
.
.
.
"Bagaiamana keadaan Afsana?" Asma langsung bertanya sesaat setelah suami nya datang.
"Lebih baik, tapi karena kaki nya patah, jadi butuh waktu untuk sembuh"
"innalillah, kasian sekali anak itu"
"Ummi engga apa apa kan di tinggal sendiri?" tanya Faraz sambil kemudian mencium tangan ibunya.
"Ya engga apa apa lah" jawab ibunya yg membuat Faraz terkekeh "Sebaiknya kalian berdua mandi gih" Faraz mengangguk dan segera bergegas ke kamar nya.
__ADS_1
Sementara Bilal duduk di sofa dan meregangkan tubuhnya yg terasa sangat lelah, tapi Bilal malah mengulum senyum, menatap istri nya penuh arti. Membuat Asma mengerutkan kening nya.
"Kenapa senyum senyum gitu, Bi?" tanya nya kemudian duduk di samping Bilal.
"Aku ada kabar baik, Sayang. Kamu pasti senang" seru nya dengan antusias.
"Apa itu?" tanya Asma penasaran dan ikut tersenyum karena melihat suami nya yg terus tersenyum.
"Faraz menaruh hati pada Afsana"
"Hah? Masak? Engga mungkin?"
Bilal tertawa geli dengan reaksi istri nya itu. Bilal merengkuh pinggang istrinya dan mencium gemas pipi nya sementara Asma masih tak percaya dengan apa yg dikatakan suaminya, apa lagi Faraz pernah mengatakan ia selalu memikirkan Maria dan mungkin menaruh perhatian pada nya.
"Iya, aku sendiri melihat bagaiamana dia takut kehilangan Afsana"
"Ya karena bagi Faraz, Afsana itu adiknya" sanggah Asma yg masih tak percaya.
"Lebih dari itu, Sayang. Dia bahkan sudah mengakui nya"
Tiba tiba Asma langsung tersenyum lebar dan ia terpekik girang.
"Terus terus terus?"
"Ya katanya Faraz mau bicara dulu sama Ana, baru setelah itu nanti kita bicarakan sama Lita dan Hubab"
"Mereka pasti setuju"
Asma langsung terdiam. Ia teringat dengan pernikahan nya sendiri, dan memang sangat menyakitkan ketika ia harus menerima sesuatu dengan sangat terpaksa.
Asma menyenderkan kepalanya di bahu sang suami, mengenang masa muda nya dan kisah cinta nya yg sangat sulit.
"Aku engga mau memaksakan anak anak ku pada apapun, biarkan mereka memilih jalan hidup nya sendiri dan kita hanya bisa memandu nya, terutama dalam memilih pasangan, Maryam sudah menemukan pasangan nya, sekarang tinggal Faraz. Semoga kisah cinta nya akan selalu indah dan semoga dia selalu menepatkan kebahagiaan dalam hidup nya"
"Aamiin, Insya Allah. Afsana adalah gadis yg baik, kita sudah mengenal nya sejak kecil"
"Semoga Afsana memiliki perasaan yg sama dengan Faraz, ikatan keluarga kita dengan Hubab dan Lita akan semakin kuat. Abi sama Ummi juga pasti sangat senang"
"Aamiin, aku juga berdoa yg sama. Ya udah, sekarang aku mandi dulu, Sayang. Kamu mau ikut?"
Asma langsung mencubit pinggang suami nya itu membuat Bilal meringis namun kemudian tertawa. Sementara Asma hanya mendelik kesal karena Bilal masih sering menggoda nya seperti mereka masih muda saja.
.
.
.
Afsana semakin khawatir dan bingung setelah bertanya pada ibunya apakah Bi Mina ada mengantarkan buku, dan ibunya mengatakan tak ada.
__ADS_1
Afsana bertanya tanya kemana buku itu?
"Marry?" Afsana langsung meraih ponselnya, sementara ia berselonjoran di tengah ranjang, meluruskan kakinya yg terasa sangat sakit ketika di gerakan.
Afsana menghubungi Maryam, Afsana lupa kalau buku itu sama persis dengan buku Maryam, mungkin Maryam yg menemukannya, mengambilnya karena mengira itu milik nya.
"Ya, An?" tanya Maryam setelah panggilan Afsana terjawab.
"Marry, apa kamu menemukan buku di kamar Kak Faraz? Buku yg sama dengan buku mu"
"Engga, kenapa?" Afsana menggaruk kepala nya. Entah kemana buku itu hilang.
"Engga apa apa" jawab Afsana "Ya udah, nanti aku telepon lagi ya, aku mau istirahat"
"Iya, besok aku kesana ya, mumpung engga asa jam kuliah"
"Okey, aku tunggu"
.
.
.
Maryam menghela nafas berat. Terpaksa dia berbohong pada Afsana soal buku nya.
Dan Maryam juga heran, apa kakaknya akan menggantung Afsana begitu saja? Tanpa memberikan respon apapun terhadap perasaan Afsana?
Apa lagi Maryam melihat, kakaknya itu malah bertingkah biasa saja, seolah tak ada apapun. Apa kakaknya sejahat itu?
.
.
.
Setelah mandi, Faraz merangkak naik ke atas ranjang nya, dengan membawa buku dairy Afsana.
Ia kembali membaca isi buku itu di setiap lembar nya dengan senyum yg mengembang di bibir nya.
Afsana mengungkapkan perasaan nya dengan begitu indah, ia memuji Faraz sebagai kakaknya, dan juga sebagai pujaan hati nya.
Afsana menuliskan bahwa ia tak tahu bagaiamana dan sejak kapan perasaan itu hadir. Afsana sendiri tak percaya bahwa di hati nya bisa ada cinta untuk Faraz melebihi hubungan saudara. Rasa nya sangat tidak masuk akal. Tapi itulah kenyataan nya.
Faraz mengambil bolpen dari laci, kemudian ia juga nenuliskan sesuatu disana.
"Aku akan menhalalkan mu untukku, Afsana"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...