Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 84


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawin nya Afsana Riyaz binti Hubab Riyaz, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar tujuh juta tujuh ratus tujuh puluh tujuh ribu di bayar tunai"


"Bagaiamana? Sah?"


"SAH..."


"Alhamdulillah. Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Aamiin"


Abi Khalil memimpin doa sebelum akhirnya Lita dan Asma membawa Afsana dan mendudukan nya di kursi di samping Faraz.


"Kaki mu engga sakit kan?" tanya Faraz saat Afsana sudah duduk di samping nya, Afsana menggeleng pelan sambil menunduk malu.


"Sekarang salim sama suami mu, An" ucap Hubab, dan Afsana pun salim dengan Faraz dan mencium tangannya, saat Afsana hendak menarik tangan nya, Faraz malah menahan nya, ia mengecup tangan Afsana dengan gemas dan itu membuat semua orang tersenyum geli, dan tentu membuat Afsana tersipu.


"Kamu cantik kalau lagi tersipu begini, Dek" seru Faraz kemudian mengecup kening Afsana.


"Gombalnya nanti aja kali, Faraz" ujar Nabil sambil terkekeh, kemudian kedua nya memakaikan cincin pernikahan dengan di mulai oleh Faraz, ia menyematkan cincin itu di jari manis Afsana dan bergantian dengan Afsana yg menyematkan cincin di jari manis Faraz.


"Selamat ya, Nak. Semoga kalian bisa menjadi pasangan sejati yg selalu di ridhoi Allah di dunia akhirat. Semoga Allah mengaruniai kalian anak anak yg sholeh sholelah" doa Abi Khalil, ia sangat bahagia karena Afsana mendapatkan Faraz begitu juga sebaliknya.


Para tetua pun memberikan doa untuk pasangan muda itu, penerus generasi pesantren mereka, berharap mereka bisa membawa kebahagiaan dan berkah untuk pesantren Al Hikmah.


"Selamat ya, An... Masya Allah, kamu jadi kakak ipar ku" Maryam memeluk Afsana dengan sangat erat, ia bahkan mencium pipi Afsana dengan begitu gemas. Afsana hanya mengulum senyum malu malu, ia sendiri merasa masih tak percaya, sekarang ia dan Faraz suami istri?


Benar kah?


Dan kenapa mas kawin Faraz serba tujuh?


Faraz mengatakan ia terinspirasi dari tujuh langit dan tujuh tingkatan surga. Berharap cinta mereka dan kebahagiaan mereka selalu setinggi langit, dan rumah tangga mereka akan selalu indah seperti tujuh surga.


Acara akad pun berlangsung dengan sangat lancar, semua bersuka cita, bahkan para santri putra dan santri putri pun merayakan penyatuan hubungan sepasang kekasih ideal itu, mereka semua mendoakan keduanya.


.


.


.


Afsana merasa sangat gugup, ia memandangi seluruh sudut kamar Faraz. Padahal sebelum nya ia sudah sering memasuki kamar Faraz, tapi rebahan di ranjang nya, Oh Tuhan, tentu saja tidak pernah. Dan saat ini, ia sedang duduk di ranjang kakak sepupunya itu, dengan menselonjorkan kaki nya yg sudah sedikit lebih baik.


Afsana sudah mandi dan berganti pakaian, namun ia masih tak berani melepaskan hijab nya, Faraz sendiri sedang mandi sejak beberapa menit yg lalu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka, Faraz keluar dengan wajah yg lebih segar dan rambut yg masih basah. Faraz mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan, sedang tangan nya sibuk mengeringkan rambut nya dengan handuk.


Afsana pura pura tak melihat kedatangan Faraz, menyadari itu, Faraz langsung mendatangi Afsana dan tanpa aba aba Faraz langsung mengapit dagu Afsana dan mengecup bibir nya, membuat Afsana melotot terkejut.


"Kenapa?" tanya Faraz melihat Afsana yg masih tampak terkejut "Sekarang kita kan suami istri, Dek. Engga apa apa kalau ciuman" Afsana mengangguk pelan tanpa bisa bersuara.


"Kamu engga mau cium kakak?" goda Faraz.


"Eh?" Afsana mengerjap dan ia tak tahu harus menjawab apa.


"Engga mau cium?" tanya Faraz lagi, saat ini ia mash membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Afsana yg duduk di tengah ranjang.


Dengan gugup, Afsana mengecup pipi Faraz dengan cepat, kemudian ia segera mengalihkan pandangan nya karena malu, Faraz tertawa geli melihat Afsana seperti itu.


"Bukan di pipi, Dek. Disini!" Faraz menunjuk bibir nya setelah Afsana kembali menatap nya.


"Em, nanti aja kak" jawab Afsana malu malu.


"Kok nanti? Kapan?"


"Emm... Ya... Nanti aja"


"Kamu engga lagi dapet kan, Sayang?" tanya Faraz serius dan langsung membuat Afsana mendongak, kemudian ia menggeleng dan itu membuat Faraz tersenyum senang. Kemudian ia kembali mengapit dagu Afsana dan mengecup bibir nya, kecupan yg lama lama lama menjadi sebuah ciuman yg membuai Afsana.


Tatapan yg tak pernah Faraz tunjukan selama ini, tatapan penuh kerinduan dan juga hasrat untuk memiliki Afsana sepenuh nya, cinta nya, jiwa nya dan segala yg ada pada kekasih hati nya itu.


Afsana tak bisa menjawab pertanyaan Faraz, ia hanya bisa kembali menunduk dengan wajah yg sudah memerah.


"Kalau kamu engga siap, engga apa apa, Sayang" ucap Faraz lembut. Afsana mendongak, ia memberanikan diri menatap Faraz sembari menyunggingkan senyum dan Faraz sudah dapat kan jawaban nya.


Faraz tersenyum senang, ia kembali mengecup kening Afsana dengan begitu lembut, menyalurkan cinta dan kasih yg ia miliki yg hanya untuk Afsana seorang.


Faraz mengecup mesra setiap inci wajah Afsana.


"Sholat dulu?" tanya nya kemudian sembari mengusap pipi Afsana dengan lembut.


"Iya" jawab Afsana dengan lembut.


"Kakak bantuin ambil wudhu"


"Ana bisa kok, Kak" ujar Afsana lembut namun Faraz langsung menggendong Afsana dan membawa nya ke kamar mandi.

__ADS_1


Reflek, Afsana langsung melingkarkan lengan mungil nya di leher Faraz dan itu membuat Faraz terkekeh pelan. Apa lagi melihat semburat merah di pipi Afsana, membuat Faraz begitu gemas dan tak bisa menahan diri untuk tak mencium pipi Afsana.


.


.


.


"Ada apa?" tanya Asma yg melihat Bilal senyum senyum seperti orang gila.


Asma tahu mereka semua berbahagia malam ini, apa lagi Faraz dan Afsana sudah melaksanakan akad nikah dan semua nya lancar.


"Anak anak lagi malam pertamaan" gumam Bilal masih dengan senyum nya.


"Terus?"


"Beruntung ya Faraz, malam pertama nya lancar" lanjut nya yg membuat Asma melirik suami nya itu heran.


"Emang malam pertama kita engga lancar?" tanya Asma dengan santai nya, dan seketika senyum Bilal hilang, di gantikan dengan cemberut.


"Lancar kok" jawab Bilal sembari merangkak ke atas ranjang, menyusul istri nya yg sudah rebahan disana "Tangis mu lancar sambil meluk boneka" lanjut nya dan ia memunggungi Asma.


Asma tertawa geli dengan reaksi suami nya itu, Asma memeluk Bilal dari belakang, ia membelai bekas jahitan yg memang takkan pernah hilang di rahang tegas suami nya itu, Asma mengecup nya dengan mesra.


Sementara Bilal hanya bisa memejamkan mata menerima perlakuan istri tercinta nya itu.


"Maaf, saat itu aku masih remaja, apa lagi hubungan kita di mulai dengan sangat tidak wajar dan sulit aku terima" lirih nya dan seketika Bilal langsung berbalik dan ia menatap istri nya itu dengan sayu. Bilal menggeleng kan kepala nya dan membelai pipi sang istri.


"Cara ku yg salah, aku minta maaf, Sayang" lirih nya "Dan ku mohon, jangan pernah meminta maaf lagi pada ku, cukup cintai aku selalu"


"Aku selalu mencintai mu" ucap Asma.


"Begitu pun aku, aku selalu dan akan selalu mencintai mu"


Bilal telah memberikan segala nya pada Zahra nya, cinta, perhatian, kehormatan sebagai istri nya dan menantu kesayangan dari Kiai Khalil dan Nyai Mufar.


Tidak.... Tidak... Itu bukan pemberian dari Bilal atau siapa pun.


Tapi itu adalah balasan dari setiap penderitaan dan air mata Asma, itu adalah hasil dari kesabaran dan keikhlasan Asma dalam menjalani setiap ujian hidup nya dari usia yg begitu.


Dan hadiah terbesar yg Asma dapatkan adalah menjadi ibu dari Sarfaraz dan Maryam. Anak anak yg sholeh sholehah dan kedua nya adalah seorang penghafal Al Quran, dan yg selalu berbakti pada kedua orang tua nya dan anak anak dengan sifat sifat mulia dan penuh cinta kasih.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2