Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 88


__ADS_3

Di perjalanan pulang dari masjid, Maria melihat seorang gadis yg tampak nya kesakitan, tanpa ragu, Maria menghampiri nya dan gadis itu menangis.


"Ada apa?" tanya Maria menyentuh pundak gadis itu. Sedikit terkejut dengan penampilan ala punk nya namun kemudian Maria tertawa kecil.


"Engga apa apa" jawab gadis itu dengan ketus dan menyingkirkan tangan Maria dari pundak nya.


Gadis itu memegang perut nya dan Maria memaksa melihat nya, betapa terkejut nya ia melihat perut gadis itu yg terluka dan ber darah.


"Ayo, kamu harus di obati, nanti luka mu infeksi" seru Maria namun gadis itu menolak nya dengan kasar. Tanpa di duga, Maria malah menarik paksa gadis itu dan sedikit menyeretnya, tak peduli gadis itu yg memberontak.


Kemudian Maria menghentikan sebuah taksi dan mendorong gadis itu masuk.


"Rumah sakit, pak" seru Maria.


.


.


.


Di rumah sakit, gadis itu segera di tangani Dokter dan mendapatkan perawatan luka di perut nya, tak hanya itu, banyak lebam dan bekas pukulan di sekujur tubuhnya, ada baru dan juga lama, Dokter berkesimpulan, gadis itu di pukuli sejak lama dan sudah sering. Mendengar itu, Maria teringat pada dirinya sendiri yg sering di pukuli ayahnya.


Setelah itu, Maria harus mengurus administrasi, dan sayangnya uang Maria tak cukup, Maria teringat kalung emas yg ia pakai.


"Apakah ini cukup?" tanya Maria setelah ia melepaskan kalung itu.


Namun tiba tiba, seseorang datang dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Maria menoleh, dan lagi lagi Nabil.


"Simpan kalung mu" seru Nabil "Dimana gadis itu?" tanya kemudian sementara Maria hanya tercengang. Kenapa ia selalu bertemu Nabil?


Tentu saja, Nabil sejak tadi mengikuti nya seperti biasa, Nabil bahkan cukup terkejut saat melihat Maria menarik paksa seorang gadis dan itu malah tampak seperti penculikan. Dan Nabil semakin terkejut melihat Maria membawa gadis itu kerumah sakit sementara ia sendiri tak punya uang.


"Aku akan mengganti uang mu" ujar Maria sembari berjalan mengikuti Nabil mencari kamar gadis itu.


"Engga usah" jawab Nabil "Dimana kamar nya?" tanya nya lagi. Kini Maria yg berjalan di depan dan Nabil mengikuti nya.


"Apa dia teman mu?" tanya Nabil kemudian dan Maria menggeleng "Lalu kenapa kamu membawa nya kerumah sakit sementara kamu engga punya uang?"


"Yg penting tolong dulu kan?" Maria balik bertanya dan itu membuat Nabil mengulum senyum samar.


Kemudian Maria berhenti di depan sebuah kamar dan ia membuka pintu nya.

__ADS_1


Gadis itu duduk bersila sambil menatap tajam Maria.


"Kamu ngapain bawa aku ke sini?" tanya gadis itu setengah berteriak.


"Bagaiamana keadaan mu?" tanya Maria yg membuat gadis itu mengaga.


"Engga usah sok perhatian" seru nya dan melompat turun dari bangsal "Nanti aku ganti uang mu, sekarang aku mau pergi" ujar nya.


"Luka mu tadi di jahit, jangan banyak gerak" titah Maria menarik kembali gadis itu dan memaksa nya kembali ke bangsal.


"Kamu itu siapa sih? Sok perhatian banget, kenal juga engga" ketus nya. Namun Maria tak tersinggung, ia hanya tersenyum samar.


"Aku cuma mau nolongin kamu, itu aja. Nama ku Maria" Maria mengulurkan tangan nya, namun gadis itu enggan menerima nya dan ia membuang muka. Maria tertawa kecil, gadis itu masih remaja, Maria bisa maklum dengan tingkah nya.


Sementara itu, Nabil juga hanya bisa tersenyum melihat pemandangan di depan nya, seperti nya Maria punya jiwa yg sudah terlatih dan tak mudah tersinggung atau terpancing emosi nya.


"Ya udah, aku akan mengantar kalian pulang" seru Nabil.


"Engga usah, makasih" ucap Maria dingin dan itu menarik perhatian gadis itu.


"Kalian lagi kelahi?" tanya gadis itu tiba tiba.


"Ya kalian seperti orang pacaran yg lagi berantem" ujar nya dan gadis itu menunduk, tampak sedih.


"Kami engga pacaran" jelas Nabil "Sebaiknya kita pulang, ini sudah malam, Dokter sudah memperbolehkan mu pulang, kan?" tanya Nabil dan gadis itu mengangguk.


Nabil pun membawa Maria dan gadis itu tanpa bisa mereka tolak.


"Nama ku Anggi" gadis itu tiba tiba bersuara setelah mereka lama terdiam di dalam mobil.


"Maria..." Maria mengulurkan tangan nya dan di sambut oleh Anggi walaupun dengan sangat tidak ramah "Jadi, dimana rumah mu, Anggi?" tanya Maria kemudian.


"Entahlah aku harus pulang kemana. Turunkan saja aku didepan sana" ucap nya.


"Ya udah, pulang kerumah ku aja" ujar Maria dan Anggi langsung menatap Maria penuh curiga. Sementara Nabil fokus menyetir menuju rumah Maria.


"Aku engga akan ngapa ngapain kamu, Nggi. Aku tinggal berdua aja dirumah sama Bi Siti" jelas Maria.


"Tapi kenapa kamu mau nolongin aku? Kenal aja engga" ucap Anggi masih dengan begitu ketus.


"Sesama manusia, kita wajib tolong menolong" ucap Maria, teringat kembali ia juga selalu di tolong oleh Faraz dan keluarga nya.

__ADS_1


Nabil yg mendengar itu tersenyum samar.


Hingga tanpa terasa, mereka sudah sampai didepan rumah Maria. Maria dan Anggi segera turun.


"Terima kasih" ucap Maria pada Nabil yg masih ada dalam mobil.


"Sama sama" Nabil berkata sembari menatap Anggi yg masih terlihat lemah "Jangan sampai luka nya terkena air, dan jangan biarkan dia banyak bergerak. Perban nya juga harus sering di ganti, jika kau butuh sesuatu, telpon saja aku"


Tanpa permisi, Nabil mengambil ponsel Maria yg sejak tadi Maria pegang, dan Nabil menyimpan nomor nya sendiri disana, kemudian mengembalikan ponsel itu pada Maria.


Maria sendiri masih tak habis fikir dengan tingkah Nabil yg ajaib bagi nya.


Seperti biasa, setelah itu, Nabil akan langsung pulang, meninggalkan Maria yg hanya bisa menggelengkan kepala.


Maria membawa Anggi masuk dan langsung di sambut Bi Siti.


"Ya Allah, Non Maria... Bibi sudah kalang kabut nyariin Non Maria, sampai Bibi susul ke masjid, di telpon engga di angkat angkat" tutur Bi Siti yg tampak nya sangat khawatir.


"Maaf, Bi. Tadi Maria bawa Anggi kerumah sakit"


Bi Siti memperhatikan Anggi dari atas ke bawah, membuat Bi Siti meringis dengan penampilan gadis muda itu.


"Ayo, Nggi. Aku anterin kamu ke kamar mu, nanti kamu ganti pakaian ku aja ya" Anggi mengangguk saja dan mengikuti Maria.


Setelah itu, Maria sendiri kembali ke kamar nya, mencarikan pakaian untuk Anggi.


"Non..." seru Bi Siti "Dia siapa? Penampilan nya aneh banget, kenapa di bawa pulang kerumah?"


"Dia lagi butuh pertolongan, Bi. Dia terluka"


"Tapi kayak nya dia bukan gadis baik baik, Non"


Maria menghela nafas. Ia sendiri bukan gadis baik baik, bahkan hamil di luar nikah. Tapi ia tetap mendapatkan pertolongan dari orang lain.


"Semua berhak mendapatkan pertolongan, Bi. Dan apakah dia gadis baik baik atau bukan, itu bukan urusan kita. Kita hanya berkewajiban menolong nya, bukan menghakimi nya" tutur Maria, karena sungguh, Anggi mengingatkan pada dirinya sendiri.


Pasti ada alasan kenapa Anggi bisa seperti itu, dan Maria memang tidak berhak menghakimi nya. Karena orang lain takkan pernah tahu apa yg sebenarnya terjadi pada orang lain nya, dan mereka hanya sibuk menghakimi nya dari pada menolong nya.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2