
"Nena..." panggil Faraz yg melihat Bi Mina membereskan kamar Maryam.
"Kenapa, Den?" tanya Bi Mina yg melihat Faraz tampak uring uringan bahkan ia sampai tak ke kantor. Saat di tanya apakah dia sakit, Faraz hanya mengatakan ia malas ke kantor.
"Ini, kembalikan buku Maryam ke tempat nya" Faraz menyerahkan sebuah buku diary berwarna pink kepada Bi Mina "Entah bagaiama buku si unyil ada di kamar ku" gerutu nya.
Bi mina pun mengambil buku itu dari tangan Faraz dan melettakan nya di rak buku Maryam.
"Den Faraz kalau sakit mending minum obat deh" ujar Bi Mina.
"Faraz engga sakit, Bi. Cuma lagi mager aja" tutur nya kemudian kembali ke kamar nya.
Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menarik selimut dan menyalakan AC nya.
Ia benar benar tak semangat melakukan apapun sejak kemarin jadi hari ini ia lebih memilih beristirahat dirumah nya.
.
.
.
Sementara di kantor nya, Maria bingung karena Faraz tak masuk kerja, padahal boss nya itu memperingatkan Maria supaya tak datang terlambat.
Alhasil, Maria pun bekerja bersama Rian. Dan tanpa melihat Faraz, Maria merasakan ada sesuatu yg kurang dan itu membuat nya tak semangat bekerja.
Di jam makan siang, dia tetap duduk di meja kerja nya sambil chatting an dengan Hira.
Maria memberi tahu Hira perasaan anehnya pada Faraz yg merasa kehilangan saat tak melihat Faraz.
^^^Hira^^^
^^^"Do you love him, Beb?"^^^
Maria meringis membaca pesan Hira, tentu saja ia tak mencintai Faraz, bagaiama mungkin ia mencintai Faraz?
Me
"Absolutely NO!"
^^^Hira^^^
^^^"Are you sure? Do you miss him?^^^
"Ck... Dasar" Maria tak membalas pesan Hira. Ia melempar ponsel nya ke meja dengan kesal.
"Tapi kenapa Pak Faraz engga kerja ya?" gumam nya kemudian ia pun mengambil kembali ponsel itu dan segera mencari kontak Faraz kemudian mengirimnya pesan.
Me
"Pak, kenapa engga kerja? Pak Faraz engga sakit kan?"
Maria menunggu beberapa saat namun tak juga ada balasan dari boss nya itu. Membuat Maria galau saja. Baru saja ia akan beranjak dari kursi nya, ponsel nya bergetar dan Maria segera memeriksa nya. Ternyata boss nya itu sudah membalas pesan nya.
^^^Pak Sarfaraz^^^
^^^"Iya, aku sakit"^^^
"Aduh, sakit apa ya?" gumam Maria tampak khawatir. Ia pun segera mengirim pesan lagi.
Me
"Sakit apa, Pak? Sudah ke Dokter?"
^^^Pak Sarfaraz^^^
^^^"Gimana pekerjaan mu di kantor?"^^^
Maria mengernyit bingung dengan balasan boss nya itu. Dia nanya apa boss nya jawab apa.
Me
"Pak Faraz sakit apa?"
^^^Pak Sarfaza^^^
^^^"Kenapa tanya tanya? Khawatir?"^^^
"Ih, nih orang kenapa aneh gitu ya?" gumam Maria lagi "Memang khawatir sih" lanjut nya pada dirinya sendiri.
Me
"Iya, soalnya Pak Faraz kan boss ku. Jadi kalau sakit ya semua karyawan Pak Faraz pasti khawatir"
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
10 menit kemudian...
Maria berdecak kesal karena pesan nya di baca tapi tak di balas.
Tapi sejak kapan dia mengharapkan pesan nya di balas?
__ADS_1
.
.
.
Sementara di rumah nya, setelah membaca pesan Maria, Faraz tak kuasa menahan kantuk yg tiba tiba saja menyerang nya dan membuat ia tertidur.
Ia kembali terbangun saat menjelang sholat Ashar. Dengan cepat Faraz mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Dzuhur sebelum kehabisan waktu.
Setelah sholat, ia lanjutkan dengan berdizkir dan berdoa.
Faraz mengangkat tangan nya, memejamkan mata dan melantunkan doa doa dengan khsuyuk.
"Ya Allah, mudahkanlah Afsana dalam menempuh pendidikannya, lancarkanlah ujian nya. Lindungi dia selalu, penuhi hidupnya dengan rahmat Mu. Berikanlah kebahagiaan pada nya dan..." Faraz membuka mata nya dan tiba tiba terdiam.
Afsana? Faraz justru berdoa untuk Afsana bahkan sebelum dia berdoa untuk kedua orang tua nya?
Sekarang Faraz sadar apa yg membuat nya uring uringan dan tak semangat melakukan apapun. Karena dia terlalu memikirkan Afsana hingga orang yg pertama kali dia sebut dalam doanya adalah Afsana. Tentu ia memikirkan adik nya itu karena sampai sekarang belum ada kabar apakah Afsana sudah sampai dengan selamat.
"Ya Allah..." gumam Faraz lesu, setiap kali Afsana berangkat ke pesantren nya, Faraz selalu merasakan hal yg sama. Ia terus memikirkan Afsana dan meng khawatirkan adik nya itu.
Afsana menempuh perjalanan panjang dan sendirian, tentu ia sangat khawatir fikirnya.
Tak lama kemudian terdengar suara Adzan Ashar. Setelah Adzan selesai, Faraz melaksanakan sholat Ashar.
Setelah itu, ia menyempatkan diri mengulang hafalan Quran nya.
Di tengah fokus nya muraja'ah. Ponsel nya berdering dan terera Uncle Hubab di layar ponsel nya.
"Assalamualaikum, Uncle" sapa Faraz.
"Waalaikum salam, Faraz. Baru saja Afsana telepon. Dia sudah sampai di pesantren nya. Dia meminta uncle untuk memberi tahu mu, katanya kamu pasti meng khawatirkan nya. Tadi dia sudah menelepon kamu tapi engga di angkat"
Faraz langsung mengecek ponsel nya dan memang benar ada telepon tak terjawab dari nomor telepon pesantren Afsana. Faraz menepuk jidatny sendiri, ia tertidur begitu pulas dan ponsel nya di silent.
Biasanya setelah sampai di pesantren, Afsana selalu memberi tahu orang tua nya bahwa dia sudah sampai dengan selamat, dan ia juga akan menelepon Faraz karena Faraz yg meminta nya supaya juga menelepon Faraz dan memberi tahu Faraz bahwa dia sudah sampai dan baik baik saja.
"Tadi aku ketiduran, Uncle. Memang benar ada panggil tak terjawab dari Afsana. Apa dia baik baik saja?" tanya Faraz khawatir.
"Iya, tapi dia mengatakan mungkin setelah ini dia akan jarang menelepon karena pasti sangat sibuk dengan ujian nya"
Faraz mendesah lesu. Padahal dia ingin berbicara dengan Afsana dan mendengar sendiri dari adik nya itu bahwa ia memang baik baik saja.
"Iya, Uncle. Engga apa apa, tapi kalau Afsana menelepon lagi, tolong minta dia menelpon ku ya"
"Iya, ya udah. Uncle harus kembali bekerja"
"Iya, terima kasih, Uncle. Assalamualaikum"
Setelah sambungan terputus, Faraz kembali melihat daftar tak terjawab di ponsel nya. Ia menyesal karena tak sempat berbicara dengan adik nya itu.
.
.
.
Di penjara, Rossa menatap foto foto Maryam dan Amar yg ia ambil dari koran dan ia tempel di dinding sel nya. Sejak bertemu dengan Maryam, ia merasa jauh lebih baik, ia kembali bisa tersenyum meskipun putra nya belum bisa memaafkan nya.
"Rossa..." Rossa menoleh dan melihat petugas polisi yg bernama Jihan sekaligus teman nya itu memanggil nya "Ada yg menjenguk mu" ujar Jihan dengan senyum merekah namun Rossa malah tampak bingung, siapa lagi menjenguk nya? Apakah Amar? Rasanya sangat tidak mungkin.
"Siapa?" tanya Rossa sambil berjalan keluar setelah Jihan membuka pintu sel nya.
"Calon menantu mu" ujar Jihan dan Rossa tampak sangat tidak percaya.
"Maryam?" tanya nya. Jihan mengangguk dan membawa Rossa menemui Maryam.
Calon menantu nya itu tersenyum ramah dan itu sungguh menenangkan hati Rossa.
"Assalamualaikum, Tante" sapa Maryam dan hendak mencium tangan Rossa namun Rossa dengan cepat menarik tangan nya.
"Jangan, Maryam" seru Rossa merasa ia tak pantas di perlakukan hormat seperti itu. Namun Maryam hanya tersenyum dan kembali menarik paksa tangan Rossa dan mencium tangan nya.
"Tante apa kabar?" tanya nya kemudian sambil duduk berhadapan dengan Rossa.
"Tante baik, Sayang. Kamu sendiri? Dan... Amar?" Rossa bertanya setengah berbisik saat menyebutkan nama nya.
"Kami semua baik, Granny Amy juga baik" Rossa hanya bisa tersenyum masam.
"Apa yg membawa mu kesini, Nak? Apa Amar tahu kamu kesini?"
"Dia engga tahu"
"Dia bisa memarahimu jika dia tahu. Dia sangat membenci Tante"
"Dia benci Tante itu hak nya, dan aku datang menjenguk Tante itu hak ku" jawab Maryam sambil tersenyum samar "Oh ya, aku bawa sesuatu untuk Tante" Maryam menyerahkan dua paper bag pada Rossa.
"Apa ini?" tanya Rossa dengan wajah senang, ia merasa hidup kembali dengan kedatangan Maryam.
"Makanan, pakaian, sabun, shampoo dan yg lain nya" jawab Maryam membuat Rossa sedikit terkejut namun kemudian mata nya berkaca kaca dan ia terharu, padahal Maryam tak mengenal nya selain sebagai ibu Amar, mereka juga hanya bertemu sekali tapi Maryam sudah memperlakukannya dengan begitu baik.
Saat melihat Rossa untuk pertama kali nya, Maryam sangat prihatin dengan kondisi ibu Amar itu, dia seperti tak terurus. Dan sudah lama ia ingin mengunjungi Rossa namun ia tak sempat.
"Terima kasih banyak, Maryam" ucap Rossa dan ia tak bisa lagi menahan air mata haru nya "Kamu sangat baik, tidak heran Amar jatuh cinta pada mu"
__ADS_1
"Berbuat baik itu sebuah keharusan, Tante" jawab Maryam "Dan walaupun Amar benci Tante, tapi tetap saja Tante adalah ibunya, aku berhubungan dengan siapapun yg berhubungan dengan Amar"
"Semoga kalian selalu baik, Nak. Putra ku sangat beruntung mendapatkan wanita sebaik dirimu" tutur Rossa kemudian mengeluarkan isi paper bag itu, ada beberapa pakaian, mukena dan juga sejadah. Lagi, air mata Rossa menetes melihat itu.
"Kamu membawakan Tante mukena?" Maryam mengangguk "Terima kasih, Maryam. Tante memang sangat jarang berdoa, Tante hanya larut dalam penyesalan sampai Tante terpuruk seperti ini"
"Menyesali kesalahan itu harus, Tante. Tapi larut dalam penyesalan itu sungguh tidak boleh. Jika Tante punya sepuluh dosa, Allah punya seratus pengampunan. Jangan berputus asa dari rahmat-Nya"
Rossa menghapus air matanya dan ia menyunggingkan senyum haru nya. Kemudian ia menggenggam erat tangan Maryam.
"Nak, sungguh mulia hati mu"
"Aku hanya melakukan apa yg telah di ajarkan pada ku" ujar Maryam "Oh, aku harus pulang" lanjut nya, apa lagi jam besuk nya sudah habis "Tante baik baik disini, ya? Jangan putus asa dan teruslah berdoa, semoga Allah memberikan keajaiban untuk Tante"
"Terima kasih, Maryam. Hati hati di jalan, Nak"
.
.
.
Perjalanan Maryam harus terhambat karena jalanan yg macet, syukurlah ia sudah memberi tahu ibunya bahwa dia mengunjungi Tante Rossa di penjara. Meskipun sempat di pertanyakan untuk apa Maryam mengunjungi nya padahal putra sendiri tidak, Maryam menjawab karena ia bersimpati. Ibunya yg tahu bahwa Maryam memiliki hati yg lemah lembut pun bisa mengerti, terutama Maryam adalah mahasiswi psychology, tentu ia akan tertarik dan bersimpati pada orang orang yg terpuruk mental nya.
"Paman, berhenti..." pinta Maryam pada paman Arif, sopir nya.
"Ada apa, Neng Maryam?" tanya paman Arif.
"Tunggu sebentar..." ujarnya kemudian ia turun dari mobil. Perhatian nya tertuju pada seorang gadis berseragam putih abu abu yg tampak kebingungan dan pandangannya melanglang kesana kameri
"Ada apa?" tanya Maryam setelah berada didekat gadis itu.
"Aku mau pulang, tapi engga tahu harus cari angkot dimana" jawab gadis itu. Maryam tertawa kecil berfikir gadis itu pasti penduduk baru di Jakarta karena mencari angkot di tempat yg salah.
"Engga mungkin ada angkot yg mau menarik penumpang di sini" ujar Maryam "Memang nya kamu baru pulang sekolah?" tanya nya dan gadis itu menggeleng.
"Aku sudah pulang dari tadi, cuma tadi aku lagi cari kerjaan paruh waktu" ucap nya. Maryam pun mengajak gadis itu ikut dengan nya dan akan mengantar nya pulang namun tentu dia menolak di ajak orang asing.
"Aku bukan orang jahat, nama ku Maryam. Aku mahasiswi di Parrish University. Ini kartu mahasiswi ku dan KTP"
Maryam benar benar menunjukan dua kartu itu untuk meyakinkan gadis malang itu. Dan gadis itu tertawa.
"Namaku Lily, Kak. Tapi kenapa kakak mau membantu ku?" tanya gadis bernama Lily itu.
"Sebagai manusia kita harus saling menolong kan? Tadi ku lihat kamu seperti kebingungan" ujar Maryam.
"Iya, karena aku belum terbiasa naik angkot jadi engga tahu dimana harus cari angkot"
"Baiklah, sebaiknya kamu bercerita sambil aku mengantar mu pulang"
Gadis itu mengangguk dan Maryam pun membawa nya kedalam mobil.
Gadis itu bercerita kalau sebenarnya dia putri dari salah seorang yg kaya tapi bisnis keluarga mereka bangkrut dan ayahnya terlilit hutang yg sangat banyak sehingga harus menjual semua aset yg mereka miliki tak terkecuali rumah dan mobil nya.
Maryam meringis, sedih dan prihatin dengan gadis mungil itu. Bahkan gadis itu mengatakan dulu ia bersekolah di sekolah swasta tapi sekarang dia harus pindah ke sekolah umum dan juga harus mencari pekerjaan untuk membantu keluarga nya.
"Aku punya sebuah restaurant yg memang memperkerjakan mahasiswi atau pelajar. Kamu bisa bekerja disana"
"Benar kah?" pekik Lily girang dan Maryam mengangguk dengan senyum lebar. Kemudian Maryam memberi nomor ponsel nya dan menyuruh Lily menghubungi nya jika butuh sesuatu.
"Kau sangat baik, Kak Maryam. Terima kasih banyak" ujar Lily sangat senang.
"Berhenti berhenti..." teriak nya kemudian dan Arif pun menghentikan mobil nya didepan sebuah kos kosan sederhana.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Maryam
"Iya, makasih banyak ya, Kak" ucap Lily sambil memeluk Maryam.
"Sama sama" jawab Maryam kemudian Lily pun turun dan Maryam melanjutkan perjalanan pulang nya.
Lily mengetuk pintu rumah nya dan seorang pria muda membuka pintu dan ia terlihat bernafas lega.
"Ya Tuhan, Liliy. Dari mana saja kamu? Kakak khawatir sama kamu" ujar pria itu.
"Maaf Kak Erick. Tadi Lily bingung cari angkot kemana terus Lily cari kerjaan. Untung aja ada kakak Angel yg nolongin Lily" ujar Lily sembari berjalan masuk.
"Kakal Angel siapa?" tanya Erick.
"Nanti deh Lily kenalin. Lily juga dapat kerjaan dari dia" Erick menggeram marah mendengar Lily akan bekerja.
"Sudah kakak bilang, engga usah kerja, Ly. Biar kakak, Mama dan Papa yg kerja. Kamu fokus aja sama sekolah mu"
"Ya engga bisa, Kak. Kak Erick kan juga harus kuliah. Lily engga mau Kak Erick berhenti kuliah padahal selangkah lagi kakak akan lulus"
"Tapi, Ly..."
"Lily engga apa apa kok kalau harus kerja" jawab Lily sambil tersenyum "Ya udah, Lily mau mandi"
Dan Lily pun segera bergegas memasuki kamarnya yg sangat sempit dan kecil.
Sementara Erick, pria itu menggeram marah. Hanya dalam satu hari hidup keluarga nya terjungkir balik. Sekarang mereka tak punya apa apa lagi sementara dulu mereka hidup bergelimang harta.
"Semua ini karena kamu, Degazi. Aku pasti akan menghancurkan mu sehancur mungkin"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...