Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 67


__ADS_3

Amar dan Maryam menepati rumah lama kakek nya yg ada di Islamabad, rumah itu di urus oleh seorang wanita paruh baya, karena memang kakek nya Amar tak punya sanak keluarga disana. Rumah itu pun tak mau di jual, karena Granny Amy masih sering kesana untuk mengenang suaminya. Bagi Granny Amy, asal usul suami nya tak bisa di tinggalkan begitu saja, sehingga dia dan Amar masih sering ke Pakistan walaupun tak ada keluarga disana.


Maryam sangat menyukai kota Islamabad, ibu kota negara Pakistan yg sangat indah, apa lagi negara itu seperti Indonesia, mayoritas penduduknya adalah islam. Dan yg membuat Maryam takjub adalah pakaian unik nya, mirip seperti pakaian India, hanya saja di Pakistan lebih tertutup tanpa memperlihatkan pusar nya.


Saat ini, Maryam sedang berbelanja pakaian tradisional Pakistan. Maryam selalu berdecak kagum dengan model dan bahan bahan nya.


"Ini berat lho" ujar Maryam sambil melihat satu set pakaian dan ia mengangkat sebuah rok dengan banyak hiasan dan bordiran, motif nya sangat cantik dan terlihat mewah.


Amar tertawa geli melihat ekspresi Maryam.


"Ambil aja" ujar Amar.


"Tapi di Indonesia mau di pakek kemana pakaian kayak gini?"


"Ya siapa tahu nanti ada pesta yg bertemakan ala ala Pakistan atau india"


"Bener juga"


Maryam terlihat sangat girang dan ia memilih beberapa lembar pakaian yg selalu satu set dengan selendang nya.


Setelah itu, Amar mengajak Maryam untuk berbelanja yg lain, perhiasan misal nya. Karena Pakistan memiliki aneka aksesoris yg begitu unik.


"Aku capek" rengek Maryam dan bersandar di bahu suaminya, saat ini kedua nya sudah ada di dalam mobil. Padahal Amar masih ingin mengajak Maryam berbelanja atau jalan jalan. Tapi Maryam sudah mengeluh lelah.


"Ya udah, kita pulang" ucap Amar mengecup pelipis istri nya yg bergelanyut manja di bahu nya.


Kemudian Amar memerintahkan sopir nya untuk membawa mereka pulang, tentu menggunakan bahasa Urdu yg sangat tidak di mengerti oleh Maryam kecuali Achcua, Nahi, Ji dan sahab.


Saat pertama kali Maryam sampai disana dan Amar berbicara dengan pengurus rumah nya, wanita itu menjawab Ji Amar Sahab. Maryam mengira Amar punya nama panjang lain disana yaitu sahab. Eh ternyata sahab itu arti nya Tuan.


Sesampainya dirumah mereka, pelayan paruh baya itu menyambut kedua nya dan disana juga ada wanita wanita paruh baya teman Granny Amy.


Mereka berbincang dengan Amar dalam bahasa Urdu, sementara Maryam hanya bisa melirik mereka yg berbicara bergantian dengan mulut terbuka. Mereka juga juga sering menatap Maryam, tersenyum, tertawa dan kemudian mengangguk.


"Mereka bicara apa sih?"

__ADS_1


Dan tiba tiba saja Amar mengangguk kemudian menatap Maryam dan tertawa kecil.


"Berasa ada di planet lain yak"


Kemudian mereka mengatakan sesuatu dan sekali lagi Amar mengangguk dan kemudian mereka pergi.


"Mereka ngomong apa sih?" tanya Maryam pada Amar setelah mengantar wanita wanita itu.


"Mereka membicarakan mu" balas Amar yg membuat Maryam langsung melotot.


"Jadi kalian gosipin aku di depan mata ku dan aku engga ngerti? Tapi mereka engga menyebutkan nama ku sama sekali"


"Mereka mengatakan apki biwi. Yg artis nya istri mu, dia bilang istri mu cantik, dan muda. Dan mereka mengatakan jika ustri mu orang Pakistan, maka pasti sudah punya anak. Karena kadang orang orang Pakistan menikah muda karena sudah pasti di jodohkan"


"Oh gitu, terus ngomong apa lagi? Kenapa mereka liatin aku terus?"


"Mereka juga bilang, kalau kita pengantin baru, kenapa engga ada hena di tangan mu karena di Pakistan ada acara hena sebelum pernikahan, ya aku bilang itu engga perlu, karena itu bukan adat di negara kita"


"Oooohh gitu, tadi ngomong nya kayak asyik gitu"


"Karena apa?"


"Karena yg tadi pakek baju hijau tuh, dia katanya sempat ingin menjodohkan ku dengan putri nya" Amar berkata setengah berbisik.


"Gila mereka ya..." teriak Maryam dan langsung berdiri yg membuat Amar terkejut apa lagi Maryam tak pernah berteriak sebelum nya "Di depan istri mu dia membicarakan perjodohan mu?"


"Dia cuma bilang sempat ingin menjodohkan, Sayang. Dia itu sahabatnya Granny. Dan hal biasa di Pakistan kalau saling menjodohkan itu"


"Tapi engga perlu di bahas lagi didepan istri mu, kan. Mentang mentang aku engga bisa bahasa Urdu ya. Awas saja kalau dia datang lagi kesini"


Amar terkikik geli dengan reaksi Maryam. Sementara Maryam langsung bergegas ke kamar nya dan terus menggerutu.


Padahal Amar hanya bercanda.


Wanita wanita itu mengatakan dia sudah menganggap Amar dan Granny Amy keluarga mereka, apa lagi Granny Amy yg tak melupakan negara asal suami nya dan masih menganggap Pakistan adalah rumah nya. Jadi saat putra mereka membawa seorang menantu kerumah mereka, maka mereka akan menyambutnya, dan akan memberikan hadiah pernikahan untuk mereka.

__ADS_1


Mereka mengatakan akan datang nanti malam dan akan mengadakan acara pesta kecil kecilan untuk menyambut Maryam disana.


.


.


.


"Wajah mu di tekuk terus, kayak orang lagi patah hati aja"


Afsana tidak tahu, antara harus menangis histeris atau menjerit nyaring di telinga Faraz. Jika sebelumnya Afsana di tuduh main di dekat jendela dan sengaja melomopat, sekarang Faraz malah menyerang nya dengan tuduhan lain yg sangat benar.


Patah hati.


Sudah sejak tadi Faraz seolah mengejek Afsana dan terus mengatakan Afsana seperti orang patah hati, Faraz bahkan menanyakan siapa yg membuat nya patah hati, dia bilang dia akan mematahkan lehernya karena sudah membuat adiknya patah hati.


Afsana hanya bisa menghela nafas berat dan beristighfar, berharap dia tak lepas kendali dan mencakar wajah sok polos Faraz itu.


Sementara Faraz, dia sangat menikmati moment dimana Afsana terlihat menahan kesal namun kadang Faraz tak tega ketika melihat mata Afsana yg berkaca kaca.


Faraz hanya berniat menggoda nya sebelum memberi nya kejutan nanti, dan saat ini, biarkan dia tetap pura pura tak tahu perasaan Afsana dan biarkan semua ejekan itu membuat Afsana terus menggumamkan istighfar.


"Sudah lah, Faraz!" tegas Bilal, dia merasa kasihan pada Afsana karena terus terusan di pojokan oleh Faraz hanya karena jatuh dari jendela kamar nya. Dan Bilal juga heran, katanya Faraz mencintai Afsana, tapi apa yg Faraz lakukan? Malah membuat Afsana jengkel.


"Ya aneh aja, Bi. Ana tuh udah dewasa, main di dekat jendela, jatuh lagi, paling gara gara patah hati tuh"


Afsana menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan, ingin rasanya dia mengatakan bahwa dia memang patah hati, dan itu karena Faraz.


"Kakak beneran mau patahkan leher orang yg udah bikin Ana patah hati?" tanya Afsana kemudian dan Faraz mengangguk yakin.


"Patahin aja tuh leher kakak sendiri" ketus Afsana dengan kesal nya dan Faraz malah menanggapinya dengan tertawa geli.


Bilal dan Hubab yg melihat itu merasa ada yg tidak beres dengan Faraz, apa lagi sebelumnya Faraz yg terlihat selalu cemas, tapi sekarang?


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2