Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 115


__ADS_3

"Sayang, kenapa?" tanya Amar sambil mengucek mata nya, sejak tadi ia tak bisa tidur nyenyak karena Maryam terus terusan bangun dan bolak balik ke kamar mandi.


"Engga apa apa, cuma ke bebelet pipis" jawab Maryam kemudian kembali ke ranjang, Amar melirik jam dinding yg menunujukan pukul 00.23.


"Ya udah, sini tidur lagi" ucapnya sembari menarik Maryam ke pelukan nya.


Maryam pun mencoba tidur kembali namun ia merasakan sakit yg teramat sangat di perut nya sehingga ia mengerang dan itu membuat Amar terkejut.


"Kita kerumah sakit, kamu pasti mau melahirkan" ucapnya kemudian langsung menggendong Maryam keluar dari kamar nya.


Amar pun berteriak memanggil semua orang di rumah nya dan membuat kehebohan sehingga semuanya terbangun begitu juga dengan Bobby dan Granny Amy.


Belum sempat mereka bertanya ada apa, Amar sudah langsung mengatakan


"Istri ku mau melahirkan"


.


.


.


Amar dengan setia menemani Maryam, Dokter sudah memeriksa nya dan kata nya masih pembukaan tiga, Amar tidak mengerti sama sekali dengan hal itu namun ia terus mendesak Dokter dan Suster supaya merawat istri nya yg sudah kesakitan dan terlihat sangat lemah.


"Sabar ya, Sayang..." ucap Amar lembut sembari mengusap kening istri nya.


"Kamu belum sholat malam, kan? Sholat dulu gih, cari musholla. Doain kami" ucap Maryam lemah.


"Yg jagain kamu siapa?"


"Biar saya, Tuan" seru Nur "Em saya lagi dapat gratisan" lanjut nya sambil malu malu, Maryam yg mendengar hal itu tersenyum lemah.


"Gratisan apa?" tanya Amar yg tak mengerti.


"Lagi halangan" jawab Amar mewakili Nur.


Karena memang semua pelayan rumah Amar ikut bahkan Fifi. Mereka semua ingin menemani Maryam.


"Ya udah, aku panggil Granny dan yg lain nya" ucap Amar "Nur, kalau ada apa apa langsung telpon aku ya"


"Siap" jawab Nur cepat.

__ADS_1


.


.


.


Jam sudah menunukan pukul 4, dan Dokter kembali memeriksa Maryam, yg sejak jam tiga tadi hanya pembukaan lima.


"Sabar ya, Bu. Masih pembukaan lima, Insya Allah sebentar lagi" seru sang Dokter dan Maryam hanya bisa me mengangguk lemah. Amar masih setia di sisi nya, ia terus memberikan kata kata cinta nya untuk menguatkan sang istri yg terbaring pucat dan lemah dengan jarum infus di tangan nya.


"Sebaik nya operasi aja ya" ucap Amar yg sudah tak tega melihat istri nya. Maryam menggeleng, karena sebelum nya sudah mereka bicarakan, operasi akan menjadi jalan terakhir jika memang Maryam tak bisa melahirkan secara normal.


"Ayolah, Sayang. Biar kamu engga sakit begini" lirih Amar namun Maryam berikeras tak mau.


"Ummi, tolong panggilkan Ummi" pinta nya, karena sakit nya detik detik melahirkan seperti ini membuat Maryam terus memikirkan ibu nya. Amar pun langsung menuruti permintaan istri nya itu.


"Sabar ya, Nak. Insya Allah kamu bisa melewati ini" ucap Granny.


"Suster..." seru Amar pada Suster yg datang untuk memeriksa lagi keadaan Maryam "Kapan anakku akan lahir? Kasian istri ku" ucap nya.


"Sabar ya, Pak. Melahirkan normal memang seperti ini. Biar saya panggilkan Dokter untuk memeriksa nya lagi" ujar sang Suster.


"Amar, tenang..." ucap Maryam berusaha menyunggingkan senyum agar suami nya itu tenang.


"Engga apa apa, ini hal biasa kok. Sebaik nya kamu berdoa" ucap nya lagi.


Granny yg melihat hal itu hanya bisa gelang gelang kepala, yg seharusnya di tenang kan dan di hibur itu Maryam, fikir nya.


Tak lama kemudian Bilal dan Asma datang dan Asma langsung menghampiri putri nya yg terlihat sangat lemah.


"Ummi..." Maryam merengek pada ibunya. Dan Asma dan Bilal pun segera menenangkan putri nya.


"Kami di sini" seru Asma sembari membelai kepala Maryam.


Dengan keberadaan kedua orang tuanya, Maryam menjadi lebih tenang, apa lagi sang ibu yg terus memperhatikannya.


Hingga Dokter datang dan memeriksa kembali memeriksa nya setelah Adzan subuh. Dan Dokter mengatakan Maryam akan di bawa ke ruang persalinan.


Amar tampak sangat tegang bahkan jauh lebih tegang dari pada Maryam, sehingga semua yg ada disana malah menanangkan Amar bukannya Maryam.


Setelah memasuki ruang persalinan, Bilal pergi dan untuk sholat subuh dengan Asma dan pelayan pelayan Amar, bergantian dengan Amar yg kemudian pergi dengan nenek nya.

__ADS_1


Setelah sholat, Amar kembali ke depan ruang persalinan istri nya. Ia terus mondar mandir, begitu cemas dan tegang.


"Maryam termasuk sulit melahirkan. Ini sudah pagi" ucap Asma yg juga sangat khawatir anak nya. Bilal merengkuh nya.


"Jangan Khawatir, putri dan cucu kita inysa Allah baik baik saja" ucap nya.


Sang surya pun sudah menampakkan diri nya dan bersalamaan dengan itu, suara tangis bayi terdengar dari dalam dan itu membuat mereka langsung bernafas lega, mengucapkan syukur yg tiada henti.


Bahkan Amar langsung terjatuh lemas dan tanpa sadar ia meneteskan air mata nya. Suara tangis bayi nya terdengar sangat merdu dan mengharukan.


.


.


.


Bayi Maryam yg sudah di bersihkan pun di adzani dan di doakan oleh kakek nya dengan doa doa baik dan mulia, mendoakan harapan dan kehidupan yg terbaik dalam hidup cucu nya, Maryam pun sudah di pindahkan ke ruang rawat, namun Maryam masih sangat lemah dan pucat dan ia baru saja sadar dari pingsan nya karena kelelahan dan kehabisan tenaga.


Amar menghampiri Maryam sambil menggendong anak mereka, dan Maryam meneteskan air mata saat melihat suaminya yg masih menangis haru.


"Sayang, dia sangat tampan, seperti mu...." lirih Maryam kemudian Amar meletakkan putra mereka di gendongan Maryam.


"Aku tahu, dia sangat tampan. Tapi mata nya seperti mata mu, begitu teduh dan menenangkan" ujar Amar.


Semua merasa sangat bahagia dengan kelahiran putra Amar dan Maryam itu, begitu juga dengan Asma dan Granny Amy.


Amar pun segera menghubungi Faraz yg saat ini masih berbulan madu dengan istri nya. Amar memerkan putra nya yg katanya akan menjadi pria tertampan di dunia. Faraz dan Afsana sangat bahagia mendengar kabar kelahiran Maryam dan mereka tak sabar ingin pulang untuk melihat keponakan kecil mereka.


Asma pun mengabarkan seluruh keluarga nya bahwa Maryam telah melahirkan seorang anak laki laki. Dan semua menyambut kelahiran sang pewaris itu dengan rasa syukur yg begitu besar, mereka bersuka cita dan merasa di karuniai dengan berkah yg sangat besar. Mereka semua menghujani putra Amar itu dengan berbagai doa dan harapan yg mulia.


"Semoga menjadi anak sholeh yg taat beragama, berbakti pada orang tua"


"Semoga kelak menjadi pemimpin yg baik dalam segala hal, semoga hidup nya di penuhi dengan cinta dan cita yg mulia"


"Semoga kamu menjadi anak yg selalu bisa menjadi lentera bagi kedua orang tua mu dan orang lain, Sayang"


▫️▫️▫️


Tbc....


Note : Part ini GaJe banget yaaa... 😭😭😭

__ADS_1


Author nya engga bisa menghayati dengan benar, I am sorry, guys. But I hope you enjoy this part.


__ADS_2