Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 23


__ADS_3

Setelah sholat jum'at, Faraz tak kembali ke kantornya, ia ingin mengajak adik adiknya makan siang dan berbelanja, namun Afsana mengatakan Maryam tak bisa ikut karena sedang berada dirumah Amar bersama ummi Zahra.


Lalu Faraz pun tetap menjemput Afsana dan mengajaknya makan siang, kebetulan juga Maria bekerja karena jum'at tak ada kelas, jadi Faraz juga membawa Maria.


"Hai" Sapa Maria yg duduk di jok depan pada Afsana yg masuk mobil dan duduk di belakang.


"Hai" Afsana juga menyapa dengan senyum ramah.


"Kamu mau makan apa, Dek?" tanya Faraz sambil melirik Afsana dari kaca mobil.


"Apa aja, Kak" jawab Afsana.


"Okey, kita makan di restaurant jepang, bagaimana?"


"Ya, ide bagus. Udah lama Ana engga makan makanan jepang" seru Ana senang.


Di sepanjang perjalanan, Afsana, Maria dan Faraz terus mengobrol, dan saat Afsana dan Faraz membicarakan masa kecil mereka, mereka tampak sangat senang dan tertawa.


Dan entah kenapa, Maria merasa iri melihat kedekatan Faraz dan Afsana. Mereka begitu hangat dan ceria.


Afsana juga bercerita bahwa setiap kali pulang ke desa nya dan bertemu Rafa, Faraz sering sekali bertengkar dengan Rafa setiap kali Rafa mendekati Afsana dan Maryam. Tapi Rafa dengan sabar mengerti Faraz dan mengalah, dan pada akhirnya Faraz pun luluh pada kakak sepupu nya itu dan mereka kembali akur dan mengatakan bahwa mereka semua saudara.


Saat bercerita, Maria memperhatikan Afsana dari kaca mobil, dan Afsana tampak sangat cantik saat tersenyum, seolah matanya juga ikut tersenyum.


"Kita sudah sampai"


Kata kata Faraz membuyarkan lamunan Maria yg ternyata melamun sejak tadi.


"Loh, Kak. Kok parkir di sini?" tanya Afsana karena restaurant itu masih ada di seberang jalan.


"Parkiran di sana penuh" jawab Faraz, Afsana pun melihat ke sekitar restaurant itu dan parkiran nya memang penuh. Tak heran, jam makan siang.


Saat turun dari mobil, Faraz mendapatkan telepon dari Rian, sehingga menyuruh Afsana dan Maria menyeberang duluan.


Jalanan yg ramai di jam makan seperti ini membuat mereka kesulitan menyebarang.


"Ayo, An..." seru Maria karena kini ada celah untuk bisa menyebarang.


Keduanya pun mulai menyebarang dan ponsel Ana yg bergetar menarik perhatian gadis itu dan ia memeriksa ponsel nya, dan bersmaan dengan itu...


"Afsana..."


Afsana sangat terkejut karena Faraz tiba tiba saja menarik nya bahkan ponsel nya sampai jatuh.


Hampir saja sepede motor menabrak gadis itu jika Faraz tak menarik nya.


"Sayang, kamu engga apa apa? Hm?" tanya Faraz khawatir sambil memegang pundak Afsana. Tampak jelas ke khawatiran di mata nya.


"Ana engga apa apa" jawab Ana pelan, dia masih shock bahkan membuat tubuhnya gemetar. Faraz mengambil ponsel Ana yg terjatuh dan tatapan ke khawatiran itu kini berubah menjadi kemarahan.


"Berapa kali kakak harus bilang, jangan main ponsel saat di jalan, Ana" tegasnya.


Ia sangat meng khawatirkan Afsana yg menyebarang sambil bermain ponsel sementara ada sepede motor yg melaju kencang ke arahnya, syukurlah Faraz bisa menyelamatkan nya tepat waktu.


Maria diam mematung. Padahal ia berjalan berdampingan dengan Afsana. Jika motor itu menabrak Afsana, maka bisa juga menabrak dirinya. Tapi yg Faraz selamatkan hanya Afsana, yg Faraz khawatirkan hanya Afsana. Faraz hanya memanggil nama Afsana.


Maria merasa bodoh karena merasakan sesuatu yg tak mengenakan di hati nya.


Ia fikir tentu saja Faraz akan melindungi Afsana karena dia adik nya, kenapa hatinya harus mempermasalahkan itu, batinnya berseru tak mengerti.

__ADS_1


"Ayo" seru Faraz pada kedua wanita yg bukan muhrim nya itu "Simpan ponsel mu didalam tas, ini terakhir kalinya kamu bermain ponsel saat di jalan atau kakak akan buang ponsel mu itu" tegas Faraz yg membuat Afsana bergidik ngeri dan langsung memasukan ponsel ke dalam ransel nya.


Keduanya pun masuk, dan segera memesan makanan kesukaan masing masing. Dan sekali lagi Maria di perlihatkan dengan kedekatan Faraz dan Afsana saat mereka sama sama tahu apa makanan favorite mereka, bahkan sampai seperti apa cara makan mereka.


"Kalian terlihat seperti saudara kandung, sangat dekat" ujar Maria "Aku engga pernah punya saudara maupun sepupu" lanjut nya.


"Anggap saja aku saudara mu" ujar Afsana dengan senyum lebarnya. Melihat Afsana terenyum, Faraz mengusap gemas kepala Afsana yg terbungkus jilbab putih.


"Memang nya Maryam engga cukup sebagai saudari mu?" gurau nya.


"Ya bukan gitu, Kak. Tapi makin banyak saudara kan makin baik, ya saudara se tanah air" ungkap Afsana karena tak mungkin ia mengatakan suadara seagama.


.


.


.


Demam tinggi tiba tiba saja menyerang Amar, bahkan tubuhnya menggigil. Amar merasakan seseorang menyelimutinya, kemudian ia merasakan sesuatu yg basah di dahi nya.


Bayangan masa lalu nya terus saja berputar dalam benak nya, membuat Amar terus saja menggumamkan nama adik dan ayahnya.


Amar berusaha membuka mata saat merasakan belaian lembut di kepala nya, dan yg pertama kali ia lihat adalah wanita yg membuat ia harus menemui ibunya setelah 15 tahun dan berakhir membuat Amar down seperti sekarang.


"Tante..." Amar berusaha duduk namun Asma mencegahnya.


"Engga apa apa, jangan bangun. Tiba tiba saja kamu demam tinggi, jadi Tante kompres"


Amar masih menatap tak percaya pada Asma, jadi tadi itu bukan mimpi, fikirnya. Ummi Zahra itu memang membelai rambut nya dan menyelimutinya. Memperlakukan Amar seperti anak nya. Hal yg memang seharusnya di lakukan oleh seorang ibu dan yg tak pernah Amar rasakan sejak kecil.


Lalu, datanglah Maryam dengan membawa makanan di tangan nya, membuat Amar mengerutkan dahi nya, ia melihat sekeliling nya dan ia yakin itu kamarnya, dan hal terakhir yg dia ingat hanya lah Abi nya Maryam membawa nya pulang dari penjara.


Tapi sekarang kenapa ibu dan anak itu ada disana dan merawatnya?


"Em kalian, apa yg kalian lakukan di sini?" tanya nya pada akhir nya.


"Tadi kamu pingsan saat di mobil, bahkan tiba tiba kamu demam dan menggigil, jadi kami membawa mu pulang" jawab Asma.


"Pingsan?" pertanyaan itu untuk dirinya sendiri "Aku engga pernah pingsan sebelum nya" jawab Amar "Maaf merepotkan" ia berkata menyesal. Selama ini Amar selalu terlihat kuat, tangguh dan arrogant, dia tidak pernah terlihat lemah didepan siapapun. Tapi didepan Maryam dan keluarga nya?


Mereka melihat seluruh kelemahan Amar, lemah dan tak berdaya.


"Syukurlah kamu sudah bangun" kali ini Granny Amy yg datang "Bagaimana keadaan mu, Amar?"


"Aku baik baik saja, jangan khawatir" jawab Amar.


"Oh ya, sebaiknya kamu makan. Nenek mu bilang sejak pagi kamu belum makan" ujar Asma, mengambil mangkuk yg berisi sup ayam dari tangan Maryam. Amar pun berusaha duduk dan saat mengangkat tangan nya untuk mengambil sup itu, tangan nya malah gemetar.


Entah akibat trauma nya atau karena kelaparan mengingat sekarang sudah hampir jam dua siang.


"Sial" rutuk Amar dalam hati, kenapa semua kelemahannya harus keluar sekarang, didepan calon istri dan calon mertua nya lagi.


"Biar Tante aja" ucap Asma yg melihat tangan Amar gemetar.


"Tante mau suapi aku?" cicit Amar, antara malu, gengsi dan tak enak hati.


"Kenapa? Kamu berharap Maryam yg menyaupi mu? Sayangnya itu engga akan terjadi" ucap Asma dengan bar bar nya membuat Amar jadi salah tingkah, sementara Amar dan Granny Amy hanya mengulum senyum.


"Bukan, Tante. Maksudu, em aku bisa makan sendiri" ia berkata setengah berbisik. Tak menyangga wanita yg terlihat anggun didepan nya ini ternyata bisa berbicara gamblang.

__ADS_1


"Engga apa apa, tangan mu gemetaran, lagi pula kamu dalam kondisi seperti ini karena untuk memenuhi permintaan ku"


Dan Amar teringat dengan wanita yg ia temui di penjara. Itu sama sekali bukan mama nya, mama nya yg ia ingat sangat cantik, rapi, tubuhnya berisi berbanding terbalik dengan yg ia lihat. Tapi suara nya, suara nya masih sama persis.


Tapi Amar tak mau memikirkan hal itu, ia tak bisa. Itu seperti merobek kembali luka di jiwa nya.


"Ayo buka mulut mu, jangan melamun!" titah Asma seolah memerintah Amar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Amar di perintah. Sudut bibir Amar tertarik membentuk senyum samar. Rupanya bukan hanya Maryam yg membawa perubahan baru dalam hidup nya, tapi juga ibu nya. Amar membuka mulutnya dan Asma menyuapkan satu sendok sup ayam pada nya.


Amar terdiam sejenak, dia tidak pernah di suapi oleh ibunya sejak kecil, karena ibunya yg selalu sibuk dengan teman sosialita nya, sehingga Amar dan Amora hanya di asuh baby sitter nya atau nenek nya. Itulah yg membuat Amar dan Amora begitu dekat, karena Amar yg lebih banyak menjaga nya di banding ibunya, walaupun begitu Amar tetap mencintai ibunya hingga tragedi itu memusnahkan cinta dan menggantinya dengan benci yg teramat sangat.


Mata Amar terasa panas, tidak! Jangan menangis. Jiwa nya berteriak agar tak semakin terlihat lemah.


Sekali lagi ibunda Maryam itu menyuapi Amar. Amar menerima nya dengan senang hati, dan jauh dalam hatinya, ia merasa seperti anak anak yg sndang karena di suapi ibunya.


"Em masakan Nor enak" ucap Amar, Nor adalah pelayan yg bertugas memasak dirumah nya. Sebelum nya ia memuji nenek nya saat makan malam karena ia fikir nenek nya yg masak tapi ternyata pelayan.


"Anak bodoh" seru nenek nya memukul pundak Amar cukup keras bahkan membuat Amar meringis "Itu masakan Maryam"


"Hah?" Amar hanya bisa membuka mulut lebar lebar, sekarang wajahnya pasti sudah merah padam karena malu.


"Kenapa aku selalu salah memuji orang sih?"


Sementara Maryam hanya tertawa kecil, dan Asma mendengus kesal karena masakan anak nya di kira masakan pelayan.


"Maaf" ucap Amar pelan.


"Engga apa apa" jawab Maryam "Oh ya, aku sama Ummi harus pulang"


"Biar sopir antar kalian"


"Engga usah, Abi yg jemput. Tadi Abi pulang karena mau sholat jum'at"


Amar mengangguk mengerti. Kemudian Asma melatakkan mangkuk sup itu di meja.


"Kami pulang dulu, Amar. Semoga cepat sembuh"


"Tante..." panggil Amar saat Asma dan Maryam hendak pergi.


"Ya?"


"Terima kasih banyak" Amar berkata dengan suara sedikit bergetar. Ia ingin menangis haru, ia sangat benci sosok ibu, setiap kali mendengar kata ibu, yg terlintas dalam benak nya adalah sosok ibu nya. Ia bahkan benci saat Maryam selalu memuji ibunya. Tapi ternyata, seperti inilah sosok ibu Maryam, pantas saja Maryam memuji nya.


"Sama sama" jawab Asma dengan senyum yg mengembang indah di bibir nya.


Amar pun menatap Maryam, namun Maryam hanya menatap nya sekilas seperti biasa, menyunggingkan senyum dan segera berlalu dari kamar Amar.


Granny Amy mengantar mereka ke bawah, disana sudah ada Bilal yg menunggu.


"Bagaiamana keadaan nya?"


"Dia jauh lebih baik, terima kasih banyak" ucap Granny Amy "Saya tidak tahu harus berterima kasih seperti apa pada kalian, tapi sungguh apa yg kalian lakukan sangat membantu Amar, terutama kau, Nyonya Zahra. Terima kasih banyak"


"Itu bukan hal besar, Granny. Ngomong ngomong, Zahra saja sudah cukup" ujar Zahra yg langsung di setujui nenek Amar.


"Kami pamit" ucap Asma kemudian.


"Terima kasih banyak, Maryam" ucap Granny Amy sembari memeluk Maryam.


"Kembali kasih, Granny. Semoga Amar cepat membaik"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2