Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 72


__ADS_3

"Maryam mana?" tanya Amar pada neneknya yg sedang melahap sarapan nya, dan ia tak menemukan istrinya disana padahal biasanya mereka selalu sarapan bersama.


"Udah ke kampus, kalian ada masalah?" tanya Granny Amy dan Amar hanya bisa menghela nafas berat. Sejak subuh tadi, Maryam tak berbicara sedikitpun pada Amar. Jika ditanya hanya mengangguk atau menggeleng.


Dan Granny Amy sudah menduga pasti ada masalah, karena Maryam yg langsung pergi ke kampus pagi pagi tanpa sarapan dulu, wajah Maryam juga tampak berbeda dari biasanya.


"Pasti kamu yg buat masalah" tuduh Granny Amy. Amar yg sudah rapi siap berangkat kerja, padahal niat nya dia ingin mengantar Maryam sendiri ke kampusnya sebagai permintaan maaf.


"Aku engga sengaja bentak Maryam semalam"


"Kenapa?" tanya Granny Amy dan ia tampak terkejut dan juga tak terima dengan perlakuan Amar.


"Maryam menemui nya di penjara tanpa sepengetahuan ku, aku benci itu"


"Tapi kan bisa bicara baik baik, Amar. Maryam bukan wanita pembangkang, kalau kamu bicara baik baik dia pasti akan menuruti perintah mu"


"Aku tahu, aku cuma lepas kendali, aku takut kalau Maryam dekat dekat dengan wanita itu, bisa saja Maryam di celakai juga"


"Sebaiknya kamu minta maaf pada Maryam, wajah nya terlihat berbeda pagi ini"


"Sudah, aku sudah minta maaf berkali kali"


"Apa kamu hanya membentak nya atau melakukan sesuatu yg lain?"


"Aku... Aku tanpa sengaja mencengkram pundaknya dengan keras"


"Astaghfirullah, Amar..." Granny Amy tampak kecewa dengan cucu nya itu "Jangan main fisik, Amar. Apa kamu lupa bagaiamana keluarga Maryam membesarkan Maryam? Engga ada kekerasan sedikitpun, bahkan mereka juga tak pernah membentak nya"


"Aku benar benar menyesal" lirih Amar "Ya udah, aku ke kantor dulu"


Amar pergi setelah mencium tangan nenek nya, lagi lagi hal baru yg ia lakukan hanya setelah menikah, apa lagi penyebab nya kalau bukan Maryam, Maryam selalu berpamitan dan akan mencium tangan Granny Amy saat hendak pergi atau pulang. Ia lakukan itu juga pada Amar sebagai suami nya.


.


.


.


Faraz dan Hubab membawa Afsana kerumah sakit untuk memeriksakan kaki nya. Afsana yg berjalan menggunakan kruk sesekali meringis kesakitan.


Setelah di periksa, Dokter bilang sudah sedikit membaik, masih harus melakukan pemeriksaan rutin dan ketika Afsana bertanya kapan bisa sembuh total, Dokter malah mengatakan lima sampai enam bulan, tentu membuat Afsana sedih, karena dia tidak bisa kembali ke pesantren nya.


"Sebenarnya, nanti kita bisa check lagi, jika kau ingin kembali sekolah, itu tak masalah jika bengkaknya sudah sembuh dan rasa sakit nya berkurang, asal jangan terlalu lama berjalan dan berdiri. Jangan juga naik turun tangga. Inti nya harus benar benar hati supaya tulang mu kembali menyatu dan tidak ada pembengkokan"


Afsana langsung murung mendengar hal itu, namun Faraz segera menghibur nya.


"Engga apa apa, Dek. Jangan sedih, kakak yakin kamu engga perlu mengulang lagi tahun depan"


"Tapi ujian berikutnya tiga bulan lagi, Kak" rengek Afsana.


"Dalam waktu dua bulan mungkin kamu bisa kembali" sambung Dokter itu yg langsung membuat Afsana berbinar "Aku akan berusaha melakukan yg terbaik untuk kesembuhan mu, tapi sekali ku ingatkan, itu tidak sembuh total. Tulang mu masih belum menyatu sempurna, kamu masih harus terus menggunakan kruk. Dan juga masih harus terus melakukan pemeriksaan, apakah di pesantren mu bisa?"


"Bisa" jawab Afsana "Maksud ku, aku bisa mengajukan surat izin untuk pergi kerumah sakit"

__ADS_1


"Itu bagus" seru Dokter itu yg juga tampak senang karena melihat Afsana yg tampak girang.


"Terima kasih banyak, Dokter" seru Hubab.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, mereka bersiap pulang,di pintu keluar, Afsana terkejut karena melihat seorang gadis dan beberapa orang perawat yg membawa gadis dengan banker dan terluka, gadis yg tak asing bagi Afsana.


"Maria..." teriak Afsana yg mengejutkan Faraz karena sejak tadi Faraz sibuk menelepon.


"Maria?" tanya Faraz dan Afsana menunjuk ke pasien yg sedang di bawa itu.


"Ada apa?" tanya Hubab.


"Itu, Bi. Maria, Afsana liat Maria tadi, asisten nya Kak Faraz itu lho"


"Iya, Abi ingat. Mungkin kamu salah lihat"


"Engga, dia memang Maria, mungkin dia kecelakaan. Kak, coba kita cari tahu" pinta Afsana, dan Faraz pun mengangguk, untuk memastikan apakah itu Maria, Faraz menghubungi Hira, tapi tak di jawab nya.


Sementara Faraz, Afsana, dan Hubab mencoba mencari orang yg Afsana maksud.


Ponsel Faraz berdering, dan ternyata itu Hira.


"Pak, Maria masuk rumah sakit" ucap Hira langsung dari seberang telpon. Tentu Faraz terkejut, ternyata Afsana benar.


"Aku juga dirumah sakit, Hira. Tadi Afsana melihat Maria yg katanya terluka, dimana kalian?"


Hira segera memberi tahu kamar rawat Maria.


"Afsana, itu memang Maria. Kamu pulang aja ya sama Uncle. Biar kakak liat Maria dulu" seru Faraz pada Afsana, namun Afsana terlihat tak suka dengan permintaan Faraz itu, ia terlihat cemburu. Menyadari hal itu, Faraz terkekeh geli, membuat Afsana mendelik.


"Tapi aku ada meeting penting bersama Bilal dan rekan bisnis kami, Abi pulang duluan engga apa apa kan?" tanya Hubab dan Afsana mengangguk.


"Biar nanti Ana pulang sama aku, Uncle" sambung Faraz dan Hubab pun mengangguk kemudian pergi.


Faraz dan Afsana menemukan Hira yg sedang mondar mandir didepan sebuah ruangan.


Tampak sekali Hira sangat khawatir dan ketakutan, kemudian ia melihat Faraz dan Afsana datang.


"Bagaiamana keadaan nya?" tanya Faraz


"Masih di tangani Dokter" jawab Hira.


"Apa yg terjadi? Kenapa Maria bisa kecelakaan?"


"Dia melompat dari lantai dua dirumah nya, dia benar benar sudah depresi"


"Astaghfirullah" gumam Afsana "Tapi kenapa Maria lakukan itu?" lanjut nya apa lagi ia melihat Maria yg tampak berubah menjadi wanita muslimah, kemudian Afsana menatap Faraz "Apa karena Kak Faraz menolak perasaan nya?" cicit Afsana yg membuat Faraz menghela nafas berat.


"Astaghfirullah, bukan, Dek. Dia punya masalah lain" tegas Faraz. Dan Afsana pun percaya saja.


Kemudian Dokter keluar, Hira langsung menanyakan keadaan Maria.


Dokter mengatakan kondisi Maria masih keritis, dia mengalami cidera otak dan harus segera di lakukan operasi.

__ADS_1


Kemudian Dokter menanyakan siapa yg menjadi wali Maria, atau yg bertanggung jawab atas Maria. Hira memandang Faraz dengan tatapan memohon. Dan tentu hal itu membuat Afsana semakin bingung.


"Aku yg akan bertanggung jawab, Dokter" seru Faraz kemudian.


"Kak?" Afsana menatap Faraz tak percaya "Kenapa harus Kakak? Bukankah dia masih punya ayah"


"Ayahnya di penjara, Dek" jawab Faraz yg sekali lagi membuat Afsana terkejut.


"Dan janin nya?" tanya Hira.


"Janin?" pekik Afsana dan sekali lagi menatap Faraz.


"Bukan kakak, Sayang" tegas Faraz "Apa kamu fikir kakak akan melakukan itu?" Afsana tentu saja langsung menggeleng.


"Ini sebuah keajaiban, meskipun sempat mengalami pendarahan, tapi janin nya baik baik saja. Jadi kamu harus segera melakukan operasi, dan silahlan urus administrasi nya, Tuan"


"Ya" jawab Faraz.


Afsana masih tak mengerti apa yg terjadi, apa lagi kenapa Faraz yg harus bertanggung jawab pada Maria.


"Aku akan jelaskan nanti, Sayang. Kamu percaya kan sama kakak?" Afsana mengangguk, tentu dia percaya Faraz.


Kemudian Faraz mengurus administrasi nya, dan seorang Dokter datang, memberikan surat pernyataan bahwa operasi di lakukan atas persetujuan wali nya, dan Faraz menadatanginya sebagai pihak yg bertanggung jawab atas Maria.


Afsan dan Hira duduk di ruang tunggu, kedua nya tak saling mengenal, jadi tak terlibat dalam pembiciraan apapun.


Apa lagi Hira merasa Afsana punya hubungan yg special dengan Faraz, terlihat dari bagaimana Faraz memperlakukan nya dan berbicara dengan nya.


Kemudian Faraz datang, dan ia langsung duduk di samping Afsana.


Faraz mulai menceritakan apa yg terjadi pada Maria, ini bahkan untuk yg kedua kali nya Maria mencoba bunuh diri. Faraz mengatakan ia membantu Maria hanya sebagai bentuk simpati nya dan kemanusiaan, karena Maria memang tak punya siapa siapa lagi. Apa lagi ayahnya di penjara karena membunuh pria yg telah menghamili Maria.


Afsana terkejut, bersimpati, dan bersedih atas apa yg menimpa Maria. Namun tiba tiba sebuah pertanyaan muncul di benak nya.


"Apa karena itu Kak Faraz menolak Maria dan menerima ku?"


"Astaghfirullah, Afsana..." Faraz menatap tak percaya pada Afsana "Afsana, Kakak memang sempat menyukai Maria dan itu sudah lama, dan jika kakak memang mencintai nya, maka kakak pasti akan menerima dia dalam keadaan apapun, apa lagi sekarang dia sudah seorang muslim, dan menyesali masa lalu nya. Kakak pasti akan menerima nya dan janin yg ada di rahim nya. Tapi kakak menolak dia karena kakak memang tidak mencintainya. Kakak menerima mu karena kakak mencintai mu, Afsana. Bahkan mungkin cinta itu ada jauh sebelum kakak mengenal Maria, hanya saja kakak sangat tidak peka, tidak menyadari nya, kakak baru menyadari nya saat mendengar kamu kecelakaan, kakak sangat takut kehilangan mu"


Afsana berkaca kaca mendengar penjelasan panjang lebar Faraz. Dan itu menepis pemikiran nya bahwa Faraz menolak Maria karena keadaan Maria.


"Bahkan Maryam sudah sering mengatakan, tidak mungkin seorang kakak terus terusan memuji seorang adik, kakak mumuji mu karena kakak mencintai mu, dan sekali lagi, kakak engga peka akan hal itu. Saat semua orang keberatan kalau kamu menempuh pendidikan di lebanon, kakak bukan hanya keberatan, tapi kakak jelas jelas melarang mu, karena kakak engga mau jauh dari kamu, dan bahkan mungkin saat itu kakak sudah cinta sama kamu"


"Ana percaya" bisik Ana sembari menghapus satu bulir air mata yg berhasil lolos dari sudut matanya.


Faraz tersenyum senang dengan jawaban Afsana.


"Terima kasih, Sayang. Dan apapun yg kakak lakukan pada Maria, karena kakak peduli padanya, bahkan jika itu orang lain pun, kakak pasti akan melakukan hal yg sama"


Hira yg mendengar percakapan sepasang kekasih itu tersentuh melihat cinta kedua nya, tersentuh melihat ke baikan Faraz, tersentuh dengan Afsan yg selalu mau mengerti, tapi juga ada rasa kasihan pada Maria.


Hira hanya berharap, suatu hari nanti, semoga Maria mendapatkan pria sebaik Faraz, yg akan mencintai Maria dengan tulus.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2