Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 94


__ADS_3

Anggi mengetuk ruang kerja ayahnya, dan saat terdengar perintah masuk dari dalam, seorang pria paruh baya langsung tersenyum pada Anggi, bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah lebar dan langsung memeluk Anggi yg masih terdiam mematung di ambang pintu.


"Akhir nya kamu pulang, Nak" seru sang ayah dengan mata yg berkaca kaca. Anggi hanya tersenyum kaku.


"Maafin Anggi, Pa" bisik Anggi dengan suara yg tercekat.


"Engga apa apa, Sayang. Sekarang itu sudah jadi masa lalu, dan saat nya fokus pada masa depan" jawab sang ayah sambil mengelus kepala anaknya yg tertutup jilbab.


"Papa keliatan engga kaget liat Anggi" ucap Anggi sambil melepaskan pelukan nya.


" Beberapa hari yg lalu Maria sudah memberi tahu Papa kalau kamu tinggal bersama nya"


"Papa kenal Maria?" tanya Anggi tak percaya.


"Awalnya engga, tapi tiba tiba seorang wanita menghubungi Papa dan menceritakan tentang mu dan juga kamu yg sudah dengan sangat lancang mengirimkan tulisan nya"


"Tapi tulisan nya bagus, dan Anggi hanya bermaksud menolong. Perubahan Anggi sekarang berkat Maria"


"Kebaikan akan melahirkan Kebaikan" ucap sang ayah "Dan mulai sekarang, kamu harus tinggal sama kami dan jangan pergi lagi. Apapun yg terjadi dulu, itu masa lalu" Anggi mengangguk namun tiba tiba menggeleng.


"Kenapa?" tanya ayahnya.


"Pa, lingkungan itu sangat berpengaruh dengan pembentukan karakter seseorang, Anggi baru merasakan nya saat mengenal Maria, dan teman nya Maria itu wanita sholehah, punya pesantren"


"Hem, lalu?"


"Boleh kalau Anggi masuk pesantren saja?"


Anggi bertanya dengan ragu ragu, karena du keluarga Anggi, tak satupun ada yg pergi ke pesantren, semuanya hanya pergi ke sekolah bisnis. Ayahnya pun tampak terkejut, dulu ayahnya pernah bilang, kalau ayahnya ingin Anggi mengurus perusahaan dan akan mengirim nya ke Universitas luar negeri supaya pandai berbisnis. Dan mengingat hal itu, Anggi yakin ayahnya akan menolak.


"Tapi di pesantren engga di ajari bisnis, Anggi" benar saja dugaan Anggi, dan itu membuat Anggi sedih.


"Ya udah deh, nanti Anggi lanjut sekolah umum aja" ucap nya sedih.

__ADS_1


"Siapa bilang santri engga bisa jadi wanita karir?"


Anggi dan ayahnya menoleh dan mereka melihat Nabil dan Maria yg ada di belakang Anggi.


"Maaf kalau ganggu, sebenernya kami mau pamit sama Anggi"


"Jadi kamu Maria?" tanya ayah Anggi pada Maria mengangguk "Terima kasih sudah merawat putri ku, Maria"


"Sama sama, Pak. Aku hanya mencoba menolong sebisa ku" ucap Maria


"Tadi aku sempat dengar apa yg kalian bicarakan, boleh aku memberi masukan?" tanya Nabil. Ayah Anggi mempersilahkan.


"Pak, Anggi masih muda, karakter nya sudah harus di bentuk sejak dini, ilmu agama sangat penting untuk kehidupan yg lebih baik. Dan santri pun juga bisa jadi wanita karir. Islam juga mengajarkan berbisnis yg baik dan yg paling penting, jika Anggi belajar di pesantren untuk menuntut ilmu agama, ilmu tentang bisnis bisa dia susul, tapi jika Anggi hanya fokus pada ilmu bisnis saja, belum tentu dia akan mau menyusul untuk belajar agama. Apa lagi jika dia sudah jadi wanita karir nanti, mungkin dia hanya akan di sibukan dengan pekerjaan nya dan apakah ada jaminan dia bisa mempelajari agama nya?"


"Jadi maksud mu, pengetahuan bisnis itu tidak penting?"


"Sangat penting, tapi pengetahuan tentang agama juga penting. Dan kedua nya harus di seimbangkan"


Ayah Anggi tiba tiba tersenyum masam, dan ia mengelus kepala Anggi dengan sayang.


"Beruntung sekali kamu, Nak. Bisa bertemu dengan mereka" lirih ayahnya "Berapa biaya pendaftaran di pesantren?" tanya nya kemudian yg membuat Anggi langsung kegirangan.


Rian di buat bingung sekaligus kesal oleh Faraz, karena beberapa hari ini Faraz sering tidak bekerja, dan sekali nya bekerja, Faraz datang terlambat dan pulang cepat. Membuat Rian kalang kabut dan sibuk sendiri.


Dan jika Rian menegurnya selaku rekan kerja, Faraz mengatakan 'Mumpung Afsana masih disini, jadi mau puas puasin bersama Afsana'


Rian hanya bisa geleng geleng kepala, padahal mereka sudah bersama sejak kecil, tapi tetap saja mereka seperti tak pernah puas dengan kebersamaan mereka.


Bilal dan Asma juga heran dengan tingkah Faraz, Bilal bahkan mengatakan perusahaan Faraz tidak akan cepat berkembang jika Faraz malas malasan, tapi sekali lagi, Faraz mengatakan dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Afsana. Dan setelah Afsana berangkat ke pesantren nya, Faraz ber janji akan kembali rajin bekerja.


Afsana pun tak bisa berbuat apa apa, namun ia juga merasa Faraz berlebihan, tapi Afsana senang dengan kegilaan Faraz itu.


Faraz dan Afsana menghabiskan waktu mereka dengan selalu berdua, bahkan mandi pun juga berdua.

__ADS_1


Dan Faraz juga selalu mewanti wanti Afsana untuk menjaga diri disana dan memperhatikan kaki nya. Tak hanya itu, Faraz juga membelikan Afsana test peck. Katanya, kalau Afsana telat datang bulan, harus segera di periksa untuk mengetahui apakah ia hamil atau tidak.


Afsana hanya bisa tersenyum dan mengatakan ia sudah punya test peck yg di belikan Nabil.


Sore ini, keduanya kembali pacaran namun bukan di kamar Faraz atau di taman ummi Zahra. Melainkan di kamar Afsana, dirumah Afsana.


"Wangi kamar mu beda ya" ujar Faraz sembari membuka lemari Afsana yg berisi beberapa buku dan kitab dari pesantren Afsana.


"Beda gimana?" tanya Afsana yg saat ini sedang menyisir rambut nya setelah ia mandi.


"Manis, kayaknya dulu wangi nya engga kayak gini" Kemudian Faraz mendatangi Afsana dan ia mengambil sisir dari tangan Afsana dan menyisir rambut istri nya itu.


"Sama aja kok" jawab Afsana "Mungkin karena situasi nya yg berbeda, dulu kakak di sini sebagai sepupu, tapi sekarang sebagai suami"


"Benar juga" gumam Faraz masih menyisir rambut Afsana "Sayang..." seru nya.


"Kenapa, Kak?" tanya Afsana sembari menghentikan tangan Faraz yg masih menyisir rambut nya.


"Terima kasih" lirih Faraz kemudian ia bertekuk lutut di depan Afsana, menggenggam tangan Afsana dan mengecup nya.


"Untuk apa?" tanya Afsana sembari membelai pipi Faraz dengan tangan nya yg bebas.


"Karena sudah mencintai kakak dengan begitu setia nya sekalipun kakak engga menyadari perasaan mu, bahkan kakak engga pernah sadar dengan perasaan kakak sendiri"


"Ana mencintai kakak tanpa alasan sedikitpun, yg Ana mau, Allah meridhoi cinta Ana dengan menjadikan kakak kekasih yg halal untuk Ana"


"Dan sekarang itu terjadi, maaf karena sangat terlambat menyadari nya"


Afsana menunduk dan mengecup kening Faraz dengan cukup lama. Kemudian turun ke hidung mancung Faraz dan ia mengecup nya dengan sangat gemas.


"Lebih baik terlmabat dari pada tidak sama sekali, Ana mencintai kak Faraz" ucap Afsana dengan saling melempar tatapan yg begitu intens, Afsana membeli pipi Faraz dengan begitu lembut kemudian ia mengapit ragu Faraz dan mendekatkan wajah Faraz pada wajahnya sebelum akhir nya, Afsana memulai kemesraan itu dengan ciuman mesra nan lembut di bibir sang suami. Faraz memejamkan mata menikmati lembut nya ciumanan Afsana yg menyalurkan kehangatan bukan hanya pada tubuhnya tapi merasuk hingga ke bagian terdalam hati nya.


"Kakak jauh lebih mencintai mu, Afsana. Lebih dari yg kamu tau"

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2