Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 35


__ADS_3

Keluarga besar Maryam sedang sibuk mengurus pernikahan Laila. Ya, keponakan cantik Bilal itu sudah menikah dengan seorang putra kiai dari jawa tengah yg juga teman Kiai Khalil dan sekarang mereka sedang mempersiapkan resepsinya. Sementara Rayhan sudah menikah satu tahun yg lalu dengan seorang putri kiai juga.


Dan Bilal mengundang Amar dan nenek nya untuk menghadiri resepsi pernikahan mereka yg di adakan di pesantren. Tentu dengan senang hati Amar dan nenek nya menerima hal itu.


Para tamu undangan juga sebenarnya hanya kerabat dekat saja.


Dan Sarfaraz, kakak Maryam itu meminta izin Ummi nya untuk mengundang Maria, supaya Maria bisa berinteraksi dengan mereka dan sedikit demi sedikit memahami agama mereka. Ummi Zahra pun menyetujuinya, apa lagi ia lihat Maria bisa membawa diri, itu terbukti saat Maryam membawa ke pesantren waktu itu. Bahkan Ummi Mufar mengira dia seorang gadis muslim.


Dan saat ini, Faraz membawa Maria untuk membeli pakaian muslim yg akan ia kenakan nanti, Faraz membawa Maria belanja di tempat biasa Maryam dan Afsana belanja.


Maria tampak mengagumi dress dress besar itu yg menurut nya hanya cocok di pakai saat musim dingin.


"Dapat yg cocok?" tanya Faraz dan Maria menggeleng. Ia tak tahu harus memilih yg mana "Tunggu sebentar lagi, Maryam masih di perjalanan" ujar nya.


Sama seperti Maryam yg tak di izin kan berduaan dengan Amar, Ummi Zahra juga tak mengizinkan Faraz berduaan dengan Maria. Sehingga Faraz meminta bantuan adik nya itu.


Sambil menunggu Maryam, Maria melihat sebuah jilbab, kemudian ia mengenakannya dan melihat pantulan dirinya di cermin. Maria tercengang, melihat pantulan dirinya dan ia pun menyentuh wajahnya di pantulan cermin.


"Apa itu aku?" bisik Maria pada dirinya sendiri. Ini kedua kalinya ia memakai hijab, waktu pertama kali ia tak bercermin sama sekali karena Maryam yg memakaikan jilbab pada nya. Dan entah kenapa, Maria merasa ada sesuatu yg berbeda dari dirinya dan juga perasaan nya.


"Itu memang kamu, Maria" lirih Faraz memandang Maria sekilas kemudian mengalihkan pandangan nya pada jilbab yg terpasang di menequin.


"Aku terlihat berbeda, Pak" ujar Maria sambil terus memandangi dirinya.


"Berbeda dari segi apanya?" tanya Faraz tanpa menoleh padanya "Lebih cantik atau lebih jelek?"


"Kayak lebih adem liat nya" jawab Maria malu malu namun ia memang merasa seperti itu dan Faraz hanya bisa mengulum senyum.


"Kamu tahu, Maria. Jilbab adalah perintah langsung dari Tuhan untuk kaum hawa" lirih nya "Dan aku sudah jelaskan pada mu kenapa wanita harus menutup tubuh nya, jika kamu masih ingat"


Maria memutar kembali ingatan nya saat Faraz menjelaskan kenapa wanita harus menutup tubuhnya, karena wanita sangat berharga.


"Aku ingat, Pak" jawab Maria mengulum senyum.


"Jadi perintah Tuhan masuk akal, bukan?" tanya Faraz lagi dan Maria mengangguk "Jadi kamu sudah mengakui Tuhan itu ada?"


Maria terdiam, teori tentang Tuhan tak ada memang sangat lemah bahkan mustahil. Bahkan hidup memang membutuhkan petunjuk jalan dan petunjuk itu adalah agama. Ya, sekali lagi Faraz benar.


"Mungkin" bisik Maria "Tapi kenapa Tuhan tidak pernah ada saat aku membutuhkan nya?"


"Maria, kalau kamu lapar, apakah kamu yg pergi mencari makan atau penjual makanan yg datang mencari kamu?"


"Apa itu juga ibarat agama?" tanya Maria yg sudah hafal cara Faraz menjelaskan agama adalah dengan cara mencotohkannya lewat hal hal yg sederhana tapi masuk akal.


"Ya, jadi bagaiamana menurut mu?"


"Ya aku yg cari makan, Pak"


"Maria, kalau kamu butuh Tuhan, kamu harus datang pada-Nya. Tuhan tidak ada hanya bagi orang orang yg menjauh dari-Nya. Coba tanya hati mu sekali lagi, apakah Dia benar benar tidak pernah ada untuk mu, atau kamu hanya menganggap Nya tidak ada hanya karena hal sedih yg menimpa mu? "


"Kalian membicarakan apa?" tanya Maryam yg sedikit mengejutkan kedua nya.


"Hanya menjelaskan pada nya bahwa Tuhan itu ada" jawab Faraz


"Aku tahu Tuhan itu ada, Pak" jawab Maria cepat "Tapi... Lupakan saja" ucap nya kemdudian membuat Maryam mengerutkan dahi nya, heran "Ayo Maryam, bantu aku memilih pakaian"

__ADS_1


Maryam pun mulai memilihkan beberapa pakaian untuk Maria dan ketika mencoba nya Maria sangat terlihat sangat cantik.


"Masya Allah, kamu cantik lho" puji Maryam membuat Maria tersipu karena di puji begitu.


"Pakaian ini engga panas kayak yg aku bayangin ya" kekeh nya.


"Ya engga lah, Maria. Tergantung dari bahan nya juga"


"Oh ya, Maryam. Aku boleh minta tolong?"


"Apa?" tanya Maryam karena kini kedua nya masih ada di ruang ganti.


"Em sebenarnya aku sudah cari kamu sejak beberapa hari yg lalu, aku...aku..."


"Kamu kenapa?" tanya Maryam penasaran.


"Aku ingin tahu tentang agama mu, maksud ku, lihat ini..." kemudian Maria mengeluarkan buku yg ia pinjam dari perpustakaan "Aku penasaran dengan kisah wanita ini"


Senyum mengembang di bibir Maryam karena seolah ada pintu hidayah yg mengetuk pintu hati Maria.


"Dia ulama sufi yg sangat terkenal dan menginspirasi sampai sekarang"


"Dia wanita yg sangat tangguh, suci dan luar biasa. Menurut ku kisah ini kelewat sempurna, apakah ini kisah nyata" Maryam mengangguk kemdudian membawa keluar baju baju yg sudah Maria coba. Dan Maria yg sudah berganti pakaian pun mengekorinya.


"Iya, itu kisah nyata. Yg membuat kami mengagumi nya adalah besar dan tulus nya cinta nya pada Allah"


"Hidup nya sedih, dia sebatang kara dan seorang budak"


"Itu hanya sebagian dari ujian dan takdir nya, hidup itu hanya sebuah perjalanan, Maria. Jadi setiap perjalanan pasti akan ada ujian dan rintangan. Dan keduanya ada bukan untuk menjatuhkan tapi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas hidup kita, dan setiap kali ada kesulitan pasti akan ada kemudahan setelah nya. Itu janji Allah dalam Al Quran"


"Kitab suci umat islam, kalau kamu penasaran, kamu boleh tanya Kak Faz"


"Kak, kami sudah selesai..." Maryam memanggil kakaknya itu yg sedang asyik menelepon seseorang. Faraz pun memberi isyarat agar mereka menunggu nya sebentar.


Maria memasukan kembali buku itu kedalam ransel nya, dia memandangi Faraz yg sangat serius berbicara di telepon.


"Dia sangat tampan..." batin nya berseru mengagumi Faraz.


Setelah ia selesai menelepon, Faraz pun segera membayar belanjaan Maria dan kemudian mengajak adik dan asisten nya itu pulang.


.


.


.


Setelah menemani Maria dan kakaknya, kini Maryam harus kembali sibuk karena harus menemani Amar.


Pria itu takut ia salah kostum lagi jika harus bertemu keluarga Maryam karena sebelum nya ia tak pernah menghadiri resepsi pernikahan keluarga kiai. Hal itu membuat Maryam tertawa geli. Karena resepsi pernikahan Laila tentu saja sama seperti resepsi pada umum nya, Amar di perbolehkan menggunakan suite nya yg pasti harga nya selangit.


Maryam menghempaskan tubuh lelah nya ke sofa. Nanti malam adalah acara resepsi pernikahan Laila, ia sudah membantu Maria memilih gaun nya, sudah membantu Amar memilih setelan jas nya.


Dan dia?


Ah jangan tanya, Maryam bisa memilih pakaian apa saja yg ada di lemari nya, ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan akan berpenampilan seperti apa.

__ADS_1


Baru saja ia akan tertidur, suara Bi Mina dari luar kamarnya membuat nya menggeram kesal. Dengan malas ia pun merangkak turun dari ranjang, berjalan menuju pintu dan membuka nya.


"Ada apa, Nena? Maryam ngantuk" gerutu nya sambil menguap.


"Eh jangan tidur habis Ashar, itu engga baik, Neng Maryam" ujar Bi Mina memperingatkan "Oh ya, tadi sopir nya Den Amar datang, bawa paket buat Neng Maryam" Bi Mina menyerahkan sebuah kotak berwarna abu abu polos dan Maryam pun langsung menerima nya.


"Makasih, Nena" ucap nya.


"Sama sama. Ingat, jangan tidur habis Ashar. Mending Neng Maryam mandi, habis itu siap siap ke pesantren"


"Iya, Nena...." ucap Maryam kemudian mencium gemas pipi Bi Mina yg sudah keriput itu "Nena udah kayak nenek nenek, cerewet" lanjut nya sambil tersenyum geli.


"Ya memang udah nenek nenek ini mah" balas Bi Mina yg membuat Maryam langsung tertawa.


Setelah itu, Bi Mina pun langsung turun sementara Maryam dengan antusias membuka kotak hadiah itu.


"Masya Allah..." gumam nya penuh ke kaguman melihat apa yg Amar berikan. Sebuah gaun Pakistani. Dress panjang berwarna abu abu dengan bordiran bunga bunga yg sangat indah, lengkap dengan selendang panjang dan lebar dengan warna senada dan juga terdapat hiasan yg sangat indah di setiap sisi nya. Namun sayang nya selendang itu transparan sehingga Maryam fikir tak mungkin menggunakan sebagai hijab.


"Tapi tunggu, ini kan panjang dan lebar. Bisa aku akalin dong" gumam nya.


Ia pun segera melepas hijab yg ia pakai, berdiri didepan meja rias nya dan mulai menggunakan selendang itu sebagai hijab. Maryam melilikan itu dan melipatnya sedemikian rupa sehingga di pastikan itu sangat aman, takkan terlihat rambut nya dan juga menutupi dada nya.


"Aku cantik juga" gumam Maryam merasa geli dan ia terlihat sangat menyukai hadiah Amar itu.


Maryam segera mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan pada calon suami nya itu.


Me


"Thank you so much for this beautiful dress"


Setelah menunggu beberapa saat, ponsel nya bergetar dan Maryam segera memeriksa nya. Benar saja, Amar membalas pesan nya.


^^^Amar D^^^


^^^"Do you like it?"^^^


Me


"I love it"


^^^Amar D^^^


^^^"I can't wait to see you tonight with that beautiful dress"^^^


Maryam tersipu membaca pesan Amar itu, semburat merah di pipi nya, hatinya berbunga bunga dan senyum tak bisa ia hentikan untuk terus mengembang di bibir nya.


"Aduh, Astaghfirullah.... Astaghfirullah" Maryam segera mengusap dada nya yg berdebar. Ia sadar ia tak boleh seperti itu sementara hubungan nya dengan Amar belum halal. Bukan apa masalah nya, tapi jika ia dan Amar terus merasa kasmaran sebelum menikah, maka setan bisa saja mengambil kesempatan itu dan menggoda kedua nya.


Maryam menarik nafas pelan, menghembuskan nya. Ia menetralkan perasaan nya. Dan ia mengirim pesan terakhir pada Amar atau hatinya akan terus dag dig dug dan akan semakin larut dalam perasaan bak pelangi itu.


Me


"Okey, see you"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2