
Lita mengajak Asma untuk makan malam di luar karena Lita ingin mengatakan sesuatu yg penting katanya.
Asma pun setuju dan mereka berada di sebuah restaurant yg tak jauh dari kediaman mereka.
"Mau bicara apa, Ta? Sampai harus di luar segala" tanya Asma sambil membuka buku menu.
"Emm sebenarnya..." Asma mendongak dan menatap Lita yg tampak ragu ragu untuk berbicara.
"Ada apa?" tanya Asma penasaran.
"Em apa Faraz sudah menemukan seseorang untuk menjadi pendamping hidup nya?"
Seketika Asma tertawa mendengar pertanyaan sahabat sekaligus sepupunya itu.
"Mana ada, dia aja cuma sibuk sama kantor dan pesantren. Tapi kenapa kamu tiba tiba nanya gitu?"
"Kamu tahu kan tahun depan Afsana sudah menyelesaikan pendididikan nya"
"Hem, jadi..."
"Jadi aku fikir..." Lita berdeham "Aku ingin menjodohkan Afsana dan Faraz"
"Apa?" pekik Asma sangat terkejut "Ta, kamu bicara apa?"
"Asma, ini hanya usulan, okey?" Lita bersuara rendah karena sepertinya apa yg Lita katakan sangat tidak di harapkan Asma "Aku cuma berfikir engga ada pria yg jauh lebih baik dari Sarfaraz untuk Afsana"
Asma mengusap wajahnya, ia meminum jus yg sudah datang sejak beberapa saat yg lalu. Sama sekali tak menyangka apa yg akan di katakan sahabat nya itu.
"Ta, Afsana juga sangat baik, dia akan menjadi wanita impian setiap pria yg sholeh karena Afsana sangat sholehah. Tapi perjodohan?" Asma mengerutkan kening nya hingga kedua alis nya menyatu "Aku engga bisa, kamu tahu kan bagaiamana keadaan ku dulu saat aku di jodohkan? Ya memang sih, pada akhirnya aku dan Bilal bahagia dan aku sangat mencintai ya, tapi engga semua perjodohan berakhir seperti kami, Ta. Terkadang perjodohan bisa berakhir seperti Bilal dan mendiang Mbak Khadijah, meskipun Bilal sudah bersama nya selama bertahun tahun, tapi ternyata Bilal engga bisa mencintai nya padahal Mbak itu sangat luar biasa"
"Iya sih" cicit Lita yg berusaha mengerti maksud Asma.
"Maaf ya, Ta" ucap Asma merasa bersalah sambil menggenggam tangan Lita "Aku engga mau anak anak kita mengalami apa yg kami alami, biarkan mereka mencari pasangan nya sendiri"
"Iya, engga apa apa kok. Aku ngerti" ujar Lita "Hanya saja aku rasa Faraz akan jadi pasangan yg sempurna untuk Afsana"
"Bahkan Bilal pun berusaha menjadi pasangan yg sempurna untuk mendiang Mbak Khadijah, tapi tetap saja Bilal menyakiti nya karena engga bisa mencintai nya. Aku engga mau Faraz dan Afsana saling menyakiti nantinya, apa lagi Faraz mencintai Afsana sebagai adik. Jadi biarkan hubungan mereka seperti itu, dan jika pun mereka memiliki perasaan lebih dari itu, maka itu keberuntungan bagi kita"
Asma berkata sambil tersenyum lebar, begitu pun dengan Lita.
Keduanya pun menghentikan obrolan itu dan mulai menyantap makanan yg sudah di sajikan.
Setelah selesai, keduanya pun pulang kerumah masing masing.
.
__ADS_1
.
.
Setelah berganti pakaian dengan piyama panjang nya, Asma turun dan ia melihat Sarfaraz yg sedang fokus pada laptop nya di ruang keluarga.
"Faraz?" Faraz medongak sekilas dan kemudian kembali fokus pada laptop nya.
"Ummi sama Abi seharusnya engga menerima Amar begitu saja" seru Faraz tanpa menatap Ummi nya.
"Kami engga nerima begitu aja, kami hanya memberi nya kesempatan, semua orang berhak mendapatkan ke sempat kedua, Faraz"
Faraz menghela nafas berat, ia menutup laptop nya, kemudian ia menghadap Ummi nya yg saat ini duduk di samping nya.
"Faraz takut, Ummi. Faraz takut Maryam engga bahagia, cara hidup seorang seperti Amar, di lingkungan bisnis besar, kebebasan, menjadi sorotan media, rasanya sangat tidak cocok dengan Maryam"
"Nak, kami tidak bisa apa apa, karena Abi bilang, seperti nya Maryam juga menyukai Amar"
"Dan kalian membiarkan Maryam menyukai nya?"
"Faraz, kami memang orang tua nya, tapi kami engga bisa dan engga punya hak untuk mengendalikan hati nya"
Faraz terdiam sejenak, dan mengingat dirinya sendiri yg juga tak bisa mengendalikan hati nya yg kini justru terjatuh pada gadis yg benar benar salah.
Faraz meletakkan kepala nya di pangkuan sang ibu, wajahnya tampak lelah, matanya pun sendu dan ada lingkaran di bawah matanya di akibatkan ia kurang tidur.
Asma sudah sering mengatakan hal itu baik pada Faraz maupun Maryam.
"Engga ada apa" jawab Faraz sambil memejamkan mata, ia selalu merasa nyaman jika merebahkan kepala nya di pangkuan sang ibunda. Seolah beban dalam otaknya sirna.
"Faraz..." Asma bersuara pelan "Apa kamu emm ada menyukai seorang gadis, Nak"
Faraz langsung membuka mata lebar lebar dan menatap Ummi nya.
"Kenapa Ummi tanya gitu?" tanya Faraz.
"Nanya aja, kamu kan sudah cukup dewasa, siapa tahu ada gadis yg menarik hati mu" Faraz tersenyum kecut. Memang ada, tapi sangat tidak mungkin untuk memilik nya.
"Umm, sebenernya Faraz..." Faraz kembali duduk "Faraz menyukai seorang gadis" akunya dengan suara rendah
"Oh ya?" pekik Asma dengan mata berbinar.
"Faraz sudah berusaha melupakan nya tapi engga bisa" ujar Faraz lagi membuat Asma menatap nya heran.
"Kenapa harus berusaha di lupakan, Nak? Datangi saja orang tau nya dan katakan niat baik mu" ujar Asma lembut.
__ADS_1
"Masalahnya..."
"Ada apa? Siapa gadis itu?"
Faraz tak langsung menjawab, ia sudah terlanjur mengatakan perasaan nya, sekarang ia juga harus mengatakan siapa gadis yg ada dalam hati nya.
"M... Maria"
"APAAA????"
.
.
.
Asma memijat kepala nya yg terasa berdentum seperti di tabuh. Belum selesai masalah putri nya, di tambah masalah putra nya.
Ingin rasanya ia berteriak di depan wajah Faraz dan mengatakan buka mata mu, Faraz! Ada Afsana yg sempurna, kenapa harus Maria yg bahkan bukan dari agama nya.
Terjawab sudah ke khawatiran nya selama ini. Bahkan Bilal yg duduk di tepi ranjang juga hanya bisa menggaruk kepala nya seperti orang bodoh setelah mendengar penuturan istri nya tentang putra nya.
Bilal tahu bagaiamana rasanya jatuh cinta, dan bagaiamana tersiksa nya saat berusaha melupakan tapi tak bisa.
"Ada apa dengan anak anak kita, Bi?" gumam Asma tampak frustasi namun Bilal hanya bisa menggeleng "Aku bisa mengerti Maryam, karena dia wanita dan tentu hatinya akan tersentuh oleh pria yg memperlihatkan cinta pada nya, tapi Sarfaraz? Ya Allah, anak itu..."
"Itu masalah hati, Sayang. Engga ada yg bisa mengendalikan hati"
"Tapi kenapa harus Maria, Bi. Wanita itu berpakaian terbuka, mabuk, tak beragama. Bagaimana jika hati Faraz goyah karena cinta nya dan malah menodai hati nya"
"Engga akan, Inysa Allah. Kita serahkan anak anak kita pada Allah"
Asma menghela nafas lesu, ia tak tahu bagaiamana kedua anak nya harus berhadapan dengan pasangan yg sama sekali tak pernah mereka bayangkan.
"Faraz harus bisa melupakan Maria" seru Asma.
"Jangan memaksakan kehendak kita, lagi pula Faraz sudah dewasa dan mengerti aturan agama. Insya Allah dia akan tetap berada dalam batasannya, dan untuk melupakan orang yg telah membuat nya jatuh cinta..." Bilal bergerak ke tengah ranjang, kemudian menarik istri nya hingga terjatuh ke pelukan nya, tatapan kedua nya bertemu "Itu sulit, Sayang. Karena aku pernah mengalami nya, rasanya sangat menyiksa, seperti ada batu besar di dada ku" lirihnya mengingat kembali masa lalu nya saat ia jatuh cinta pada Zahra nya.
Bilal membelai pipi istri nya yg masih cantik, bahkan tak sedikitpun kerutan terlihat di wajah nya, matanya tetap berbinar indah seperti dulu, seperti sebuah sihir yg akan menyihir Bilal setiap kali menatap nya. Bibir nya pun masih penuh dan mungil seperti dulu, yg selalu cantik saat tersenyum membuat hati Bilal berbunga, dan selalu terasa manis setiap Bilal mengecup nya.
Bilal mendaratkan ciuman mesra nya, berharap ciuman itu bisa menenangkan istri nya yg tampak frustasi dengan kisah cinta anak anak nya.
"Kita hanya bisa berdoa untuk anak anak kita, Zahra. Semoga Allah selalu menunjukan jalan Nya, dan selalu membimbing kita agar kita tak salah dalam melangkah"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...