
Maria memperhatikan wajah tenang Nabil yg sedang tertidur pulas di samping nya.
Maria merasa sangat bahagia karena memiliki Nabil yg sangat mencintai nya dan putri nya, Nabil dan kedua orang tuanya mau menerima Maria dan itu adalah anugerah terindah dalam hidup Maria.
"Aku tahu kalau aku tampan, tapi sekarang tidurlah. Masih banyak waktu untuk menikmati ketampanan ku" gumam Nabil namun masih dengan mata yg terpejam. Maria hanya tersenyum tipis menanggapi suaminya yg besar kepala ini. Dan tiba tiba saja Nabil menarik Maria hingga Maria menempel sempurna di tubuh Nabil dan Maria merasakan kehangatan kulit suaminya itu. Perlahan Nabil membuka mata nya dan tatapan nya langsung bertemu dengan tatapan Maria yg tampak berbinar.
"Kenapa engga tidur? Emang nya engga capek setelah berjam jam kita..."
"Ck..." Maria berdecak karena Nabil benar benar tipe orang yg blak blakan. Jika di bandingkan dengan Faraz dan Rayhan, Nabil sangat jauh berbeda dari mereka. Mungkin faktor lingkungan, fikir Maria. Rayhan dan Faraz tumbuh di pesantren sehingga karakter mereka lebih religius dan kalem, sementara Nabil tumbuh di lingkungan yg bebas dan di sekitar dunia bisnis. Namun walaupun begitu, masih tampak bahwa Nabil seorang cucu kiai dan ia masih menerapkan nilai nilai yg religius.
Nabil bercerita kalau Abi nya tinggal di Mekkah karena memiliki bisnis di sana, dan Maria baru tahu kalau ternyata Abi Nabil bukanlah keturunan darah biru. Sebelumnya Maria berfikir bahwa putri kiai harus menikah dengan putra Kiai sehingga pemikiran itu sempat membuat Maria minder. Namun ternyata tidak seperti itu, dan Maryam juga menikah dengan pria yg tak memiliki keturunan darah biru.
"Maka nya tidur, simpan tenaga buat rawat Khair besok. Terus besok malam nya giliran rawat aku" goda Nabil yg membuat Maria merasa malu dan kesal secara bersamaan.
Maria pun semakin mendekatkan dirinya ke tubuh Nabil. Ia menghirup aroma Nabil yg tampak sangat memabukkan. Nabil pun semakin mendekap istri nya dan memberikan ciuman mesra di kening istrinya.
"Tidur, Sayang. Jangan memikirkan apapun selain memikirkan aku dan Khair" pinta Nabil dan Maria hanya menggumam samar menanggapi permintaan Nabil untuk yg kesekian kalinya itu.
Sebelum mereka melaksanakan tugas nya sebagai suami istri, sebelum nya Maria sempat ragu dan merasa malu, ia merasa tak pantas karena Nabil bukan menjadi yg pertama bagi nya sementara dirinya adalah yg pertama bagi Nabil. Namun lagi dan lagi Nabil meyakinkan Maria bahwa ia tak peduli akan hal itu. Yg ia pedulikan adalah Maria di masa sekarang dan di masa yg akan datang, sementara maa lalu nya sudah ada di belakang dan tak perlu lagi toleh. Cukup jadikan acuan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik.
"Aku mencintai mu" lirih Maria yg teredam dada Nabil karena menyelundupkan wajahnya di pelukan sang suami. Nabil tersenyum dan mengecup pucuk kepala Maria.
"Aku mencintaimu dan putri kita. Aku mencintai kalian berdua. Dan aku mau kamu hanya fokus pada kami berdua, hanya memikirkan kami" pinta Nabil lagi
"Iya" gumam Maria masih memeluk Nabil.
.
.
.
__ADS_1
Keesokan hari nya saat Maria mengurus Khair, ia di kejutkan dengan Nabil yg tiba mengatakan akan mengurus keberangkatan mereka ke Mekkah. Sementara ia sudah menandatangani kontrak kerja nya dan baru saja ia memulai karir nya. Namun tak mungkin juga iiiiiiia enolak permintaan Nabil dan memang sebagai istri seharusnya ia ikut kemana suami nya pergi.
"Kenapa diem aja? kamu engga mau ikut aku? sementara engga mungkin aku yg tinggal di sini, kan?" tanya Nabil.
"Sebenarnya aku sudah tanda tangan kontrak kerja, karis aku juga baru saja di mulai di sini" ucap Maria ragu ragu, ia takut Nabil salah faham dan benar saja..
"Jadi kamu lebih memilih karir dari pada suami?" tanya Nabil sangat serius dan itu membuat Maria ingin menangis, karena bagi nya tak ada yg lebih penting dari Nabil dan Khair. Tapi masalahnya kalau Maria melanggar isi kontrak dan berhenti tiba tiba begini, maka Maria bisa di kenakan denda yg tidak sedikit. Maria bingung harus apa sehingga tanpa sadar ia meneteskan air matanya apa lagi ketika ia berfikir Nabil telah faham pada nya. Namun tiba tiba Nabil terkekeh, ia menghapus air mata Maria dan mengecup sudut mata nya.
"Aku cuma bercanda, Maria. Aku tahu kamu sudah tanda tangan kontrak kerja, dan aku akan membayar denda nya. Dan soal karir, dimana pun kamu berada, kamu selalu bisa memulai sebuah karir. Yg penting kreatifitas dan kecerdasan itu selalu ada di sini..." Nabil memang kepala Maria dan seketika Maria bernafas lega.
"Aku fikir kamu beneran salah faham sama aku" ujar Maria.
"Engga lah. Dan Kalau pun memang kamu ingin tinggal dan ber karir di sini, aku akan tetap memaksa mu ikut dengan ku ke Mekkah" ujar Nabil dan hal itu membuat Maria geleng geleng kepala.
"Dasar tuan pemaksa" ucap nya.
"Tuan pemaksa ini suami mu..." ucap Nabol kemudian memeluk Maria dari belakang sambil mengecup pipi Maria berkali kali sementara Maria sedang sibuk memakaikan baju pada putri nya.
"Mas..." ralat Nabil dengan cepat, Maria tertawa geli. Ia benar benar sulit terbiasa dan merasa tak nyaman dengan panggilan yg di inginkan Nabil itu.
"Ya, Mas, Mas Nabil jangan ganggu aku dulu. Biar aku urus Khair dulu"
Nabil pun melepaskan pelukan nya dan kini ia mengecup seluruh wajah Khair sampai sampai membuat Khair terkikik.
"Puas puas sama Ummi siang ini ya, Nak. Karena kalau malam giliran Abi yg di... aduh" Nabil meringis saat merasakan pinggang nya yg di cubit Maria.
"Jangan ngomong yg aneh aneh sama Khair" gerutu Maria sambil tersenyum.
"Kan cuma ngasih tahu, kalau malam itu giliran abi nya yg di jagain" jawab Nabil yg membuat Maria mendengus.
.
__ADS_1
.
.
Amar yg baru saja menyelesaikan meeting nya di beri tahu Cindy kalau Maryam dan Ezra sudah menunggu di ruangan Amar.
Siang ini mereka ada janji ke sebuah yayasan yg menyediakan layanan Baby sitter. Mereka harus menyewa baby sitter karena Maryam harus kembali fokus pada kuliah nya yg sudah akan selesai dan saat ini ia harus membuat skripsi.
Awalnya Maryam enggan menyewa baby sitter karena ia takut Ezra tak di jaga seperti ia menjaga nya,. Apa lagi Maryam sering melihat berita baby sitter yg jahat pada anak asuh nya. Namun Amar meyakinkan itu takkan terjadi pada nya. Mereka akan mempekerjakan baby sitter dari yayasan yg terpercaya.
Granny Amy juga sebenarnya keberatan dengan hal itu. Karena sekarang ia tak lagi bekerja dan Granny Amy mengatakan ia akan menjaga Ezra. Namun Amar tak mau nenek nya sampai kelelahan jika menjaga Ezra sendirian.
"Assalamualaikum putra Daddy..." Amar langsung mencium Ezra yg ada dalam gendongan Maryam.
"Waalaikum salam" jawab Maryam mewakili putra nya.
"Kamu sudah dari tadi, Sayang?" tanya Amar san kini ia mengecup peilipis istri nya.
"Engga, baru aja. Jadi, kita pergi sekarang?" tanya Maryam.
"Iya, kita pergi sekarang" ucap Amar "Sini, biar aku yg gendong Baby Ezra"
"Jangan..." Maryam mencoba mencegah nya namun tangan Ezra malah mencoba menggapai Amar sambil merengek seolah ia meminta gendong pada ayah nya.
"Tuh, Baby Ezra aja pengen di gendong sama Daddy" ujar a Amar kemudian mau tak mau Maryam memberikan Ezra. Ezra langsung tertawa saat ia sudah berada di gendongan Amar.
Kemudian Kedua nya pun turun karena hari sudah siang dan mereka sudah terlambat.
Pemandangan owner Degazi Corp yg menggendong bayi nya rupa nya cukup menarik perhatian seluruh staff nya. Bahkan tak sedikit dari mereka yg merekam dan memotret nya walaupun itu bukan yg pertama kali nya mereka melihat Amar yg begitu care terhadap istri dan putra nya. Apa lagi Amar yg tampak sangat dekat dengan putra nya dan berperan sebagai ayah yg penuh kasih dan cinta. Seluruh staff nya seolah tak percaya jika boss yg selama ini dingin dan bahkan hampir tak pernah tersenyum kini menjelma menjadi sosok yg sangat romantis dan penuh cinta. Tentu membuat seluruh staff wanita nya menjadi iri dengan Maryam yg berhasil merubah hidup Amar begitu drastis dengan kehidpun yg sebelum nya. Sementara seluruh staff pria nya tentu sangat mengidamkan seorang makmum yg seperti Maryam. Menenangkan, membawa berkah cinta yg luar biasa bahkan pada pria es yg tenggelam dalam kegelapan seperti Amar Degazi.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...