
Maryam termenung di kamarnya, ia tidur menyamping dengan pandangan kosong lurus ke depan, hingga sebuah sentuhan di pundak nya membuat Maryam tersentak, segera bangkit dan beringsut mundur dengan tatapan penuh ketakutan
"Ini kakak, Sayang..." suara itu langsung membuat nya tenang kembali walaupun ia terlihat menahan nafas.
Faraz merasakan perih yg teramat sangat di hatinya melihat rekasi Maryam hanya karena ia menyentuh pundak nya. Tatapan ketakutan Maryam membuat Faraz ingin mengutuk seluruh dunia ini.
Perlahan Faraz duduk di samping Maryam dan ia menyunggingkan senyum samar nya.
"Kakak belikan ponsel baru untuk mu, sudah kakak aturkan memakai nomor lama mu" seru Faraz menyerahkan kotak ponsel pada Maryam.
"Makasih, Kak" ucap Maryam memaksakan bibirnya tersenyum.
"Sekarang ayo turun, makan malam sudah siap"
"Maryam engga lapar"
"Tapi nanti kamu sakit kalau engga makan, Dek. Kasian Ummi sama Abi khawatir nanti"
Kalau sudah menyangkut Abi sama Ummi nya tentu Maryam tak bisa menolak. Ia pun segera turun bersama Faraz.
Maryam tersenyum samar melihat seluruh keluarga nya duduk di lantai dengan menu makan malam yg sudah siap, bahkan Amar dan Granny Amy pun juga disana.
"Sini, Mbak..." Firda menarik Maryam duduk di sisi kiri nya sementara Amar duduk di sisi kanan nya.
Dan tanpa di duga, Amar mengambilkan nasi dan meletakkan nya di piring Maryam, kemudian ia menambahkan lauk pauk dan sayuran dengan begitu lengkap. Hal itu menjadi pusat perhatian disana bahkan membuat Maryam tercengang namun Amar seolah tak peduli.
"Ayo, makan lah" seru Amar sembari mendorong piring Maryam semakin dekat.
"Ehem ehem..." Rafa berdeham walaupun tenggorokan nya tak gatal.
"Ini minuman mu" Amar menyerahkan segelas air, bukan pada Rafa, tapi pada Maryam.
"Innalillahi, anak zaman sekarang..." gumam Kiai Khalil.
"Dunia cuma milik berdua, yg lain pada ngontrak" sambung Yasmin yg membuat semua orang tertawa geli. Bahkan Maryam ikut tertawa, dan itu membuat mereka merasa senang.
Dan Faraz yg melihat itu juga senang, Faraz tahu Amar sangat mencintai adiknya, Amar juga menunjukan tanggung jawab nya pada Maryam, bahkan kurang dari 24 jam, Amar bisa dengan mudah menemukan pelaku kejahatan pada adiknya.
Tapi setelah semua itu, Faraz justru tak ingin adiknya menikahi Amar, dimana bahaya bisa datang kapan saja pada Maryam jika berada di sisi nya.
Makan malam berlangsung penuh canda tawa, keberadaan Firda yg terus berceloteh tentu sangat menghibur bagi mereka dan sejenak melupakan masalah yg ada. Maryam bahkan sesekali ikut tertawa, walaupun terkadang ia kembali melamun.
Amar yg melihat itu sungguh tak tega, apa lagi lebam di wajah Maryam masih cukup parah. Namun ia tak bisa apa apa, dan hanya berharap masalah ini segera selesai dan Maryam kembali menjadi Maryam yg dulu.
.
.
.
Setelah dari rumah Maryam, Amar menyuruh sopir mengantar nenek nya pulang, sementara Amar sendiri pergi kerumah sakit.
Disana, ia segera bergegas menuju sebuah kamar yg di jaga oleh dua orang pria bertubuh besar.
"Bagaiamana keadaan nya?" tanya Amar pada dua pria itu.
"Lebih baik, Tuan. Dokter bilang tidak ada luka serius" jawab salah satu pria itu sembari mebukakan pintu.
"Kamu harus bersaksi melawan Dilara di persidangan nanti" tegas Amar pada Erick yg terbaring dengan beberapa luka di tubuh nya.
"Aku tahu, akan ku lakukan. Tapi ku mohon lepaskan keluarga ku" jawab Erick.
"Aku tidak akan menyakiti mereka" ucap Amar.
"Dimana video itu?" tanya Erick lagi sambil menatap tajam Amar.
"Kenapa? Bukan nya kamu merekam aksi jahat mu itu untuk di tunjukan pada ku? Supaya aku merasa tidak berdaya. Sekarang lihat dirimu, inilah yg nama nya tak berdaya"
__ADS_1
Erick hanya bisa terdiam mendengar kata kata Amar, karena memang benar dia tidak berdaya. Amar pun segera pergi dari ruangan Erick.
Sementara di dalam, Erick benar benar menyesali perbuatannya, hanya karena amarah, hidup nya dan hidup keluarga nya semakin berantakan.
Saat itu, Erick hendak menghapus video jahat itu namun ia sangat terkejut karena video itu tak bisa di buka di ponsel nya, ia pun memeriksa video salinan di laptop nya dan juga tak bisa di buka.
Erick sudah menduga itu pasti ulah Amar.
Saat itu, Erick hendak menemui Amar dan akan menyerahkan diri asal Amar mau membebaskan keluarga nya. Namun di perjalanan, sebuah truk menabraknya dengan sengaja yg tentu itu adalah orang suruhan Sanjaya, namun dua orang bayaran Amar yg di suruh mengawasi Erick segera menyelamatkan Erick.
Erick sendiri tak menyangka nyawa nya hampir melayang dan itu mungkin juga hukuman karena sudah sangat jahat pada orang yg sangat baik.
.
.
.
Persidangan selanjutnya...
Dilara dan ayahnya harap harap cemas menjalani persidangan ini, mereka yakin Erick takkan bisa datang untuk bersaksi, dan sekarang Dilara tinggal menunggu ke bebasannya.
Seluruh keluarga Maryam datang untuk menamani Maryam dan memberikan dukungan pada Maryam.
Dan saat sidang di buka, Gaby langsung mendatangkan Erick sebagai saksi sekaligus pelaku kejajatan pada Maryam.
Dilara dan Sanjaya sangat terkejut tak menyangka Erick baik baik saja walaupun dengan beberapa luka di tubuh nya.
Maryam yg melihat Erick seketika menjadi ketakutan mengingat bagaiama pria asing itu menganiaya dirinya. Namun semua keluarga nya meyakinkan Maryam bahwa tidak akan ada yg menyakiti Maryam disana.
Rafa dan Faraz yg melihat Erick pun menjadi sangat geram, seandainya bukan di ruang sidang, kedua nya sudah pasti menghabisi Erick saat ini.
Gaby selaku pengacara Maryam mulai menanyakan apakah Erick ada hubungan dengan Maryam atau mengenal Maryam.
"Saya tidak mengenal nya sama sekali" jawab Erick tegas.
"Tidak" jawab Erick sambil menatap Dilara yg juga menatap cemas pada Erick "Aku tidak di bayar, tapi jika aku melakukan itu, Dilara berjanji akan membantu ku mendapatkan perusahaan ku"
Dilara hanya bisa menggeram marah dengan pengakuan Erick.
"Siapa yg merencakan semua ini?"
"Dilara Sanjaya"
"Apa yg dia perintahkan kepada mu?"
Erick melirik Maryam sekilas dan Maryam terlihat sangat ketakutan dan bahkan menitikan air mata nya.
"Untuk menculik Maryam, menyuntiknya dengan obat yg dia berikan pada ku, membawa nya ke hotel dan menyuruhku melecehkan nya, karena Dilara sangat membenci Maryam yg merebut Amar dari nya"
Asma sendiri meneteskan air mata nya mendengar pengakuan Erick, siapa Dilara dan siapa Erick?
Keduanya adalah orang asing bagi mereka tapi mereka sudah sangat jahat pada Maryam.
Sementara Bilal, Faraz, Rafa dan tentu saja Amar terlihat sangat marah dan keluarga yg lain pun juga sangat sedih. Padahal mereka sudah menjalani kehidupan yg baik dan berusaha berbuat baik pada orang lain tapi ternyata masih ada orang yg sangat jahat pada mereka.
"Kau melakukan nya?"
"Ya" jawab Erick dengan suara rendah "Tapi aku bersumpah aku tidak sampai memperkosa nya"
"Kami tahu, hasil visum menjukan hal yg sama, tapi apa yg kamu lakukan sudah termasuk pelecehan"
"Tidak ada bukti bahwa Dilara yg merencakan semua ini"
Kini giliran pengacara Dilara yg berbicara "Bisa saja pria ini memberikan kesaksian palsu untuk klien saya"
"Saya punya bukti nya" jawab Gaby, kemudian memberikan beberapa foto wanita yg mirip Dilara bertemu dengan Erick di sebuah taman anak anak kepada hakim. Dan terlihat Dilara memang memberikan sesuatu pada Erick.
__ADS_1
Bahkan Maryam juga memberikan kesaksian nya bahwa Dilara memang ada di kamar itu dan sempat berbincang dengan Erick.
Kemudian Dilara memberikan sebuah file yg berisi video kekerasan terhadap Maryam kepada hakim dan di video itu dengan sangat jelas Erick mengatakan bahwa Dilara menyuruh Erick meniduri Maryam.
Dan dari video itu juga, Erick dan Dilara di tuntut dengan pasal berlapis, penculikan, kekerasan, pelecehan dan juga pencemaran nama baik.
Maryam dan keluarga nya sangat di rugikan dalam hal ini.
Setelah beradu argument antara pengacara Maryam dan pengacara Gaby, hakim memutuskan bahwa Dilara dan Erick bersalah.
Apa lagi, pengacara Maryam memiliki bukti dan saksi yg sangat kuat dan tentu tak bisa di bantah oleh pengacara Dilara.
.
.
.
Semua keluarga Maryam bernafas lega dan sangat bersyukur karena kini semua sudah berakhir.
Di luar ruang sidang, Maryam dan keluarga nya sangat berterima kasih pada Gaby yg sudah membantu.
Dan saat itu, Erick yg di bawa polisi memohon agar ia bisa berbicara dengan Maryam dan keluarga nya hanya untuk sekedar meminta maaf.
Polisi itu pun mengabulkan dan membawa pada keluarga Maryam yg masih ada di sana.
Melihat Erick mendekat, reflek Maryam mundur ke belakang tubuh Amar seolah berlindung karena Amar beridiri di samping nya. Bahkan tanpa sengaja, Maryam meremas lengan Amar untuk menahan perasaan takut nya. Amar menggeram marah melihat Erick yg berani muncul di depan mereka.
"Aku hanya ingin minta maaf" ucap Erick menatap penuh rasa bersalah pada keluarga Maryam.
"Minta maaf, huh?" teriak Faraz marah dan ia tak bisa lagi menahan amarah nya. Faraz langsung memberikan bogem mentah nya pada wajah Erick yg sebenarnya sudah terluka akibat kecelakaan dan pukulan Amar waktu itu.
Bilal mencoba menghalangi putra nya itu tapi Faraz terlihat sangat berambisis menghajar Erick yg sangat tidak berdaya apa lagi dengan tangan yg di borgol.
Faraz memukuli Erick membabi buta dan semua orang mencoba mencegah Faraz yg seolah ingin membunuh Erick saat itu.
"Hentikan, Faraz!" teriak Asma namun Faraz seolah tuli. Sementara Rafa dan Amar malah tampak senang melihat Faraz memukuli Erick.
Hingga satu polisi berhasil menarik Faraz dari Erick yg sudah tak berdaya namun tanpa di sangka, Faraz malah mengambil pistol milik polisi itu dan langsung menodongkan nya tepat di kepala Erick. Sontak itu membuat semua polisi langsung menodongkan senjata nya pada Faraz dan memerintahkan Faraz untuk menjatuhkan senjata nya.
Sementara Erick hanya terdiam, menahan sakit di sekujur tubuhnya yg terus terusan di hajar.
"Aku punya seorang kakak, dia akan membunuh mu jika kau menyentuh ku"
Sekali lagi, peringatan Maryam saat itu menjadi kenyataan.
"Faraz, Nak. Turunkan itu, Sayang. Ummi mohon. Jangan seperti ini" pinta Asma sambil menangis, baru pertama kali ia melihat Faraz di kuasai amarah seperti ini dan itu terlihat sangat mengerikan.
"Faraz, semua sudah berakhir. Dia sudah mendapatkan hukuman nya" Abi nya ikut membujuk. Tapi Faraz masih menodongkan pistol itu dan ia menatap Erick dengan mata yg memerah.
Faraz tak bisa melupakan apa yg sudah ia lihat, Faraz seolah terus mendengar adiknya yg berteriak dan memohon agar tak di sakiti oleh pria asing ini.
Mata Faraz berkaca kaca mengingat penderitaan adiknya.
Hingga Faraz merasakan sentuhan di lengan nya, tanpa berkata apa apa, Maryam menurukan lengan Faraz perlahan, kemudian Maryam memeluk kakak nya, menyenderkan kepala nya di dada sang kakak.
Dan itu membuat Faraz langsung meneteskan air matanya, ia melepaskan pistol di tangan nya dan memeluk Maryam dengan sangat erat.
"Dia sudah menyakiti adik kakak, biarkan kakak membunuh nya" lirih Faraz namun Maryam menggeleng dan masih memeluk Faraz.
"Kejahatan tak harus di balas kejahatan" bisik Maryam "Biar hukum yg membalas nya" lanjut nya.
Karena kejadian itu, Faraz di tangkap oleh polisi kerena sudah membuat keributan, menyerang tahanan dan merebut senjata polisi, namun Bilal segera memberikan uang jaminan dan membebaskan Faraz.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1