Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 112


__ADS_3

"Hai, Baby? Apa menu makan siang hari ini?"


Faraz hanya bisa gelang gelang kepala dengan tingkah Rian yg semakin hari semakin menjadi menggoda Afsana. Setiap kali Afsana ke kantor Faraz, Rian akan selalu menyambut nya dan memanggil nya Baby. Awal nya Faraz marah, tapi lama kelamaan ia sudah tak tahu lagi harus berkata apa karena Rian tetap tak berhenti.


Rian sendiri sangat menikmati ketika melihat kecemburuan di mata Faraz ketika ia menggoda nya.


"Rian, kayak nya ada salah satu staff kita yg masih jomblo deh. Kamu rayu dia aja, jangan rayu istri orang, dosa lho" tutur Faraz.


"Emang kapan aku rayu Ana? Aku kan cuma manggil dia Baby karena aku udah anggap Ana adikku sendiri. Ya kan, An?" Afsana hanya bisa mengulum senyum karena tak tahu harus bereaksi seperti apa, saat ini ia sedang sibuk menata makanan di meja karena sudah saatnya makan siang. Semenjak menikah, Faraz sudah hampir tak pernah memesan makanan dari luar, ia lebih suka Afsana membawakan nya makanan kecuali jika dia ada meeting sambil makan siang.


"Kembali ke ruang kerja mu, aku mau makan sama istri ku" ujar Faraz mengusir Rian. Dan dengan jahilnya, Rian mengambil satu potong ayam goreng yg sudah Ana siapkan untuk Faraz.


"Thanks, Baby Ana" ujar Rian sembari berlari keluar. Afsana hanya tertawa kecil menaggapi tingkah Rian itu.


Kemudian Faraz duduk di sofa dan bergabung dengan Afsana.


"An, sebenernya kakak ada proyek di luar negeri, mungkin disana akan menghabiskan waktu lebih dari seminggu" ujar Faraz yg membuat Afsana sedikit terkejut jika harus di tinggalkan selama itu oleh suami nya namun kemudian ia mengangguk mengerti.


"Ya engga apa apa, Kak" ucap Afsana sembari menyajikan makanannya untuk Faraz.


"Kakak mau nya kamu ikut. Sekalian honeymoon, ya?" Afsana mengangguk senang. Karena mereka memang belum pergi untuk bulan madu.


"Memanynya proyek kakak dimana?"


"Turkey"


"Serius?" pekik Afsana terlihat sangat senang dan Faraz mengangguk sambil tersenyum lebar. Sudah ia duga Afsana pasti akan sangat menyukai negara itu "Kalau kesana mah, Ana mau banget, Kak. Makasih yaaaa" lanjut nya sambil memeluk Faraz.


"Sama sama, Sayang. Ya udah, sekarang kita makan, kamu makan nya yg banyak ya, biar sehat"


"Ana sehat, kok"


"Ya biar subur kalau gitu, kakak engga sabar pengen punya baby"


"Insya Allah, kita doa aja semoga Allah segera memberikan kita anak yg sholeh sholehah"


Di tengah tengah menikmati makan siang nya, Faraz mendapatkan telpon dari Amar, Amar meminta Faraz menemaninya ke sidang karena di sidang kali ini kesaksian Amar di butuhkan.


"Amar kenapa, Kak?" tanya Afsana setelah Faraz memutuskan sambungan telpon nya bersama Amar.


"Dia minta kakak temenin ke persidangan siang ini"


"Apa Ana boleh ikut?"


"Engga usah, emang siang ini kamu engga ke pesantren?"


"Iya sih" gumam Ana.


"Ya udah, kamu pulang ya, Paman Arif masih di bawah kan?" Afsana mengangguk.


"Kalau gitu kakak duluan ya, Sayang. Kasian Amar sudah terlambat" Faraz segera meneguk air nya sementara Afsana sekali lagi mengangguk. Sebelum pergi, Faraz menempatkan diri mengecup pelipis Ana "Hati hati, bilangin sama Paman Arif nyetir nya pelan pelan. Dan ingat, langsung pulang kerumah, okey? "

__ADS_1


"Iya, Kak. Kakak juga"


Faraz segera pergi dengan buru buru, sementara Afsana membereskan sisa makanan tadi dan setelah itu ia pun bergegas pulang seperti perintah Faraz.


.


.


.


Amar hadir di sidang sebagai saksi, ia menceritakan apa yg dia lihat dan dia ingat saat itu. Dan memang benar, Amar hanya melihat ayahnya yg terjatuh dan melihat ibu nya di jendela.


Seorang mantan pelayan mereka juga bersaksi, dan mengaku mendengar pertengakaran dan pembicaraan mereka saat itu namun ia tak melihat apa yg terjadi. Namun dari yg dia dengar, Nyonya Rossa menangis dan meminta maaf, sementara Tuan Atif terdengar sangat marah.


Semua saksi dan bukti yg di kumpulkan oleh Gaby dan tim pengacara nya memang membuktikan bahwa Rossa tak bersalah. Sementara Rossa sendiri tak menyalahkan siapapun karena waktu itu dia tidak di fitnah atau pun di paksa mengaku bersalah, karena ia mengaku bersalah dengan kesadaran penuh dan tidak di bawah paksaan siapapun, ia lakukan itu untuk menebus dosa karena bagaiamana pun juga, penyebab kematian suami dan putri nya adalah dirinya.


Amar tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah hakim menyatakan Rossa di bebaskan dengan hormat dan namanya di bersihkan dari kasus kematian suami nya. Amar tak tahu apakah dia harus senang dengan fakta itu atau tidak.


Setelah sidang selesai, Amar segera keluar dari ruang sidang dengan fikiran dan perasaan yg bekecamuk, Faraz dan Granny Amy mengikuti nya dari belakang sementara Amar berjalan dengan sangat cepat namun ia seperti hilang arah. Hingga ia berpapasan dengan istri tercinta nya, yg Amar tak tahu bagaiamana Maryam bisa ada disana.


Maryam tersenyum sembari berjalan mendekati suami nya yg saat ini berdiri mematung.


"Sayang..." lirih Maryam dengan begitu lembut, ia mengelus pipi Amar dengan lembut. Kedua nya bertatapan namun di detik selanjutnya Amar malah langsung jatuh pingsan, Maryam yg mencoba menangkap tubuh Amar tak mampu hingga ia juga terjatuh.


Faraz dan Granny Amy segera berlari menghampiri mereka.


Faraz dan beberapa petugas yg ada disana membopong Amar kedalam mobil Faraz. Maryam pun ikut masuk, ia meletakkan kepala suaminya di pangkuannya.


"Jangan khawatir, Dek. Amar cuma kelelahan aja. Tapi gimana bisa ada di sini?" tanya Faraz sembari mulai menjalankan mobil nya. Sementara Granny di mobil yg lain bersama sopir nya sendiri mengikuti Faraz dari belakang.


"Maryam sudah tahu dari Granny kalau Amar membuka kasus Mama Rossa kembali. Tadi sebenarnya Maryam mau ikut, tapi di larang Granny katanya takut Maryam kelelahan. Dan tadi Granny bilang kalau Amar akan bersksi dan sejak saat itu perasaan Maryam engga tenang, jadi Maryam nyusul ke sini" tutur Maryam dan ia masih tampak sangat khawatir


"Amar engga ngasih tahu kamu karena kamu lagi hamil, takut nya kamu kefikiran dan terbenani" ujar Faraz.


"Justru Amar lah yg sebenarnya terbebani" gumam Maryam.


.


.


.


Amar mengedipkan matanya berkali kali, mencoba menyesuaikan dengan cahaya sekitar nya. Sayup sayup ia mendengar suara beberapa orang.


"Hem, sadar juga nih adik ipar. Aku fikir dia bakal koma" Amar membuka matanya lebar lebar dan yg pertama kali ia lihat adalah Sarfaraz yg berdiri di samping nya, melambaikan tangan didepan wajah nya.


"Ck..." Amar menyingkirkan tangan Faraz namun ia merasa perih di punggung tangan nya saat di gerakkan dengan kasar begitu, dan ia berusaha mengembalikan kesadarannya sepenuh nya. Dan kini ia menyadari ia ada di kamar rawat rumah sakit, bukan di kamar nya sendiri. Sementara jarum infus menancap di punggung tangan nya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga" Amar menoleh dan mendapati Afsana yg baru saja masuk ke kamar rawatnya "Kami semua sudah sangat khawatir karena kamu engga sadar sadar"


"Maryam dimana?" tanya Amar sembari mencoba duduk. Karena yg terakhir kali ia lihat dan ia ingat adalah Maryam.

__ADS_1


"Dia lagi keluar sebentar, katanya dia pengen cireng yg ada didepan rumah sakit sana tuh" ujar Afsana.


"Sendirian?" tanya Amar terkejut dan ia bahkan sudah hendak meloncat dari bangsal nya tapi Faraz mencegahnya.


"Granny Amy, Abi dan Ummi nemenin, Rika Gina juga jagain" ujar Faraz dan Amar langsung bernafas lega.


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka lagi dan Maryam langsung tersenyum lebar melihat suaminya sudah sadar.


"Suami mu lagi sakit gini kamu malah jajan di luar ya" ucap Amar yg membuat Maryam tertawa.


"Habis nya aku nungguin kamu engga sadar sadar, terus aku tadi liat orang makan cireng. Ya aku pengen" jawab Maryam membela diri.


"Memang nya berapa lama aku pingsan?" tanya Amar karena sejak tadi semua orang bilang dia tidak sadar sadar, Faraz bahkan mengatakan ia fikir Amar koma.


"Sekitar 20 jam" jawab Faraz yg membuat Amar sangat terkejut. Karena ia fikir tak mungkin ia pingsan selama itu.


Namun saat Faraz memperlihatkan layar ponsel nya yg menunujukan jam dan tanggal yg sudah berubah, Amar hanya bisa menganga. Bagaimana mungkin ia pingsan selama itu, fikir nya.


"Apa aku sakit?" tanya Amar. Maryam pun menggeleng, ia duduk di tepi bangsal, menatap mata suaminya dan menggenggam tangan nya.


"Dokter bilang kamu dehidrasi dan juga stress berlebihan, dan sebenarnya Dokter menyuntikan obat tidur, supaya kamu istirahat dan kami takut kamu engga bisa mengontrol emosi mu yg akan membuat kamu melukai diri sendiri lagi" tutur Maryam dengan sedih. Namun Amar tampak lebih sedih lagi karena telah membuat istri nya sedih.


"Itu engga akan terjadi lagi, sejak bersama kamu, aku sudah berhenti melakukan hal itu. Dan jangan lupa bahwa istri ku calon psikolog, kamu akan merawat ku dan mengeluarkan ku dari masalah mental itu, kan?" tutur Amar dan Maryam mengangguk.


"Baiklah, karena kamu sudah sadar. Kami rasa kami harus pulang" seru Bilal pada Amar dan Maryam.


"Nanti kami ke sini lagi kalau Dokter belum memperbolehkan mu pulang" Asma menimpali.


"Dokter harus me perbolehkan ku pulang, Ummi. Karena aku benci rumah sakit" ujar Amar yg membuat Asma tersenyum.


"Makasih ya Ummi, Abi" ucap Maryam sembari mengantar ibu dan ayahnya keluar.


"Sama sama, Sayang. Ingat, kamu juga engga boleh kelelahan" Ummi nya memperingatkan dengan lembut.


Sementara itu, Granny Amy menghampiri Amar dan ia memeluk cucu nya itu. Granny Amy sangat takut saat Amar pingsan.


"Move on, Nak. Sekarang semua nya sudah terungkap dan berakhir" bisik nenek nya. Amar mengangguk saja dan membalas pelukan nenek nya.


"So, aku harus pergi juga" ujar Faraz "Sayang, kamu mau di sini atau mau pulang?" tanya nya pada Afsana.


"Aku mau disini aja, mau nemenin Marry"


"Ya udah, aku pergi dulu kalau gitu" Afsana mengangguk, Faraz mencium kening Ana sebelum pergi.


"Granny pulang juga ya, istirahat dirumah" pinta Amar dan Granny Amy mengangguk.


Setelah semua pergi, kini tinggal mereka bertiga di ruangan Amar.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2