
Tengah malam di pojok desa Mojokembang tepatnya di gubuk setengah warung kopi Nyi Nurma. Di dalam bilik kamar belakang warung kopinya pas Nyi Nurma tengah gelisah hati. Tidurnya tak nyenyak, tak tenang miring tak enak berbaring pun tak enak.
Walau iya sudah terhitung sakti memiliki ajian pelet Kamasutra. Dimana lelaki siapa pun itu apabila melihat senyumnya saja atau sorotan matanya yang tajam. Pasti langsung tergoda tidak mungkin tidak.
Namun ada beberapa hal kendala yang ia hadapi dan beberapa pantangan yang harus iya hindari agar keilmuannya tidak luntur lalu hilang dalam sekejap mata.
Pantangan yang Nyi Nurma harus hindari adalah berhubungan intim saat malam Jumat walau untuk kesegaran tubuhnya dan tuntutan agar terus kelihatan awet muda dan menarik mata setiap lelaki dia tiga hari sekali paling lama harus berhubungan layaknya suami istri dengan bergonta-ganti lelaki.
Ada pula kendala keilmuannya tak akan mempan pada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah. Apalagi dengan lelaki yang setiap malamnya berzikir oleh sebab itu rapalan mantra pemikatnya tak mempan pada Jaka dan teman-temannya sesama anggota T O H.
Malam ini gerimis melanda desa Mojokembang. Hal ini sangat mempengaruhi keadaan Sikis Nyi Nurma. Pikirannya didera kegelisahan yang tak menentu terlalu banyak berhubungan intim kini menjadi candu bagi dirinya. Seperti lelaki yang sudah candu rokok ataupun obat-obat tan terlarang. Namun malam ini malam Jumat dan pantangan untuk melakukan hal itu.
***
Di rumah Haji Wachid tepatnya di ruang tamu berkumpullah seluruh anggota keluarga termasuk Dava dan Sari yang tengah berkunjung lalu malam ini menginap di rumah Haji Wachid. Ada pula Gus Bagus yang tengah apel di malam Jumat sengaja iya datang apel di malam Jumat karena ada sang guru Haji Kasturi jua menginap di rumah Haji Wachid.
Rupanya mereka tengah membahas masalah serius yang tengah melanda tiap sudut kota Jombang. Yakni merosotnya akidah keislaman warga dan masyarakat kota Jombang yang dahulu sangat rajin beribadah sekarang justru banyak yang melenceng suka pergi ke dukun.
__ADS_1
Padahal dalam Al Qur’an sudah jelas di utarakan janganlah kita pergi menemui paranormal apalagi sampai percaya dan meyakini kata-kata si paranormal.
“Akhir-akhir ini masyarakat sudah semakin meresahkan mereka lebih percaya kata-kata dukun dari pada kiai,” ucap Haji Kasturi mengawali pembicaraan sambil menyeruput kopi hitam yang dibuat oleh Putri.
“Benar Kangmas Kasturi sudah tidak bisa dikontrol lagi kelakuan mereka,” timpal Haji Wachid.
“Ini semua ulah Adi Yaksa seperti yang dikatakan petapa Effendik tempo lalu Abah,” celetuk Jaka ikut bicara.
“Benar Mas Jaka bahkan kita tidak menyadari kalau kelompok kerajaan Adi Yaksa sudah melancarkan serangan perang jauh-jauh hari. Dengan cara menggerogoti keimanan warga,” sahut Dava yang duduk di samping Sari yang tengah tertidur dengan kepala disandarkan di pundak Dava.
“Itu Nak Sari mbok ya diajak tidur dikamar Ndok Putri kasihan,” kata Umi Epi menyuruh Putri membangunkan Sari untuk mengajaknya tidur di kamar.
“Jaka kau sekarang kutugaskan mengawasi gerak-gerik Nyi Nurma bisa saja melalui dia Adi Yaksa merancang sesuatu untuk dapat masuk ke desa ini,” pinta Haji Kasturi kepada Jaka.
“Benar itu Dek Jaka, Masmu ini sudah lama mengawasi Nyi Nurma sebenarnya dia adalah korban jua dari rencana Adi Yaksa dalam serangan pelemahan iman. Sebenarnya ilmu peletnya itu bukan asli dari sang neneknya yang sudah jadi rahasia umum seorang nenek sakti di desa ini puluhan tahun silam. Tetapi salah satu genderuwo utusan Adi Yaksa untuk memperdaya Nyi Nurma,” kata Gus Bagus menjelaskan pemantauannya tentang Nyi Nurma.
“Siap Mas aku jua telah mengawasi gerak-geriknya yang semakin hari semakin meresahkan warga. Pernah suatu malam pas aku tengah berjalan cepat memantau keadaan desa dan menyambangi para pemuda yang kebetulan telah bergabung menjadi anggota T O H dan aku tugaskan berjaga bergantian di setiap sudut desa,”
__ADS_1
“waktu itu aku menangkap satu genderuwo sakti malah sampai kewalahan aku meladeni kelicikan ilmu alih rupanya. Aku memergoki dia berjalan keluar dari sisi kamar Nyi Nurma berwujud Almarhum Mas Hasan Jaelani,”
“Aku tak begitu saja percaya, karena aku tahu Mas Hasan semasa hidupnya adalah seorang yang rajin beribadah apalagi dia salah satu anggota T O H juga. Saat aku pergoki si wujud Mas Hasan abal-abal ini yang ternyata adalah sosok genderuwo. Saat aku dapat mengalahkannya sempat aku interogasi dia sedang apa?,”
“Yang membuat aku sampai terkejut dia datang hanya untuk memuaskan nafsu dari Nyi Nurma akibat dari ilmu peletnya. Lalu ada sosok bayangan ratu ular jelmaan yang melesat begitu cepat membawa si genderuwo ke arah lembah neraka,” terang Jaka.
“Memang benar yang kau terangkan itu Jaka mereka adalah antek-antek Adi Yaksa. Dari informasi Ki Datuk Panglima Kumbang yang pernah ku minta untuk mengintai kerajaan Adi Yaksa. Beliau mendapatkan informasi bahwa seluruh kerajaan siluman yang ada di Jawa Timur ini bersatu untuk melawan kita di bawah pimpinan Adi Yaksa,” ucap Haji Kasturi.
“Lalu bagaimana cara agar mereka tak ada celah masuk ke desa ini Guru,” tanya Gus Bagus
“Jalan satu-satunya adalah menyadarkan Nyi Nurma agar kembali ke jalan yang lurus jalan yang di Ridhoi Allah,” jawab Haji Kasturi.
“Sebenarnya ini akibat kelengahan kita sendiri yang tidak memperhatikan nasib Nyi Nurma sebagai janda yang ditinggal mati suaminya dia harus menjalani kehidupan yang sangan sederhana kadang menahan lapar. Di situ ada celah bagi para musuh untuk menyesatkan Nyi Nurma bertujuan agar Nyi Nurma dapat dibuat alat mereka para musuh masuk ke desa ini,” sahut Haji Wachid.
“Benar itu dek Wachid nah itu tugas sampean Dek sebagai pendakwah untuk terus menjejali paham-paham syariat pada warga agar warga kembali ke jalan lurus dan Aqidah yang di sunahkan Kanjeng Nabi Muhammad,” ucap Haji Kasturi.
“Siap Mas itu selalu adikmu ini laksanakan demi keamanan desa ini,” jawab Haji Wachid.
__ADS_1
“Untuk Dava dan Bagus aku tugaskan kalian untuk menjaga para wanita T O H termasuk Umi dan calon istri kalian. Aku memiliki firasat tak baik akan itu,” ucap Haji Kasturi pada Dava dan Gus Bagus.
“Siap Guru,” jawab Gus Bagus dan Dava serempak.