T O H

T O H
Adi Elang


__ADS_3

Malam ini Dava terbaring di sisi istrinya Sari pas menghadap Sari yang sedang tidur memiringkan tubuhnya sambil menghadap Dava dan mereka dalam posisi satu selimut berdua satu bantal berdua kebetulan bantalnya panjang muat untuk dua orang.


Dava terus memandangi sang istri mulai menyibak rambutnya yang jatuh sehelai ke depan muka. Untuk di rapikan kembali ke belakang lalu ia selipkan di atas telinga.


Sudah tengah malam Dava belum jua terlelap sebab esok haru adalah haru dimana ia akan menjadi ayah bagi anak pertamanya. Hatinya tampak gugup tergurat di raut wajahnya yang sedikit-sedikit agak gelisah. Kadang melintas pikiran khawatir namun ia jauhkan segera diganti dengan nada doa dalam hati untuk sang permaisuri agar esok dalam persalinan berjalan lancar tanpa halangan satu apa pun serta sang istri dan bayi selamat.


Tangannya mulai membelai pipi Sari dengan jari-jemarinya mengusapnya perlahan membelai penuh cinta mengusapnya pelan-pelan agar Sari tak bangun.


Beberapa kali Sari mengeluarkan gumaman manja saat terkena belaian dari tangan Dava, eem, begitu dengan menggeliat manja namun tetap terlelap.


Sejenak Dava berucap syukur pada Sang Kuasa, karena malam ini masih bisa bersanding dengan sang permaisuri di dalam hatinya. Salah satu dan satu-satunya pujaan hati. Tak terbilang pengorbanan sang Bidadari hidupnya saat perang sepuluh tahun silam. Seakan tak miliki hati ketika Dava kembali membayangkan keperawanan Sari terenggut paksa oleh Adi Yaksa.


Tapi ya sudahlah itu masa lalu biarlah jadi masa lalu. Sekarang yang penting Dek Sari sedang tidur terlelap di sampingku, “Aduh ayumu itu loh Dek Sari,” gumam Dava lirih mengagumi ibu hamil yang sedang tidur bersamanya.


Kriek..., Kriek..., nging...,


Tiba-tiba setelah dua kali suara burung besar terdengar oleh Dava lalu telinga Dava seakan berdenging keras seperti ada suara mengiang yang sangat keras dengan intonasi sangat tinggi sehingga memekak telinga Dava.


“Aduh suara apa ini, sakitnya telingaku,” gerutu Dava sambil memegangi kedua telinga menutup dengan kedua telapak tangannya.


Suara gaib ikut terdengar dari arah atas atap rumah. Seakan memanggil-manggil Dava untuk keluar menuju atas lantai dua rumahnya.

__ADS_1


Sekelebat secepat kilat Dava sudah berdiri di atas lantai dua rumahnya sambil terus memegangi telinga karena teramat sakitnya suara lengkingan yang di timbulkan makhluk sejenis burung yang terus terbang rendah mengitar di atas rumahnya.


“Apa ini siapa kau, apa maumu membangunkanku. Kenapa aura kekuatanmu begitu besar sehingga aku tak mampu menahan sakitnya lengkingan suaramu di telingaku. Tolong hentikan sebenarnya makhluk dari golongan apakah kau setan atau jin?,” ucap Jaka berkomunikasi dengan burung besar sejenis Elang hitam berdada putih yang terus mengitari di atas rumahnya.


Tap, tap, wus, kletek, kletek,


Suara langkah kaki Mbah Raji yang beralaskan terompah kayu yang meloncat dari halaman rumah Dava seketika sudah memegang pundak Dava menghentikan sakit yang mendera di telinga Dava akibat suara sang Elang yang memekikkan telinga.


“Alhamdulillah sudah tidak sakit Mbah, terima kasih untung Mbah Raji datang. Jadi makhluk apa itu Mbah kenapa saat aku ajak komunikasi dengan telepati level tinggi yang kumiliki serasa mental tak sampai kepadanya?” ucap Dava merasa heran baru kali ini iya tak mampu menerobos sebuah aura bahkan bukan dengan manusia lawannya tapi seekor burung besar berkarakter elang.


“Tenang Dava dia bukan musuh Dia Elang yang turun dari atas langit sejak sedari tadi sore aku telah memantau langit yang tampak terbuka di awan-awannya pula menyemburkan petir. Aku kir Si Jatayu atau Garuda yang hendak turun memberikan pertanda atau aba-aba tapi saat dia yang keluar ternyata seekor elang besar aku jadi penasaran terus mengejarnya khawatir akan terjadi sesuatu. Sebab arah terbangnya terus menukik ke arah rumahmu. Sebab itu aku disini,” ujar Mbah Raji.


“Lalu apa yang ia inginkan Mbah kenapa iya datang kemari bukankah kita belum pernah sama sekali berjumpa dengan elang ini,” kata Dava sambil menunjuk ke arah elang yang terus memutar terbang rendah mengitari rumah Dava.


“Jadi aku harus ke rumah Mas Jaka, meminta Mas Jaka untuk mengizinkan membawa Wahyu kemari,” timpal Dava semakin khawatir.


“Ku rasa tak perlu, karena Jaka dan Wahyu serta Pak Bupati kita sudah berada di sini lihat itu di atas, bayangan yang sedang mengejar laju terbang Elang ke tiga bayangan raga sukma mereka,” ungkap Mbah Raji menunjuk tiga bayangan yang tengah mengejar Elang.


“Sebenarnya apa ya maksud dari kedatangan Elang ini Mbah?,” tanya Dava tampak penasaran dari arti kejadian aneh malam ini atas kedatangan elang besar yang terus berputar terbang di atas rumahnya.


“Yah itu semua simpel Dava masak kamu tidak mengerti Wahyu sudah memiliki garuda ya anakmu kelak harus memiliki tunggangan dong sebagai rival abadi untuk Wahyu. Seperti kau memiliki Naga Bergala sedangkan Masmu Jaka memiliki Naga Baru kelinting,” terang Mbah Raji menuturkan.

__ADS_1


“Oh iya Mbah lalu kenapa seakan Elang itu tak mau menurut kalau memang dia datang untuk anakku kelak yang akan terlahir besok?,” tanya Dava kembali.


“Semua hewan sakti yang akan mendampingi calon pejuang hebat haruslah kuat dan mereka memang memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada kalanya mereka percaya benar pada manusia yang di takdirkan untuk mereka dampingi ada kalanya mereka ingin mengetes dahulu apa benar sekuat apa yang di katakan dan di sampaikan yang di atas manusia yang bakal mereka dampingi. Karena setiap makhluk serupa hewan yang mendampingi kita berasal dari langit,” kata Mbah Raji menjelaskan.


“Wahyu panggil garudamu,” teriak Jaka tengah memegangi paruh elang dari depan tampak kewalahan dengan elang yang semakin memberontak.


“Siap Ayah,” Wahyu tampak memejamkan mata sejenak namun belum usai Wahyu memejamkan mata baru saja menutup kelopaknya garuda sudah ada di belakang Wahyu berdiri tegak.


“Ada apa Wahyu, loh Adi Elang kenapa bisa muncul di sini,” teriak Garuda teramat kaget.


Dan langsung terbang menyandingi Elang yang tampak memberontak di tangan Dava. Rupanya setelah berunding begitu lama Elang dan Garuda memiliki kesepakatan untuk mengikuti yang telah di perintahkan dari sang Raja mereka di atas langit asal tetap bersama sang kakak Garuda.


“Wahyu buka telapak tangan kananmu sementara kau bawa Adi Elang di tanganmu nanti kalau Adikmu Elang yang berada di kandungan Tantemu Sari sudah siap menerimanya baru kau berikan,” teriak Garuda menyuruh Wahyu membuka telapak tangan kanannya.


“Siap Garuda,” teriak Wahyu lalu tangan Wahyu seakan membesar mencakup Elang dan kembali mengecil seakan Elang tertelan di telapak tangannya.


Wahyu lalu turun menuju Dava yang sedang menunggu di bawah bersama Mbah Raji, “Om Dava sudah di putuskan Adikku nanti yang ada di kandungan Tante Sari dengan nama Elang pokoknya ada nama Elangnya ya Om,” ucap Wahyu lalu menghilang perlahan mengikuti Jaka dan Bagus yang mendampingi Wahyu menghilang perlahan.


Garuda tampak terbang kembali membumbung tinggi ke atas langit kembali pada habitatnya sebagai hewan langit.


“Ya sudah semua sudah usai bersyukurlah kau Dava memiliki keluarga yang sangat istimewa. Aku pamit istirahatlah besok kau harus berjuang menunggu anakmu terlahir, Assalamualaikum,” ucap salam Mbah Raji meloncat tinggi entah ke mana.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Dava kembali pergi berlari seperti cahaya hilang sekejap menuju kamarnya kembali berbaring di samping Sari.


__ADS_2