
Jaka masih tampak merenung duduk sendiri di ruang kerjanya. Yah di ruang kerjanya sebulan yang lalu Jaka akhirnya dapat rezeki dari tulisan-tulisan yang ia buat di beberapa platform aplikasi penulis seperti Noveltoon dan aplikasi yang lain namun ia lebih senang berkarya di aplikasi Noveltoon. Sebab Jaka sudah dapat gaji di sana Alhamdulillah dapat untuk membeli beras dan susu Beby wahyu katanya.
Walau belum seberapa tapi alhamdulillah dapat untuk membeli susu dan beras. Jadi sebulan yang lalu Jaka dan Putri merenovasi ulang kamarnya untuk membuat sepetak ruangan tempat dimana Jaka bekerja membuat sebuah karya tulisan entah itu cerpen atau novel.
Malam ini Jaka belum jua kembali ke kamarnya. Ia masih berada di ruang kerja duduk di belakang meja panjang dan tengah merenung di atas kursi hitam yang biasa iya gunakan untuk terus berkarya. Namun kali iya sedang tidak menulis laptop sudah ia matikan dan ponsel juga tak menyala.
Jaka sudah pula merampungkan beberapa bab di aplikasi Noveltoon. Dan tak lagi melanjutkan tulisannya, aku rasa cukup untuk malam ini ujarnya dalam hati.
Tetapi ada yang tengah mengganjal dalam pikirannya yang membuat iya berpikir berulang-ulang. Sebuah permasalahan kompleks yang tengah dihadapi kota Jombang tentang keadaan masyarakatnya yang sudah berubah keyakinan.
Apalagi ditambah satu masalah baru di desanya desa Mojokembang yakni tentang Nyi Nurma yang semakin barbar dan brutal. Semakin hari semakin berpakaian kurang bahan sangat minim dan semakin mengumbar hawa nafsu setan.
Tak sedikit para emak-emak yang protes kepada Jaka maupun kepada Abahnya Haji Wachid tentang kelakuan Nyi Nurma. Tapi apa daya semua itu terselubung dan Jaka hanya bisa menasihati Nyi Nurma dan berharap Nyi Nurma dapat berubah kembali baik.
Tiba-tiba dari arah belakang tanpa disadari Jaka yang tengah melamun Putri memeluknya dari belakang, “Ayah sudah jam berapa ini kenapa enggak bobok. Jangan capek-capek sayangku besok lagi bobok yuk,” ucap Putri dengan setelan daster warna oranye motif bunga-bunga sekiranya siap untuk tidur.
“Mama bobok saja dahulu Ayah masih terpikir apa yang dikatakan eyang Kasturi tentang kota ini,” sahut Jaka sambil mengecup kening Putri begitu mesra.
“Loh Yah itu bukannya anak kita Wahyu di halaman depan itu Yah?,” teriak Putri menunjuk ke arah balik jendela yang langsung berhadapan dengan taman depan rumah dimana Beby Wahyu tengah duduk tertawa-tawa di atas rerumputan.
__ADS_1
“Masak mana sih Ma bukanya tadi Wahyu sama Mama bobok?,” celetuk Jaka berdiri menghampiri jendela di ikuti Putri jua berjalan menghampiri jendela besar yang hanya terbuat dari kaca tanpa sekat untuk membuka.
“Itu loh Ayah di atas rumput ayo keluar Ayah kok bisa keluar sih anak Mama ini?,” kata Putri berlari keluar dari ruang kerja Jaka melewati kamarnya lurus ke pintu depan menuju taman depan rumah.
Sampai di taman depan rumah Putri sudah mendapati Jaka menggendong Beby Wahyu dan tengah bercakap-cakap dengan sesosok ruh dari Mas Hasan Jaelani yang sudah lama meninggal.
“Astagfirullah Mas Hasan kok bisa bukankah Mas Hasan sudah meninggal,” ucap Putri yang sangat terkejut melihat sosok arwah atau ruh Mas Hasan Jaelani yang datang.
“Mas Hasan jangan begitu dong kenapa juga memanggil Wahyu kasihan dia sedang tidur pulas,” kata Jaka agak marah.
“Maaf Mas Jaka aku tak tahu lagi bagaimana caranya terhubung dengan Mas Jaka. Sudah aku coba beberapa kali untuk terhubung atau menemui Mas Jaka namun tak jua bisa terhubung, karena aura Mas Jaka yang begitu besar sehingga membuat saya terpental,” kata Mas Hasan Jaelani yang kini menjadi sosok arwah.
“Lalu apa mau Mas Hasan datang kemari?,” tanya Jaka sambil menggendong Beby Wahyu yang kembali tertidur pulas.
“Bagaimana Ma, menurut Mama bagaimana apa baik membiarkan arwah Mas Hasan yang sudah mati tinggal di sekitar rumah kita?,” tanya Jaka pada Putri dan Putri tampak sedikit bingung seraya berpikir sambil menggaruk-garuk rambutnya.
“Bagaimana ya Yah, Mama jadi bingung. Mama sih sebenarnya kasihan juga sama arwah Mas Hasan tapi apa baik. Apa tidak sebaiknya kita tanya Abah saja Yah yang lebih paham tentang hal ini,” jawab Putri.
“Tapi jam segini Abah ya sudah tidur lah Ma,” kata Jaka.
__ADS_1
“Belum Jaka, tak apa Mas Hasan tapi tentu dengan beberapa syarat,” ucap Abah Wachid dan Umi Epi yang datang menghampiri Jaka dan Putri yang tengah bercakap dengan arwah Mas Hasan.
“Eh Abah Haji Maaf saya masuk rumah Abah tanpa ijin,” ucap arwah Mas Hasan Jaelani.
“Tidak apa Mas saya paham, lah wong saya sudah memantau Mas Hasan beberapa hari ini mencoba menerobos rumah saya kan saat tengah malam tapi tak bisa masuk. Untung kali ini di bantu cucuku yang sangat ajaib ini,” celetuk Abah Wachid seraya mengusap-usap rambut wahyu yang tengah digendong Jaka.
“Benar Abah cucu anda sangat sakti tidak salah lagi dia memang cucu anda dan tidak salah lagi kalau Wahyu anak Mas Jaka dan Mbak Putri pasangan yang terkenal mumpuni dalam organisasi T O H. Lalu apa syarat-syaratnya Abah agar saya dapat tinggal di dalam sini. Saya hanya ingin aman dari genderuwo-genderuwo Adi Yaksa,” kata arwah Mas Hasan Jaelani.
“Syarat-syaratnya maaf Mas Hasan hanya boleh tinggal di halaman bukan di dalam rumah bertujuan agar menjaga privasi kami. Tetapi kalau saya atau Jaka karena suatu hal misal Mas Hasan dibutuhkan keterangannya seperti rapat kemarin Mas Hasan boleh masuk ikut rapat itu pun dengan ijin kami,” ucap Abah Wachid.
“Iya Mas kan enggak lucu jikalau Mas Hasan melihat saya atau Putri ataupun Vivi sedang ganti baju atau pas tak memakai kerudung. Untung tadi Putri pas keluar barusan masih sempat memakai kerudung,” ujar Umi Epi.
“Baik Abah Alhamdulillah dengan ijin Abah dan Mas Jaka bisa tinggal di sini walau sebatas di halaman rumah saya merasa lega dan terlindungi terima kasih atas kebaikan kalian,” ucap arwah Mas Hasan.
“Masalah Nyi Nurma tenang saja Mas kami terus mengingatkan dan mengawasinya agar dia kembali tergugah hatinya dan kembali ke jalan yang lurus jalan yang di Ridhoi Allah,” sambung Jaka.
“Tapi Mas tahu sendiri keadaan istri yang Mas tinggal mati tersebut sekarang begitu buruk. Bahkan maaf dia sudahlah disetubuhi beberapa laki-laki karena ilmu peletnya yang menuntutnya harus melakukan hal itu. Dan di malam Jumat. Nyi Nurma harus melayani genderuwo Adi Yaksa yang berubah wujud serupa Mas Hasan. Dan kami tak bisa berbuat banyak dan mengambil tindakan semestinya. Karena kami belum ada cukup bukti untuk itu,” ujar Jaka menambahkan keterangan tentang Nyi Nurma.
“Benar itu yang Mas Jaka katakan dan setiap malam saya melihatnya sendiri. Suatu malam pas malam Jumat saya melihat diri saya sendiri meniduri Dek Nurma saat saya masuk ke kamar tempat dulu saya dan Dek Nurma berbagi kasih ternyata wujud serupa saya berubah menjadi sesosok genderuwo. Karena itu tiap malam saya diburunya hendak dimusnahkan,” jelas arwah Mas Hasan Jaelani.
__ADS_1
“Ya sudah sementara sampai keadaan membaik Mas dapat tinggal di sini. Suatu saat kalau keadaan kembali normal Mas Hasan harus kembali ke pusara Mas sendiri ya menjalani takdir dari Sang Kuasa,” kata Abah Wachid.
“Benar Abah sekali lagi terima kasih,” kata Arwah Mas Hasan Jaelani.