T O H

T O H
Pemusnahan Massal


__ADS_3

“Woi..., Siluman babi terima ini,” teriak Gus Tato yang seketika meloncat sambil salto di udara dengan gaya tendangan dari atas yang mengenai tepat di kepala panglima babi.


Pak... Sroot... Krosak....


Panglima babi terpental jauh ke belakang akibat tendangan Gus Jajak terhempas beberapa meter membelah tanaman padi yang semula berjajar rapi nampak terbelah lurus memanjang ke belakang.


Nampaknya tendangan Gus Tato tidak berarti apa-apa terhadap panglima siluman babi tersebut. Iya pun kembali berdiri tegak dengan cepat berlari kearah Gus Tato. Seakan sangat cepat berlari panglima babi telah berhadapan langsung tepat di depan Gus Tato berdiri.


Jual beli serangan tak terelakkan pukulan demi pukulan dilontarkan oleh panglima siluman babi begitupun Gus Tato kembali melancarkan pukulan dan tendangan dengan berbagai macam jurus beladiri setelah menangkis serangan dari panglima babi.


Seakan energi yang tiada habis begitu kuat panglima siluman babi tiada letih sedikitpun, berbeda dengan Gus Tato yang sudah nampak begitu kelelahan terlihat dari nafasnya yang semakin tersengal dan gerakan dari serangannya yang tak lagi cepat dapat langsung dibaca oleh panglima siluman babi.


“Kenapa dengan seranganmu?, sudah habis rupanya tenagamu,” ucap panglima babi yang terus bersiap dengan kuda-kudanya menatap Gus Tato yang berdiri dengan kuda-kuda tak seimbang karena sudah begitu kecapean.


“Sudah Gus Tato istirahatlah sejenak biar aku yang meladeni iblis ini,” ucap Gus Jajak menggantikan posisi Gus Tato yang telah keletihan seraya berlari menuju panglima babi.


Sedangkan Haji Hadi terus bersila di belakang pertempuran agak jauh dengan terus memutar tasbih Melafazkan zikir dan doa untuk keselamatan Gus Tato dan Gus Jajak yang tengah bertempur habis-habisan.


Gus Jajak melayangkan jurus andalannya dari seni beladiri pencak silat. Dengan beberapa pukulan panglima siluman babi tersungkur ketanah dengan keras akibat kencangnya pukulan Gus Jajak.


Dasar sifat Gus Jajak yang teledor dengan tipu daya panglima siluman babi yang berpura-pura kalah saat tergeletak seakan sudah tak dapat bangun.


Gus Jajak melenggang pergi dengan tertawa senang karena dapat mengalahkan musuh utama dalam perang kali ini.


“Allhamdulillah akhirnya, kali ini kita bisa membinasakan babi terkuat, hehe...,” ucap Gus Jajak berjalan membelakangi panglima babi yang berpura-pura pingsan.


Slap..., Jeb..., ****...,


Tubuh Gus Jajak tertembus sebuah cakar-cakar yang tajam dari tangan besar panglima babi. Yang menembus memutar dari tengah punggung tembus sampai ke tengah perut dengan darah yang mengucur kemana-mana.

__ADS_1


Argh....


Suara rintihan Gus Jajak yang tak mengira kalau panglima babi dapat berdiri kembali dengan pukulan yang ia layangkan dengan sekuat tenaganya.


“Gus Jajak...!!,” teriak Gus Tato berlari hendak menolong Gus Jajak namun terlambat tubuh Gus Jajak telah terkoyak menjadi dua bagian dan tergeletak di tanah tak bernyawa.


“Gus Jajak...!, Tidak Gus...!, Innalilahi wainnailaihi raziun, Gus maafkan sahabatmu ini,” ucap Gus Tato terduduk lemas melihat kekejaman sang panglima babi begitu sadis membunuhi santri dan teman-teman Gus Tato dengan beringas


Seakan benar perkataan dan peringatan dari Jaka yang datang beberapa malam yang lalu bahwa akan ada pasukan siluman babi yang datang hendak memusnahkan umat manusia.


Gus Tato terus berteriak menyebut nama Gus Jajak sambil memukul-mukul tanah tak percaya teman satu kamar di pondok serta sahabat terdekatnya telah gugur kali ini, seakan ingatannya kembali saat-saat bersama Gus Jajak beberapa waktu yang lalu.


“Berdirilah Tato, mari kita lawan walau malam ini, di waktu menjelang subuh ini adalah hari di mana kita akan kembali pulang ke haribaan Yang Esa. Maka memang harus seperti ini kejadiannya, tenanglah hentikan tangisanmu Gus lihatlah di sekelilingmu mereka para muridmu, mereka para santri ku berjuang mati-matian,” ucap Haji Hadi menuntun Gus Tato yang tengah dalam kesedihan mendalam, membantunya berdiri kembali untuk melawan.


Gus Tato memandang sekitarnya melihat puluhan santri yang tengah berperang dengan gigih menumpahkan darah demi memperjuangkan hidup di jalan Allah.


Gus Jajak memandang sekali lagi semua teman-temannya yang telah gugur sebagai syuhada yang mayatnya tergeletak dimana-mana. Lalu Gus Tato memandang wajah teduh sang guru Kiai Hadi di sampingnya yang masih mampu tersenyum.


“Ayo Tato kita sambut akhir hayat kita kalau memang itu yang ditakdirkan,” ujar Haji Hadi.


“Bismillah, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar..,” teriak Gus Tato dan Haji Hadi berlari kearah panglima siluman babi, begitu jua dengan panglima babi yang telah siap menyongsong kedua Kiai pemimpin terakhir yang hidup.


Sementara di kejauhan Jaka dan Dava tengah berlari di kejar para siluman babi di sisi desa Mbadas sebelah Utara. Mereka terus membakar, memanah dan menghanguskan babi yang terus berdatangan mengejar mereka berdua.


“Dasar binatang pengganggu..!,” ujar Dava terus melontarkan api dari tangannya.


“Dek kenapa tidak jua ada kabar dari desa Mbadas sebelah selatan coba kau terawang,” ucap Jaka.


“Baik Mas,” Jaka berdiri diam sejenak memejamkan mata melihat area Medan peperangan desa Mbadas sebelah selatan dimana tempat pasukan Haji Hadi dan santri-santrinya tengah berperang.

__ADS_1


Sedangkan Jaka berada di depanya memusnahkan para babi yang terus berdatangan melindungi Dava yang tengah berkonsentrasi memejamkan mata menerawang jauh ke selatan.


“Sudah belum Dava lama kau, melihat begitu saja?,” bentak Jaka.


“Emangnya sampean Mas yang dapat menerawang walau tanpa konsentrasi kenapa tidak dilihat sendiri,” ujar Dava kesal.


“Halah sambil kamu latihan penerawangan kok,” ucap Jaka yang terus membunuhi babi yang seakan tiada habisnya datang.


“Bagaimana dapat kelihatan?,” ucap Jaka


“Hehehe..., Enggak terlihat Mas tertutup kabut petang,” ucap Dava sambil garuk-garuk kepala.


“Sudah Kuduga Panglima babi itu memang sakti sebelumnya ia sudah memagari area selatan rupanya.


“Biar aku yang melihat bantu aku menghabisi babi yang datang,” ucap Jaka.


“Ia, ia, akhirnya juga dia minta tolong. Lagian Mbadas Utara kan seharusnya urusan Gus Bari dan Si Mbah Raji kemana mereka.


Tiba-tiba melesat dua bayangan dari sisi kiri dan kanan Jaka yang ternyata adalah bayangan Gus Bari dan Mbah Raji. Di sisi kanan Gus Bari yang tengah dalam mode Api surah Al Ikhlas dan di sisi Kiri Mbah Raji terus berlari mereka melewati Jaka dan Dava sambil berteriak.


“Sudah jangan bercanda saja kita cepat menuju selatan di sana para santri Pak Haji Hadi hampir habis terbunuh oleh para babi,” teriak Gus Bari masih terus melesat jauh meninggalkan Jaka dan Dava.


Jaka yang ternyata dapat menerobos masuk area selatan dalam penerawangannya nampak berubah wujud menjadi mode Api amarah lalu begitu cepat melesat meninggalkan Dava, Gus Bari dan Mbah Raji jauh kedepan.


“Ehm, bocah gemblong malah kami di tinggal toh le,” ucap Mbah Raji yang kaget saat dilewati Jaka yang melesat jauh.


“Mas Jaka mbok ya jangan ditinggal aku,” ucap Dava yang telah berdiri di samping Mbah Raji dan Gus Bari.


“Ya gitu Kangmas mu itu, kalau sudah kemauannya ayo cepat kita menyusulnya, kenapa juga sedari tadi tidak ada kabar dari selatan padahal mereka sudah diperingatkan untuk meminta bantuan pada kita,"

__ADS_1


"Kita juga kan tengah berperang setiap malam kalau kita menuju Kediri lalu siapa yang melindungi Jombang jadi kita harus mengatasi dahulu musuh kita baru kita membantu mereka,” ujar Mbah Raji.


“Udah jangan bicara terus Mbah Raji, Dava ayo kita susul Masmu Jaka, lagian disuruh telepati apa beratnya, ya begitu tabiat orang Kediri seakan apa-apa bisa mengatasi sendiri kalau sudah seperti ini, apa enggak berasa pemusnahan masal,” gerutu Gus Bari yang terus melesat lurus ke selatan di ikuti Dava dan Mbah Raji di belakangnya sementara Jaka telah Jauh melesat mendahului mereka.


__ADS_2