T O H

T O H
Datangnya Pulung Wahyu Keprabuan


__ADS_3

Hampir subuh di gardu rt.01 kehadiran bentuk ghoib dari wahyu keprabuan yang juga disebut Pulung tak jua nampak. Pak Haji Sugian, Pak RT dan Mbah Yono sudah nampak mengantuk jua.


Terlihat dari raut muka mereka nampak begitu asem dengan bola mata bagai lampu bohlam kecil berdaya 5 watt dilihat dari kejauhan tidak terang.


Sementara suasana di sekitar gardu sudah nampak lengang setiap pintu sudah tertutup rapat bahkan terkunci dari dalam penghuninya pun mungkin sudah bermimpi indah.


Hanya terdengar suara jangkrik bernyanyi bersahutan dengan katak yang terus berbunyi kingkung-kingkung maklum sedang musim hujan jadi terdengarlah katak yang sedang mengadakan orkestra di sepanjang pematang sawah.


“Sudah hampir subuh Mbah Yono, kenapa Pulung tidak jua terlihat..?,” tanya Pak RT yang mulai menguap karena rasa kantuk mendera.


“Ia Pak RT saya pun tidak tahu seharusnya Pulung atau wahyu keprabuan telah muncul beberapa jam yang lalu namun hingga kini belum jua terlihat,” kata Mbah Yono yang mulai menyandarkan kepalanya di salah satu sisi gardu.


“Biarlah Pak RT, Mbah Yono, kita serahkan saja pada Allah SWT. Jikalau memang takdir saya terpilih besok tentu saya akan menjadi lurah selanjutnya, sekarang mari kita pulang istirahat sejenak agar besok bisa bangun untuk menghadiri pemilihan kepala desa,” ujar Pak Haji Sugian.


“Baiklah Pak Haji, mari kita pulang untuk sekedar memejamkan mata lalu bangun kembali untuk melaksanakan sholat subuh,” kata Pak RT Ari.


“Yah itu lebih baik mari kita pulang dahulu benar kata Pak Haji serahkan semua takdir pada Sang Pencipta,” kata Mbah Yono.


Akhirnya tiga serangkai orang penting di kawasan rt.01 desa Serapah itu mengalah dengan rasa kantuk dan pulang dengan langkah gontai menuju rumah masing-masing.


Azan subuh telah berkumandang di lantunkan di setiap surau dan masjid desa di desa Serapah maupun di desa sekitarnya terdengar merdu suara Muadzin lantang menyerukan ajakan sholat berjamaah dengan irama syahdu mendayu-dayu.


Lantunan puja dan puji sholawat kepada Baginda nabi besar Muhammad SAW telah di lantunkan dan komat tanda akan di mulainya sholat telah di suarakan.


Jaka dan Putri juga tengah hikmat dalam sholat berjamaah berdua di dalam kamar tamu lantai dua. Dengan Jaka sebagai imam dan Putri sebagai makmum seperti biasanya.


Di dalam kamar Pak Haji Sugian tengah sholat berjamaah bersama Umi Wati sebagai makmum sedangkan si kecil Aisyah masih tertidur di letakkan di samping Umi Wati.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...., Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ....,” ucap Jaka dan Putri mengahiri sholat.


“Put...., hari ini hari terakhir kita di rumah Pakde, kita nunggu terang untuk pulang kembali ke rumahku, kemasilah barang-barangmu sayang,” kata Jaka seraya melanjutkan zikir kembali dengan memutar perbutir tasbih di tangan kanannya.


Putri lekas beranjak meninggalkan tempat sholat seraya melipat sajadah dan mukenanya dan segera mengemasi barang-barangnya tak lupa pula ia mengemasi barang-barang Jaka.

__ADS_1


Putri masih duduk bersila di atas kasur sembari melipat beberapa pakaiannya dan pakaian Jaka sambil memandang Jaka yang tengah asyik dengan lafadz-lafadz zikrullah seraya tersenyum.


Dalam benaknya betapa teduh wajah sang kekasih hati saat ia duduk bersila berpasrah diri pada Sang Haliq, memakai baju Koko putih, berpeci hitam dan bersarung motif batik yang ia belikan seminggu yang lalu.


“Duh gantengnya kau Jaka kalau sedang sholat,” celetuk Putri.


“Apa..., apa Put kau ngomong apa barusan...?,” Jaka yang mendengar celotehan Putri seketika menghentikan zikirnya lalu beranjak menuju kasur di mana Putri duduk bersila ikut duduk bersila di samping Putri.


“Endak anu Jaka itu ada cecak kawin,” Jawab Putri.


“Mana.......?,” jawab Jaka sambil menoleh ke sana- ke mari mencari keberadaan cecak yang dimaksud Putri.


“Man.....,” Jaka yang tidak mendapati keberadaan cecak kembali hendak menoleh dan bertanya Pada Putri namun belum sempat wajah Jaka menoleh ke arah Putri sebuah kecupan mesra mendarat di pipi Jaka sebelah kanan.


“Emmmuach..., tapi boong,” kata Putri seraya tersenyum malu-malu.


"Man..na...," ucap Jaka melanjutkan perkataanya dengan wajah kaget karena serangan kecupan Putri secara tiba-tiba.


Abah...........


Sebuah teriakan terdengar dari kamar Pak Haji Sugian membuat Jaka dan Putri terdiam sejenak, “Bude....,” teriak Jaka dan Putri berbarengan.


Mereka lantas berlari menuju kamar Pak Haji Sugian. Di dalam kamar Jaka dan Putri mendapati Pak Haji Sugian sedang berjuang menahan sebuah bola api yang menyala-nyala di atas pangkuannya. Sedangkan Umi Wati terduduk lemas di sampingnya sambil menangis menjerit-jerit.


“Abah..., Abah....,” terus berteriak karena melihat Pak Haji Sugian yang mulai memuntahkan darah.


“Jaka, Putri tolong Pakde kalian cepat...,” kata Umi Wati.


Dengan sigap Jaka berlari kearah Pak Haji Sugian mengambil alih bola api dari pangkuan Pak Haji Sugian. Seraya melantunkan doa dan sholawat nampak tangan Jaka ikut menyala namun berbeda dari bola api yang menyala merah tangan Jaka mengeluarkan nyala biru.


Perlahan bola api berubah warna menjadi biru lalu berangsur padam kembali berubah warna menjadi putih dan terakhir berubah wujud menjadi sebuah tongkat emas berukiran naga kembar.


“Pakde terimalah ini sebuah tongkat kepangkatan, ya inilah yang di sebut Pulung wahyu keprabuan. Memang datang kepadamu dan memang menjadi hakmu,” kata Jaka seraya mengulurkan tongkat emas ditangannya.

__ADS_1


“Pesan Jaka bila memang benar besok Pakde terpilih sebagai kepala desa yang baru jangan lah jumawa dan semena-mena kepada warga. Memerintahlah dengan adil dan bijaksana,” kata Jaka.


“Terimakasih Jaka, Pakde akan selalu berhutang budi padamu keponakanku,” kata Pak Haji Sugian.


“Ini memang sudah firasat Abah Wachid Pakde, aku disini untuk membantu Pakde. Tetapi maaf besok aku tidak bisa menyaksikan Pakde berjuang di acara Pemilihan kepala desa sebab aku harus kembali pulang ke rumah bersama Putri dan kami memohon izin pamit pulang,” kata Jaka.


“Tidakkah kau menunggu selesai pemilihan terlebih dahulu Jaka, Putri pakde memohon,” kata Pak Haji Sugian.


“Ini bukan keinginan Jaka Pakde, semalam Abah dan Umi berpesan melalui video call. Bahwa Jaka dan Putri harus segera pulang dan Jaka tidak bisa menolak kemauan Umi,” kata Jaka.


“Tidakkah kau kasihan pada Pakdemu Jaka siapa yang mendampinginya nanti saat pemilihan..?,” kata Umi seraya mengusapkan tisu pada bibir Pak Haji Sugian yang sempat muntah darah.


“Jaka tau Pakde adalah seorang Haji yang sakti kakak dari Abah Wachid tenanglah Bude semua akan berjalan dengan semestinya yang telah ditakdirkan Allah,” kata Jaka.


“Baiklah Jaka kalau memang seperti itu maumu Nak, Pakde hanya bisa memohon doamu dan menitip salam pada Abah dan Umimu,” kata Pak Haji Sugian.


“Enggeh (ia) Pakde akan Jaka sampaikan dan doa ku, doa Putri selalu menyertai panjenengan (kata yang diperhalus sebagai penghormatan kepada yang lebih tua atau berarti anda) berdua,” kata Jaka.


“Ia Pakde, rencananya aku dan Jaka selepas fajar nanti kira-kira pukul 07.00 pagi hendak berangkat pulang,” kata Putri menyahut omongan Jaka.


“Baik Jaka, Putri, Pakde benar-benar berterimakasih atas bantuan kalian. Kalau saja tidak ada Jaka malam itu tentu Budemu dan Aisyah...,” kata Pak Haji Sugian namun belum selesai bicara perkataan Pak Haji Sugian sudah dipotong oleh Jaka.


“Jangan berbicara seperti itu Pakde semua Gusti Allah yang mengatur kita pasrahkan saja semua kepada Allah,” kata Jaka.


_


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2