
Di sebuah tempat di barat kota Jombang tepatnya di daerah perbatasan antara kota Jombang dan kota Kertosono. Di dalam sebuah Musala sederhana bernama Al Hidayah di seberang jalan raya kayen masuk daerah kecamatan Kertosono.
Dua sosok pemuka agama kota Kertosono tengah berbincang di dalam Musala. Tentang sebuah dinding kabut aneh yang menyelubung tebal bersaf-saf tinggi pas di samping timur Musala Al Hidayah.
Karena pagar Musala Al Hidayah juga berfungsi sebagai batas akhir kota Jombang. Lalu di sebelah barat pagar sudahlah masuk wilayah Kertosono. Sudah sewindu lebih pagar terselimut dinding kabut pekat hitam seakan kota Jombang terkurung di dalamnya.
Namun banyak santri yang rumahnya di desa balik dinding sisi timur termasuk santri dari dua sosok pemuka agama Kertosono tersebut yang tak bisa keluar dari belenggu dinding kabut sehingga berbulan-bulan tak ada kabar berita.
Sedangkan Masyarakat di sisi barat dinding tak berani masuk ke sisi timur takut dengan desas-desus yang santer terdengar bahwa warga di balik dinding kabut sisi timur telah habis menjadi korban pembantaian masal akibat perang berkepanjangan di dalam kota Jombang.
“Gus lama-lama saya kasihan dengan warga Jombang yang tak kunjung ada kabar. Apakah mereka masih hidup atau benar kabarnya tentang pembantaian masal tersebut?” ujar Abah Madun memulai percakapan bersama Gus Sasmito.
“Aku juga pusing Abah, bagaimana santri-santri kita yang berada di balik dinding itu ya Abah? Bannyak juga anak santri kita yang dari desa sebelah di balik dinding,” ucap Gus Sasmito.
Tiba-tiba Abah Madun terdiam sejenak merasakan suatu energi yang datang. Seakan ada sebuah energi positif yang hendak datang dari barat desa tentu sebuah kunjungan silaturahim seperti malam-malam biasanya.
Memang akhir-akhir ini kelompok Ormas Mataraman yang digawangi oleh Abah Madun kerap mengadakan pertemuan setiap malam membahas tentang keadaan kota Jombang. Sekaligus bersiap apabila sewaktu-waktu ada makhluk jahat yang keluar dari dinding kabut untuk menyerang warga desa sekitar Musala.
“Ada apa Abah? Kok sepertinya Abah terdiam merasakan sesuatu hal yang ganjil,” tanya Gus Sasmito sambil mengernyitkan dahi tanda kekhawatiran.
“Oh tidak Kakangmu Gus Johan dan anggota kita yang lain sedang menuju kemari,” ujar Abah Madun.
__ADS_1
Benar juga tidak lama berselang ada suara seseorang mengucapkan salam dari arah depan Musala, “Assalamualaikum Abah Dek Sasmito,” ujar Gus Johan bersama adiknya Yuda tuek dan beberapa anggota yang lain termasuk Mbah Rojo dan Sumarlan dari Madiun dengan beberapa santrinya.
“Waalaikumsalam, mari masuk Gus Johan, loh Mbah Rojo dan Sumarlan juga sudah datang ya, mari-mari masuk,” ucap Abah Madun yang keluar Musala menemui Gus Johan dan rombongan yang lain yang baru sampai seraya mengajak mereka masuk ke dalam Musala.
Setelah duduk melingkar Gus Sasmito mulai membagikan seragam baru Ormas Mataraman yang baru selesai di ambil dari tukang jahit.
“Waduh Gus apik tenane seragam anyare iki (waduh bagus sekali Gus seragam barunya ini),” celetuk Mbah Rojo sambil membolak-balik seragam baru model jaket kekinian berwarna kuning hitam tersebut.
“Ya pasti toh Mbah Rojo biar beda dari yang lain, seragam T O H kan hitam bermotif hijau dengan dominasi hijau. Sedangkan seragam Pemuda Majapahit seperti merah bata dan Ormas LA berwarna biru laut. Jadi biar beda dan lebih mencolok kita pakai kuning,” terang Gus Sasmito.
“Oh ya, Gus kalau seragam Kadiri warnanya apa ya?” tanya Gus Johan.
“Kalau enggak salah putih warna seragam mereka,” jelas Yuda Tuek menimpali pembicaraan.
“Benar sampean Gus Sumarlan sebagai anggota aliansi kelompok kita Ormas Mataraman memang tidak lebih kuat dari kelompok yang lain bahkan bisa di bilang gret paling bawah tentang kekuatan dibanding yang lain, tetapi kita tidak mungkin lantas berpangku tangan saat T O H mengalami musibah seperti ini,” tutur Abah Madun sambil mengupas pisang susu yang dihidangkan dipiring-piring kecil sebagai teman kopi hitam hangat dan rokok serta cerutu.
“Benar itu guru walau kita tak mampu berbuat banyak setidaknya kita bisa menghancurkan sepleton siluman yang tarafnya masih standar agak mengurangi beban para anggota T O H,” kata Gus Sasmito sambil menyulut sebatang rokok produk dari pabrik Kediri.
“Saya dengar Para Pemuda Majapahit malam ini sudah bergerak masuk Guru kebetulan saya baru mampir ke Mojokerto,” timpal Gus Johan sambil menyeruput segelas kopi hitam yang masih panas terlihat dari kepulan uap dari dalam gelas yang mengepul ke atas permukaan seduhan kopi.
“Kalau begitu aku perlu usul dari kalian Bagaimana baiknya kita membantu daerah mana sekiranya kita mampu melawan para siluman antek-antek Adi Yaksa. Sampean Mas Johan yang saya yakin pengetahuan dan keilmuannya setara dengan Gus Jaka di T O H mungkin ada ide,” ucap Abah Madun meminta pendapat dari Gus Johan.
__ADS_1
“Kalau menurut saya Guru sebaiknya kita bantu di desa terdekat yakni Mbanjar Kerep di sana ada Gus Dava keponakan dari Gus Jaka. Kabarnya calon istrinya di culik Adi Yaksa nah kita bantu di sana agar Gus Dava dapat menyelamatkan siapa nama calonya itu ya Sari. Ya Biar Gus Dava dapat menolong Ning Sari,” kata Gus Johan menjelaskan pendapatnya.
“Bagus itu jadi kita dapat menolong T O H secara tepat guna. Kalau menurut pendapat yang lain Bagaimana silakan?” kata Abah Madun menyodorkan pada yang lain agar mengemukakan pendapat lain.
“Kalau saya setuju dengan pendapat Gus Johan itu lebih baik toh di daerah Mbanjar Kerep selain lebih dekat dari sini. Aura musuh di sana tidak terlalu berat rupanya memang berjumlah ribuan karena hal itulah Gus Dava jadi kewalahan,” ucap Gus Sasmito menimpali.
“Tapi apa tidak sebaiknya meninggalkan satu atau dua orang di sini untuk berjaga saat kita pergi agar menjaga daerah Mataraman tetap aman saat kita tinggal,” kata Mbah Rojo.
“Benar katamu Mbah kalau begitu biar aku wa keponakan-keponakanku dari perguruan pencak silat untuk mengkordinir temanya agar menjaga wilayah Mataraman,” ucap Sumarlan.
Setelah Sumarlan memberi pesan lewat wa kepada salah satu keponakannya beberapa sat kemudian ada satu motor memasuki pekarangan Musala dia Andik pemimpin pencak silat di dalam area Mataraman.
“Assalamualaikum,” ucap Andik memberi salam seraya masuk ke dalam Musala lalu ikut duduk bersama yang lain.
“Inggeh Mas Sumarlan bagaimana, apa yang bisa saya bantu bersama teman-teman?” tanya Andik pada Sumarlan.
“Mengenai itu biar Abah Madun yang menjelaskan Dek Andik,” jawab Sumarlan.
“Begini Dek Andik kita hendak membantu para anggota T O H yang sedang berjuang berperang di jalan Allah, karena mereka pun sering membantu kita. Bukanya Gus Jaka salah satu petinggi T O H juga gurumu ya Dek Andik?” tanya Abah Madun.
“Benar Abah,” jawab Andik seraya mengangguk kepala.
__ADS_1
“Nah tugas Dek Andik selama kita pergi kota Kertosono dan Madiun kami serahkan pada pemuda pencak silat. Jaga dengan baik kota sampean ini jangan sampai ada orang kahat yang masuk. Dan satu kalau kita selama sebulan paling lama kami tidak kunjung kembali maka kabarkan pada keluarga-keluarga kami untuk mengirim doa dan selamatan,” ucap Abah Madun menuturkan.
“Siap Abah,” jawab Andik seraya tertunduk hormat namun setelah ia mengangkat pandangannya semua anggota Mataraman sudah tidak ada di tempat. Andik tercengang dan bingung melihat keanehan yang ditimbulkan dari kesaktian-kesaktian seniornya itu dan berjanji dalam hati untuk memegang amanah dengan teguh.