
Saat sore hari menjelang dan senja hampir saja tergelincir di peraduan akhirnya ufuk barat sekiranya jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Keluarga kecil Jaka tampak tengah berjalan santai bergurau di tepian jalan desa Mojokembang hendak kembali menuju ke rumahnya.
Beby Wahyu yang sedang asyik bergelayut di gendongan Jaka terus mengoceh tak karuan terkadang tertawa saat para ibu yang berpapasan dengan mereka selalu menggoda Beby Wahyu sebab tak tahan dengan lucunya tingkah si kecil Wahyu.
Sedangkan sang Mama tercinta Putri hanya tersenyum melihat kelakuan para ibu yang terkadang mencubiti Wahyu saking gemasnya. Dan hanya berjalan santai menemani sang suami berjalan santai sore bersama si kecil Wahyu yang tak pernah bisa tenang sangat aktif.
Sesaat mereka melihat Nyi Norma yang sedang berjalan berpapasan dengan mereka sambil membawa barang belanjaan untuk warung kopinya. Putri langsung menatap wajah Jaka barangkali mata Jaka nakal saat Nyi Nurma Yanti yang sangat besar depan belakang nan semok aduhai itu lewat di depan mereka.
Tapi saat Putri melihat wajah Jaka tampak Jaka seperti mual ingin muntah dengan wajah tiba-tiba bergidik layaknya orang yang melihat sebuah makanan namun orang tersebut memiliki riwayat alergi kepada jenis makanan yang ia lihat.
“Ayah...!!, kenapa begitu tidak boleh begitu ah nanti ketahuan Nyi Nurma sikap Ayah seperti itu kan tidak enak nanti Mama kan sering ketemu Nyi Nurma di Mang Sayur tiap pagi,” celetuk Putri menegur Jaka yang bertingkah aneh ada wanita seksi dan cantik malah seperti orang alergi.
“Bukan begitu Mama, memang sekilas tadi Ayah sempat berkata wah Nyi Nurma, tetapi selang beberapa menit Ayah melihat di beberapa titik wajah Nyi Nurma Tampak seperti beberapa benjolan bernanah dan di sana ada belatung menggerogoti benjolan tersebut makanya Ayah seketika otomatis ingin muntah,” jawab Ayah.
“Masak sih Ayah, bukanya sikap Ayah tadi biar menyenangkan hati Mama. Biar Ayah kelihatan Ayah dan suami yang keren begitu,” kata Putri mencoba menyindir dan menggoda Jaka.
“Sudah deh Mama, mulai-mulai cemburunya kumat,” timpal Jaka menampakkan wajah cemberut.
“Ia, ia Ayah cayang jangan ngambek gitu dong ah. Nanti malam enggak Mama kasih jatah nih ya kalau ngambekkan,” ucap Putri sambil menutup mulutnya sedikit ketawa geli.
“Eh endak Ayah enggak ngambek kok nih Ayah senyum he he. Gawat kalau malam tidak dikasih jatah ini pusing pala Ayah,” ucap Jaka sambil menepuk kening dengan telapak tangannya.
“Halah biasanya juga pas Mama tidur Ayah suka bergerilya kan tangannya Ayah. Mama tahu tapi sengaja Mama biarkan mama diam saja lah wong mengantuk,” ucap Putri.
__ADS_1
“Bukan Ma itu Wahyu kali Ma mintak mimik cucu he he,” Jawab Jaka mencoba mengelak.
“Masak anakmu tangannya sampai ke dalam celana pendek Mama,” kata Putri.
“Loh Ayah Wahyu mana kok tidak ada?,” tanya Putri.
“Loh-loh tadi di gendongan Ayah loh Ma kok hilang ya. Nih anak kok suka hilang tiba-tiba begini sekarang,” kata Jaka bingung mencari keberadaan Beby Wahyu yang tiba-tiba hilang dari gendongannya.
“Cari Ayah ini sudah hampir magrib loh Yah!,” teriak Putri.
Aaaa.....!! Aa..., a, a,
Di arah kejauhan di belakang Putri dan Jaka berjalan kira-kira 50 meteran terdengar jeritan seorang wanita.
“Loh Yah itu anak kita sedang Apa dengan Nyi Nurma Yah ayo cepat ke sana?,” teriak Putri berlari menuju ke arah Nyi Nurma.
“Wahyu kamu ngapain Nak waduh?,” kata Putri melihat Beby wahyu tengah berdiri sambil mengencingi daster bagian bawah Nyi Nurma dan langsung mengambilnya menentengnya agak jauh dari Nyi Nurma sambil mengusapi bekas air kencing di celana pendek Beby Wahyu.
“Ya Allah maaf ya Nyi jangan marah Wahyu hanya anak kecil. Mohon maafkan anak saya,” pinta Jaka namun tetap dengan wajah tertunduk takut mual kembali melihat wajah Nyi Nurma. Padahal apabila lelaki lain yang melihat wajah Nyi Nurma sudah barang tentu langsung jatuh hati apa lagi kalau melihat iya tersenyum.
Putri langsung mengganti celana pendek Beby Wahyu yang selalu iya bawa di tas kecil yang iya selempangkan di pundak berisi botol penuh susu, popok dan celana pendek untuk berjaga-jaga apabila Wahyu mengompol.
Putri sempat melirik Jaka mencari tahu apakah sang suami pandangannya jelalatan seperti lelaki lain saat melihat Nyi Nurma atau tidak. Saat Putri tahu pandangan Jaka hanya tertuju pada tanah dan sama sekali tak melihat wajah Nyi Nurma. Hati Putri merasa lega dan senyumnya terkembang bangga melihat kelakuan suaminya.
__ADS_1
Lekas Putri menggendong Wahyu dan menghampiri Jaka untuk meminta maaf pada Nyi Nurma, karena ulah Beby Wahyu mengencingi bagian bawah daster Nyi Nurma.
“Maaf Ya Nyi, maafkan anak saya. Dia masih kecil jadi tolong dimaklumi ya Nyi,” jelas Putri meminta maaf dengan nada merendah.
“Kalian ini bagaimana?, orang tua macam apa kalian ini kalau tidak becus mendidik anak jangan punya anak dong merepotkan orang saja,” teriak Nyi Nurma begitu marahnya.
Dari belakang Nyi Nurma ternyata sudah berdiri seorang kiai tua memakai tongkat jalan. Yakni Haji Kasturi yang tiba-tiba datang dan ada begitu saja. Sontak Beby wahyu merengek meminta gendong pada sang kiai yang sudah seperti kakeknya sendiri itu.
“Kakek..., Ka-kek,” dengan agak terbata-bata mengucap dan tangan kecilnya yang meraih sorban Haji Kasturi meminta gendong Wahyu terus meronta meminta gendong pada Haji Kasturi.
“Assalamualaikum Jaka, Putri, ada apa ini?,” tanya Haji Kasturi yang sempat kaget saat melihat Nyi Nurma seakan ada satu hal yang ganjil pada Nyi Nurma.
“Nyi tolong dimaafkan cucuku masih anak-anak,” ujar Haji Kasturi.
Namun bukanya menjawab Nyi Nurma malah selonong boy pergi berlalu seperti ketakutan dan khawatir akan sesuatu hal yang terbongkar.
“Lah malah kabur kenapa pergi masak wajah saya menyeramkan apa ya Wahyu,” kata Haji Kasturi sambil menggendong dan menggelitiki Wahyu dan Wahyu hanya bisa terus tertawa.
“Eyang Kasturi kok tiba-tiba datang kesini enggak ke rumah saja?,” ucap Jaka sambil meraih tangan Haji Kasturi meminta salim.
Begitu jua Putri melakukan hal yang sama pada Haji Kasturi, “Eh Eyang tadi ada yang aneh loh masak suamiku ini pas melihat Nyi Nurma jadi mual dan ingin muntah. Terus ini si Wahyu enggak biasanya nakal begini sampai kencing di dasternya Nyi Nurma,” kata Putri mencoba menguraikan apa yang baru saja terjadi.
“Ya tidak aneh ya Wahyu, Wahyukan cucu Eyang Haji Kasturi ya Nak. Dia tahu mana orang yang tidak baik dan yang baik. Tanya suamimu dia tahu titik dimana susuk dipasang di muka Nyi Nurma. Itu sebabnya yang ia lihat itu borok bernanah bukan kecantikan. Dan Wahyu pun tahu kalau Nyi Nurma sedang merapal ajian buat memikat suamimu Ndok Putri jadi kencinglah Wahyu untuk membuyarkan konsentrasi rapalan ajian pelet Nyi Nurma,” kata Haji Kasturi menjelaskan.
__ADS_1
“Ya sudah kita lanjut mengobrol di rumah saja sudah mau magrib ini,” kata Jaka mengajak Putri dan Haji Kasturi yang tengah menggendong Beby Wahyu untuk pulang.