T O H

T O H
Bayi Bajang


__ADS_3

Putri masih terus melingkarkan tangannya di pinggang Jaka memeluknya erat seakan tak ingin di lepaskan rupanya malam ini ia tak ingin di tinggal oleh Jaka walaupun hanya sedetik saja.


Jakapun seakan pasrah dalam pelukan Putri, diam tak berkutik dan hanya bisa memandangi wajah Putri yang sayu seakan kecantikannya begitu alami terpancar merekah saat terlelap.


“Ya Allah Put, entah sampai kapan aku bisa menahan hasrat ku. Agar iman ini tidak hilang dari tubuhku, kalau tingkahmu selalu seperti ini setiap malam begitu manja rasanya aku tak kuat lagi bila setiap malam kau suruh untuk memelukmu tertidur bersama,” ucap Jaka lirih seraya membenahi poni depan rambut Putri yang berantakan.


Memang benar mata lahiriah Jaka tertuju pada keindahan ciptaan yang Kuasa yang disebut kaum hawa yang terpampang jelas sedang berbaring dengan ya satu selimut bersama yakni sesosok Putri mahluk insani yang begitu menakjubkan dari bentuk tubuh dan rupa.


Namun mata batiniah Jaka tetap tertuju luas memandang seluruh ruangan di dalam dan di luar rumah Pak Haji Sugian. Seakan mata batiniah Jaka sebuah radar pemantau apabila ada sesuatu hal kejanggalan tentu ia bisa langsung mengatasinya.


Pikirannya memang tertuju pada wajah manis dan sendu di hadapannya yakni wajah ayu Putri namun hatinya mengawasi sekitar rumah sang Pakde yakni Pak Haji Sugian.


Mata batin Jaka menangkap sebuah kejanggalan yang muncul di teras depan. Sebuah sosok bayi kecil telanjang merangkak perlahan di lantai teras menuju pintu utama rumah Pak Haji Sugian.


Bayi itu nampak tak wajar mana ada di waktu seperti ini hampir subuh ada bayi sendirian merangkak di luar rumah.


Penampakan sang bayi sangat mengerikan layaknya bayi baru dilahirkan tubuhnya tanpa busana sehelaipun dan seakan seluruh bagian tubuhnya di lumuri darah.


Matanya melotot seperti hendak terjatuh. Mulutnya yang terus tersenyum menyeringai menandakan bahwa ia begitu lapar. Apa lagi taring dari sela-sela tatanan gigi yang semrawut panjang keluar hingga dagu. Sosok itu terus merangkak menuju pintu rumah lalu menembusnya masuk kedalam.


Jaka khawatir Budenya yakni Umi Wati dan Aisyah keponakannya celaka oleh mahluk bayi setan tersebut. Namun saat ia hendak bangun Putri malah memeluknya dengan erat seraya berkata, “Mau kemana Jaka...,” namun tetap dengan mata terpejam.


“Hadeh..., ini anak sudah tidur apa belum sih, itu ada setan masuk rumah gimana, tidur ya Putri.., bobok ya Dek....,” kata Jaka sambil menepuk-nepuk punggung Putri dan menggosok-gosoknya perlahan layaknya menidurkan balita.


Jaka terus memutar otak mencari cara bagaimana caranya agar bisa menghadang hantu bayi namun ia tetap berada di sisi Putri tetap berbaring dengan pelukan Putri. Sedangkan yang bayi hantu terus merangkak kearah kamar Umi Wati dengan wajah seakan hendak menghampiri hidangan makan malam begitu lapar.


“Assalamualaikum Jaka....,” terdengar suara tak kasat mata yakni ada suara namun tanpa rupa dan wujud dari sumber suara.


Jaka lantas memejamkan mata sejenak ia mendapati sang guru Haji Kasturi sedang bersila di gubuknya seraya terus mengucap salam dan memanggil namanya dengan kontak batin.


“Waallaikumsalam, guru...,” jawab Jaka dalam memejamkan mata dan dengan suara batin.


“Apa kau lupa dengan pengetahuan Raga Sukma yang kuberikan...?,” kata Haji Kasturi masih dalam koridor percakapan kontak batin.


“Astagfirullah ia maaf guru murid lupa akan pengetahuan tersebut, murid akan melakukannya,” kata Jaka.


Raga Sukma (Ilmu atau pengetahuan melepaskan ruh dari jasad dalam keadaan sadar tentu dengan doa-doa tertentu)


Lantas Jaka memusatkan hati, pikiran dan Qolbu pada satu zat yang kekal, Zat yang satu Maha dari segala Maha yakni Allah SWT. Mulai melantunkan doa-doa sambil terus terpejam. Seketika ruh Jaka terpisah dari badan mulai berdiri dan meninggalkan pergi badanya yang tengah dalam pelukan Putri.

__ADS_1


Ruh Jaka mulai berjalan menuju pintu kamar lalu menghilang lenyap seketika, sedangkan bayi setan sudah sampai di samping tempat tidur Umi Wati hendak meraih kaki Aisyah yang tengah tertidur di samping Umi Wati.


Dengan jari-jari tangan yang ditumbuhi kuku panjang dan tajam bayi setan mulai meraba kaki Aisyah perlahan mulai mencengkeramnya. Namun di saat itu pula ruh Jaka segera memegang kaki si bayi setan.


“Siapa kau, hei..., hey setan...?,” celetuk Jaka.


“Aku adalah bayi bajang yang dikirim untuk memakan keluarga ini,” jawab si bayi setan yang mengaku bernama bayi bajang.


“Lepaskan kaki keponakanku atau kau akan terbakar,” kata Jaka mengancam bayi bajang dengan tangan Jaka yang mulai mengeluarkan bara api layaknya lahar gunung Merapi.


“Baik-baik aku akan lepaskan, jangan bakar aku,” kata bayi bajang.


Dengan cepat Jaka menariknya keluar rumah seketika dengan ajian sepi angin miliknya lenyap dari dalam kamar Umi Wati menuju pekarangan kosong belakang rumah Pak Haji Sugian.


“Katakan siapa yang mengirimmu...?,” kata Jaka masih dengan memegangi kaki bayi bajang kali ini dengan posisi bayi bajang di gantung terbalik di genggamannya.


Bayi bajang lantas meronta dan menggigit lengan Jaka sehingga terlepas lalu berdiri di hadapan Jaka serasa meraung-raung layaknya harimau lapar.


“Kalau kau bisa mengalahkanku akan ku beritahu siapa yang mengirimmu,” kata bayi bajang.


“Baik dengan izin Allah aku akan mengalahkanmu,” jawab Jaka tanpa pikir panjang mengeluarkan api membara dari tangannya melontarkan pas kearah bayi bajang.


“Baik terpaksa aku akan memusnahkanmu,” kata Jaka seraya mengacungkan tangan ke atas lalu sebuah sinar gemerlap muncul di sela-sela genggaman tangan Jaka membentuk sebuah busur cahaya.


Busur tersebut di arahkan pada bayi bajang yang masih terus menari. Tali busur direntangkan seketika muncullah anak panah berbentuk Cakra cahaya biru kekuningan.


Slap.....


Panah Cakra terlontar dari busurnya, bayi bajang yang melihat panah tersebut menuju ke arahnya berlari cepat menghindari kejaran panah, “Sejauh mana kau berlari hey setan pasti akan tertancap oleh panahku, karena panahku adalah bentuk dari doa dan sholawat,” celetuk Jaka.


Benar Juga walau sosok bayi bajang telah hilang namun teriakannya membahana seakan kesakitan tertancap panah Cakra dari Jaka.


Arhhh..... duar... duar....


Teriak bayi bajang dibarengi ledakan layaknya kembang api diatas rumah Pak Haji Sugian.


“Allhamdulillah akhirnya musnah juga...,” kata Jaka yang masih dalam wujud ruh lalu hilang kembali menuju kamar tamu lantai dua untuk kembali pada tubuhnya yang masih dalam pelukan Putri.


Di dalam gardu tersisa tiga orang yang masih terjaga menunggu datangnya sang Pulung Wahyu keprabuan yakni Pak Haji Sugian, Pak Ari dan Nanah Yono.

__ADS_1


“Mbah apa itu seperti kembang api meletus diatas rumah Pak Haji Sugian,” celetuk Pak RT Ari menunjuk arah atap rumah Pak Haji Sugian.


“Allahuakbar ia Mbah itu diatas rumah saya aku tak pulang dulu,” kata Pak Haji Sugian hendak pamit pulang namun di cegah oleh Mbah Yono.


“Jangan Pulang dulu Pak Haji, kalau bapak pulang bahaya rupanya serangan tertuju pada rumah bapak,” kata Mbah Yono.


“Tapi kalau saya tidak pulang saya takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada keluarga saya Mbah,” kata Pak Haji Sugian.


“Apa Pak Haji tidak ingat bahwa Nak Jaka sedang menginap di rumah Pak Haji?,” kata Mbah Yono.


“Maksud Mbah....?,” tanya Pak Haji Sugian tak mengerti.


“Saya sudah mendengar simpang siur kabar burung dari mulut ke mulut warga kalaulah keponakan mu Jaka anak lelaki Haji Wachid itu tidak kalah sakti dari Abahnya, dan hari ini aku menyaksikannya sendiri dan itu benar,” kata Mbah Yono.


“Maksud Mbah bagaimana aku tidak mengerti...?,” kata Pak Haji Sugian.


“Kalaulah tidak ada Jaka di dalam rumah mu tentu malam ini adalah malam terakhir bagi istrimu dan keponakanmu menghela nafas terakhir. Beruntung Pak Haji memiliki keponakan seperti Jaka,” kata Mbah Yono.


“Terus bagaimana kita seharusnya Mbah apa kita lanjut melean dirumah saya saja...?,” kata Pak Haji Sugian.


“Jangan kita berjaga di sini saja, biar yang di rumah kita serahkan pada Nak Jaka,” kata Mbah Yono.


Di dalam kamar tamu Jaka sudah kembali pada tubuhnya matanya kembali terbuka perlahan, “Allhamdulillah...,” kata Jaka bersyukur atas nikmat pengetahuan yang dititipkan Allah padanya melalui pengajaran Sang Guru linuwih (sakti mandraguna) Haji Kasturi.


“Allhamdulillah...,” ucap Putri yang telah membuka mata seraya mengecup kening Jaka namun tetap memeluk erat tubuh Jaka.


“Apa-apa..., Put yang kamu bilang barusan, apa kamu tahu apa yang aku lakukan barusan?,” Kata Jaka merasa heran kenapa Putri masih terjaga dan seakan tahu apa yang ia lakukan.


“Sudah ah hayuk bobok sayangku....,” kata Putri seraya tersenyum namun kembali memejamkan mata dalam pelukan Jaka.


“Loh halah aku punya cewek yang aneh ciloko Iki,” gumam Jaka dalam hati.


"Yang aku tahu aku sangat senang bercampur bangga memiliki kekasih yang sangat sakti sepertimu," ucap Putri namun tetap terpejam seraya menampilkan senyum tipis tersungging di bibir merahnya.


"heeee....., apa..., kamu tahu Put...," teriak Jaka kaget namun Putri masih saja memejamkan enggan membuka mata.


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2