T O H

T O H
Jaga Dirimu Dan Anak Kita


__ADS_3

Jaka tengah duduk diatas sofa yang berjajar rapi di ruang tamu rumahnya. Dalam tangannya ada sebuah foto tua berbingkai sangat klasik di lapisi kaca bening.


Di balik kaca ada sebuah foto kakek tua namun nampak sangat santun tergambar dari senyumnya. Nampak Jaka berkali-kali mengusap foto tua itu seakan ia tengah menuangkan bergelas-gelas rindu yang telah lama tak terkuak hingga meluber meneteskan benih air mata di pipinya.


Tangan lentik dari sang istri Putri secara sigap mengusap air mata Jaka yang jatuh dari pipinya.


Sekilas Putri menatap raut wajah sang suami yang tengah di atas puncak kerinduan pada sosok di balik foto usang. Putri nampak asing dengan foto di dalam bingkai indah berukir dari kayu jati.


“Foto siapa Mas?, kayaknya seseorang dalam foto ini sangat Mas kenal dan sangat dekat dengan Mas. Sehingga hanya dengan memandangnya saja membuat sang jagoan kota Jombang meneteskan rindu dengan butiran air yang jatuh dari matanya.,” ucap Putri mengambil bingkai berisi foto kakek tua dari tangan Jaka.


“Namanya Kakek Buyut Dalang Sakri Dik, dia seorang yang Arif dan penyayang, dia seorang yang memegang teguh syariat Allah, dialah kakek dari kakeknya bapak, dialah ayah dari kakek Kasnam bapaknya bapak. Dialah sang mahaguru pertama Mas. Yang mengajarkan seni-seni luhur dan kearifan lokal tanah Jawa pada Mas. Bahkan dari beliau aku mendapatkan teman ghoib yang sangat sepesial yakni Jatayu,” ucap Jaka menerangkan.


“Oh jadi beliau yang sering di ceritakan Kak Vivi, pantas cucunya ganteng seperti mu sayang. Kakek buyutnya saja sudah tua tapi masih tampak tampan,” ucap Putri seraya membelai pipi Jaka


Kali ini Jaka tidak merespons seperti biasanya bila di rayu Putri pasti langsung mengajak masuk kamar. Kali ini dia hanya mengembangkan senyum kecil di bibirnya saat Putri mulai merayunya.


“Kenapa Mas?, Putri kok tidak melihat sosok suami Putri yang seperti biasanya. Yang riang, ceria dan berwajah cerah. Kenapa Putri kali ini melihatmu seakan-akan kau hendak pergi berperang dan akan kembali untuk waktu yang lama,” ucap Putri merasa takut akan Jaka bila iya akan pergi berperang kembali.


“Sayang kali ini aku sedang dilanda rindu yang teramat berat kepada sosok yang selalu menggandengku dan Kak Vivi saat kita kecil dulu. Seorang Kakek Buyut yang sangat menyayangi kami dan selalu berkata ia tanpa berkata tidak saat kami meminta untuk di belikan es krim,” ucap Jaka yang tidak menjawab pertanyaan Putri malah menjelaskan tentang kenangan ya bersama Kakek Buyut Dalang Sakri.


Putri semakin ketakutan dan khawatir akan sikap Jaka yang sangat aneh malam ini bahkan iya belum mengatakan aku mencintaimu Dik.


Seperti malam-malam sebelumnya yang selalu Jaka katakan untuk mengantar Putri terlelap. Kali ini Putri begitu cemas tidak biasanya Jaka bersikap seperti demikian.


“Ada apa Mas?, Sepertinya Mas Jaka menyembunyikan sesuatu hal dari Adik,” ucap Putri yang tengah duduk di samping Jaka seraya memeluk tubuh Jaka dari samping penuh kekhawatiran kali ini bergantian dari mata Putri yang meneteskan air bening jatuh basahi pipi.


“Dik setiap malam aku takut untuk meninggalkan mu saat ada panggilan berperang, tetapi apa daya kalau bukan Mas siapa lagi yang melindungi desa ini. Setiap aku keluar dari rumah meninggalkanmu dan calon anak kita hatiku serasa patah, karena tidak ada jaminan aku pulang selamat. Tetapi aku tahu Allah tidak tidur Dia akan menjaga setiap jiwa yang berperang menegakkan agama dan keyakinan akan Nya. Jadi Dik istriku sayang berdoalah setiap malam untuk keselamatan suamimu ini,” ucap Jaka kembali menetes air mata kali ini jatuh di kening Putri.


“Mas Jaka jangan pergi...?!, aku mohon untuk malam ini jangan pergi ya. Untuk malam ini firasat Adik tidak enak aku ingin bobok dalam pelukanmu Mas malam ini,” ucap Putri masih dengan pelukan eratnya pada Jaka.


“Bukanya aku tak mau tidur dalam pelukan hangatmu Dik, bukanya aku tak mau menemanimu Putri tapi malam ini seakan datang sosok lawan yang begitu tangguh sehingga belum ia muncul aku sudah dapat merasakannya. Akhirnya aku menemui lawan yang seimbang,” ucap Jaka seraya berdiri perlahan melepaskan pelukan Putri namun seakan tak ingin di tinggal Putri menghamburkan pelukannya kembali mendekap tubuh Jaka dari punggungnya.

__ADS_1


“Jangan Pergi Rajaku, aku begitu takut kehilangan,” ucap Putri terus terisak dalam tangisan yang terus mencucurkan air mata jatuh dari mata indahnya.


Secara bersamaan dengan pelukan Putri dari belakang pada tubuh Jaka. Perlahan pula jaket kebesaran T O H muncul per helai seakan merajut sendiri menutupi tubuh Jaka. Sebagai pertanda bahwa Jaka sudah siap untuk pergi berperang. Putri yang melihat benang-benang menyatu membentuk pola-pola yang merajut menjadi Jaket di tubuh Jaka semakin melingkarkan pelukannya erat.


“Jangan Pergi...!!,” ucap Putri.


“Assallamualaikum sayang, jaga dirimu dan bayi kita untukku. Bila sampai subuh aku tidak ada di sampingmu maka pergilah ke Kediri karena saat itu mungkin aku sudah berada di sisi Allah, karena malam ini segala kemungkinan dapat terjadi bawelku maka berdoalah,” ucap Jaka yang tiba-tiba hilang dari Pelukan Putri.


“Tidak...!, Jaka jangan pergi, aku mohon jangan pergi malam ini,” ucap Putri yang tengah terduduk bersimpuh di lantai ruang tamu sambil terus terisak menangisi Jaka.


***


Duar...


Kratak... Kratak...


Seperti suara kilat yang menyambar sebuah pohon hingga tumbang. Seperti cahaya petir yang di tampakkan berselang setelah sambarannya. Seperti itulah sosok dari bangsa hitam kali ini datang begitu cepat begitu kuat dan begitu beringas.


“Akulah Aji sang malaikat mautnya Jaka. Hai Jaka keluar kau jangan kau bersembunyi di bawah ketiak istrimu. Baik kalau kau tidak keluar akan kubakar beberapa rumah warga dengan api yang aku miliki. Kau bisa merubah diri menjadi model api aku pun bisa lihatlah,” teriak Aji seraya merubah dirinya penuh dengan api malah lebih besar dari api yang ditimbulkan oleh Jaka dalam mode api amarah dan lebih panas.


Slap...


Duar...


Bruk...


Terbakarlah beberapa rumah warga akibat pukulan-pukulan api yang di hempaskan dari tangan Aji.


Seakan api itu berjiwa dan dapat berkobar sendiri terus melahap apapun yang ada termasuk penghuni rumah yang tengah terlelap saat rumahnya di bakar Aji sehingga bau daging bakar tercium menyengat.


“Hem seperti bau ayam panggang ya sedap, hahaha...,” ucap Aji tertawa menyeringai saat hidungnya mengendus bau daging dari tubuh warga yang hangus terbakar.

__ADS_1


“Jaka keluar kau dari persembunyianmu jangan jadi pengecut kau hadapi aku Aji sang jawara dari golongan hitam,” teriak Aji terus membakar rumah warga beserta isi-isinya.


“Aku di sini Aji hentikan perbuatanmu itu mari kita mulai pertandingan kita dahulu yang sempat tertunda beberapa tahun yang lalu,” ucap Jaka yang telah berdiri di pucuk atab salah satu rumah warga pas berhadapan dengan Aji dan telah merubah diri menjadi mode api amarah.


“Oh kau sudah datang rupanya kau masih ingat ya Jaka beberapa waktu yang lalu kalau saja si kakek tua Kasturi tidak datang menolongmu tentu aku sudah menghabisi mu kala itu,” ucap Aji mengingatkan kekalahan Jaka saat tanding lawan Aji beberapa waktu yang lalu dan itu kekalahan pertama Jaka.


“Bersiaplah kau hai dukun hitam,” teriak Jaka terbang menukik menuju Aji dan Aji pun menyambutnya dengan loncatan.


Duar....


***


Hay para pembaca terimakasih sudah selalu mendukung dengan like dan coment kalian


semoga kalian selalu di beri kelancaran Rizqi dan kesehatan selalu


kali ini aku bawa novel baru romantis


Mohon dukungannya ya


vote+like+comen


agar Dalangnya semangat berkarya terus


mampir ya novel terbaru ku


...Rudi & Rindu...



Terimakasih 😘😍🌹😊

__ADS_1


__ADS_2