T O H

T O H
Grub Pemuda Majapahit


__ADS_3

Mendung sedang bergulung-gulung pekat di atas langit kota Jombang tepatnya di atas desa Mojokembang. Sebuah desa area kecamatan Mojowarno sebelah timur kota.


Mendung hitam tertambat tak mau pergi bahkan terus bertambah sesekali tampak menjulurkan lidah-lidah petir meraung hingga ke bawah langit. Tak jarang petir menyambar apa pun yang ia lintasi hingga menapak tanah.


Hujan semakin deras tertumpah dari awan hitam yang terus berkumpul dari segala penjuru kota menjadi satu. Di tambah angin berembus tak beraturan sekiranya bolehlah saat ini, hari ini, detik ini kota Jombang bisa di sebut sebagai kota siaga satu bencana badai.


Dari luar kota Jombang yakni dari kota-kota sekitarnya yang tampak aman-aman saja tak terjadi satu peristiwa aneh apa pun. Karena itu penduduk kota lain sangat heran kenapa hanya kota Jombang yang layaknya kota mati seakan ada kabut gelap memagari pinggiran kota tiada yang berani melintas untuk melewatinya.


Di daerah kota Mojokerto tepatnya di kecamatan Trowulan sebuah kecamatan yang tepat berbatasan langsung dengan sebuah kecamatan akhir wilayah Jombang yakni Mojoagung. Beberapa orang dari pemuka agama dan kesatria penjaga kota setempat layaknya T O H di kota Jombang tengah mengawasi.


Di sebuah perbatasan gapura kota perbatasan selamat datang di kota Jombang dan jua bertuliskan selamat jalan dari kota Mojokerto. Mereka berlima tampak berdiskusi di tengah-tengah jalan raya yang lengang.


Karena memang sudah tidak ada lagi kendaraan satu pun yang berani berkendara untuk memasuki kota Jombang walau hanya untuk melintas bertujuan ke kota selanjutnya kota Madiun di sebelah barat kota Jombang.


Dikarenakan desas-desus atau kabar burung yang sedang santer dibicarakan para netizen. Bahwa di dalam kota Jombang tengah terjadi huru-hara dan pembantaian masal warganya oleh para setan.


Ustaz Rois selaku pemimpin umum organisasi Pemuda Mojopahit dimana organisasi ini sama fungsi dan tujuan di bentuknya dengan T O H. Melindungi dan mengayomi masyarakat kota dari marabahaya kejahatan setan dan siluman. Iya tengah berdiri tegak menatap pekat tembok sekat gaib perbatasan.


Sebuah pagar gaib terbentuk dari kabut hitam pekat bergerak perlahan mengitari kota namun begitu banyak bersap-sap ke atas layaknya sebuah tembok besar yang berdiri kokoh.


“Mas Ustaz bagaimana, apakah kita harus ikut turun membantu mereka para T O H seperti saat mereka membantu kita dalam kejadian yang sama seperti ini dua tahun yang lalu?,” ucap Rusli salah satu anggota ring satu dari organisasi Pemuda Mojopahit.

__ADS_1


“Harus Dek Rusli selain sebagai sesama muslim dan saudara seiman. Kita juga pernah bahu membahu berperang melawan ribuan raksasa atau Buto di perbukitan Pacet bersama mereka. Kita banyak berhutang budi dengan organisasi T O H,” ujar Ustaz Rois menuturkan.


“Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu mari kita terobos pagar gaib ini,” celetuk Gus Andrian anggota ring satu dari Pemuda Mojopahit yang berdiri di samping Rusli di belakang Rois.


“Benar itu Ketua aku sudah tak sabar, rasanya tangan ini gatal. Sudah lama aku tak lagi bertarung melawan para dedemit,” sela Ruslianto kembaran dari Rusli yang sangat bersemangat.


“Bagaimana tetua tertinggi kami tengah menunggu keputusan anda sebagai tetua tertinggi kami Abah?,” tanya Rois kepada seorang tua paruh baya yang tengah duduk bersila sambil menikmati cerutu khas buah tangan sendiri alias gelinting sendiri.


“Sabar dulu kita menunggu bala bantuan dari pasukan gaib kota kita yang berpuluh-puluh tahun menjaga kota ini dari jaman kerajaan Mojopahit dulu, hehehe...,” tawa kekeh Abah Rusman ayah dari si kembar Rusli dan Ruslianto nyaring terdengar sementara dari mulutnya kembali membumbung asap cerutu mengepul ke udara.


Seketika belum jua Abah Rusman berhenti tertawa ribuan jumlahnya berjajar panjang lengkap dengan baju perang dan senjatanya. Pasukan Jin Islam dari era jaman kerajaan dahulu muncul seketika. Lalu perlahan sang panglima jin tertinggi menghampiri Abah Rusman.


“Begini Panglima Manggala kau tahu adik sepeguruanku Adi Haji Kasturi itu kan yang konyol itu. Iya dan para santrinya tengah berjuang melawan para jin kafir di kota Jombang. Kini mereka tengah dalam keadaan terdesak hampir kalah aku ingin kau dan aku dan para santriku dan para pasukanmu masuk kota Jombang membantu mereka,” ujar Abah Rusman.


Lalu sang panglima jin Islam tampak memejamkan mata sejenak mencoba menembus dengan penerawangan gaibnya menuju ke dalam kota.


“Hem rupanya yang tengah mereka lawan adalah kelompok dari jin raja Adi Yaksa dan para antek-anteknya pantas saja sampai begitu parah dampak yang ditimbulkan. Tapi tenang Abah Adi Yaksa masih di bawah kami kapasitasnya tentu kami dapat dengan mudah melawan mereka. Tetapi yang kami khawatirkan adalah sang kakaknya yang terlalu tangguh bagi kami Kebo Marcuet,” ucap Panglima Manggala.


“Tenang kawanku aku setara dengan petapa Effendi yang bertarung di atas awan sana, aku akan ke sana membantunya dan memberi tahu Kebo Marcuet yang notabenenya adalah salah satu santri dari kawanku dahulu yang sudah berpulang ke rahmatullah Haji Hasyim Ashari. Agar Si Kebo Marcuet dapat di redam dan kembali menuju pertapaannya,” terang Abah Rusman.


Kletek..., keletak..., tak..., tak...,

__ADS_1


Suara langkah kaki beralaskan terompah mendarat pas di depan Panglima Manggala di depan Abah Rusman, “Adi Haji Rusman kamu ini kebiasaan kalau hendak berolahraga tak pernah mengajak kakangmu ini,” ucap Abah Rusdi yang tiba-tiba datang dari puncak Pacet.


“Katanya Kakang sedang sibuk ya jadi tidak aku ajak loh,” jawab Abah Rusman.


“Halah alasan saja kamu ini Dik, mau senang-senang sendirian saja,” celetuk Abah Rusdi menggoda Adik sepeguruanya Abah Rusman.


Dahulu mereka berlima adalah satu perguruan, Abah Rusdi dan Abah Rusman dari Mojokerto, Abah Kasturi dari Jombang, Abah Firman dari kediri serta yang paling muda Abah Madun dari Madiun. Mereka satu guru satu ilmu dari sang kiai sepuh yang tak pernah mau disebut namanya yang tengah bertapa di bukit Tunggorono dan belum pernah keluar.


Sang petapa serta kiai tersakti abad ini. Mungkin kalau ia datang membantu para santrinya dengan datang saja semua masalah sudahlah tidak mungkin tak terselesaikan. Karena kebesaran nama dan pengaruhnya di Jawa Timur. Tetapi sekarang beliau tengah bertapa untuk mencapai moksa.


“Baiklah para guru kami memohon diri untuk masuk menuju kota duluan,” ucap Panglima Manggala memohon diri lalu seketika ia dan ratusan pasukannya seakan hilang menembus pagar gaib kota Jombang.


“Ya baiklah kalau begitu kami pun memohon diri untuk memasuki kota Jombang guru. Sudah lama juga kita tak berolahraga rasanya pegal-pegal semua badan ini, ayo teman-teman seperjuangan kita bersenang-senang hari ini,” ucap Rosi seraya memutar-mutar pinggangnya ke kanan dan ke kiri lalu berjalan santai melewati pagar gaib di ikuti Rusli dan Ruslianto dua saudara kembar anak dari Abah Rusman.


“Ya, ya, ya mari pergi,” celetuk Andrian mengikuti ketiga temannya.


“Mari Kakang kita juga pergi,” ucap Abah Rusman.


“Mari Dek Rusman,” tutur Abah Rusdi.


Mereka berdua pun mengikuti yang lainnya memasuki pagar gaib menuju ke dalam kota Jombang.

__ADS_1


__ADS_2