
Kamar Putri
“Sana-sana, enggak mau, hust.., hust.., hehehe...,” celetuk Putri menggoda Jaka yang hendak naik ke atas kasur.
“Ini anak kenapa ya?, Apa kesambet atau gimana sih, Putri sayang. Kamu tidak apa-apa kan?,” ucap Jaka kebingungan melihat tingkah Putri yang tengah menjailinya.
“Bodo, tidak boleh dekat-dekat, kasih jarak ah, hehehe,” kata Putri tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan terus menggoda Jaka seraya menaruh guling di sampingnya berbaring.
“Terus aku bobok dimana loh, aku ini baru pulang loh Dek sehabis perang dipijit gitu, malah enggak boleh dekat-dekat, malah di kasih pembatas guling lagi,” kata Jaka merengek.
“Ayolah peluk dikit saja, ya, ya,” ucap Jaka memohon.
“Kangen nih Ayah,” kata Jaka sambil kedip-kedipkan mata merayu.
“Ihhh..., Jijik aku loh, Ayah, Ayah gombal,” ucap Putri terus mengerjai Jaka.
“Ya sudah aku tidur di luar, ia, ia aku keluar,” ucap Jaka ngeloyor pergi keluar kamar.
Namun belum saja berjalan mendekati pintu kamar Putri yang sedari tadi berbaring di atas kasur terus berlari menghampiri Jaka memeluknya dari belakang dan membenamkan wajah sendunya di punggung Jaka yang kekar.
“Ngambek, ngambek, lucunya suamiku kalau ngambek tambah cakep deh,” kata Putri sambil terus memeluk Jaka dari belakang.
“Oh jadi tadi marahnya pura-pura, ceritanya kerjain aku ini,” ucap Jaka menampakkan wajah berpikir untuk membalas kejahilan Putri.
“Hehehe..., Ia, maaf ya Mas Yayang Jaka yang cakep, ganteng, kuat, emuuach,” ucap Putri seraya mengecup pipi Jaka.
“Oh awas ya, ini balasanku nih rasakan,” kata Jaka yang tiba-tiba menggendong Putri dari Sepang.
“Eh, eh mau apa kamu Jaka, loh, loh,” ucap Putri kaget karena di gendong Jaka secara tiba-tiba.
“Sudah kamu diam saja tinggal nikmati saja apa yang akan terjadi pokoknya enak, hehehe,” ucap Jaka tertawa dengan muka pengen.
__ADS_1
“Enggak mau, enggak mau,” kata Putri sambil meronta-ronta.
“Halah biasanya saja kami yang minta duluan sekarang enggak mau, bodo pokoknya malam ini aku tancap gas, hahay...,” ucap Jaka membaringkan tubuh Putri di atas kasur.
“Jangan-jangan, jangan nodai aku, aku masih SMP, hehehe...,” kata Putri meronta-ronta di atas kasur sambil memperagakan gaya layaknya di sinetron televisi sebuah adegan pemeran wanita yang di paksa melayani nafsu bejat penjahatnya.
“Halah ini-ini, kebanyakan menonton sinetron Indonesia begini jadi drama,” ucap Jaka yang mengernyitkan dahi melihat Putri yang begitu jail dan manja malam ini.
“hahaha..., ia, ia, sini sayangku, suamiku, peyuk sini,” ucap Putri mengulurkan kedua tangan agar dipeluk Jaka.
“Nah begitukan jadi semangat aku, asyik buka baju dulu kita,” ucap Jaka seraya membuka jaket T O H dan kaos yang ia pakai.
Kali ini Putri tidak lagi menggoda Jaka. Kali ini Putri hanya terdiam berbaring di samping Jaka yang tengah membuka pakaiannya. Sambil memejamkan mata Putri pasrah dengan apa yang akan dilakukan Jaka padanya.
Saat memejamkan mata Putri nampak bingung dalam hatinya berkata kok lama Jaka tidak menyentuh tubuhnya sama sekali. Kemana Jaka ini kok tidak ada suara, gerutu Sari perlahan dalam hati.
Saat Sari membuka mata dan melihat ke arah samping dari tempatnya berbaring, “Ya Allah Jaka...!,” teriak Putri sambil menjewer telinga Jaka gemas.
“Kenapa sih Putri?,” kata Jaka sambil mengganti posisi berbaring dengan memiringkan tubuhnya menghadap Putri.
“Kamu kira aku buka baju mau ngapain, hayo pikiranmu sedang traveling ya ngaku?!,” ucap Jaka mencubit pipi Putri pelan penuh kasih sayang dan Putri hanya tersenyum-senyum malu.
“Aku kira kamu minta jatah malam ini,” ucap Putri tersenyum.
“Enggak ah capek Put, Oh ia, Sari belum tidur ya. Aku lihat dia dari tadi bolak-balik ambil air hangat di wadah baskom buat kompres luka Dava. Suruh tidur Dik Si Sari kasihan dia juga kan baru sembuh belum pulih benar loh,” ucap Jaka.
“Ia, Ayah,” ucap Putri seraya bangun hendak pergi ke kamar Dava untuk menyuruh Sari tidur. Beberapa saat kemudian Putri sudah kembali ke kamar melanjutkan berbaring.
“Cepat amat sudah memangnya?,” tanya Jaka.
“Sudah Sari sudah ku suruh tidur sama Bulek Emi, biar tidak timbul fitnah kayak kita dulu Jaka. Padahal udah nikahkan ya,” ucap Putri sambil membelai rambut Jaka di hadapannya.
__ADS_1
“Oh ia Dek tadi aku dapat penglihatan kamu gunakan jurus melipat bumi lagi ya, kan sudah aku bilang ini kehamilan kedua mu loh setelah kehamilan pertamamu keguguran gara-gara jurus itu,” ucap Jaka.
“Biarlah justru aku bersyukur hamil pertamaku keguguran, karena itu bukan anakmu. Hamilku hasil dari lelaki-lelaki yang tak bertanggung jawab itu. Sekarang aku bahagia sekali karena dalam kandunganku ini tertanam buah cinta kita,” ucap Putri yang kali ini berganti mengelus pipi Jaka.
“Sudah jangan diingat terus kejadian naas yang menimpamu dulu. Yang berlalu biarlah berlalu ya sayang yang penting hari ini kau milikku,” ucap Jaka sembari mengecup kening Putri.
“Jaka, terimakasih yah kau sudah menerimaku waktu itu. Menerima seorang gadis yang sedang stres, karena kehilangan kesucian yang direnggut paksa dan hampir gila. Aku bersyukur bisa bertemu kamu dan keluargamu kalian orang baik. Padahal keluarga kita tak begitu akrab, tetapi Abah Wachid sangat membuka lebar pintu rumahnya walau sudah mengetahui tentang kejadian yang menimpaku dan tetap menikahkan kau dengan ku. Terimakasih ya Sayang,” ucap Putri tersenyum bahagia.
“Eh anak kita nanti cowok apa cewek ya?,” ucap Jaka mengganti topik pembicaraan agar Putri tak semakin larut dengan kesedihan akibat tragedi naas yang menimpanya dahulu sebelum bertemu Jaka.
“Aku inginnya sih cowok Jaka, agar setangguh Ayahnya?,” ujar Putri.
“Aku sih sedikasihnnya saja mau cewek atau cowok yang penting lahir nanti kamu dan anak kita selamat,” ucap Jaka.
“Aamiin,” sahut Putri.
“Jadi besok pulang ya Jaka?,” ucap Putri.
“Enggak tahu juga Put, apa kata Abah saja. Besok pagi biar aku tanya beliau mau pulang apa menginap sehari lagi atau gimana?,” ucap Jaka.
“Sudah ayo bobok istriku,” ucap Jaka seraya memeluk Putri erat sambil menarik selimut agar menutupi tubuhnya dan tubuh Putri.
“Enggak jadi nih minta jatahnya ayo nih aku buka ya,” ucap Putri sambil menurunkan lengan daster yang ia pakai untuk menggoda Jaka.
“Sudah capek ayo bobok!,” ucap Jaka mengembalikan lengan daster putri ke atas lagi.
“Ya sudah di kasih enggak mau. Besok jangan ngambek loh kalau aku enggak ngasih. Kayaknya besok waktunya aku lampu merah,” ucap Putri terus merayu Jaka.
“Apa besok lampu merah ya udah sekarang saja jadi-jadi,” ucap Jaka yang langsung duduk di atas Putri sambil membuka baju.
“Eh ngapain Mas Jaka,” ucap Putri.
__ADS_1
“Bodo amat pokonya jadi,” kata Jaka melancarkan seranganya.