
Jaka dan Pak Haji Sugian nampak duduk-duduk di ruang tamu mereka nampak sedang berbincang amat serius.
Sedangkan jam didinding yang menempel kokoh diatas mereka duduk menunjukkan pukul 00.01.
Namun Entah karena kopi hitam yang tersedia di depan mereka atau karena topik perbincangan yang amat serius sehingga membuat mata mereka enggan untuk mengantuk.
“Jaka apa benar Abahmu berpesan untuk berhati-hati, karena iya mendapatkan firasat buruk tentang desa Serapah?,” Ujar Pak Haji Sugian memulai perdebatan.
“Benar Pakde bahkan beliau berpesan jangan pulang dulu sebelum masalah yang akan muncul di desa Serapah terselesaikan,” kata Jaka kembali menegaskan pesan Abah Wachid.
“Oooh seperti itu, memang benar Adek ku yang satu itu dari kecil firasatnya jarang meleset, Apa mungkin firasat Abahmu berhubungan dengan kejadian kemarin malam ada dua orang yang sengaja ingin membuat rusuh dengan cara meneteskan perasan jeruk nipis di atas darah bekas korban kecelakaan?,” tanya Pak Haji Sugian menatap Jaka dengan rasa penasaran.
“Mungkin saja Pakde. Sebab itu bisa membuat arwah Si Korban menjadi begitu kesakitan dan merasa sangat perih jadi ia menuntut balas dendam mencari siapa yang membuatnya demikian,” ujar Jaka.
“Memang benar orang meninggal tidak bisa hidup lagi, tapi kan selama tujuh hari dia masih di sekitar tempat ia meninggal baru setelah itu pergi ke kuburan dalam masa 40 hari ia di sekitar makamnya lalu setelahnya ia masuk ke alam Barjah begitu sekiranya sistematikanya,” kata Pak Haji Sugian
“Ya benar sekali apa yang Pakde katakan,” kata Jaka.
“Eh.., Jaka terus yang menunggu Abahmu di rumah Siapa. Yang mengurus Pondok As-Salam siapa...?,” tanya Pak Haji Sugian.
“Dirumah kan ada Kak Vivi Pakde lagian Abah Alhamdulillah pulih dengan cepat. Kalau di Pondok saya meminta Dava untuk datang ke Pondok membantu Ustad Khotib dan Ustazah Ratih mengurus Pondok,” kata Jaka.
“Dava anak Dik Kardi...?,” sahut Pak Haji Sugian.
“Yah siapa lagi keponakan Pakde yang bernama Dava kalau bukan anak Paklik Kardi dan Bulek Emi,” kata Jaka.
“Kangen aku sama tuh anak lama sekali tidak kemari sudah besar rupanya?,” tanya Pak Haji Sugian.
“Uhhh..., Sekarang sudah tinggi Pakde Si Dava itu, Pakde saja kalah tinggi,” kata Jaka.
“Ia Kah, lama sekali tidak ketemu Abahnya juga Si Kardi, bagaimana kabarnya Adikku yang satu itu ya...?,” kata Pak Haji Sugian.
“Terakhir ketemu sih beliau sehat kok Pakde,” kata Jaka.
“Yah syukurlah kalau begitu, oh ia minum kopimu Jaka sampai lupa keburu dingin,” kata Pak Haji Sugian seraya mengambil segelas kopi hitam di atas meja depan mereka duduk berbincang lalu meneguknya perlahan.
Belum sempat mereka menikmati kopi dengan tenang masih jua seteguk itu pun masih belum masuk benar di tenggorokan.
Sekiranya kopi masih berada di tengah-tengah kerongkongan ada suara ketukan pintu depan tiga kali namun terus berulang dengan ritme pelan tiga ketukan berhenti sejenak tak seberapa lama mengetuk kembali tiga kali terus seperti itu.
Toktoktok.....
Toktoktok......
Toktoktok.....
“Allahuakbar...,” ucap Pak Haji Sugian dan Jaka kaget berbarengan.
“Jangan di jawab Jaka, jangan di jawab biarkan saja ia menyelesaikan ketukannya,” kata Pak Haji Sugian.
__ADS_1
“Kenapa Pakde...?,” tanya Jaka penasaran.
Lalu hawa di sekitar ruang tamu seakan bertambah dingin seperti ada tiupan angin semilir yang ditiup dari sela-sela pintu dan ventilasi udara. Hawa menjadi berubah semakin dingin membuat bulu kudu merinding.
“Yah ini Jaka yang barusan kita bicarakan, kalau kita sahut menjawab ketukannya dia bisa mewujudkan diri karena memang itu maunya,” kata Pak Haji Sugian.
“Kalau kita tak menjawab dan membiarkan ia selesai mengetuk pintu bagaimana Pakde?,” Kata Jaka.
“Yah dia menghilang begitu saja,” jawab Pak Haji Sugian.
“Berarti ini yang tengah kita takutkan dan benar-benar terjadi Pakde?,” kata Jaka.
“Yap, ini hasil dari dua orang tak bertanggung jawab kemarin yang menumpahkan air hasil perasan jeruk nipis di bekas darah korban kecelakaan alhasil ia bergentayangan mengetuk pintu-pintu rumah warga sekitar,” kata Pak Haji Sugian.
“Jadi merinding Pakde, hiiii....,” kata Jaka.
“Ah kamu Jaka sama dukun Wira berani sama beginian masak takut?!,” kata Pak Haji Sugian.
“He...., Pakde kok bisa tahu, jangan kencang-kencang nanti Putri dan Bude tahu,” kata Jaka.
“Hahaha..., Ayo kita lihat seberapa seram makhluk hantu yang bergentayangan ini...?,” kata Pak Haji Sugian.
“Beneran Pakde mau dilihat..?,” kata Jaka.
“Halah...., Ayo kebanyakan drama kamu kayak Budemu saja,” kata Pak Haji Sugian seraya menyeret lengan Jaka memaksanya untuk ikut memastikan menuju ke arah pintu depan.
“Atuh.....,” teriak Jaka sambil membungkam mulutnya karena tak sengaja berteriak.
“Ada Apa, ada apa Jaka...?,” tanya Pak Haji Sugian.
“Kaki, kaki ku Pakde, Kakiku Pakde injek ini loh,” kata Jaka namun dengan suara berbisik lirih.
“Eh...iya, hehehe maaf tidak sengaja,” kata Pak Haji Sugian melanjutkan pengintaian kini berjalan agak merunduk dengan Jaka mengikuti dari belakang.
Toktoktok....
Toktoktok.....
Toktoktok...
Suara ketukan pintu kembali terdengar kini agak keras. Bersamaan itu tiba-tiba angin nampak mendukung suasana menjadi lebih mencekam berhembus tak beraturan.
“Eh apa itu Pakde seperti bayangan menari, eh... bayangan dahan pohon hehehe,” kata Jaka sambil menunjuk pada dinding yang terdapat pantulan bayangan pohon mangga depan rumah Pak Haji Sugian.
“Kamu itu jangan ngagetin dulu gitu Jaka,” kata Pak Haji Sugian.
“Hehehe, takut ya..., Katanya berani Pakde, huuuu,” kata Jaka menggoda Pak Haji Sugian.
“Hustz..., jangan kencang-kencang ngomongnya,” kata Pak Haji Sugian.
__ADS_1
“Oh, ia,” kata Jaka.
Ketukan pintu depan rumah kembali terdengar ulang terus menerus kali ini di barengi suara orang meminta tolong namun dengan nada rintihan agak berat layaknya orang yang sedang menangis.
Toktoktok...., Tolong.....
Toktoktok...., Tolong....
Toktoktok...., Tolong....
“Jaka.., coba kamu intip dari gorden Jendela siapa tahu kelihatan,” kata Pak Haji Sugian tetap dengan nada lirih layaknya orang berbisik.
“Halah, bilang saja Pakde takut, aku juga yang kena...,” kata Jaka pergi kearah Jendela seraya menyibak kain gorden tidak penuh hanya sedikit untuk mengintip sosok apa sebenarnya yang mengetuk pintu.
“Kamu ini disuruh orang tua kok ngeyel, sudah intip kamu lihat apa..?, Jelaskan ke Pakde,” kata Pak Haji Sugian.
“Halah mulai jailnya, waduh Pakde..., benar Pakde..,” kata Jaka
Saat Jaka menyingkap kain gorden melihat keluar rumah tepatnya di teras. Ia melihat bercak darah dimana-mana seperti menetes dari tubuh seseorang.
Mata Jaka terbelalak saat melihat siapa yang mengetuk dengan wajah separuh habis seperti tergerus aspal ia menoleh kearah Jaka dengan senyum mengerikan.
Tubuhnya tak lagi utuh tangannya seperti hendak putus namun masih menempel, karena masih ada daging yang tersambung sedikit, ia tunjukkan pada Jaka seakan ia ingin memberi tahu, ini loh tanganku putus.
Bajunya yang penuh lumpur sobek di lengan dan pinggang. Mulutnya seakan bicara, "To.. tolong...,"
Sambil terus menatap Jaka namun setiap ucapan dengan gerakan mulutnya setiap itu pula darah segar meluber dari dalam mulutnya lalu menetes ke lantai teras. Mungkin itu yang membuat bercak-bercak darah di lantai teras.
Namun seakan ia begitu kesakitan dan menangis dalam rintihan yang sangat seakan begitu meminta pertolongan. Lalu makhluk tersebut pergi dengan langkah gontai seperti jombi menghilang di balik kegelapan disamping gardu.
“Bagaimana, bagaimana Jaka, apa yang kamu lihat..?, Eh kok malah mewek..,” kata Pak Haji Sugian melihat Jaka matanya mulai berkaca-kaca.
“Sedih Pakde...,” kata Jaka
“Keponakan yang aneh liat hantu bukanya takut malah mewek, ya sudah Pakde ambil kain pel dulu buat bersihin tuh bercak darah di teras,” kata Pak Haji Sugian ngeloyor pergi.
“Lah Pakde kok tahu padahal belum melihat,” kata Jaka heran...
“Emang kamu saja yang bisa menerawang hantu,” kata Pak Haji Sugian.
“Keluarga kita keluarga yang aneh, hehehe...., tunggu pakde...,” kata Jaka.
_
_
_
_
__ADS_1