T O H

T O H
Rapat Akbar Bukit Tunggorono


__ADS_3

“Au..., Ayah jangan keras-keras,” Putri berteriak karena bagian sensitif dari tubuhnya di sentuh Jaka.


Tapi tiba-tiba Beby Wahyu yang semula bobok nyenyak di ranjang bayi hadiah dari Om Bagus dua hari yang lalu seketika kepalanya melonggok sambil tangan kecilnya meraih tatakan kecil serupa pagar yang menempel melingkar di samping ranjang. Dengan rasa penasaran karena sang Mama menjerit Beby Wahyu langsung melongok ke sana-kemari mencari arah sumber suara.


Jaka yang mengetahui Beby Wahyu yang tengah terbangun langsung saja menyelimuti tubuh Putri dengan selimut tebal. Mumpung Beby Wahyu belum melihat ke arah orang tuanya yang tengah bermesraan.


“Ayah...!, tuh kan Wahyu jadi bangun. Ayah dibilang jangan kencang-kencang kok untung saja Ayah belum buka baju juga,” gerutu Putri sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Aduh...!, Nak kok bisa-bisanya loh terbangun. Padahal tadi sudah bobok nyenyak kok malah melongok gagal lagi Ayah ini Nak ,” ucap Jaka seraya menepuk kening dengan telapak tangannya.


“Yayah, Yayah,” suara Beby Wahyu memanggil-manggil Jaka.


“Loh Ma, mana Wahyu?,” kata Jaka melihat ranjang bayi tempat Beby Wahyu tidur dan Wahyu tak ada di sana.


“Ayah..., ini anaknya di atas Mama ini loh,” celetuk Putri yang melihat Wahyu tiba-tiba ada di atas tubuhnya dengan posisi telungkup dan kembali tertidur.


“Allahuakbar, kok bisa cepat banget berpindah ya ini anak,” kata Jaka heran.


“Ya kayak Ayahnya kalau menghilang paling jago iya kan?,” ucap Putri agak menyindir Jaka.


“Ini loh anaknya digendong dulu Ayah, Mama mau pakai baju dulu,” pinta Putri pada Jaka agar mengambil Beby Wahyu yang tengah asyik bobok kembali diatas tubuh Putri yang masih tertutup selimut.


“Ia, ia Ma,” jawab Jaka mengambil Beby Wahyu dari atas Putri lalu menggendongnya.


“Loh Mama mau pakai baju lagi berarti enggak lanjut dong adegan 21+ yang tadi,” kata Jaka sambil memasang muka memelas agar keinginannya untuk bermesraan dituruti oleh Putri.


“Mama jadi enggak mood Ayah, tunggu mood Mama balik lagi ya Ayah sayangku,” kata Putri seraya memakai gaun tidur yang iya ambil dari Almari pakaian.


“Hem lama lagi ini kalau mengembalikan mood segala oalah,” gerutu Jaka sambil menimang-nimang Wahyu agar tertidur pulas kembali.


“Apa Ayah, Mama tidak dengar...?,” ucap Putri agar Jaka mengulangi kembali perkataannya.

__ADS_1


“Tidak Ma ini loh Ayah lagi dengarkan suara gaib ada yang memanggil,” kata Jaka mencoba berkilah mengelak agar tak mengulang perkataannya barusan.


Dan ternyata memang ada suara gaib yang mengucap salam pada Jaka dan Putri yang tengah bercakap-cakap. Suara gaib itu berulang kali mengucap salam menggema di kamar mereka.


“Ayah diam dulu deh, ada yang mengucap salam seperti suara kakek Haji Kasturi. Jawab gih cepat jangan sampai guru Ayah marah kalau Ayah lama jawab salamnya” celetuk Putri.


“Assalamualaikum Jaka, Putri,” ucap salam suara gaib yang berasal dari suara Haji Kasturi.


“Waalaikumsalam guru, ia guru ada apakah guru sampai menghubungiku malam-malam seperti ini. Sudah lama sekali guru tak menghubungiku malam begini semenjak terakhir saat melawan Sarpala,” jawab Jaka masih menimang Beby Wahyu.


“Jaka kemarilah ke tempat Masmu Bagus bukit Tunggorono,” ucap Haji Kasturi dalam suara gaibnya.


“Siap guru, Mama tolong pegang Wahyu,” kata Jaka memberikan Wahyu pada Putri lalu menghilang seketika.


“Tuh kan kalau menghilang cepat banget kan Ayahmu Nak. Begitu kamu berpindah tempat dengan cepat Ayahmu heran ya Nak,” gerutu Putri sambil menimang Wahyu di pangkuannya.


***


Gus Bagus sudah berdiri di samping Haji Kasturi yang tengah memandang kota Jombang yang semakin kacau balau, karena akhlak masyarakatnya yang terus merosot sehingga keganjilan dan kejadian-kejadian tak wajar terjadi dimana-mana di setiap sudut kota Jombang.


“Guru apa Jaka sudah datang?,” tanya Gus Bagus yang jua baru datang setelah dipanggil suara gaib yang jua suara Haji Kasturi itu sendiri.


“Tunggu saja pasti datang yang lainnya juga aku panggil semua pasti datang,” jawab Haji Kasturi.


“Kenapa tidak di tempat guru saja rapatnya,” tanya Gus Bagus sekali lagi.


“Di tempatku telah di intai beberapa burung gagak gaib dari kerajaan Adi Yaksa,” kata Haji Kasturi sambil terus memandang ke arah kota.


“Assalamualaikum Guru, Mas Bagus juga hadir,” ucap salam yang datang seakan terbang dari arah depan tebing tinggi tempat Haji Kasturi dan Gus Bagus berdiri di tepiannya lalu mengambil tempat di samping Gus Bagus berdiri di sampingnya.


Lalu sebuah embusan api dengan geraman keras terdengar dari arah belakang mereka. Sebuah sosok naga hijau mendekat diatas mereka. Meliuk-liuk terbang diudara, “Assalamualaikum,” sebuah ucapan salam dari langit menandainya turunnya dari atas Naga hijau Bergala.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Haji Kasturi, Jaka dan Gus Bagus.


“Adikmu Jaka sudah ahli rupanya dia,” celetuk Gus Bagus mendongak ke atas melihat Dava yang turun meloncat dari atas naga Bergala.


“Jaka sudah kau hubungi yang lainnya agar merapat kemari,” kata Haji Kasturi.


“Sudah Guru tadi sebelum kemari sudah aku datangi semua,” jawab Jaka.


“Loh benaran Mas cepat sekali sekarang Mas Jaka ya satu kota Jombang enggak sampai 15 menit hebat,” timpal Dava yang baru datang.


“Hustz ini anak kecil kalau ada orang bicara jangan disela dulu kebiasaan,” kata Gus Bagus sambil menoyor kepala Dava.


“Mas Bagus ini sakit loh,” kata Dava agak ngambek.


“Halah kesatria kok ngambek,” celetuk Jaka.


Slap.., Duar...,


Suara gelegar api jatuh di samping Dava layaknya petir yang menyambar-nyambar dengan nyala api yang menyilaukan.


“Wiih mode api surat Al ikhlas di perbaharui sekarang ya pakai petir juga ya, tetapi sekarang aku tidak semudah itu untuk dikageti he he...,” celetuk Dava menyambut Gus Bari dan Mbah Raji yang baru datang dengan mode api surat Al ikhlas.


Gus Lukman pun datang dari arah depan dengan gaya khasnya berjalan di udara, “Assalamualaikum Guru,” ucap salam Gus Lukman yang baru datang.


“Waalaikumsalam,” serempak semua yang hadir menjawab salam dari Gus Lukman.


Lalu secara berdatangan lagi satu-persatu anggota T O H yang lain dengan ciri khas dan keahlian masing-masing.


“Apa sudah lengkap semua ?,” kata Haji Kasturi memandang anggota T O H yang berjajar di belakangnya memanjang yang kini sudah berjumlah hampir seribu orang lebih setelah menang perang kemarin T O H semakin tenar dan semakin banyak pula yang bergabung tentu dengan persyaratan yang sangat ketat.


“Sudah guru,” serempak para anggota menjawab dengan suara serempak. Jikalau dilihat dari atas sudah tentu barisan anggota T O H sudah seperti satu peleton tentara yang berjajar rapi di atas bukit Tunggorono dengan Haji Kasturi sebagai jendral di depannya.

__ADS_1


__ADS_2