
Suasana tengah malam di dalam rumah Haji Wachid nampak sepi. Lampu di setiap sudut ruangan nampak sudah dimatikan tinggal lampu tengah saja yang masih menyala kata Abah Wachid biar ada penerangan tidak semua mati.
Di dalam kamar Putri dan Jaka yang sudah mendapat restu atau izin untuk tidur sekamar berdua dengan Putri namun dengan syarat menjaga kehormatan Putri sampai hari pernikahan kelak.
Jaka tengah asyik ngopi di sebelah tempat tidur tepatnya duduk di depan meja rias memandangi Putri yang sedang tertidur pulas.
“Duh Dik, untung aku sedari kecil diberi Abah begitu banyak pengetahuan syariat dan agama, andai saja aku bukan anak dari Abah Wachid mungkin saja kesucian mu sudah hilang dari kemarin-kemarin, karena aku yang selalu melihat kemolekan tubuhmu terbaring di ranjang setiap malam,” ucap Jaka bergumam lirih.
“Jadi ingat aku Put saat pertama kali kita berpelukan, ah jadi kangen sama Pakde Gian, sudahlah Pakde sudah terpilih menjadi Lurah ini, aku bersyukur akhirnya cita-cita Eyang Kakung dulu untuk menjadikan salah satu anaknya menjadi seorang pemimpin tercapai juga,” gerutu Jaka sambil menyeruput segelas kopi di depanya.
Ceklung.... ceklung....
Handphone Jaka berbunyi mengedip-ngedip pertanda sebuah cat wa masuk. Lalu ia meraihnya seraya menggeser layar kunci hp. Melihatnya dengan saksama siapa yang mengirim ia cat wa tengah malam begini?.
“Loh Dava ada apa kok tengah malam cat?,” kata Jaka membuka cat wa dari Dava.
Jaka terbelalak kaget ketika melihat isi cat yang ternyata sebuah video adegan pembunuhan di sebuah rumah mewah oleh seorang dukun. Jaka semakin kaget karena ia tahu benar siapa dukun yang ada di video yaitu Gendon yang dulu sering bermain bersamanya saat masih anak-anak saat Jaka masih sering menginap di rumah Pak Haji Kardi.
“Ya Allah kenapa Gendon sampai berbuat demikian...?, mana aku belum pulih benar lagi,” ucap Jaka resah apa lagi saat ia mendengar salah satu perkataan Gendon di dalam video tersebut yang akan menghabisi satu-persatu warga Dukuhan Banjar Kerep.
“Kok jadi kurang ajar gini si Gendon,” ucap Jaka dengan agak geram.
Jaka kembali meneliti Video dari Dava barangkali di sekitar kejadian ada mahluk atau orang jahat lain yang membantu Gendon dalam melancarkan aksinya. Saat melihat ulang video Jaka menemukan tiga kelebat bayangan dari tiga penjuru menuju tempat kejadian.
“Oh sudah ada yang datang ya sudah,” ucap Jaka saat mengetahui bayangan-bayangan tersebut sangat ia kenal itu adalah sebuah bayangan milik teman-temannya sesama anggota
T O H.
Jaka mengetahui hal itu saat ia menekan pause pas saat salah satu bayangan melintas di dalam video tertangkap lambang T O H di punggungnya tepatnya di jubah yang di kenakan.
“Hah..., lega rasanya kalau mereka sudah datang. Eh kok jadi pingin buang air kecil nih,” gerutu Jaka seraya berdiri lalu berjalan menuju kamar kecil yang terletak di sebelah dapur.
“Ahh..., kenapa lampu tengah jadi kedap-kedip sendiri ya?. Ya sudahlah mungkin tegangan listrik sedang bermasalah biar besok pagi aku betulkan,” celetuk Jaka saat melewati ruang tengah dan melihat lampu yang terpasang di langit-langit atap berkedip-kedip tak normal. Seperti ada yang sedang mempermainkan nyala lampu.
“Perasaan tadi Jendela samping sudah aku tutup kenapa kebuka lagi,” Jaka mulai curiga dan bingung saat melihat jendela samping rumah terbuka. Sehingga membuat korden jendela nampak melambai tertiup angin. Dengan berhati-hati Jaka kembali menutup jendela tersebut.
“Hah beres.., aduh jadi kebelet di ujung tanduk ini mana ini kamar kecil,” kata Jaka berlari menuju kamar kecil.
“Nah itu kamar kecil,” ucap Jaka hendak melangkah menuju arah pintu kamar kecil masih agak jauh beberapa langkah.
__ADS_1
Namun secara tiba-tiba dari belakang sosok Putri dengan wajah pucat-pasih berjalan mendahuluinya, tetapi ada yang aneh dengan cara berjalan Putri kali ini. Iya berjalan layaknya robot agak kaku.
“Eh, eh, Put, mau kemana..?, aku duluan dong sudah kebelet nih,” teriak Jaka namun tidak di gubris oleh Putri yang terus saja masuk kedalam kamar kecil dan menutup pintunya.
“Ya Allah Put, tega benar kamu aku sudah kebelet ini bentar lagi mengompol ini,” kata Jaka sambil memegangi celana pendeknya.
“Ets, sebentar kayak ada yang aneh sama Putri tadi. Masak tengah malam begini dia bawa handuk masuk kedalam kamar kecil masak ia dia mandi tengah malam, Hem sangat mencurigakan. Jangan-jangan tadi itu bukan Putri sebab saat aku tinggal tadi dia masih pulas tertidur,” gerutu Jaka penuh curiga.
Tok..., tok..., tok...,
“Putri, Put, lagi apa kok lama sih...?,” tanya Jaka seraya mengetuk kamar mandi.
“Kalau kelamaan aku masuk nih kebelet tau, hehehe kali Putri beneran yang di dalam kan jadi bisa lihat gituan hahay,” gumam Jaka sambil meringis.
“Ah aku jadi benci dengan pikiranku, Put cepetan kenapa..?,” teriak Jaka.
Byur.... byur... byur...
Terdengar suara dari dalam kamar mandi layaknya seseorang tengah mengguyurkan air dengan wadah kecil yang biasa dibuat mandi.
“Bentar Mas numpang mandi sebentar aku,” terdengar sahutan dari dalam.
“Astaganaga numpang mandi sejak kapan Putri mandi tengah malam terus bilang numpang mandi segala aneh. Ini ada yang tidak beres ini pasti bukan si Emput ini,” kata Jaka curiga.
“Put aku dobrak ya...?,” teriak Jaka.
“Dobrak saja sayang,” terdengar jawaban dari dalam kamar kecil.
“Ladalah pakai acara menyahut lagi, udah ahh.. kelamaan dobrak saja, sudah kebelet ini..,” teriak Jaka. Mengambil kuda-kuda hendak mendobrak pintu kamar mandi.
Hiyaaak....
Tendangan Kaki Jaka mengarah ke Pintu kamar kecil namun belum sampai tendangan ala-ala kungfu dari Jaka sampai mengenai Pintu. Pintu kamar kecil terbuka dengan sendirinya.
Gubrak... gedubrak...
Suara Jaka jatuh dengan posisi kaki ke jengkang, “Aduh sakit, atah-atah, hem sudah keram ini besok, loh tidak ada siapa-siapa mana si Putri...?,” kata Jaka sambil melongok kedalam kamar kecil.
“Yah, yah basah deh celanaku kan jadi mengompolkan, Yaelah untung enggak ada orang lihat,” ujar Jaka sambil berusaha berdiri lalu masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa saat Jaka telah keluar dari dalam kamar mandi sambil memakai sarung Abah Wachid yang selalu ada di sampiran dalam kamar mandi.
“Untung ada sarungnya Abah, kalau tidak masak balik ke kamar enggak pakai bawahan apa kata Putri nanti. Eh iya Si Putri tadi mana ya itu tadi Putri bukan sih, Ah sudahlah,” kata Jaka kembali berjalan menuju kamar.
Belum sampai kamar Jaka melihat sosok Putri duduk di teras samping tak bergerak hanya diam saja, “Eh pintu samping masih terkunci, kenapa Putri bisa duduk di luar ya,”
Jaka mulai penasaran lalu berjalan perlahan menuju jendela samping pintu coba mengintip apa benar itu Putri. Saat korden ia buka sedikit dan Jaka mulai mengintip keluar ia melihat sosok Putri yang tiba-tiba memutar kepalanya menghadap belakang sedangkan tubuhnya tetap menghadap ke depan.
“Hiya...., ini jelas setan bukan Putri ini,” kata Jaka agak ketakutan.
Hihihi.... Hihihi....
Sosok tersebut berubah menjadi sesosok kuntilanak berbaju merah menyeramkan dengan rambut panjang lalu terbang menjauh...
“Hiya.., mbak kunti...,” teriak Jaka berlari menuju kamar.
“Hey Jaka..., Sayang..., bangun sayang sudah subuh, ada apa kamu mimpi buruk ya..?,” kata Putri mencoba membangunkan Jaka yang tengah mengalami mimpi buruk.
“Eh Putri, kamu benar Putri ku kan?,” tanya Jaka mulai membuka mata.
“Ia ini aku Putri mu Jaka,” sahut Putri yang sudah memakai mukena hendak mengajak Jaka sholat subuh berjamaah.
“Cuma mimpi ya..?,” kata Jaka.
“Ia Jaka ku sayang, gini kebiasaan kamu kalau tengah malam ke kamar kecil habis itu tidak berwudu langsung bobok ya gini,” kata Putri.
“Ayo sana ke kamar kecil ambil wudu kita sholat subuh berjamaah,” kata Putri.
“Anterin..., ya, ya, anterin atuuut,” kata Jaka mulai manja.
“Hadeh manjanya Pacarku satu ini ya sudah ayuk,” kata Putri.
_
_
_
_
__ADS_1