T O H

T O H
Tiga Tokoh T O H


__ADS_3

Sari.........!!,”


Para warga berteriak menyaksikan kejadian Sari yang hendak ditusuk oleh Gendon dengan sebilah parang. Ayunan parang Gendon hampir mengenai perut Sari.


Kalau saja tidak ada sebuah angin yang berjalan kencang lalu berubah menjadi sosok seseorang datang berdiri pas di samping Sari dan menghalangi tikaman Gendon.


Iya mengambil parang dengan cepat membuat Gendon hanya melongo terheran-heran, kenapa parang yang semula ia pegang dengan kuat bisa begitu saja berpindah tangan.


“Wah ini parang bagus kayaknya, cocok ini buat membelah kelapa. Kebetulan aku lagi butuh kan aku jualan es buah, lumayan hehe...,” kata Gus Bari seseorang yang muncul dari bentuk angin berjalan kini ia melihat-lihat parang menelitinya.


“Gus Bari kenapa kau ada di sini...?,” tanya Gendon dengan mata terbelalak mengetahui sosok yang menghalanginya tadi adalah Gus Bari.


“Kenapa tidak boleh aku kemari, apa bumi di desa ini milikmu kau kira kau siapa bisa membunuh orang semau mu!?,” kata Gus Bari.


Tanpa bayangan tanpa angin tanpa pertanda tiba-tiba ada seseorang yang membawa sebuah botol bekas air mineral telah memasukkan sosok kuntilanak merah kedalam botol yang iya bawa.


“Hadeh, ini makhluk bahaya ini sering kali mencelakai orang buang saja ke laut ini,” kata sosok tersebut yang tidak lain adalah Gus Pendik datang secara tiba-tiba entah dari mana asalnya.


“Hey Gus Bari, parang bekas membunuh orang bahkan darahnya masih membekas di parang itu masak mau kau buat jualan es buah?,” teriak Gus Pendik mengantongi botol kecil bekas air mineral yang di gunakan untuk mengurung kuntilanak merah.


“Bercanda Dik serius amat, ya Gendon ya..?, Eh Gendon kan musuh kenapa aku tanya mengangguk lagi dia dasar penjahat yang labil,” kata Gus Bari.


Gendon hanya terdiam melongo, berdiri mematung melihat kekonyolan para Gus anggota dari organisasi T O H yang baru datang melawanya dengan cara-cara yang unik dan nyeleneh.


Bahkan ia tak sadar kalau sedari tadi di belakangnya telah duduk Ustad Bagus yang sedang duduk santai membawa kopi dan menghisap rokok layaknya menonton sinetron laga di televisi.


“Hey Ustad Bagus yang paling ganteng dan keren se Jombang, berasa liat sinetron India kali ya dia,” celetuk Ustad Pendik berjalan mendekat kearah Gendon yang tengah mematung tak bergerak.


Ternyata bayangan dari gendon tengah tersambung dengan bayangan Ustad bagus. Ternyata Ustad bagus telah melancarkan serangan pada Gendon dengan sebuah jurus pengikat sejenis totok penghenti aliran darah.


“Ehm, benar makanya dia santai amat dan Gendon jadi kayak gapura selamat datang. Lah wong bayangannya di ikat,” kata Ustad Pendik.


“Bentar nah Aku habiskan rokok dulu nanggung,” kata Ustad Bagus sambil meneguk satu gelas kopi dalam wadah gelas air mineral yang ia bawa.


“Sempat-sempatnya kau bikin kopi Cuma satu lagi,” kata Gus Lukman.

__ADS_1


“Eh Dava...?,” teriak Gus Lukman memanggil Dava.


“Siapa namanya keponakan Jaka anak dari Haji Kardi..?,” tanya Gus Lukman pada Ustad Bagus.


“Ia Dava benar sudah,” jawab Ustad Bagus.


“Woi Dava.., kemarilah...,” teriak Gus Lukman sambil melambai kearah kerumunan warga yang tengah melihat di depan pagar tak berani mendekat.


“Abah mereka memanggil ku,” kata Dava yang tengah ikut berkerumun.


“Pergilah Nak rupanya mereka orang baik-baik, mereka menolong kita pergilah,” kata Haji Kardi Dava bergegas berlari menuju tempat kejadian.


“Loh Mas Bagus,” kata Dava yang kaget melihat Ustad Bagus juga berada di sana.


“Bagus benar ini yang namanya Dava?,” celetuk Gus Lukman.


“Benar Gus Lukman dia calon keponakanku, alias adik keponakan pacarku Vivi,” kata Ustad Bagus masih sibuk dengan rokok dan kopinya.


“Ganteng juga kau Dava, Oh iya Dava kau bawa ini cewek siapa namanya tadi?,” kata Gus Lukman.


“Eh kenal kau, jangan-jangan pacarmu ya..?,” celetuk Gus Lukman menggoda Dava.


“Ia Gus Lukman, Sari itu memang pacarnya Dava,” sahut Ustad Bagus.


“Ah.., sudahlah mau pacarmu atau bukan lekas kau bawa dan rawat si sari itu,” kata Gus Lukman menuding ke arah Sari yang tengah tergeletak di rerumputan.


“Oh iya Dava bilang pada Abah mu untuk menelepon polisi agar menangkap Gendon sementara kami mengikatnya,” kata Gus Lukman.


“Baik Gus,” sahut Dava sambil membopong Sari menjauh dari tempat kejadian.


Sampai di kerumunan warga Jaka meminta Abahnya untuk menelepon polisi agar cepat datang dan menangkap Gendon.


Beberapa saat mobil polisi datang ke tempat kejadian di depan rumah ibu Romlah tempat warga tengah berkerumun.


“Malam Abah Kardi, Assalamualaikum..,” ucap Komandan Polisi yang baru datang dengan beberapa orang pasukan.

__ADS_1


“Waalaikumsalam, itu Pak pembunuhnya,” kata Haji Kardi menunjuk ke arah Gendon yang sudah terikat tangan dan kakinya serta kepalanya telah dibungkus karung.


Namun ketiga penolong yang tak lain adalah Gus Lukman, Gus Pendik dan Ustad Bagus sudah tidak berada di tempat.


“Loh kemana tiga Ustad tadi,” kata Pak Haji Kardi mencari tiga Ustad dari kelompok organisasi pemburu setan dan para dukun sesat yang sudah hilang tidak berada di tempat.


“Siapa yang Pak Haji cari..?,” tanya Komandan Polisi.


“Tadi ada beberapa Ustad Pak Komandan yang datang secara tiba-tiba menolong kami mengalahkan Si Pelaku itu Pak, mereka yang mengikat pelaku itu,” kata Haji Kardi.


“Oh mereka Pak Haji itu sudah biasa mereka itu adalah dari organisasi T O H. Mereka sering menolong kami dalam kejahatan seperti ini Pak Haji, jangankan Pak Haji saya saja belum pernah menemui atau bicara langsung dengan salah satu dari mereka. Mereka sangat tersembunyi Pak Haji,” kata Komandan Polisi.


“Ayo mari kita bawa para korban dan pelaku,” kata Komandan Polisi menyuruh beberapa anggota dari pasukannya di bantu beberapa warga yang berani ikut masuk sampai dalam rumah untuk mengambil jasad para korban pembunuhan.


Setelah semua korban jasad korban di evakuasi dan pelaku telah dimasukkan dalam mobil patroli Komandan Polisi berpamitan kembali ke Polsek Jombang Kota pada Pak Haji Kardi. Dava masih tengah membopong Sari menggendongnya dari depan.


“Abah bagaimana dengan sari?,” tanya Dava pada Abah Kardi.


“Kita bawa pulang Nak, kita rawat Sari kasihan dia,” kata Abah Kardi


“Ayo Bapak-bapak, Ibu-ibu kita pergi lokasi ini sudah di batasi garis polisi. Mari kita kembali pulang ke rumah masing-masing,” teriak Haji Kardi pada warga yang masih berkerumun di depan rumah Bu Romlah.


Dava belum teramat jauh dari rumah Bu Romlah tempat kejadian. Langkahnya yang tengah menggendong tubuh Sari terhenti oleh suara teriakan dari atas Rumahnya.


“Hei..., Dava...,” teriak sebuah bayangan diatas atab rumah Pa Haji Kardi terlihat melontarkan sebuah jaket yang langsung di tangkap oleh Haji Kardi.


“Jaket T O H Anakku apa maksudnya ini,” kata Pak Haji Kardi heran.


“Woi Dava welcome, selamat datang di organisasi T O H datanglah di rapat rahasia kami berikutnya mengenai informasi kelanjutannya tanyakan pada Kakakmu Jaka,” teriak bayangan di atas atab lalu kembali melesat hilang.


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2