
Aaaa...!!
Tolong...!!
Sebuah teriakan menjerit ketakutan terdengar dari arah rumah pak lurah Dongkol. Suara jeritan wanita muda begitu memilukan menggema tak wajar seakan di hadapkan antara ajal dan malaikat pencabut nyawa.
Beberapa warga di sekitar rumah pak lurah tampak berhamburan keluar demi melihat apa yang sebenarnya terjadi dan hal mengerikan apa yang tengah dialami wanita tersebut.
Di area surau tak jauh dari rumah pak lurah jamaah Shalat magrib baru saja turun dari Mushola seusai menggugurkan kewajiban tiga rakaat fardu yang utama. Terlihat Dava baru selesai menapakkan kakinya di atas alas kaki sandal model pendaki gunung.
“Abah teriakan Dewi,” ujar Dava lantas berlari menuju arah rumah pak lurah Dongkol.
“Dava hati-hati Nak,” teriak Abah Kardi yang jua baru saja ikut berjamaah magrib dan masih berada di pelataran Mushola.
Di sekitar rumah Pak Lurah Dongkol sudah berkerumun beberapa orang yang penasaran akan teriakan Dewi dari dalam rumah. Beberapa warga yang ikut berkerumun mulai berbisik-bisik penasaran dengan keadaan dalam rumah yang tengah terkunci rapat.
“Ada apa ini Pak RT?,” tanya Dava pada Pak RT kebetulan sudah ada di sana.
“Entah Dek Dava, bapak juga baru datang ini. Mendengarnya saja bapak sudah merinding seakan Mbak Dewi seperti orang yang di sembelih lehernya,” ucap Pak RT sambil terus bergidik karena saking ngerinya.
“Kenapa tak ada yang coba masuk ke dalam rumah Pak?,” tanya Dava pada beberapa warga.
“Kami tak berani Mad Dava, Pak Lurah Dongkol orangnya galak jangankan masuk dalam rumah masuk pekarangannya saja kami sering diteriaki maling,” kata salah seorang warga yang ikut berkerumun di depan pagar pekarangan rumah mewah Pak Lurah yang tengah terkunci rapat dengan gembok yang besar dan beberapa anjing herder di dalam pekarangan tanpa dirantai.
“Orang begini kok jadi Lurah ya,” celetuk Dava.
__ADS_1
“Bagaimana Dava, apa yang sebenarnya terjadi?,” kata Abah Kardi baru datang dari Mushola.
“Ya Tidak tahu Abah lah wong pagarnya saja dikunci rapat begini,” sahut Dava mencari akal sekiranya bisa masuk ke dalam tanpa diketahui Pak Lurah.
Sementara itu warga sudah terlanjur berkumpul dan semakin banyak jua yang datang penasaran dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba di dalam pelataran halaman depan rumah Pak Lurah muncul sosok-sosok mengerikan layaknya manusia tapi berkepala hewan. Ada yang berkepala harimau, ada yang berkepala kerbau dan berbagai macam bentuk yang lain.
Ditengah-tengah sosok-sosok setan berbadan manusia berkepala hewan ada empat sosok membawa keranda namun sosoknya hanya memiliki badan tak memiliki kepala. Bau anyir darah mulai menyerbak di antara kerumunan warga.
“Astagfirullah...,” celetuk beberapa warga yang menyaksikan kengerian di dalam halamab depan Pak Lurah.
“Persis seperti saat sebelum Bu Lurah meninggal makhluk-makhluk itu juga datang lalu membawa jasad Bu Lurah,” terang salah satu warga yang tak sengaja melihat kejadian yang sama saat Bu Lurah hendak meninggal beberapa tahun yang lalu.
“Masak Kang kenapa sampean endak melapor?,” celetuk warga yang lain.
“Saat itu tengah malam Kang bukan sore begini. Aku jua baru pulang dari lembur kerja di kota pas melintas aku sendirian jelas aku takut lah,” ucap warga yang menyaksikan kejadian sama beberapa tahun yang lalu.
Di depan pagar pas hanya ada Dava dan Abah Kardi serta beberapa orang yang memang pemberani tengah mencari cara bagaimana untuk masuk ke dalam.
“Abah ini sudah bukan lagi setan. Ini para siluman Abah,” ujar Dava.
“Benar Nak mereka siluman, berarti benar apa yang digosipkan warga tentang Pak Lurah Dongkol bahwa ia adalah pemuja setan,” jawab Abah Kardi.
“Lalu bagaimana kita seharusnya Pak Haji?,” tanya salah satu warga yang ikut berdiri di depan pagar depan rumah Pak Lurah bersama Dava dan Abah Kardi.
“Bagaimana lagi Mas kita tidak bisa masuk ke dalam terlalu berbahaya terlalu banyak siluman di sana bisa-bisa kita mati terbunuh dimangsa para siluman itu,” ucap Dava.
__ADS_1
“Mas Dava dan Abah kan anggota T O H yang menang perang, apa tidak bisa mengalahkan mereka?,” teriak salah satu warga yang berada di kerumunan agak jauh karena takut.
“Kamu Jon penakut saja menyuruh orang melawan sini kalau berani!,” panggil warga yang ikut berkumpul di depan pagar.
“Sudah-sudah malah bertengkar. Kita lihat saja apa yang mereka lakukan baru kita bertindak dan menangkap basah apa yang di lakukan Pak Lurah biadab itu,” celetuk Abah Kardi.
“Kalau seperti ini kejadiannya ini sudah tidak benar Abah mending enggak memiliki Lurah dari pada punya Lurah tapi sebagai pemuja setan. Copot saja copot kita ganti Lurah kita!!,” teriak beberapa warga yang sudah semakin benci dengan Lurah Dongkol.
“Benar Abah bisa-bisa kita warganya ikut jadi tumbal berikutnya ia enggak bapak-bapak, Ibu-Ibu?,” celetuk salah seorang warga.
“Benar-benar, ganti, ganti saja,” teriak warga yang sudah kadung emosi.
“Tenang Bapak-bapak, Ibu-ibu, tenang kita tunggu saja apa yang akan terjadi setelah kita memastikan yang terjadi baru kita bisa memutuskan. Jangan-jangan Pak Lurah hanya korban bukan pelaku,” ucap Abah Kardi.
“Alah sudah jelas seperti ini keadaannya Abah,” teriak salah satu warga emosi.
“Pak yang berada di depan kita ini puluhan siluman bukan orang tenang lah kita tunggu saja perkembangannya,” ucap Haji Kardi.
“Eh diam-diam sembunyi itu Pak Lurah keluar rumah sembunyi dulu. Ayo duduk jangan berdiri biar tak kelihatan,” ucap Dava sambil memberi aba-aba agar warga bersembunyi agar Pak Lurah tak tahu kalau ada orang di sekitar rumahnya.
Memang sekitar rumah Pak Lurah keadaannya sangat suram dan tak ada lampu penerangan jalan apa lagi rumahnya walau mewah letaknya di pojok desa kanan kirinya hanya sawah keadaannya selalu sepi. Sekitar pekarangan banyak pula tumbuh pepohonan bambu dan kebun jati pas di depan rumahnya.
Sedang jarak antara pagar depan dan rumah sangat jauh kira-kira 200 meter lebih. Jadi warga yang berkerumun tak dapat terlihat dari depan rumah.
Tampak samar-samar Pak Lurah dongkol keluar dari dalam rumah lewat pintu besar depan rumah bergaya kupu-kupu sambil menggendong tubuh Dewi yang sudah tanpa kepala. Darahnya samar-samar terlihat menetes ke lantai.
__ADS_1
Salah satu makhluk siluman berkepala banteng berbadan manusia maju menerima tubuh Dewi.
“Astagfirullah, Ya Allah itu Mbak Dewi di gendong tanpa kepala itu loh Abah Haji, hii...!!,” celetuk salah satu warga.