
“Raji buka matamu sudah waktunya kau turun gunung. Usaikanlah pertapaanmu ilmumu sudah cukup melampaui pendahulumu Kasturi. Maka pergilah ke kotamu berpakaianlah selayaknya orang gila untuk mencapai tahap akhir keilmuan yang kuberikan,” ucap petapa tanpa nama lalu menghilang kembali meninggalkan Mbah Raji yang tengah duduk bersila di sebuah batu besar di balik air terjun di sebuah gunung di daerah kelut.
Mbah Raji seketika membuka mata penuh seraya mengucap Alhamdulillah. Kini tingkat pemahaman dan pengetahuannya semakin tinggi jua. Matanya semakin jauh melihat dalam segi penerawangan sekali melihat beratus kilometer mampu iya pandang jua.
Kali ini matanya tertarik pada sosok anak SD yang sedang asyik mengerjakan tugas yang diberikan oleh sang guru di atas meja belajar. Bibirnya tersenyum otaknya merasa takjub tak menyangka sejauh ini pandangannya. Walau ia berada di kelut, iya masih bisa melihat seluruh kota Jombang dengan jelas tiap sudutnya.
Dalam hatinya berkata, bukankah anak ini Wahyu. Cucuku anak dari Jaka dan Putri sudah beranjak besar rupanya iya. Seketika secepat kilat bak cahaya petir tubuh Mbah Raji lenyap dari atas batu besar berpindah tempat dan berubah wujud serupa orang gila di tengah kota Jombang dengan begitu cepatnya.
“Hem, mungkin nanti siang saja aku menemui Nak Wahyu setelah iya pulang sekolah sekarang lebih baik aku melihat kotaku Jombang sudah sampai mana perkembangan manusianya,” gerutu Mbah Raji seraya mengambil sebuah batang pohon agak kecil lalu ia bersihkan daunnya bertujuan untuk iya jadikan tongkat penyangga saat ia berjalan.
“Begini sudah sempurna,” ucap Mbah Raji berpakaian compang-camping tampak lusuh dan kotor mulai berjalan dengan tumpuan tongkat.
***
Di salah satu kelas di MI desa Mojokembang tepatnya di ruang kelas 4a wahyu dan kawan-kawan sedang mengerjakan tugas harian dari bapak guru yang sedang duduk di depan kelas sambil terus mengawasi. Madrasah ibtidaiah desa Mojokembang memang sekarang susah lebih maju dari masa sepuluh tahun yang lalu.
Setelah yayasan As-salam di pegang oleh Jaka semua berubah. Pondok pesantrennya jadi lebih modern, tapi tetap tak meninggalkan kualitas lama tentang syariat dan pembelajaran ilmu agamanya.
MI desa Mojokembang termasuk dalam lingkup yayasan As-salam yang mencakup dari sekolah PAUD sampai universitas keagamaan. Murid dan siswa yang sudah terlampau banyak menjadikan satu tingkat kelas terbagi menjadi tiga ruang a, b dan c.
Untuk kelas akselerasi bagi anak didik yang cerdas dan berkemampuan di atas rata-rata dari anak didik kebanyakan di letakkan di ruang kelas A. Begitu pun jua anak didik yang cerdas namun tiada mampu dalam soal biaya ikut di masukkan di kelas A dengan sistem biaya siswa penuh tanpa membayar layaknya biaya siswa program pemerintah bernama bedikmisi.
Dan siang ini Wahyu tampak sibuk dengan lembaran soal ulangan matematik di ruang kelasnya. Iya duduk di bangku paling depan namun paling pojok sebelah kiri pas di depan Meja sang guru yang menghadap para siswa.
Kelas Wahyu sangat kompeten di tiga kelas yang terbagi pada tingkatan kelas 4. Wahyu jua kini menjabat sebagai ketua kelas selain dikenal anak yang pemberani Wahyu jua dikenal dengan kecerdasannya yang sangat ajaib. Kadang dikala mengerjakan soal-soal yang diberikan guru di saat siswa yang lain baru menulis sebuah rumus untuk mengerjakan Wahyu sudah menemukan jawabannya.
__ADS_1
Seperti halnya siang ini lembar soal matematik yang dibagikan oleh sang guru yang sejatinya di berikan waktu selama 60 menit untuk mengerjakan. Wahyu mampu menyelesaikannya hanya dalam hitungan 15 menit lengkap dengan rumus, cara dan penjabaran.
Wahyu dengan cepat mengangkat tangan kanannya tanda bahwa iya telah selesai mengerjakan semua soal ujian yang berjumlah 100 soal tersebut, “Pak Guru saya sudah selesai.
“Loh Wahyu benar kamu sudah selesai mengerjakan soal ulangannya?, serius kamu sudah selesai,” ucap Bapak Guru seraya berdiri dan menghampiri Wahyu lalu mengambil kertas ulangan Wahyu mencoba mengecek jawabannya berulang-ulang.
“Eh ia benar sudah selesai, kok bisa kamu cepat sekali mengerjakannya Wahyu?,” tanya Bapak Guru menatap Wahyu heran sedangkan siswa yang lain hanya dapat melihat Wahyu dengan takjub sambil mulut terbuka melongo dan mata tak berkedip saking herannya.
Tetapi berbeda dengan Wahyu yang terkenal anak kecil yang tak suka sombong dan pamer dan memiliki banyak teman. Wahyu tampak gelisah dalam duduknya wajahnya agak sedikit meringis menahan sesuatu. Kedua tangannya tampak memegangi perutnya sambil terus bergumam lirih aduh sakit.
“Loh kamu kenapa Wahyu?,” kata Bapak Guru yang khawatir dengan keadaan Wahyu yang mulai berkeringat di dahi.
“Anu Pak mules, Wahyu pamit ke belakang dulu ya Pak sudah enggak tahan ini,” teriak Wahyu seraya secepat kilat berlari ke arah kamar mandi.
“Dasar anak Pak Jaka sama seperti Ayahnya aneh, Eh tapi benar hilang loh tadi ada di depan Bapak loh ia kan Jumadi?,” tanya Pak Guru pada salah satu murid yang sebangku dengan Wahyu.
“Pak itu tadi Wahyu apa bukan ya, jangan-jangan setan,” celetuk Jumadi agak merinding.
“Hust, ngawur kamu Jumadi mana ada setan siang bolong begini. Mungkin memang Wahyu sudah kebelet diujung tanduk rasanya jadi larinya cepat keburu-buru. Eh tapi sebenarnya Wahyu selesai benaran apa asal saja jawab soalnya tadi ya karena kebelet. Ah biar Bapak periksa jawaban Wahyu dahulu yang lain kembali kerjakan soalnya,” perintah Pak Guru.
Di WC sebelah timur perpustakaan pas belakang parkiran sepeda dan motor guru. Tepatnya di WC nomor dua berpintu plastik warna biru. Di dalamnya Wahyu sedang duduk sambil agak meringis.
“Hek, eh, iyoh...,” gumam Wahyu masih keringatan menahan sakit perutnya.
“Ini gara-gara tadi pagi di kantin jajan pecel ini aduh sakit!!,” oceh Wahyu.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara memanggil dan jelas terdengar jelas pula di telinga Wahyu yang sedang asyik duduk di atas toilet model duduk gaya kekinian.
“Bang, Bang Woi, bau kali lah,” celetuk suara tanpa rupa.
“Ya mestilah kalau wangi ya parfum Brow. Namanya saja orang buang air besar ya baulah cemana pula kau rupanya,” teriak Wahyu belum menyadari kalau di area WC sebenarnya tak ada siapa-siapa sebab masih waktunya jam belajar.
“Eh Bang lama kali lah kau di sini sudah enggak tahan aku baunya,” ucap suara tanpa rupa.
“Eh bentar lah dikit lagi nanggung ini tunggulah aku habiskan dulu enggak sabaran amat sih jadi orang. Eh sebentar teman-teman kan semua lagi di dalam kelas WC ini ada di belakang parkiran mana mungkin ada orang ya. Lalu yang ngomong siapa dong?,” gerutu Wahyu baru menyadari kalau ia berbicara dengan suara tanpa rupa.
“Halah aku disinilah Bang masak Kau enggak liat aku,” kembali suara tanpa rupa berkata membuat Wahyu celingak-celinguk, menoleh ke sana-kemari mencari asal muasal sumber suara.
“Woi Bang aku disinilah,” teriak suara tanpa rupa yang ternyata berasal dari seekor cecak yang menempel didinding di atas kepala Wahyu.
“Eh Kau cecak yang bicara benarkah apa aku enggak salah dengar, sudah gilanya aku mungkin bicara sama cecak ya,” ucap Wahyu kesal.
“Hehe, dia heran dasar anaknya Jaka,” celetuk cecak.
“Eh Kau tahu nama Ayahku ternyata, setan rupanya ya kau?,” tanya Wahyu agak kesal ia diejek dengan nama Ayahnya.
“Siapa sih yang tak tahu nama Ayahmu,” ucap cecak namun belum jua ia selesai bicara.
“Eh, eh mau apa Kau jangan, jangan ah sudahlah jatuh aku,” teriak cecak lalu jatuh ke lantai akibat disentil karet oleh Wahyu.
“Yes kena Kau mampus, hahaha, siapa suruh ejek nama Ayahku, ah sudah ah selesai balik kelas aku makan tuh karet gelang,” ucap Wahyu berlalu setelah selesai buang air besar meninggalkan cecak yang terkapar di lantai.
__ADS_1