T O H

T O H
Dukun Wanita Yayu Yuwana


__ADS_3

Hem, brem, howilaheng, huam, brus,


Sebuah lontaran air bak air terjun meluncur dari bibir seorang dukun wanita yang terus berkomat-kamit merapal mantra. Sekali lagi bahkan berkali-kali si dukun wanita meneguk seteguk air dari sebuah gelas dari bahan tanah liat di sampingnya. Dan beberapa kali ia menyemburkan air dari mulutnya pada bejana kecil tempat persembahan yang terisi air dan bunga tujuh rupa.


Terkadang sebotol minyak wangi iya tumpahkan sedikit demi sedikit pada bejana tersebut. Anehnya walau berisi penuh air saat di tumpahkan minyak wangi bercampur air tetap saja seakan air yang semula tenang berubah seakan mendidih dengan munculnya gelembung-gelembung lalu menguap seakan panas dan mendidih.


Hem, hoam, brus,


Kembali air yang sebelumnya di baca-bacakan sebuah ajian di semburkan pada bejana dimana di tengah bejana terdapat lilin menancap dan di sumbunya tengah menyala. Walau terus disemburkan air bacaan mantra tetap saja api pada sumbu tak padam malah semakin membesar saat di semburkan air dan kembali normal kembali.


Bejana tersebut terletak pada sebuah tempeh besar atau sebuah wadah berbentuk bulat besar dari anyaman bambu secara tradisional pembuatannya. Di dalam tempeh beberapa sajian sesandingan atau persembahan atau cok bakal dalam bahasa Jawa atau tradisi Jawa kuno.


Antara lain segelas kopi hitam, bunga-bungaan serupa untuk menabur bunga pada pemakaman saat kita berziarah kubur. Ada pula telur dan jeroan rempela hati dari ayam tertata rapi dan berbagai macam sesajen persembahan lainnya.


Si dukun wanita serupa cenawan di serial televisi memakai udeng atau ikat kepala bergaya ikatan Jawa Timuran bergambar batik warna coklat bercampur hitam. Memakai baju agak longgar khas dukun seperti sebuah jubah hitam dan memakai kalung dimana liontinnya adalah tengkorak manusia yang dikecilkan seperti ilmu orang Dayak Kalimantan.


Dan tak lupa tiga batang dupa tertancap di samping lilin dan sudah terbakar di ujungnya. Sehingga wangi tajam dupa menyeruak memenuhi ruangan gelap di sudut gubuk pinggiran hutan kapur daerah kecamatan Kabuh sebelah utara kota Jombang.


“Bagaimana Nek?” ucap seorang pemuda yang duduk bersila di depan si dukun wanita yang sering di panggil Nenek Yayu dan bernama lengkap Yayu Yuwana. Aslinya sosok si dukun wanita bukanlah dukun tua perot dan peyot namun berwajah muda masih cantik dan berkulit masih halus putih. Tapi sebab pekerjaan dan titel dukun yang di sandang iya selalu di panggil dengan sebutan nenek atau mbah.

__ADS_1


“Hem biarkanlah si kalong itu tetap menggantung di langit Jombang sebab iya menjadi magnet untuk setan dan monster lain untuk datang ke kota. Dengan begini tanpa kau berperang Jombang sudah berperang. Sebab sudah ada teror di tempat-tempat bakal kesatria para T O H yang baru terlahir di dua rumah sakit berbeda,” ucap si dukun Yayu.


“Benar Nek para petinggi tua T O H itu tak tahu kalau Ayah Iblis Barbadak sedang bersemadi di salah satu ruang rumah Nenek ini. Dan bayi setan yang berkekuatan dahsyat jua ada disini baru saja saya tangkap dengan tipu muslihat dan telah aku rantai serta aku pasung di belakang rumah,” ucap seorang pemuda di depan Dukun wanita Yayu Yuwana yang tak lain tak bukan adalah Hendrik Wijaya.


“Benar anakku Hendrik bahkan mereka tak tahu asal muasal para monster dan setan dan siluman yang terus meneror di beberapa tempat di kota Jombang. Berasal dari dalam mulut Si Kalong yang keluar atas perintahku,” sahut si dukun wanita Yayu Yuwana.


Sementara Barbadak sang raja monster tetap tenang bersemadi di satu ruangan gelap di salah satu sudut rumah dukun wanita Yayu Yuwana. Tetapi tidak lagi berwujud monster selayaknya sebab iya sejatinya adalah seorang pertapa berwujud asli dari klan manusia. Namun karena kekeliruan ilmu yang iya terima sehingga iya berubah menjadi wujud monster dari energi negatif yang ada di alam.


Sebenarnya Barbadak adalah adik sepeguruan dari petapa tanpa nama. Bedanya dahulu kala entah tahun berapa sebab sudah terlalu lama jauh di jaman bahkan sebelum kerajaan di dirikan. Petapa tanpa nama dan Barbadak saling bertapa agar memperoleh kedigdayaan.


Barbadak yang sejatinya bersifat sombong, angkuh dan penuh ambisi malah menjadi buruk rupa dan sejenis monster aneh ketika tak kuat menahan kekuatan besar yang masuk dalam dirinya.


Sedangkan petapa tanpa nama yang bersifat lemah lembut dan santun serta arif bijaksana malah menjadi resi agung dan petapa sakti yang menyandingkan pemahaman kepercayaan yang sekarang ditelurkan menjadi ajaran akal dan budi luhur ketimuran.


***


“Loh ini bukan Raja Monster seperti yang berbentuk bayangan di balik pemuda waktu itu yang menyerang di tengah kota Jombang beberapa tahun yang lalu Mbah. Ini Setan Kalong, ya benar ini setan kalong monster ganas dati selatan dan dapat dibuat alat untuk menjadi wadah berbagai monster, setan dan siluman yang dapat di tampung di dalam mulutnya itu Mbah Raji,” tutur Jaka berdiri bersama Mbah Raji di awang-awang atap langit menatap makhluk besar serupa kelelawar pemakan buah besar menutupi kota.


“Benar Jaka dia sebenarnya adalah mati tapi yang hidup adalah dukun yang menaruhnya disini. Kurang ajar berarti berita yang menyerang kelahiran cucu-cucuku anak dari Bagus dan Dava dari sini asal muasalnya. Untung mereka selamat semua sekeluarga, untung kamu cepat respons Jaka langsung memerintahkan beberapa pejuang-pejuang muda T O H dari divisi Srikandi T O H dan divisi Sang Pangeran T O H,” ujar Mbah Raji menuturkan.

__ADS_1


“Sebenarnya aku sudah merasakan keganjilan sedari tadi pagi Mbah akan anehnya bentuk awan-awan yang terbentuk di atas langit kota Jombang ini, tetapi ku amati saja dahulu apakah yang terbentuk dari alam kah atau musuh yang datang,” ujar jaka memberi pernyataan.


“Hem kalau begitu kau jua sudah mulai penuh ilmumu Jaka bagus-bagus. Sepertinya kau sudah sama denganku itu baik, kalau begitu silakan dihancurkan robot monster itu Jaka agar tak terjadi kehancuran besar di kota,” pinta Mbah Raji mempersilahkan Jaka untuk menghancurkan monster si kalong.


“Ah Mbah Raji saja yang lebih tua silakan,” timpal Jaka merasa tidak sopan kalau iya menyerang dahulu.


“Halah begitu saja ribut kalian ini biar aku yang maju,” Dava datang seperti biasa namun ada ajian yang tak biasa kali ini diperoleh Dava.


Tubuhnya tetap berjongkok di samping Jaka dan Mbah Raji namun ruhnya lepas dari tubuh meluncur deras menuju monster kalong memukul dengan telapak tangan membuka dengan lima jari sekali pukul pas dikepala hancur lah si kalong dibuat oleh Dava.


Dan ruhnya Dava kembali pada tubuh dengan sekejap begitu cepat seakan secepat kecepatan cahaya.


“Wuih, wau, Adikku, ilmu baru nih Rengkah gunung, cie suit, suit,” teriak Jaka sambil bertepuk tangan.


“Memang Mas Jaka yang terus berlatih walau tak ada lagi perang aku terus berlatih jua loh,” ucap Dava kembali berdiri.


***


“Kurang ajar huek, juh,” teriak dukun wanita Yayu Yuwana memuntahkan darah dari dalam mulutnya lalu meludahkannya.

__ADS_1


“Kenapa Nek?” tanya Hendrik wijaya


“Kali ini kita memang kalah Hendrik tapi tenang, hey Jaka tunggulah pembalasan kami para dukun hitam aku sekarang sebagai pemangku jabatan Ratunya para dukun akan selalu membuat kalian para T O H tak tenang walau untuk terpejamkan mata. Tunggulah balasanku hey para ketua utama Jaka, Dava dan si peyot Mbah Raji,” teriak dukun wanita Yayu Yuana.


__ADS_2