
“Hai Sarikem, kau adalah pemimpin dari seratus bangsamu yakni para genderuwo. Perintahkan genderuwo terkuat untuk membunuh itu ketua karang taruna desa Mbongso tercinta ini. Ia bisa menghalangi rencanaku untuk mempersembahkan hidangan lejat untuk kalian malam ini, pergilah...!!,” ucap Joni memerintah Sarikem genderuwo terganas diantara seratus pasukan genderuwo ya.
Sementara Joni menata strategi untuk memberi makan para genderuwo daging manusia di rumah Aris sang ketua karang taruna.
Nampak Eni istri dari Aris tengah menyiapkan bekal kopi hangat yang ia tuangkan ke dalam botol bekas air mineral untuk bekal ronda semalaman agar tidak lekas mengantuk.
“Mas Aris perasaan Adik kok tidak enak ya, kenapa ya seperti hendak terjadi sesuatu hal yang buruk mas?,” ucap Eni mengulurkan botol mineral yang telah penuh terisi kopi hitam panas pada Aris.
“Ngomong apa sih Dik pamali jangan suka bicara seperti itu nanti jadi doa malah jadi kenyataan tidak baik. Pasrahkan saja semua pada Allah, karena hidup dan mati hanya milik Allah semata,” ucap Aris sambil membungkus botol bekas air mineral yang telah terisi penuh seduhan kopi hitam dengan kantong keresek hitam agar mudah dibawa.
“Nak Aris jadi hari ini ronda lagi?, kalau begitu bapak temani ya,” ucap Pak Paimen mertua Aris bapak dari Eni.
Kebetulan setelah bercerai dari Yu Sri istri dari Pak Paimen yakni mertua perempuan Aris. Pak Paimen tinggal di rumah Aris katanya biar ada yang menjaga Eni kalau Aris kerja keluar kota sampai berminggu-minggu tak pulang, karena tuntutan pekerjaannya sebagai pemborong proyek bangunan.
“Oh ya katanya kamu hendak mengunjungi Jaka kapan itu Nak Aris?,” tanya Pak Paimen.
“Belum tau Pak rencananya sih besok, sekalian ada yang mau aku urus di Mojowarno,” jawab Aris.
“Kalau besok jadi ke rumah Paklikmu Wachid titip salam rindu aku pada adikku satu itu,” ucap Pak Paimen memang lama sudah ia tak bertemu Adiknya Haji Wachid.
Sebagai Kakak tertua Pak Paimen selalu memantau kehidupan para adik-adiknya terkadang ia yang menyempatkan mampir bila kebetulan lewat di sekitar desa adik-adiknya. Walau ia saudara paling tua ia tak malu dan tak sungkan untuk berkunjung terlebih dahulu hanya sekedar untuk bertanya kabar.
“Siap Pak Insya Allah nanti kalau Aris kesana pasti Aris sampaikan kepada Paklik Wachid,” ucap Aris.
“Aris, woi Aris, jadi ngikut ronda tidak,” ucap Pak Tono dan Pak Liwon Hansip kampung Mbongso yang menjemput Aris untuk ikut Ronda dari luar rumah.
“Nah itu dua Hansip kita sudah datang, Mas berangkat dulu ya Dik hati-hati di rumah jangan lupa kunci pintu dan jendela, Pak Aris berangkat ronda dulu, Assalamualaikum,” ucap Aris sambil berlalu pergi keluar rumah menghampiri Pak Tono dan Pak Liwon.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Paimen dan Eni serempak.
“Ayo Pak Tono, Pak Liwon kita jalan ke pos ronda,” ucap Aris yang baru keluar dari dalam rumah.
“Coba pemuda di desa ini seperti Mas Aris semua ya pasti aman desa kita,” ucap Pak Tono mulai berjalan di samping kanan Aris menuju pos ronda yang berada di pojok desa Mbongso.
__ADS_1
“Ia benar, semoga Mas Aris sekeluarga selalu di lindungi Allah dan sehat selalu,” ucap Pak Liwon yang berjalan di samping kiri Aris.
“Aamiin,” ucap ketiganya serempak.
Eni yang semakin gusar dan cemas akan firasat buruknya terus berjalan mondar-mandir di ruang tamu, dengan wajah mengkerut dan khawatir ia tak tahu kalau Pak Paimen tengah berdiri di sampingnya.
“Ada apa toh Ndok kok kayak orang bingung begitu?,” ucap Pak Paimen.
“Aku khawatir Pak sama Mas Aris takut kenapa-kenapa, kemarin malam ada ibu Ijah yang kesurupan lalu memutus kepalanya sendiri. Kematiannya lagi ada pak Danu yang kesurupan membanting bayinya lalu memakannya. Malam ini entah apa lagi yang bakal terjadi aku khawatir sama Mas Aris Pak. Kan Bu Ijah dan Pak Danu seperti itu gara-gara mengolok-olok anak Pak Lurah Joni. Mas Aris juga begitu malah iya sangat benci sama anak Pak Lurah itu. Eni takut Mas Aris bernasib sama kayak Bu Ijah dan Pak Danu,” ucap Eni seraya duduk di atas sofa ruang tamu.
“Kamu itu loh En, jangan ngawur kalau bicara benar kata Masmu Aris serahkan semua kepada Allah. Dari pada kamu mondar-mandir enggak jelas sudah seperti setrikaan saja. Ambil wudu sana sholat hajat minta keselamatan untuk Mas mu Aris,” ucap Pak Paimen seraya duduk dan meneguk secangkir kopi di atas meja depan sofa ruang tamu.
“Ia deh Pak, Eni mau sholat dulu sekalian membaca surah Yasin biar hati Eni tenang,” ucap Eni,” seraya pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu.
***
Suasana di pos ronda kampung Mbongso telah ramai oleh beberapa pemuda kampung yang tengah asyik bermain sekak di dalam pos ronda ada pula yang hanya duduk-duduk mengobrol sambil ngopi dan merokok.
“Assalamualaikum,” ucap Aris yang baru datang bersama kedua hansip kampung Mbongso.
“Nah ini Pak ketua kita sudah datang,” ucap salah satu pemuda yang sedang asyik bermain catur.
“Sudah pada ngopi saja ini, bagi dikit ya kopinya,” ucap Pak Tono ikut duduk sambil meneguk kopi yang di bawa salah satu pemuda.
“Ini aku juga di buatkan kopi tadi dari rumah yang gelasnya sudah kosong ini tuangkan saja. Kebetulan istriku tadi bikin banyak,” ucap Aris mengulurkan botol mineral penuh berisi seduhan kopi.
“Wah Pak ketua tahu saja kopi kita sudah habis,” ucap salah satu pemuda langsung menyahut kopi yang di berikan oleh Aris.
“Hu.., kamu sih maunya gratisan,” celetuk pemuda yang lainnya.
Auuu... guk... guk...
Au...
__ADS_1
Guk... Guk...
Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing dari kejauhan namun terdengar jelas di telinga para peronda yang berada di pos ronda ujung desa seakan lolongan anjing tersebut begitu dekat membuat siapa saja yang mendengarkan pasti merinding hingga bulu kuduknya berdiri.
“Waduh sudah di mulai ini,” teriak salah satu pemuda.
“Ia Mas Aris sama seperti malam-malam sebelumnya sepertinya lolongan anjing ini sebagai pertanda akan adanya sesuatu hal buruk yang akan menimpa desa kita ini,” ucap Pak Tono.
“Ah Pak Tono ini jangan percaya takhayul musyrik itu namanya menyekutukan Allah tidak baik Pak itu dosa,” ucap Aris menegaskan.
“Bukanya begitu Mas Aris waktu malam kematian Bu Ijah dan Pak Danu kan di awali dengan lolongan anjing seperti ini lalu beberapa menit kemudian ada teriakan meminta tolong,” ucap Pak Liwon ikut menegaskan.
“Pak Liwon ini malah menambah-nambahkan sudah yang penting kita berjaga saja. Kita lihat saja Insya Allah malam ini tidak ada apa-apa. Ini sudah berselang beberapa menit kan. Toh tidak ada yang terjadi,” ucap Aris.
“Ia, ya, benar juga kata Mas, ya sudah ayo para pemuda yang berani dua orang bergantian keliling mengecek keadaan,” ucap Pak Tono menyuruh para pemuda untuk berkeliling mengecek suasana desa barangkali ada yang mencurigakan.
Namun para pemuda malah saling menuding dan ramai sendiri karena takut sehingga saling menyuruh satu sama lain.
“Sudah ayo saya temani jadi bertiga sama saya,” ucap Pak Liwon agar para pemuda mau diajak berkeliling kampung.
Akhirnya ada yang mau menemani Pak Liwon berkeliling kampung setelah para pemuda berunding alot sesama pemuda yang lain untuk ikut menemani Pak Liwon. Pak Liwon dan dua pemuda pergi berkeliling kampung. Sementara itu Aris dan Pak Tono serta beberapa pemuda lain tetap berjaga di pos ronda.
Malam semakin larut kabut semakin tebal jua dan hawa berganti menjadi teramat dingin. Angin yang berhembus di dahan-dahan pohon menyerupai tangan melambai-lambai seakan menambah keseraman tengah malam.
“Loh Mas Aris apa itu di kepala Mas Aris?,” teriak salah satu pemuda yang melihat tangan besar hitam berkuku panjang melebarkan genggaman pas di atas kepala Aris seakan mencengkeram.
Hoaar,
Sosok Sarikem akhirnya muncul di belakang Aris tinggi besar dengan telapak tangan yang lebar mencengkeram kepala Aris.
“Allahuakbar Mas Aris itu belakangmu genderuwo, Ya Allah giginya, huwa...,” teriak salah satu pemuda membuat para pemuda kocar-kacir berlari ketakutan agak menjauh ada pula yang sampai berlari pulang.
“Pak Tono tolong,” ucap Aris yang sudah seperti muntah darah, karena selain kepalanya dicengkeram lehernya juga di cekik oleh Sarikem si genderuwo.
__ADS_1
“Loh Mas Aris...!!,” teriak beberapa pemuda dan Pak Tono yang masih berada di lokasi pos ronda ingin menolong tapi takut oleh sosok tinggi besar berbulu lebat sekujur tubuh hit dengan mulut bertaring dan mata yang besar terus menggeram.