
Dava tengah membaringkan Sari di atas tempat tidur di dalam kamar kakaknya Eka kebetulan Eka sedang berada di luar kota tepatnya berada di kota Malang untuk menyelesaikan kuliahnya. Dengan perlahan Dava membaringkan tubuh Sari yang begitu pucat dan lemas.
“Dava tolong rawat Nak Sari ya kasihan dia. Abah hendak keluar menemui para warga yang mengadakan siskamling di pos hansip tengah desa,” kata Abah
Yang sedari tadi di belakang Dava ikut menyiapkan segala sesuatunya untuk merawat Sari. Seperti handuk basah untuk mengompres dan sewadah ember kecil berisi air hangat serta teh hangat dan beberapa obat penenang.
“Ia Abah hati-hati, kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan,” kata Dava.
“Ia Nak tolong jangan bangunkan Umimu ya kasihan dia kecapean tidur dari tadi sore, karena siang tadi membantu tetangga yang sedang mengadakan hajatan,” pinta Abah Kardi.
“Ia Abah aku bisa kok untuk merawat Sari sendiri,” jawab Dava.
“Tidak apa kan Abah tinggal Nak?,” tanya Abah Kardi sekali lagi.
“Ia Abah tidak apa-apa,” jawab Dava sambil tersenyum.
“Baik Abah keluar dulu, Assalamualaikum,” ucap Abah Kardi.
“Waalaikumsalam,” jawab Dava.
Dava merawat Sari dengan penuh hati-hati membersihkan kotoran-kotoran tanah yang menempel di tubuh Sari akibat kejadian yang tadi. Dava kembali melirik jaket warna hitam bergaris dua warna hijau di dada dan dibelakangnya menempel lebel T O H.
Berwarna hijau muda yang ia cantelkan di gantungan baju sebelah almari pakaian. Seakan tidak percaya kalau ia telah direkrut menjadi salah satu anggota penumpas kejahatan yang tersohor di seantero kota Jombang bahkan sampai di kota-kota sekitarnya.
“Oh Dik Sari Seandainya kau tahu kalau kekasihmu ini telah menjadi salah satu anggota T O H, salah satu organisasi yang kita puja-puji berdua selama ini,” kata Dava menatap Sari penuh iba.
“Maaf ya Dik Sari, maaf beribu-ribu maaf bukanya Dava mu ini lancang tapi dengan segala hormat aku terpaksa harus menanggalkan pakaianmu karena sudah tak layak pakaianmu yang compang-camping ini kau kenakan. Aku takut nanti bertambah sakit kau memakainya dan aku pun harus membersihkan tubuhmu yang teramat kotor serta mengobati luka-luka mu agar tak infeksi, maafkan aku Dik Sari,” kata Jaka perlahan dan sangat hati-hati mulai menanggalkan pakaian Sari yang sudah robek di sana-sini satu-persatu.
Setelah semua pakaian Sari di lepaskan Dava mulai membersihkan tubuh Sari penuh cinta perlahan ia mengobati luka di tubuh Sari dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba tiada angin tiada hujan ataupun badai pintu kamar yang semula terbuka secara mengejutkan tertutup sendiri secara perlahan layaknya orang menutup pintu.
__ADS_1
Dava yang menyadari hal itu sontak kaget lalu mencari siapa dan apa yang membuat pintu dapat tertutup sendiri tanpa ada angin ataupun seseorang yang menutupnya.
“Abah kau kah itu..?,” kata Dava menetralkan pikirannya mungkin Abahnya kembali pulang namun tiada sahutan dari panggilannya.
“Umi apakah Umi sudah bangun, Umi...?,” teriak Dava sekali lagi namun tiada juga sahutan dari teriakannya.
Dava mulai khawatir dan agak takut lalu terdengar suara seseorang mengucap salam dari belakang ia berdiri.
“Assallamualaikum Dik Dava..,” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Dava tengah duduk di kursi di samping meja rias yang ternyata adalah Jaka.
“Astagfirullah Mas Jaka, waalaikumsalam mbok ya jangan bikin aku kaget seperti itu lo?,” kata Dava menarik nafas lega karena mengetahui ternyata Jaka yang menutup pintu tadi.
“Oalah Dava lawong seorang anggota T O H kok penakut,” ujar Jaka rupanya hanya mengetes keberanian Dava.
“Bukanya begitu Mas tadi tidak ada orang, tidak ada angin ataupun hujan tiba-tiba pintu tertutup sendiri siapa yang tidak kaget coba,” jawab Jaka sambil ikut duduk di samping Jaka.
“Oh ia sebentar ya Mas,” kata Dava seraya berdiri lalu menyelimuti tubuh Sari dan kembali duduk lagi di samping Jaka.
“Loh tadi aku wa Kak Putri katanya Mas Jaka sedang tidur kok bisa ampek sini?,” tanya Dava heran.
“Dava, Dava kau ini sudah terdaftar menjadi salah satu anggota dari T O H kedepanya kau harus lebih berani lagi, karena segala kemungkinan bisa terjadi pada kita kemungkinan terburuk sekalipun. Kau harus lebih waspada dan lebih meningkatkan ibadahmu karena hanya dengan zikir dan sholawat kita bisa mendapatkan kekuatan dan pengetahuan untuk melawan musuh-musuh kita,” kata Jaka menjelaskan.
“Ia mas mohon bimbinganmu,” kata Jaka penuh hormat.
“Aku kemari memang untuk itu Dava, aku di beritahu Gus Lukman bahwa rekomendasi ku yakni untuk menjadikanmu anggota dari kelompok T O H telah di setujui oleh ketua utama yakni Haji Kasturi,” kata Jaka memberi tahu Dava.
“Siapa itu Haji Kasturi Mas?,” sahut Jaka penasaran.
“Lama-lama nanti kau juga pasti tahu sendiri siapa Haji Kasturi.
__ADS_1
“Oh ia mengenai balasan cat wa dari Kakak Ipar mu Putri memang aku tengah tidur dalam pelukannya sekarang,” kata Jaka.
“Lah yang di samping ku ini siapa dong kalau begitu?,” kata Dava menatap Jaka penuh curiga.
“Hahaha, ini pelajaran pertama bagimu Dava mulai saat ini dan kedepanya kau dalam pengawasanku, kau akan kuajari banyak hal tentang pengetahuan. Yang di hadapanmu ini ya aku kakakmu Jaka. Cuma dalam bentuk ruh aku tengah dalam mode raga sukma,” kata Jaka
“Apa itu Mas raga sukma?,” tanya Jaka.
“Ah kalau jelasin panjang kau buka saja di Mbah Google ya,” kata Jaka.
“Yang jelas tubuh kita ini terdiri dari beberapa ruh. Dalam pengetahuan Jawa kuno sering disebut sedulur papat limo pancer. Jadi umumnya ruh kita ada lima empat ruh penopang dan satu ruh utama,” kata Jaka menjelaskan
“Ruh-ruh tersebut bisa kita perintah keluar dari tubuh kita untuk tujuan sesuatu tentu seizin Allah dan dengan doa-doa khusus tentunya. Tapi ingat jangan sembarangan menyebutkan pengetahuan ini kalaulah sampai ada musuh yang mengetahui kau mampu dalam pengetahuan ini dan menguasainya. Kalau sang musuh itu mumpuni ruh mu itu bisa diambil paksa olehnya ditaruh dalam botol di buang ke sungai atau laut celaka kamu umurmu tentu tidak akan lama,” kata Jaka menuturkan sebuah pengetahuan pada Dava.
“Kok ngeri Mas,” celetuk Dava.
“Oalah ini bocah, kamu ini sekarang jadi bagian dari kami buang rasa ketakutanmu itu. Ketemu setan sudah makanan sehari-hari bagi kita,” kata Jaka
“Ya sudah ini sudah hampir subuh nanti Kakakmu Putri pasti bangunkan aku untuk sholat subuh berjamaah. Aku pulang Assalamualaikum,” ucap Jaka yang tiba-tiba lenyap hilang kembali.
“Waalaikumsalam, widih keren Mas Jaka bisa hilang kayak di film-film, jadi semangat pingin kayak begitu,” ujar Dava.
_
_
_
_
__ADS_1