T O H

T O H
Pasangan Perak Vs Siluman Tengkorak


__ADS_3

Ratusan tengkorak hidup mengerumuni kediaman Haji Kardi. Dari samping rumah, dari belakang dan depan rumah bahkan sampai naik ke atas atab dimana biasa Jaka dan Dava berunding.


Kini seakan rumah Hak Kardi selayaknya penuh sosok tulang belulang dari kubur.


Taktak... Taktaktak...


Suara-suara gigi-gigi tengkorak yang berbenturan dan suara tulang-tulang bertabrakan satu sama lain. Di atas atab Haji Kardi tengah menanti kedatangan para tengkorak dengan asab cerutu mengepul dari mulutnya yang hampir keriput.


“Ayo sini siluman tengkorak kalian kira kami para Haji T O H dari generasi pertama yang sudah pada tua yang sudah pensiun dari dunia persilatan. Sudah tidak mampu melakukan apa-apa,” ucap Haji Kardi bersiap dengan kuda-kuda yang Kokoh.


Haji Kardi dahulu terkenal dengan pukulan kematian yang sangat dahsyat jangankan orang makhluk halus sekalipun bila terkena tinju mautnya pasti langsung hancur tak bersisa.


Haji Kardi memasang kuda-kuda sempurna bergerak seperti menggambar lingkaran membentuk aliran yin dan yang layaknya diagram simbol silat cina.


“Kemari kau siluman kau belum pernah merasakan kungfu Shaolin rupanya heh,” teriak Haji Kardi. Melayangkan pukulan pada beberapa tengkorak yang terus berdatangan hingga hancur tak bersisa, tetapi tengkorak terus berdatangan dan usia tidak bisa dipungkiri Haji Hadi nampak sebentar saja ngos-ngosan.


“Kurang ajar!, Memang usia tidak bisa dibohongi. Sebentar saja tenagaku terkuras habis untung malam sedang cerah tidak hujan sehingga aku masih bisa mengatur nafas,” ucap Haji Kardi terus melayangkan tinju maut saat para tengkorak mendekati lingkaran yang ia buat saat pertama memasang kuda-kuda.


Tetapi jurus tinju maut memiliki kelemahan hanya mampu menjangkau yang berada di dalam lingkaran saja. Sedangkan tengkorak yang berada di luar lingkaran tidak dapat terjangkau oleh tinju-tinju yang dilayangkan Haji Kardi.


“Sial bagaimana tengkorak yang berada di luar lingkaran aku tidak bisa menjangkaunya. Sementara itu makhluk terkutuk ini terus berdatangan. Jikalau aku sendirian seperti ini aku bisa kehabisan tenaga, karena aku sadar tidak muda lagi seperti dahulu bisa gawat ini,” gerutu Haji Kardi.


“Tenang Dik, ada aku di sini,” teriak Haji Wachid yang datang dengan cara turun menukik dari atas menuju ke atab rumah Haji Kardi.


Duar...


Kaki-kakinya yang kuat bagai baja sempat membuat retak besar dilantai atab yang terbuat dari cor, karena jatuhnya Haji Wachid saat turun dari atas langit.


“Loalah Mas, kebiasaan kamu itu kalau datang suka merusak. Ini malah tekor aku membetulkan lantai atab bekasmu jatuh itu,” ucap Haji Kardi sambil terus melayangkan tinju.

__ADS_1


“Lah ini, ini, Dava pasti menurun dari kamu ini. Sifat bawel dan suka protes kayak kamu. Kemu itu Dek dari dulu tidak berubah,” teriak Haji Wachid sambil melipat sarungnya dan menyelipkannya diantara lipatan atas celana pendek yang ia pakai sambil terus menghantarkan tendangan tanpa batas yang ia miliki.


Haji Wachid dahulu terkenal dengan jurus andalannya saat bertarung tendangan tanpa batas atau yang sering disebut tendangan besi yang sangat kuat batang pohon besar pun dengan beberapa kali tendangan bisa iya robohkan.


Haji Kardi dan Haji Wachid nampak saling membelakangi dan penuh waspada. Tengkorak seakan tiada habis bermunculan keluar dari tanah sekitar pekarangan rumah Haji Kardi.


“Ayo Mas kita tunjukkan siapa dahulu yang dijuluki sebagai pasangan perak,” ucap Haji Kardi.


“Lah pasangan perak, ia, ya, terus pasangan emasnya siapa Dek,” ucap Haji Wachid.


“Ya siapa lagi, kalau bukan ketua kita dulu tercinta yang sampai saat ini menjadi Mahagurunya anak-anak generasi kita Haji Kasturi dan anak didiknya paling sakti si Bagus,” ucap Haji Kardi.


“Oh iya, ya, aku baru ingat ya, sekarang siapa ya yang dijuluki pasangan emas dan pasangan perak sebagai penerus kita,” ucap Haji Wachid sambil sesekali menendang siluman tengkorak yang datang kearahnya.


“Entah lah Mas, tapi aku dengar anakmu dan anakku adalah tandem hebat sekarang aku berterimakasih dengan anakmu mas, karena dia mampu membangkitkan kekuatan anakku Dava,” ucap Haji Kardi sesekali menghantam siluman tengkorak dengan pukulan mautnya.


“Aku jadi ingat saat aku beberapa waktu yang lalu lengah tak siap karena sebelumnya memang sudah sakit. Saat menghadapi genderuwo pohon sawo saat itu aku kalah dan karena itu hikmahnya aku jadi tahu kalau T O H didirikan lagi dan tanpa kita sadari anak-anak kita sudah sehebat sekarang ini,"


Tiba-tiba ada sesosok tengkorak dengan bentuk dan warna yang beda dari yang lain. Yakni tengkorak berwarna hitam dan memiliki struktur tulang yang nampak kuat dan kokoh.


“Hai kalian kita berjumpa lagi,” ucap tengkorak tersebut.


“Lah dia Mas muncul lagi dahulukan sudah kita pendam dalam kuburan ya,” ucap Haji Kardi.


“Haduh ini si tulang hitam datang lagi pasti ada yang membangunkan dia ini Dik. Bagaimana sih dahulukan sudah di segel ya kok bisa muncul lagi,” ucap Haji Wachid.


“Masih Sama seperti sepuluh tahun yang lalu ternyata kalian banyak bicara,” ucap sang tengkorak hitam berlari menuju Haji Wachid dan Haji Kardi.


“Hati-hati Dik Kardi,” teriak Haji Wachid.

__ADS_1


“Iya Mas ini tengkorak biasa saja sudah merepotkan apa lagi di tambah satu pemimpin tengkorak ini bikin kesal saja. Masih kuat Mas?,” ucap Haji Kardi.


“Tenang aku masih prima ia kamu Dik Kardi yang sudah ngos-ngosan begitu,” ucap Haji Wachid melihat Haji Kardi yang sudah kelelahan.


Beberapa lama Haji Kardi dan Haji Wachid bertarung bahu membahu melawan para tengkorak. Tiba-tiba entah kenapa tengkorak seakan hilang tak muncul kembali tinggal menyisakan satu pemimpinya si tengkorak hitam yang tengah bingung kenapa saat ia memanggil tidak muncul satu pun tengkorak yang datang.


“Ada apa tam, hitam? Tengkorakmu sudah habislah,” ujar Haji Wachid.


“Eh mas ratusan tengkorak tadi kemana kok hilang. Ini tinggal si hitam geblek satu ini,” ucap Haji Kardi bingung.


“Hehehe, kau belum tau kehebatan menantuku Putri sih Dik,” ucap Haji Wachid tertawa keras.


“Apa Putri kok bisa?,” teriak Haji Kardi dengan rasa tak percaya.


Sementara itu Putri terus berjalan mengitari rumah. Saat Putri berjalan seakan tanah di depanya terbuka lalu melahap beberapa tengkorak yang ada di depanya kedalam tanah. Inilah keahlian Putri mengendalikan unsur tanah.


Plok... Plok...


Suara Putri menepukkan kedua tangannya membersihkan debu yang menempel. Lalu kembali kedalam rumah seraya berkata dalam hati, “Jaka Suamiku pulanglah dengan selamat sayang,”.


Di atas atap rumah Pak Haji Wachid dan Haji Kardi tengah berunding tentang mantra segel, “Mas masih ingat mantra segel pelahap tanah dahulu?,” ucap Haji Kardi.


“Masih Dik mari kita lakukan lagi kita segel kembali si tengkorak hitam ini,” ucap Haji Wachid.


Beberapa saat Haji Wachid dan Haji Kardi merapal sebuah mantra yang membuat tanah di sekitar pekarangan rumah seakan terbang ke atas mereka langsung melaju menumpuk tengkorak hitam menempel terus menerus hingga menjadi sebuah bola tanah besar.


“Allahuakbar...,” teriak kedua Haji bersaudara pasangan perak tersebut sambil memukul dan mengentak lantai atab lalu bola tanah besar yang di dalamnya terdapat tengkorak hitam pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Si tengkorak hitam seakan ikut pecah musnah kembali ketanah.


“Allhamdulillah,” ucap Haji Kardi dan Haji Wachid serempak.

__ADS_1


“Ayo Mas kita pergi ke tempat Jaka dan Dava kita bantu mereka. Kita bernostalgia kembali layaknya dahulu saat kita masih muda saat kita berjuluk pasangan perak,” ucap Haji Kardi.


“Baik ayo Dik,” ucap Haji Wachid seraya menghentakkan kakinya ke lantai atab rumah Haji Kardi melesat berbarengan dengan Haji Kardi ikut melesat menuju Dava dan Jaka yang masih tengah bertarung.


__ADS_2