T O H

T O H
Lingkaran Segel Bola Tanah


__ADS_3

Jaka terengah-engah dengan nafas sengal hampir habis meladeni serangan-serangan dari Aji yang terus membabi-buta tak jarang ia harus menghindari berbagai lontaran ajian dari Aji.


Entah itu panah atau bola api sesekali tangan gaib dari keranda terbang Aji keluar memanjang ke arah Jaka.


Jaka masih sempat melihat di sekitarnya seluruh anggota T O H telah hadir dan masing-masing dari mereka tengah berjuang bertarung mati-matian menghadapi duplikat kembaran masing-masing yang di ciptakan Aji.


Tetapi Jaka sempat heran kenapa bayi cahaya yang di maksudkan oleh Ki Datuk Panglima Kumbang belum jua muncul apa memang tidak ada sosok tersebut, ujarnya dalam hati.


Duar...


Sebuah lontaran panah hampir saja mengenai Jaka kalau saja Jaka tak lekas menghindar, “Sial tak henti-hentinya Aji melontarkan ajiannya. Bisa-bisa aku kehabisan tenaga kalau aku terus menghindar sedangkan dia terus melontarkan ajiannya,” gerutu Jaka.


“Ada apa Jaka apa kau takut, kenapa kau terus menghindar?,” teriak Aji kembali melontarkan panah api dari tangannya.


Duar..., Dar...,


Jakapun dengan sigap kembali menghindari serangan dari Aji, “Aku bukanlah takut denganmu tapi melawanmu tak perlu menggunakan tenaga ku cukup menggunakan akal dan siasat,” ucap Jaka sambil mengamati celah kelemahan Aji.


“Lihatlah beberapa dari makhluk bayangan yang kau ciptakan sudah kalah dan dari kami sudah mulai membantu satu sama lain agar dapat mengalahkan makhluk yang kau ciptakan. Apa kau tak melihatnya Aji?,” teriak Jaka mulai merubah diri kembali menjadi mode api amarah setelah tadi sempat ia padamkan dan kembali menjadi mode manusia.

__ADS_1


“Kalau begitu lihatlah ajianku ini, ini sebuah ajian yang pernah hendak membunuhmu kalau saja saat itu haji Kasturi tak menolongmu. Namun sekarang Si Tua Bangka itu tidak ada di sini, akan kupastikan malam ini kau akan menuju alam baka,” teriak Aji mulai terbang melayang ke atas langit merapalkan sebuah ajian.


Tiba-tiba saja seluruh tanah dari desa Mojokembang terangkat menuju ke arah Aji dan menempel ke tubuhnya berlapis-lapis. Seakan seluruh desa Mojokembang ia serap habis menempel ke tubuhnya membuat sebuah lingkaran bola dari tanah, semakin lama semakin besar pula.


“Hai teman-teman sebisa mungkin menghindarkan jangan sampai kalian menyentuh tanah terbanglah, sebisa mungkin meloncatlah. Kali ini Aji tak main-main aku tahu ajian yang di keluarkan Aji kali ini adalah ajian segel penghisab kehidupan. Siapa yang ikut terhisab menempel kedalam lingkaran itu bisa jadi sudah dipastikan mati, menyingkir, ayo menghindar jauh,” teriak Jaka seakan mengomando seluruh punggawa T O H agar menghindar dari tanah.


“Baik Jaka,” teriak beberapa anggota T O H yang ada di sekitar Jaka.


“Kau memang sudah kelewat batas Aji, kau tahu aku tak bisa menghadapimu dalam mode perlindungan segel bola tanah itu karena tak ada celah di sana. Aku tahu maksudmu agar kau leluasa menggandakan tangan gaibmu dan dapat mengambil jiwa dan ruh kami,” gerutu Jaka.


“Woi Dava beritahu yang lain untuk tetap waspada, makhluk kembaran duplikat kalian memang sudah tidak ada ikut terhisab ke dalam bola tanah yang di bentuk Aji itu. Tetapi tangan gaib dari kerandanya dalam mode ini menjadi lebih banyak bahkan terlalu banyak. Jadi perintahkan kepada yang lain untuk tetap waspada,” teriak Jaka memberi pengarahan pada Dava.


“Iya Mas, Baiklah sesuai perintah mu,” ucap Dava seraya mengitari desa Momen memberi tahu semua divisi tempur T O H untuk tetap waspada. Lalu kembali ke tempat Jaka berada untuk membantu Jaka memecahkan solusi atau menemukan sebuah cara agar dapat memusnahkan Sarpala dalam wujud Aji.


“Aku juga masih terus berpikir Dik walau kekuatan seluruh anggota kita yang sekarang di gabung belum tentu bisa menghancurkan bola raksasa itu. Walau kita bisa menghancurkan bola raksasa bentukan Aji itu tentu desa Momen beserta isinya termasuk penduduk jua akan ikut hancur, kita benar-benar dalam dilema besar kali ini,” ucap Jaka menuturkan pada Dava.


“Lalu harus bagaimana Mas?, sedangkan para pendahulu kita T O H golongan pertama, generasi pertama tengah berjuang di desa masing-masing. Aku Mendapatkan kabar para anggota golongan hitam tumpah ruah di dalam kota Jombang menyerang seluruh kota Jombang,” ujar Dava.


“Sial...!, semoga saja Abah-abah kita dapat menangani musuh yang menyerang ke desa-desa lain. Pantas saja guru kita Abah Kasturi tidak kunjung datang,” ucap Jaka menggerutu kesal.

__ADS_1


“Benar Mas beliau tengah berada di desa ku sekarang melindungi keluarga kita dari serangan para anjing setan yang ribuan jumlahnya,” ucap Dava.


“Dan sebenarnya ada bantuan dari kelompok Alif kecil dari kota serang yang di pimpin oleh ustad Dwi tapi mereka menyebar ke seluruh kota untuk membendung serangan musuh di setiap desa,” ujar Dava menambahkan keterangan.


“Apa kelompok Alif kecil yang di pimpin Kan ha dari organisasi Lokajaya juga muncul apa kau mendengar kabar mereka juga datang membantu?,” tanya Jaka memastikan tentang kabar kalau kelompok dari teman masa kecilnya gerakan para jawara Kanuragan Lokajaya yang dipimpin Krisna atau akrab di panggil Kan ha membantu berperang kali ini.


“Benar Mas mereka telah muncul dan membantu penduduk melawan para setan yang datang ke desa-desa,” ucap Dava menjawab pertanyaan Jaka.


“Baguslah akhirnya mereka muncul juga setelah sekian lama menghilang,” ucap Jaka.


Tiba-tiba ada teriakan-teriakan di beberapa sisi desa Mojokembang. Nampaknya ada beberapa anggota T O H yang lengah sehingga tangan gaib yang keluar dari lingkaran tanah Aji dapat mengambil ruh mereka.


Ahh..., Argh...,


Teriakan-teriakan pilu sayatan layaknya sakaratul maut terdengar bersahutan dan beberapa anggota T O H jatuh tak bernyawa lalu secara otomatis tubuh mereka ikut tersedot masuk kedalam lingkaran besar yang di bentuk Aji, yang terus menghisap tanah untuk menempel, melapisi lingkaran yang terus membesar sehingga seakan yang semula di bawah lingkaran terdapat desa Mojokembang kini terbentuk lubang besar menganga curam dan dalam seakan tiada ujungnya.


“Astaga kan sudah kubilang untuk waspada!!,” ucap Dava.


“Jaka, Dava, apa yang harus kita lakukan anggota kita mulai berjatuhan?,” ucap Gus Lukman yang terus meloncat menghindari tanah yang terus tersedot menuju lingkaran segel milik Aji.

__ADS_1


“Benar Jaka cepat pikirkan sesuatu jangan sampai anggota kita dan masyarakat desa Mojokembang gugur dengan sia-sia,” teriak Mbah Raji menaiki kertas mantra yang ia buat seperti sajadah terbang.


“Awas Mbah Raji, jangan lengah?,” ucap Jaka berteriak pada Mbah Raji karena mengetahui ada tangan gaib keluar dari lingkaran Aji


__ADS_2