
“Mas Bagus...,” teriak Vivi berlari dari arah pintu depan rumah ke arah Gus Bagus.
“He..., tidak boleh dulu..,” ucap beberapa orang yang hadir karena melihat Vivi dan Gus Bagus hendak berpelukan.
“Ia bukan muhrim Mas Bagus gimana toh Kak Vivi ini juga kan belum boleh ya, ya kan Wahyu ya. Loh-loh Wahyu mana?, Sari Wahyu kemana kok enggak ada,” ucap Vivi bertanya pada Sari yang berdiri di sampingnya.
“Lah tadi kan Kak Putri yang gendong loh,” ucap Sari ikut mencari.
“Ayah, Wahyu kemana?, bantu cari dong Yah anakmu itu,” ucap Putri merengek pada Jaka.
“Tadi Mama yang gendong kan,” ucap Jaka ikut menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Wahyu di tengah kerumunan.
Lalu terdengar teriakan dari Vivi yang ternyata telah menggendong Beby Wahyu, “Wahyu...?!,” teriaknya yang urung memeluk Gus Bagus.
“Lah itu Yah di gendongan Kak Vivi, ambil cepat yah anakmu nanti mengompol lagi kan kasihan Kak Vivi sudah dandan cantik pakai kebaya lagi,” ucap Putri menyuruh Jaka lekas mengambil Wahyu yang bergelayutan di gendongan Vivi.
“Kok bisa ngilang-ngilang gitu sih Wahyu, Wahyu,” ucap Jaka bergegas menghampiri Vivi untuk mengambil Wahyu.
Di tengah kerumunan tiba-tiba mendung kembali suram berarak menyelimuti area rumah Haji Wachid. Mendung hitam yang turun dari arah puncak Wonosalam terus turun seakan hendak mendatangkan hujan, membawa angin yang mulai kencang menerpa pepohonan menimbulkan gaduh di sekitar desa Mojokembang.
“Apa lagi ini?,” ucap Jaka dan Dava serempak.
Jaka yang telah menggendong Beby Wahyu terus melindungi Si Kecil dari debu dan daun yang beterbangan kesana-kemari.
“Jaka coba cek dengan mata batinmu apakah ada keganjilan dengan mendung yang tiba-tiba datang. Ataukah memang ini mendung biasa pertanda akan datangnya hujan,” ucap Haji Wachid menyuruh Jaka menerobos awan untuk menerawang hal ganjil apa di atas awan.
__ADS_1
“Tenanglah Jaka, Dava, dan Dek Wachid. Serta semuanya diharap tenang ini hanya hal kecil dari kekuatan seseorang yang akan datang berkunjung iya sebenarnya jua salah satu tamu undangan,” ucap Haji Kasturi menenangkan para undangan yang tengah gaduh membicarakan keadaan yang tengah gelap gulita seakan hendak ada badai.
“Siapakah Dia Mas Kas, sehingga kedatangannya pun sudah membuat alam seperti ketakutan?,” ucap Haji Kardi bertanya pada Haji Kasturi yang terus menelaah langit yang tengah gelap akibat mendung pekat berarak terus menyelimuti desa Mojokembang.
“Dia adalah kesatria tanpa tanding yang tersembunyi bahkan seluruh punggawa T O H di tambah aku sendiri bila menghadapi pemuda ini belum tentu mampu mengalahkannya. Akhirnya dia turun gunung jua dari pertapaan ya, dialah Effendik Jangkaru pemuda seumuran Jaka yang siapa pun tak tahu asal-usulnya dari mana terlahir dari golongan mana setan, Jin atau manusia,” ucap Haji Kasturi menjelaskan.
“Guru bila sebegitu hebatnya iya kenapa saat kita mati-matian membela kota kita dari kehancuran saat berperang melawan bangsa hitam iya tidak datang?,” ucap Gus Bagus ikut mendongak ke atas melihat dan meneliti sekiranya bila ada sesosok pemuda yang di maksudkan oleh Haji Kasturi turun dari balik mendung.
“Sebenarnya sebelum perang terjadi iya mendatangiku dan iya juga yang memberitahu padaku bahwa perang besar akan terjadi antara kebaikan dan kejahatan. Dia Effendik yang mampu menerawang hari kedepan dan hari ke belakang,” ujar Haji Kasturi menuturkan kembali.
“Iya bukanya tak mau hadir dalam perang dan ikut berperang dengan kita tapi katanya ada tugas yang lebih penting yang harus ia kerjakan dan iya waktu itu berpesan padaku bahwa T O H pasti menang dengan kedatangan bayi cahaya ya dia Wahyu anak Jaka,” ucap Haji Kasturi.
“Sehebat itukah iya Guru, sehingga membuatmu yang seorang guru besar kami begitu mengagumi sosok pemuda ini,” ucap Jaka yang terus menutupi Wajah Beby Wahyu dari angin yang kencang.
Tututu.. tutu...
“Apa, ada apa sayang, apa yang Wahyu lihat?,” ucap Jaka pada Wahyu yang terus merengek menuding ke arah langit gelap.
Di atas mendung nan gelap berarak seakan ada satu sisi mendung yang tengah terbelah. Dari sisi mendung yang terbelah tersebut turun sebuah tangga pelangi yang jatuh tepat di depan pagar rumah Haji Wachid. Para undangan dan tamu yang semula duduk rapi berjajar di dalam tenda biru, kini berhamburan keluar tenda mengosongkan tenda hendak melihat siapa yang datang.
Perlahan dari sebuah celah lebar mendung terbuka ada sosok kuda putih bersayap dengan satu tanduk di tengah kepalanya dengan sosok pemuda berbaju putih-putih menunggangi sang kuda turun perlahan.
“Lihat itu, itukah yang bernama Effendi Jangkaru yang Guru maksudkan?,” ucap Jaka mengikuti Beby Wahyu menuding ke langit gelap.
“Benar dia Lah yang tersakti dari yang paling sakti Sang Petapa muslim dari gunung salak, Andai iya hadir disisi kita saat perang kemarin tentu kita dapat dengan mudah mengalahkan bangsa hitam tanpa harus susah payah setahun berperang,” ucap Haji Kasturi.
__ADS_1
“Lah kok bisa Guru?,” ucap Gus Bagus.
“Mahluk sejenis Sarpala saja yang memiliki predikat gaib terhebat di kalangan jin, setan dan siluman dari kota Jombang. Dia takkan mau berpapasan dengan Effendik karena pandangan mata Effendik tajam setajam Rajawali, seperti tatapan mata burung punik yang dapat melemaskan sendi-sendi musuhnya sampai tak berdaya lalu terbakar dengan sendirinya,” ucap Haji Kasturi.
“Ada orang seperti itu Guru?,” ucap Dava.
“Ada dia Effendik Jangkaru walau usianya terbilang muda tapi dia si anak ajaib. Dan aku memiliki firasat Beby Wahyu suatu hari nanti akan berguru padanya,” ucap Haji Kasturi.
Kuda putih nan bersih mulus dan begitu tampan tak ada satu kuda pun yang menyemai kegagahan kuda putih yang turun dari langit ini. Terus turun menapaki tangga pelangi menuju bawah dengan Efendi menunggang diatasnya.
Tetapi tiba-tiba sosok kuda putih dan penunggangnya hilang seketika. Mendung yang berarak hilang jua perlahan alam kembali menampakkan cerahnya angin kembali meredup berhembus perlahan. Dan sinar matahari kembali menyeruak menerpa setiap sudut desa.
“Loh kenapa kok hilang kemana iya?,” teriak Jaka mencari sosok Effendik dan kuda putihnya.
“Kenapa orang sakti selalu gampang menghilang ya?,” ucap Jaka kembali terheran-heran.
“Kayak kamu Yah kalau Mama suruh mijitin mama malah menghilang, hehehe,” ucap Putri meraih Beby Wahyu untuk gantian menggendongnya.
“Ah Mama jangan di ungkap di depan orang dong,” ucap Jaka.
“Ada apa kalian mencari siapa, kenapa acaranya belum mulai,” sahut seorang pemuda yang tengah duduk di kursi paling depan yang tengah kosong di tinggal para tamu dan undangan menyaksikan kehebohan yang terjadi.
Ternyata sosok Effendik tadi telah duduk di kursi tenda barisan paling depan sambil menikmati pisang goreng yang tersuguhkah di piring-piring di atas meja depan kursi. Dengan kemeja putih dan sarung putih bermotif batik Pekalongan dengan peci putih nampak begitu bercahaya sosok Effendik terus mengunyah pisang goreng.
“Loh sudah duduk saja dia,” teriak Haji Kasturi.
__ADS_1
“Hahaha..., Pak Haji cepat mulai acaranya aku kan jua tamu undangan,” ucap Effendik tertawa terkekeh-kekeh.