
Malam menggelayut mendung-mendung mesra di atas rumah Haji Wachid. Sudah pukul 22.00 wib terlihat dari jam dinding yang terus berdetak menempel di atas dinding ruang tamu dengan ogahnya.
Lampu-lampu rumah sudah pula di matikan memang sudah malam dan para penghuni rumah sudah tertidur jua.
Mungkin karena kelelahan atau sudah teramat capek seharian mereka meladeni tamu dalam acara pertunangan Vivi dan Gus Bagus.
Tenda biru masih jua terpasang di pelataran depan rumah Pak Haji Wachid namun kursi-kursi yang siang tadi berjajar rapi untuk duduk para tamu sudah kosong diangkut kembali oleh yang punya tenda.
Pintu kamar Abah Haji dan pintu kamar Vivi pun sudah jua tertutup rapat tanda memang penghuni di dalam kamar sudah terlelap.
Tinggal satu kamar di depan kamar Vivi yang masih menyala lampu kamarnya dan masih nampak bercakap-cakap. Yah yaitu kamar Jaka yang masih nampak bercanda dengan Putri dan terkadang bercakap serius sesekali.
Di dalam kamar tepatnya di atas kasur dua insan pasangan suami istri itu nampak masih belum jua memejamkan mata. Tepatnya di atas kasur seprei warna biru bergambar kartun Jepang kesukaan Beby Wahyu.
Jaka tengah berbaring malas bersama sang istri Putri. Sedangkan Beby Wahyu sudah tertidur pulas di tengah-tengah mereka sambil menghisap ibu jarinya sendiri.
“Yah apa kamu dulu saat kecil kelakuanmu seperti Wahyu begini ya, makanya ditiru sama anakmu ini menghisap ibu jari kayak makan ayam goreng kelihatannya nikmat sekali,” ucap Putri sambil menepuk-nepuk punggung Beby Wahyu perlahan agar tetap tertidur dan semakin pulas.
“Hahaha, iya Ma aku dulu kata Umi suka menghisap jempol sendiri kalau tidur. Sekarang kok menurun ya sama Wahyu Ma?,” kata Jaka melihat Beby Wahyu dengan tertawa geli.
“Kamu sih Yah kebiasaan buruk di turunkan ke anak,” ucap Putri melotot pada Jaka.
“Lah kok aku Ma?!,” celetuk Jaka yang kaget karena dipelototi istrinya Putri.
Hihihi...
Mereka berdua tertawa lirih sambil membungkam mulutnya sendiri-sendiri, sebab tak ingin karena tertawanya Beby Wahyu sampai terbangun. Lalu mata mereka saling memandang penuh makna seakan membuat kode satu sama lain.
“Jangan dulu Yah masih capek mama aku mohon,” ucap Putri merayu Jaka menolak kode yang dibuat oleh Jaka secara halus. Seakan Putri tahu apa yang di maksudkan dengan arti sebuah pandangan sang suaminya tersebut.
“Ah mama, kan sudah lama kita tidak begitu. Sekali begitu kemarin di kamar mandi enggak lama loh,” rengek Jaka merubah posisi berbaringnya dengan tengkurap dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal.
__ADS_1
“Ih Ayah ih, capek nah Mama seharian berdiri Yah belum lagi gendong Beby Wahyu. Mama mengerti kalau suami meminta begituan tapi istri tak memberi akan dilaknat ribuan malaikat sampai subuh. Tapi nanti lah dulu ya Yah, Ayah sayang, cintaku,” kata Putri sambil terus menepuk punggung Beby Wahyu terkadang menggosoknya perlahan.
“kalau begitu begini saja Ayah pijit Mama deh yah biar capeknya hilang,” ujar Jaka seraya bangkit dari berbaring dan terduduk hendak menghampiri Putri.
“Eh, Eh, enggak ah waktu itu Ayah mijitin Mama ujungnya di buka semua sama Ayah terus jadi deh begituan enggak ah itu mah akal-akalan Ayah saja,” terang Putri yang memang sudah terlalu lelah.
“Halah Mama Ayah sudah pengen nih sudah di ujung tanduk ini Ma,” gerutu Jaka kembali berbaring.
“Oalah Yah beneran capek ini Mamah, atau kalau sudah berdiri jepret saja itu di sela pintu, hahaha..., bercanda Yah,” celetuk Putri sambil tertawa lirih menggoda Jaka.
“Ah aku bete ah, aku merajuk ya Ma,” ucap Jaka kembali tengkurap sambil menaruh bantal di atas kepalanya.
“Lah ada orang merajuk pakai ngomong segala,” ucap Putri sambil memicingkan matanya heran melihat tingkah sang suami.
“Ayolah Ma pengen ini,” gumam Jaka masih dalam posisi tengkurap dan kepala di tutupi bantal.
“Eh anak ganteng kok bangun, ke bangun gara-gara Ayah nakal ya Nak,” ucap Putri berbicara pada Beby Wahyu yang matanya terbuka dan tersenyum-senyum pada Putri.
Jaka yang sedari tadi hendak meminta untuk bermesraan dengan Putri seketika menoleh pada Beby Wahyu saat Putri bilang bahwa Beby Wahyu terbangun.
“Loh Ma Wahyu mengejek Ayah loh,” teriak Jaka sambil bergaya merengek.
“Kok malah kalah sama anaknya kamu itu Yah haduh,” celetuk Putri menepuk Jidat.
“Ma aku pernah dengar satu petuah kiai teman Abah, Bahwa Nabi kita Nabi Muhammad SAW jikalau hendak bermusyawarah dengan istri-istrinya selalu memijit istrinya lalu berdiskusi,” ucap Jaka mencoba merayu Putri sejali lagi.
“Enggak ah ujung-ujungnya tangan Ayah suka nakal. Pasti meraba kemana-mana mama yang tidak bisa menahan jadi pasrah saja kalau Ayah begitu mama lagi capek Ayah,” ucap Putri mulai menyusui Beby Wahyu agar kembali tertidur.
“Loh-loh nak jangan dibuka malah dibuka itu haduh Wahyu,” gerutu Jaka nampak salah tingkah.
“Apa sih Yah?, Wahyu loh cuman mintak mimik cucu kok jadi Ayah yang bingung kayak begitu,” ucap Putri bingung melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
“Ma Ayah loh pengen kok,” celetuk Jaka memiringkan posisi tidurnya menatap Putri.
“Ayah di dengar anaknya ilo ah, Ayah ini mengajarkan yang tidak baik sama Wahyu loh,” terang Putri menutup telinga Wahyu yang seakan tak peduli dengan Ayahnya dan terus minum susu.
“Ah bodok Ah Ma, Ayah tidur saja dulu ya,” ucap Jaka memejamkan matanya.
“Nah begitukan pintar, hehehe,” kata Putri.
Namun baru saja Jaka mulai memejamkan mata. Suara ketukan pintu dari luar kamar terdengar bersamaan ucapan salam dari Abah Wachid.
Tok... Toktok...
“Assallamualaikum, Nak Jaka sudah tidurkah?,” ucap Abah Wachid dari balik pintu.
“Hem..., Abah...,” gerutu Jaka seakan keinginannya yang sedari tadi diganggu Beby Wahyu dan di tolak Putri dengan alasan kecapean kini terganggu oleh Abah Wachid mengetuk pintu.
“Ayah itu loh Abah memanggil buka pintu sana,” kata Putri.
“Ia, ia, ia Abah belum tidur kok sebentar aku buka pintunya,” sahut Jaka dengan malas-malasan turun dari atas kasur menuju pintu kamarnya.
“Ada apa Abah?,” tanya Jaka yang telah membuka pintu dan menemui Abah Wachid yang berdiri di depan pintu.
“Ini Jaka anu, keroki Abah yuk Jaka masuk angin ini rasanya,” pinta Abah Wachid sambil memijat-mijat pundaknya pertanda sangat lelah di barengi dengan suara sendawa dari mulutnya yang mulai keriput.
“Yuk Abah di ruang tamu ya kemarin balsem dan uang koin buat kerok aku lihat ada di lemari ruang tamu,” ucap Jaka.
“Ayo...,” sahut Abah Wachid
Akhirnya Abah Wachid dan Jaka berjalan ke ruang tamu untuk mengeroki Abah Wachid yang tengah di landai masuk angin. Selang beberapa waktu Jaka rupanya telah selesai mengeroki Abah Wachid dan ia kembali masuk ke dalam kamar.
Dalam hati kali ini pasti Beby Wahyu sudah tidur dan tak ada yang ganggu lagi keinginannya untuk bermesraan dengan Putri malam ini.
__ADS_1
Tetapi sampai di dalam kamar betapa kaget dan kecewa beserta wajah yang nampak merenggut, cemberut. Memang Beby Wahyu sudah bobok, tetapi Putri juga rupanya sudah tertidur pulas jua.
“Ya Gusti, malah Mama tidur juga,” gerutu Jaka menepuk jidatnya lalu pergi berbaring jua di atas kasur ikut tertidur.