
Brak,
Pak,
Saling pukul, saling tendang dan jual beli serangan terjadi antara Dava dan Cimot, karena keduanya adalah mantan jawara-jawara STM di kota Jombang. Kedua sahabat karib itu sekarang menjadi musuh dan ingin saling mengalahkan satu sama lain.
Wus,
Cimot melayangkan tendangan keras menyilang menyusur tanah yang dengan cepat Dava hindari dengan cara meloncat.
Park,
Dava menghantarkan pukulan keras ke arah muka Cimot tapi dia juga berhasil menangkis dengan tangannya. Di sisi lain Jaka tengah berhadapan dengan siluman kerbau bertanduk emas.
Berbadan manusia tapi berkepala kerbau dengan dua tanduk emas menempel kokoh di atas kepala kanan dan kiri, berkaki kerbau tapi kedua tangan tetap selayaknya manusia namanya Mahesa Sura.
Jaka terkejut dengan kemunculan makhluk setengah siluman setengah manusia ini karena dia adalah makhluk legenda di era kerajaan Majapahit, “Kenapa Si Sultan bisa memiliki Kodam seperti ini,” gerutu Jaka.
Mahesa Sura berlari dengan kepala merunduk hendak menyeruduk Jaka namun dengan cepat Jaka mengelak menghindari serangan Mahesa Sura.
Dengan cepat Jaka mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya. Sebuah botol mantra segel penghisab yang di wariskan turun temurun dari Si Kakek Buyut mantan Jawara di era jaman Jepang masih menjajah yang sekarang sudah almarhum.
Beberapa saat Jaka nampak merapal mantra dan ajian botol ia buka tutupnya seketika makhluk setengah siluman terhisab masuk kedalam botol.
Segera ia menutup botol lalu kembali mengantonginya. Ada kabar berhembus botol mantra segel penghisab dahulu sangat tersohor sebagai botol pelenyap siluman. Siluman sekuat apapun apabila terhisab masuk kedalam botol pasti akan lenyap seketika.
Jaka sudah semakin dekat dengan Sultan. Lalu ia kembali berlari menuju arah Sultan sembari tersenyum dan berkata dalam hati, “Lalu apa lagi yang akan kau keluarkan Sultan,”
Di bawah tempat Jaka meloncati beberapa atab seraya terus berlari ke arah Sultan. Dava masih terus meladeni serangan-serangan dari Cimot kali ini Dava mendapatkan lawan yang seimbang karena kedua belah pihak sama-sama mahir dalam seni beladiri Jawa timuran yang umum dikenal dengan seni beladiri pencak.
Dava dan Cimot sudah nampak begitu kelelahan terlihat dari kedua pihak yang tengah ngos-ngosan dan nafas yang tersengal.
“Menyerahlah kau Dava serahkan kepalamu pada ku, akan kupersembahkan kepalamu pada raja siluman,” ucap Cimot
Juih,
__ADS_1
Dava nampak meludah berniat menolak mentah-mentah perkataan Cimot yang berniat membunuhnya.
“Jangan mimpi kau Cimot ingatlah dulu saat kita bertarung bersama demi sebuah kekuasaan menjadi Raja Diraja petarung jalanan di kota kita ini, Apa kau sudah lupa kebersamaan kita waktu itu. Bukankah aku yang selalu melindungimu Cimot!?" bentak Dava geram.
“Heh, tapi kali ini aku berbeda Dava dulu memang aku adalah rekanmu tapi semua itu hanya sandiwara sekarang terima ini,” teriak Cimot melayangkan serangan dengan tiba-tiba.
Dava yang tengah lengah dan sedang dalam keadaan sikap kuda-kuda yang tak sempurna tengah sempoyongan menerima hantaman dan pukulan dari Cimot.
Bruk,
Sroot,
Tubuh Dava terpental dan terhempas agak jauh ke belakang. Lalu menatap tembok rumah warga.
Bruk,
“Aaaaarh, uhuk,” teriak Dava merasa kesakitan terlihat ia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Jaka yang mengetahui hal itu sempat ingin turun menuju tempat Dava tapi di urungkannya, karena lima siluman Kalong telah berdiri melingkar di sekitarnya.
“Dava bertahanlah, aku yakin kau pasti bisa mengalahkan Cimot,” ucap Jaka.
Jaka sejenak berpikir harus menggunakan apa melawan para siluman kalong yang terkenal licik ini. Sedangkan botol mantra segel penghisab yang ia miliki sudah ia gunakan dan botol itu memang hanya bisa digunakan sekali pakai saja.
“Ayo majulah kau anak muda lawan kami,” teriak para siluman kalong.
“Sebentar dulu istirahatlah sebentar capek tau,” celetuk Jaka terlihat duduk bersila sambil berpikir dengan posisi masih di dalam lingkaran para siluman Kalong.
Para siluman kalong nampak kebingungan dengan ulah Jaka dan anehnya mereka berlima ikut duduk dan seraya ikut-ikutan dengan gaya Jaka yang seakan tengah berpikir.
Dalam hati Jaka dasar siluman terkenalnya saja licik tapi goblok, sebenarnya ini adalah strategi Jaka berpura-pura duduk sambil berpikir agar dia bisa membuat lingkaran penjebak setan yang di sebut lingkaran arwah.
Secara tiba-tiba sebuah gambar lingkaran mulai muncul di sekitar Jaka meluas hingga mencakup kelima siluman Kalong.
Sebuah lingkaran menyerupai diagram setan yang dibuat Sultan bedanya lingkaran yang di bentuk oleh Jaka sebagai pusatnya berwarna putih dan bertuliskan 99 Asma Allah dengan huruf Alif pas tergambar di tengah-tengah.
__ADS_1
Lalu muncullah tangan-tangan besar berwarna putih mencakup kelima siluman kalong yang tengah lengah karena ulah Jaka yang mengelabuhi mereka. Tubuh kelima siluman kalong kini lenyap di telan bumi.
Jaka kembali melanjutkan perjalanannya melesat menuju ke tempat Sultan berada, “Sultan sudahlah hadapi aku jangan bersembunyi di balik siluman-siluman mu yang jelek itu,” teriak Jaka.
Sultan yang tengah berdiri bersama panglima jin iprit yang berdiri dibelakangnya mendengar teriakan Jaka, “Kali ini aku tidak berniat melawan mu Jaka, aku tahu kalau aku melawan mu sudah pasti aku kalah. Aku memang sengaja memancing mu kemari agar panglima jin iprit bisa melawan mu dan aku bisa dengan leluasa membunuh Dava,” ujar Sultan.
“Panglima ku pergilah hadang Jaka sementara aku akan menuju tempat Dava,” ujar Sultan seraya menghilang sekejap mata menuju arah Dava.
“Baik Sultan,” kata panglima jin iprit seketika melesat menyambut Jaka yang meloncat ke arahnya.
Benturan dahsyat antara tangan Jaka yang seakan keras seperti batu dengan tongkat trisula panglima iprit tak terelakkan.
Duar,
Bunyi yang di timbulkan layaknya petir menggelegar hingga terdengar beberapa meter sampai ke tempat Dava yang terus bertarung.
Kali ini Cimot gantian yang tengah tersungkur tak berdaya menerima serangan Dava. Nampak Cimot sudah tidak bergerak dan tak sadarkan diri.
Dava yang berada di sampingnya seraya mengucap, “Innalilahi wainnailaihi raziun, maafkan aku sahabat ku bukan niat ku membuat mu menjadi begini, kamu sih yang maksa sudah kubilang kan jangan di teruskan mati kan jadinya,” ucap Dava duduk tersimpuh di samping Cimot dengan nafas terengah-engah kelelahan.
Slap,
Duar,
Sebuah sinar hitam tiba-tiba mengarah kepada Dava dengan sigap Dava menelak dengan kedua tangan posisi menyilang.
“Allahuakbar,” teriak Dava dengan tubuh yang terseret mundur ke belakang beberapa langkah.
“Kau memang Adiknya Jaka, dengan pukulan sinar gelap seperti itu bila mengenai orang biasa tentu dia sudah tiada,” ucap Sultan yang datang turun dengan posisi melayang dari atas.
“Pak Sultan, hentikan semua ini!" teriak Dava
“Jangan panggil aku Pak Dava, karena saat ini aku bukan seorang guru agama yang biasa mengajar mu di sekolah,” ucap Sultan.
“Lalu apa mau mu sekarang?" teriak Dava.
__ADS_1
“Kepalamu!" teriak Sultan sambil berlari menyongsong Dava dengan sebilah kapak siluman di genggaman tangannya.
“Sultonnirojim awas kau!” teriak Dava yang juga berlari ke arah Sulton.