T O H

T O H
Gadis Persembahan ( sambungan 87, ini Bab 88)


__ADS_3

***


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ


***


ABAIKAN BAB 88 DAN 99 SEBELUMNYA


SEBAGAI PENGGANTI BAB INI SEBAGAI BAB 88


***


Dalang 🙏 ,”Sebelumnya saya memohon maaf untuk para pembaca dikarenakan bab dari novel T O H yang ke 88 dan 89 akan di hapus dan sudah saya ajukan penghapusan. Bagi yang sudah membaca dan komen serta Like saya berterimakasih dengan sebesar-besarnya.


Dikarenakan satu, dua, tiga sampai sepuluh hal 😊 dari pihak Author harus menghapus bab tersebut, karena Si Dalang tidak bisa memasukkan bab tersebut pada benang merah. Mohon di maklum. Saya harap kalian mengerti Si Dalang juga manusia biasa dan mohon di maafkan.


Jaka 😒 ,”Bilang saja lo maksa menulis saat kagak ada inspirasi Lang gitu saja repot Lo Lang, walang 🤭”


Dalang ,”Dalang kok kagak ada harga dirinya ya sama wayang satu ini, protes saja loh Jaka sudah diam kenapa. Jalani saja yang sudah dituliskan, ehm ane pecat juga nih wayang satu nih”


“Ok kawan ku para pembaca kali ini kita lanjutkan masuk benang merah jadi Dalang memohon abaikan bab 88 dan 89, atas pengertiannya terimakasih” ucap Dalang.


***


Lembah Neraka

__ADS_1


Diatas tumpukan tengkorak yang tersusun rapi menjadi sebuah singgasana megah berukiran kepala ular kobra di atasnya. Terletak di ruang utama aula besar yang terpampang di setiap sudutnya ada patung-patung setan berdiri melotot bersayap kelelawar dengan mata merah dan menjulurkan lidah.


Dengan tangan berkuku tajam yang satu memegang trisula yang satunya lagi memegang obor patung setan tersebut berdiri tinggi di setiap sisi. Di tengah-tengah aula besar menjulang tiang-tiang tinggi berukiran naga taksakah dari mulutnya tersembur api-api gunung.


Di sela-sela patung dan tiang ribuan setan dan siluman tengah berkumpul menghadap satu raja yang duduk diatas singgasana paling tinggi dialah raja Adi Yaksa. Di sampingnya ada sesosok ratu ular berbadan setengah manusia setengah ular yang sangat cantik jelita nan molek sang ratu Waksi Yanaya.


Hoah...


Hoah...


Haaaaa...


Huhuhu...


Suara serempak para rakyat Adi Yaksa mengobarkan semangat dan yel-yel awal dimulainya sebuah upacara sakral dari kerajaan mereka.


Sedangkan didepan altar persembahan ada seorang lelaki sebaya usia 50 tahunan. Berpakaian rapi berjas dan celana bahan serta berdasi layaknya seorang pengusaha sedang duduk dan tunduk bersimpuh. Si gadis yang terikat dan terbaring di atas altar kini di buka penutup kepalanya oleh jin Algojo yang berada di sampingnya.


Mata si gadis menatap pilu saat mengetahui yang bersimpuh memuja raja setan lembah neraka Adi Yaksa adalah ayahnya sendiri hendak mempersembahkan dirinya sebagai tumbal. Matanya mulai meneteskan air bening jatuh basahi lantai altar persembahan. Sungguh biadab ayah kandungnya yang kini menjadi kafir karena harta dan kekuasaannya sebagai lurah desa Banjar Dowo.


Hanya terlontar satu kata dari bibir si gadis persembahan di atas altar dari bibirnya yang semakin pucat pasi. Namanya Dewi tak lain adalah anak paling muda dari pak lurah Dongkol lurah desa Banjar Dowo. Seorang lurah yang gila kekuasaan dan harta yang siap melakukan apa saja demi kekayaan seperti kali ini yang terjadi iya menyerahkan putri perawan paling muda dari anaknya sendiri Dewi


“Ayah biadab,” begitulah seandainya suara Dewi dapat lantang terdengar. Namun mulut terlanjur kaku dan pucat pasi, karena siksaan dan tak diberi makan, minum selama berhari-hari. Hanya gerakan bibirnya perlahan mengucap dan membentuk kata. Dalam hati iya hanya pasrah dan merintih untuk diselamatkan pada Gusti Allah yang ia puja.


“Apa kau yakin akan mempersembahkan anak gadismu yang masih perawan ini sebagai tumbal ku Dongkol?,” teriak Raja Adi Yaksa.

__ADS_1


“Seperti yang saya janjikan paduka Raja,” jawab Lurah Dongkol.


“Rakyatku mulai ritualnya,” teriak Raja Adi Yaksa memerintahkan para rakyatnya untuk memulai ritual penumbalan.


Huha..., Huha..., Huha...,


Ribuan setan dengan berbagai macam bentuk dan rupa tengah duduk bersila dan menarikan kedua tangan mengarahkannya ke atas lalu ke bawah berulang kali sambil terus berteriak di depan Altar persembahan. Sedangkan Lurah Dongkol hanya bersimpuh dan menundukkan muka.


“Jin Jagal ku, Algojo ku lakukan?,” teriak Raja Adi Yaksa agar jin Algojo segera menuntaskan tugasnya.


Jin Algojo yang berbentuk tubuh selayaknya binaraga tegap besar dan berotot kencang. Namun berkepala banteng dengan mata merah dan terdapat pula lonceng yang biasa dikalungkan pada leher sapi atau kerbau hendak mengayunkan kapak besar bertangkai panjang di tangannya yang kini ia genggam dengan kedua tangannya.


“Siap Paduka Raja,” ucap Jin Algojo.


“Dewi hanya bisa pasrah tangisannya pun semakin deras. Iya tahu malam ini iya akan mati ditangan para setan. Untuk tumbal pesugihan Ayahnya Sendiri. Dewi mulai memejamkan mata pasrah pada sang kuasa. Otaknya tengah mengulang masa lalu betapa iya rindu sosok ayahnya yang penyayang dan sabar tak pernah tergoda kemilau dunia. Beda dengan ayahnya yang sekarang segala cara iya lakukan demi harta dan kekuasaan termasuk mengorbankan anaknya sebagai tumbal.


Bayangan Dewi mengenang lagi masa-masa kecilnya dengan bundanya yang jua mati dengan isu dijadikan tumbal ayahnya sendiri. Dulu Dewi tidak percaya begitu saja kalau ayahnya adalah manusia pemuja setan. Tetapi kini iya membuktikan sendiri saat dirinya menjadi tumbal selanjutnya.


Dewi mengingat lagi saat indah di sekolah bersama teman-temannya yakni Sari dan Dava.


Iya ingat perkataan terakhir Dava dan Sari saat jam istirahat di kantin sekolah. Dava bilang, “Dewi berhati-hatilah memang benar apa yang diisukan dan yang dipergunjingkan oleh masyarakat terhadap Ayah bahwa memang benar apa yang di katakan oleh warga."


Namun saat itu iya malah merah pada Sari dan Dava lalu menjauhi serta membenci teman karib dan sahabatnya itu.


“Maaf Sari, maaf Dava, kalian benar aku yang salah,” ucap Dewi dalam hati.

__ADS_1


Kapak jin Algojo mengayun kencang ke arah leher Dewi, clek..., Seketika hilang sudah nafas dan ruh dan harapan serta kehidupan semua hal dari Dewi.


Angan, mimpi serta cita-citanya ingin menjadi polwan harus kandas jua. Karena hidup Dewi berakhir di atas Altar meja batu sebuah Altar persembahan kerajaan setan Adi Yaksa sebagai sarat meminta kekayaan yang dilakukan ayah kandungnya sendiri.


__ADS_2